Terjebak Cinta Tuan Muda Duda

Terjebak Cinta Tuan Muda Duda
Bab 14. Sendirian


__ADS_3

"Sepertinya kalian berdua sudah saling kenal" ucap Pak Mariho.


"Kami baru kenal hari ini" ucap Sella langsung melepaskan tangan Winston.


"Kau baik-baik saja Winston?" ucap Pak Sondakh sembari menatap tajam pada Sella.


"Aku tidak menyiksanya, benar-benar deh, pak tua ini malah perhatian padanya" batin Sella balas menatap kakeknya.


"Tentu saja aku baik-baik saja Pak Sondakh" ucap Winston sembari menggerakkan pergelangan tangannya.


Kedatangan Winston membuat Sella tidak nyaman. Demi permintaan kakeknya, Sella pun ikut menemani kakeknya, Pak Mariho dan Winston berkeliling disekitar lapangan golf.


Tidak lama kemudian waktu begitu cepat berlalu. Hari sudah mau gelap. Winston masih ada urusan penting yang harus dia urus, setelah berkeliling Winston lebih dulu pamit. Sellalah yang mengantarkan kepergian Pak Mariho diikuti oleh Pak Sondakh. Setelah itu Sella pun berencana untuk segera kembali kekediaman kakeknya. Sembari meregangkan otot tubuhnya, Sella pun menunggui Mohan di lobi utama Country Club.


"Kemana sih si Mohan, sudah 20 menit aku duduk disini" ucap Sella memperhatikan sekitar lobi. Namun mobilnya belum juga muncul. Sella pun langsung meraih ponselnya, dengan cepat Sella menghubungi nomor telepon Mohan. Ponsel Sella pun tersambung dengan Mohan.


"Mohan, kau ada dimana?" tanya Sella langsung pada intinya.


"Ini aku" ucap seorang pria dari balik ponsel Sella.


"Kakek, kenapa ponsel Mohan ada pada kakek?" ucap Sella.


"Apa kau tidak ingat, Mohan yang mengantarkan kakek" ucap Pak Sondakh.


"Kemana Paman Maesto?" tanya Sella mengingat kembali saat dia mengantarkan kepergian Pak Mariho tadi sore.


"Kau masih muda sudah pelupa, jelas-jelas Maesto mengantarkan Pak Mariho, sudah ya ...." ucap Pak Sondakh untuk mengakhiri panggilan mereka.


"Bagaimana denganku" ucap Sella memotong pembicaraan itu.


"Kau bisa pulang sendiri" ucap Pak Sondakh.


"Tunggu dulu ...." ucap Sella. Namun panggilan itu langsung di putus sepihak oleh Pak Sondakh.


"Tua bangka ini, senang banget buat orang susah" ucap Sella langsung bangkit dari sofa.


"Kenapa taksi tidak ada yang datang kesini saat dibutuhkan, hari sudah mau gelap" ucap Sella memperhatikan sekitar. Ketika Sella menoleh kesamping. Winston sudah sibuk berbincang-bincang dengan temannya.


"Pria ini masih ada disini" gerutu Sella ingin menyembunyikan dirinya. Namun tidak ada tempat untuknya bersembunyi. Sella pun kembali duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.


"Wins, kau mau kemana" ucap salah satu teman Winston.


"Aku akan menyusul, masih ada hal kecil yang harus aku urus" ucap Winston sembari memperhatikan Sella.


"Kami akan tunggu kau nanti" ucap teman Winston.

__ADS_1


"Oke, nanti kukabari" ucap Winston mengantar teman-temannya keluar dari lobi. Setelah temannya pergi, Winston langsung menghampiri Sella.


"Kayaknya kakek sengaja meninggalkan aku disini sendirian" batin Sella. Saat Sella bangkit dari sofa, kepala Sella malah berbenturan dengan dagu Winston.


"Jdugh ...."


"Ah ...." teriak Winston langsung memegangi dagunya. Begitu juga dengan Sella spontan mengelus kepalanya.


"Kau ngapain" ucap Sella masih memegangi kepalanya.


"Wanita ini benar-benar" ucap Winston masih memijat dagunya.


"Kenapa kau menyalahkan aku, kau sendiri yang salah, tiba-tiba datang kemari. Lagian kau pikir hanya dagumu yang sakit, kepalaku ini juga sakit tau" ucap Sella mengomeli Winston.


"Wah, begini sikap seorang Nona besar kalau berada diluar, bahkan tidak minta maaf" ucap Winston.


"Walau sekalipun kau seorang bos besar, aku tidak akan minta maaf, harusnya kaulah yang minta maaf, idih ... benar-benar deh pria ini" ucap Sella menatap sinis pada Winston.


"Tadi pagi dia masih menjaga tata bicaranya padaku. Sekarang dia berbicara seolah-olah aku adalah temannya. Sebenarnya ada berapa banyak hal yang dia sembunyikan" batin Winston.


"Baiklah, aku minta maaf" ucap Winston sembari tersenyum pada Sella.


"Nampaknya kau tidak tulus" ucap Sella.


"Bukan urusanmu" ucap Sella kembali memperhatikan aplikasi Grab pada ponselnya.


"Jangan bilang kau ditinggalkan sendirian disini dan kau tidak tahu bagaimana caranya pulang" ucap Winston menebak kondisi Sella saat ini.


"Aku tahu kok" ucap Sella dengan ketus langsung beranjak melewati Winston. Namun dengan sigap tangan Sella sudah Winston pegang.


"Kau baru kembali ke Jakarta, tidak baik naik kendaraan dengan orang asing. Ikut denganku saja" ajak Winston menarik tangan Sella.


"Bagiku kau juga orang asing, lagian aku sudah pesan grab car" ucap Sella mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Winston. Pegangan tangan Winston sangat erat, membuat Sella terpaksa mengikuti ajakan Winston.


"Aku bukan orang asing" ucap Winston tetap memegangi tangan Sella sampai masuk kedalam mobil. Winston langsung membukakan pintu mobil untuk Sella.


"Masuk" ucap Winston mempersilahkan Sella agar segera masuk.


"Aku tidak mau" Sella langsung berbalik badan.


"Sangat keras kepala" ucap Winston langsung menangkap pinggang Sella. Tubuh Sella sudah bersentuhan dengan dada bidang milik Winston. Sella langsung memberontak merasakan tubuhnya dipeluk dari belakang.


"Lepaskan aku ... kau mau apa, plak ... plak ...." tangan Winston habis Sella pukuli. Winston langsung memeluk erat tubuh Sella. Hawa panas dari suhu tubuh mereka saling mengalir, ada sensasi hangat yang Sella rasakan karena pelukan Winston padanya.


"Jika kau terus melawan, aku tidak bisa menjamin keamanan dirimu, mungkin lehermu ini akan kugigit" ucap Winston sembari nafasnya memburu pada leher Sella. Hal itu membuat tubuh Sella mulai menggeliat.

__ADS_1


"Apa yang pria ini lakukan" batin Sella menahan dirinya untuk tidak terbawa suasana. Winston langsung tersenyum melihat ekspresi Sella sudah diam dipelukannya. Sella tidak mau melihat wajah Winston. Winston langsung mengangkat tubuh Sella untuk masuk kedalam mobil.


Setelah Sella duduk disamping kemudi, Winston pun ikut masuk kedalam mobil. Winston sendiri yang mengemudikan mobilnya.


"Kau mau apa" ucap Sella mendorong dada Winston.


"Sabuk pengamanmu belum terpasang" ucap Winston mendekat pada Sella.


"Aku bisa memasangnya" ucap Sella mendorong kembali tubuh Winston. Winston sudah terlanjur meraih seat belt itu, dia pun memasang seat belt itu pada tubuh Sella hingga seat belt itu terkunci pada pengaitnya. Suasana menjadi canggung karena jarak tubuh Winston sangat dekat dengan tubuh Sella.


"Tubuh wanita ini masih saja wangi, padahal dia baru saja selesai olahraga, masih berkeringat" batin Winston memandangi wajah Sella.


"Kau jangan terlalu dekat" Sella langsung memalingkan wajahnya. Seketika Sella kembali merinding merasakan hembusan nafas Winston memburu pada area dadanya.


"Rambutmu berantakan" ujar Winston sambil merapikan rambut Sella.


"Aku bisa merapikannya" ucap Sella menangkap tangan Winston. Tatapan mata mereka pun bertemu.


"Ada apa denganku, kenapa jantungku berdegup" batin Sella. Wajah Winston semakin dekat pada wajah Sella.


"Apa kau tertarik padaku" ucap Sella mengalihkan keadaan mereka.


"Tertarik, itu tidak mungkin, aku baru sadar ternyata aku sedari tadi memandangi dirimu, tidak ada sedikit pun yang menarik, yah walaupun ukuranmu lumayan" ucap Winston langsung kembali ketempat duduknya.


"Hampir saja aku lepas kendali" batin Winston sembari menghidupkan mesin mobilnya.


"Dasar cabul" ucap Sella langsung merapikan atasan pakaiannya. Winston pun tersenyum nakal pada Sella.


"Kau tidak perlu khawatir dekat denganku, kau tidak masuk kriteria sebagai wanitaku. Aku hanya menyentuh wanita yang layak" ucap Winston langsung membawa mobilnya keluar dari Country Club.


"Presdir Winston yang terhormat, jika di dunia ini tersisa satu pria dan pria itu adalah kau, lebih baik aku kawin dengan bantal saja dari pada memilihmu. Siapa juga yang mau jadi wanitamu" ucap Sella sembari mengepalkan tangannya.


"Haha ... bisa-bisanya kau bandingkan aku dengan bantal" Winston malah tertawa mendengar penuturan Sella.


"Apa dia sudah gila karena ditinggalkan mantan istrinya" batin Sella. Sella tidak ingin membalas ucapan Winston. Sella memilih memejamkan matanya karena perjalanan menuju kediaman kakeknya membutuhkan waktu selama 60 menit.


Bersambung..........


Hai reader πŸ€—


Tetap dukung kisah Winston dan Sella dengan like dan komentar ☺️


Oya, jadikan favorit untuk up selanjutnya yaπŸ˜‰


See You πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹

__ADS_1


__ADS_2