
Malam sudah sangat larut. Sudah waktunya manusia mengistirahatkan tubuh untuk melewati malam karena esok akan beraktifitas kembali.
Namun malam itu menjadi malam yang panjang bagi Tuan Muda Winston Shefard. Saat itu usianya baru beranjak 7 tahun. Setelah mendengarkan dongeng yang pelayan baca, Winston berencana memejamkan matanya. Namun, belum sempat pelayannya menarik selimut untuknya. Sudah masuk seorang wanita menghampirinya dengan tergesa-gesa.
"Winston ... bangun nak ...." Teriak Nyonya Rika sembari menarik paksa tubuh Winston dari tempat tidur.
"Nyonya kenapa?" tanya pelayan itu kebingungan melihat sikap Nyonya Rika.
"Ma ... mama, ada apa ...." ucap Winston ikut kebingungan.
"Kita tidak ada waktu nak, kau harus kabur dari sini ... jangan banyak tanya" ucap Nyonya Rika langsung menggendong tubuh Winston.
"Hanya kau yang tersisa dikediaman ini, kita harus keluar dari bawah tanah, kau harus tetap bersama anakku" ucap Nyonya Rika pada pelayan itu.
"Baik Nyonya" ucap pelayan itu langsung membuka pintu rahasia dari kamar Winston. Mereka pun beranjak memasuki pintu rahasia itu. Didalam kamar itu terdapat pintu rahasia yang terhubung langsung dengan Taman belakang kediaman Shefard.
"Aung ... aung ...." Suara puluhan ekor anjing pelacak terus mengaung. Suara aungan itu semakin dekat pada mereka. Air mata Nyonya Rika mulai menetes. Nafasnya mulai terengah-engah karena tenaganya mulai terkuras karena menggendong Winston.
"Mama, kenapa menangis" sahut Winston ikut menangis melihat wajah Nyonya Rika sudah basah oleh air matanya.
"Winston, kau harus hidup apapun yang terjadi, kau tidak boleh menangis, anak laki-laki tidak boleh menangis, ingat itu" ucap Nyonya Rika sembari melap air mata anaknya.
"Nyonya, sepertinya suara anjing itu semakin mendekat, huh ... huh ...." ucap pelayan itu sembari ngos-ngosan.
"Anakku kau harus tetap hidup, mama akan melindungimu" ucap Nyonya Rika.
"Aung ... aung ...." Suara puluhan ekor anjing itu mulai mendekat pada mereka.
"Mengejar perempuan saja kalian tidak bisa, kerahkan anjing-anjing pelacak itu" teriak salah seorang pria paruh baya. Namun pria itu menutupi penampilannya dengan topi dan jaket.
"Baik bos" sahut mereka sembari mengitari Taman belakang kediaman Shefard.
"Sepertinya mama tidak bisa melanjutkan perjalanan ini denganmu nak" ucap Nyonya Rika langsung menurunkan tubuh Winston.
"Nyonya, kita bisa selamat, jalan raya dekat lagi dari Taman ini" ucap pelayan itu meraih tubuh Winston.
"Mama" ucap Winston tidak mau melepaskan tangan Nyonya Rika.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya bisa mengantar Winston sampai disini, kita tidak ada waktu lagi, tolong jaga Winston. Beritahu pada suamiku nanti, aku mencintainya" ucap Nyonya Rika sambil melepaskan genggaman tangan Winston.
"Mama ... jangan pergi ...." tangis Winston tetap menarik tangan Nyonya Rika.
"Anakku sayang, berjanjilah pada mama untuk jadi anak penurut, mama minta maaf nak, mama mencintaimu" ucap Nyonya Rika sembari mendorong keluar tubuh Winston dan pelayan itu keluar dari pintu rahasia menuju jalan raya.
"Kemana dia pergi ...."
"Tuan Muda Winston pasti ada bersama dengannya ...."
"Jika dia tidak lenyap malam ini, maka nyawa kalianlah yang akan lenyap" kembali pria paruh baya itu berteriak pada bawahannya.
"Tuan Muda, tolong tutup telinga anda, semua ini akan berlalu" ucap pelayan itu sembari bersembunyi dibalik bunga pekarangan.
"Kemana mamaku pergi, hiks ...." Tangis Winston sembari memperhatikan para penyusup itu masih membawa anjing mereka.
"Anjing-anjing itu tidak akan bisa menemukan kita, kita sudah berada diperbatasan. Nyonya mengorbankan dirinya untuk mengalihkan perhatian mereka. Kita harus menuju jalan raya" ucap pelayan itu sembari memperhatikan sekitar.
Mereka sudah memeriksa sekitar kediaman, namun tidak menemukan keberadaan target mereka.
"Bos, sepertinya dari dalam kamar ada jalan bawah tanah menuju jalan raya" sahut salah seorang melapor.
"Bakar lokasi bawah tanah itu" perintah pria itu.
"Mama ... tidak embh ...." ucap Winston dari persembunyiannya. Semua orang ternyata mendengar suara itu. Mereka pun langsung bergerak mencari sumber suara itu.
"Tuan Muda, tolong diamlah" ucap pelayan itu sembari menutup mulut Winston.
"Kalian jangan mendekat, aku tidak akan menyerahkan diri pada kalian, anakku jangan menangis nak, kau akan tetap hidup ...." teriak Nyonya Rika mengeraskan suaranya.
"Ternyata mereka ada dibawah, kemungkinan dia masih bersama anaknya. Bakar lokasi ini, jangan ada yang tersisa" perintah pria itu.
"Baik bos" ucap mereka langsung melaksanakan perintah.
"Hum ... hum ... mama ...." ucap Winston sembari mengepalkan tangannya.
"Tuan Muda ...."
__ADS_1
"Mama, tolong jangan tinggalkan aku, mama ...." teriak Winston langsung terbangun dari tidurnya.
"Tuan Muda ...." ucap Saha sembari melap keringat Winston.
"Sudah berapa lama aku ketiduran?" tanya Winston sembari melihat sekitar kamarnya.
"Tuan Muda, anda tidur sudah 4 jam" ucap Saha mengkhawatirkan tubuh Winston karena tubuh Winston sudah basah semua.
"Huh ... aku masih saja bermimpi dengan mimpi yang sama" ucap Winston sembari melepaskan bajunya.
Saha tidak sedikit pun menggubris ucapan Winston barusan. Saha sudah biasa melihat Winston bermimpi mengenai kejadian 20 tahun yang lalu.
"Tok ... tok ...." Suara ketukan pintu oleh orang dari luar pintu kamar.
"Masuk" ucap Saha. Seorang pelayan wanita sudah paruh baya pun datang sembari membawa segelas minuman yang diracik untuk Winston.
"Tuan Muda, ini minum anda. Kesadaran Tuan akan kembali pulih dan melupakan mimpi itu" ucap pelayan itu.
"Bibi Aurora, aku sudah menyuruhmu untuk pensiun, kenapa kau masih menjadi pelayanku" gerutu Winston sembari meraih handuk yang Saha berikan padanya.
"Maaf Tuan, saya sudah janji pada Nyonya Besar untuk setia melayani anda sampai sisa nafas hidup saya" ucap ibu Aurora.
"Ada banyak pelayan dikediaman ini, apa perintahku kurang jelas padamu" ucap Winston menunjukkan kalau perintahnya tidak boleh dibantah.
"Tuan Muda, walau saya sudah berumur, tapi saya masih ada tenaga. Tolong jangan buang saya, hanya Tuan Muda keluarga yang saya miliki saat ini" ucap ibu Aurora sembari menunduk ketakutan melihat ekspresi wajah Winston yang sudah marah padanya.
"Siapa bilang akan membuangmu, aku menyuruhmu untuk istirahat, bukan untuk bekerja lagi" ucap Winston mulai meninggikan suaranya. Hal ini bukan kali pertama ibu Aurora dimarahi, sudah lama Winston meminta ibu Aurora untuk tidak melayaninya lagi. Winston sudah menjadikan pelayannya itu sebagai Bibi sekaligus menjadi ibu angkatnya. Namun karena ibu Aurora merasa bahwa dirinya dari dulu sampai sekarang hanyalah seorang pelayan, membuatnya tidak ingin berdiam diri saja, apa lagi sesuai janjinya pada Nyonya Rika, untuk menjaga Winston.
"Tuan Muda, sepertinya Tuan Muda harus segera mandi" ucap Saha mengalihkan pembicaraan.
"Aku belum selesai bicara" ucap Winston masih kesal pada ibu Aurora.
"Tapi Tuan Muda, pesawat yang Nyonya Naira naiki akan tiba sekitar 45 menit lagi" ucap Saha sembari memperhatikan jam tangannya.
"Aku tidak lupa hal ini" ucap Winston langsung masuk kedalam kamar mandi.
"Sangat sulit meredam amarahnya, kalau sudah menyangkut Nyonya Naira, kemarahan Tuan Muda langsung hilang" batin Saha.
__ADS_1
Bersambung