
"Setelah ini kita kemana?" tanya Sella pada Mohan sembari menatap kearah jendela mobil. Mobil yang membawa Sella sudah keluar dari Perusahaan Shefard.
"Jadwal Nona selanjutnya bertemu dengan founder Perusahaan kelapa sawit terbesar di dunia. Beliau saat ini sudah bersama Tuan Besar. Kita akan berangkat ke lapangan golf Jagorawi Golf" ucap Mohan.
"Lapangan golf?" Sella langsung menatap pada Mohan.
"Nona bisa istirahat sebentar, perjalanan kita memakan waktu selama 60 menit" ucap Mohan sembari menatap jam tangannya.
"Apa hubungannya lapangan golf dengan urusan bisnis Perusahaan. Setahuku Perusahaan Sondakh dalam waktu dekat tidak mengadakan turnamen golf" ucap Sella sembari memeriksa ponselnya.
"Beliau hobi bermain golf. Kebetulan kemampuan Nona sangat baik, Tuan Besar memasukkan acara ini dalam jadwal Nona" ucap Mohan.
"Si tua Bangka itu bahkan menjual kemampuan cucunya untuk meraup keuntungan" sindir Sella langsung mematikan layar ponselnya. Tidak ada hal menarik yang perlu dia lihat pada ponselnya. Mengingat selama ini dia selalu berganti ponsel sebagai keamanan dirinya. Bahkan media sosialnya selalu di blokir oleh kakeknya.
"Ini demi kemajuan Perusahaan bukan keuntungan semata" ucap Mohan mencela ucapan Sella.
"Terserah kau saja, hidup dan matimu nampaknya sudah dikendalikan oleh kakek. Sekalian saja kau yang jadi cucunya" Sella pun mencibir pada Mohan. Mohan tidak membalas ucapan Sella. Mohan fokus menyetir mobil. Tidak ada balasan gubrisan dari Mohan, Sella pun langsung memejamkan matanya.
"Drt ... drt ...."
Belum lama Sella memejamkan matanya. Ponsel Sella sudah berdering, hal itu membuat Sella jadi terbangun.
"Sial, siapa sih yang menghubungi" pekik Sella dalam hati sembari meraih ponsel yang ada didalam tas sandangnya.
"Nomor baru" ucap Sella pelan melihat nomor baru yang menghubunginya melalui aplikasi WhatsApp. Sella menghiraukan panggilan itu.
"Bukannya nomor telepon yang kau berikan ini masih baru, kenapa marketing perbankan menghubungiku" ucap Sella langsung mematikan layar ponselnya.
"Maaf Nona, setahu saya nomor itu masih baru sekali, belum ada yang pernah memakainya. Nomor ini dikhususkan untuk Nona oleh Tuan Besar" ucap Mohan memastikan. Tidak lama kemudian ponsel Sella bergetar kembali. Sella pun melihat layar ponselnya. Nomor baru tadi kembali menghubungi nya melalui telepon biasa bukan dari aplikasi WhatsApp.
"Halo, saya tidak butuh asuransi dan pinjaman apapun itu, jangan hubungi saya lagi ...." bentak Sella. Ternyata Sella ada trauma dengan panggilan telepon. Karena sebelumnya selama Sella kuliah. Nomor Sella yang sebelumnya dia pakai sering sekali nomor baru menghubunginya. Bahkan sempat Sella saat itu hampir kecelakaan hanya untuk mengangkat telepon. Sella berpikir waktu itu mungkin panggilan itu sangat penting dari kakeknya. Ternyata bukan, dia hanya mendapatkan telepon dari penawaran asuransi.
"Ini aku" balas dari ponsel Sella. Mendengar suara itu Sella tidak jadi mematikan panggilan itu.
"Kau" ucap Sella menebak suara itu.
"Hampir saja telingaku ini budek mendengar suaramu barusan" ucap Winston dari balik ponsel Sella.
"Kau ...." ucap Sella sambil mengehela nafas. Sella tidak percaya mendengar suara Winston barusan.
"Bisa-bisanya kau tahu nomor handphoneku" ucap Sella ingin segera mengakhiri obrolan mereka.
"Apa yang tidak bisa aku lakukan" ucap Winston dari seberang.
"Seenaknya saja menguntit orang lain, sebenarnya kau mau apa?" ucap Sella pada intinya.
"Aku hanya ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja. Mengingat kau pergi dari kantorku tanpa pamit. Sebagai partner yang baik aku melakukan tugasku" ucap Winston.
"Presdir Winston yang terhormat, aku baik-baik saja, aku juga tidak butuh simpati darimu. Simpan simpati mu itu untuk wanita lain! Udah ya aku sibuk" ucap Sella.
__ADS_1
"Tunggu dulu, kau harus menyimpan nomor handphoneku ini. Buat namaku dikontak ponselmu Winston tampan, haha ...." ucap Winston terkekeh-kekeh dari balik ponsel Sella.
"Dasar narsis" ucap Sella langsung mematikan panggilan itu.
"Bagaimana mungkin aku bisa menikahi pria seperti dia, ih ...." batin Sella. Baru Sella ingin memasukkan ponselnya kedalam selempangnya, ponsel Sella kembali bergetar. Sella pun membuka layar ponselnya. Nomor baru yang menghubunginya melalui aplikasi WhatsApp tadi mengiriminya foto baru. Sella pun membuka foto itu.
"Winston brengsek ...." teriak Sella memperhatikan foto dirinya memegangi gaunnya yang terbuka. Dari foto yang Sella lihat tampak punggungnya yang terbuka.
"Nona" ucap Mohan sangat terkejut mendengar suara Sella barusan.
"Pria ini berani-beraninya menyebarkan foto pribadiku" pekik Sella mengotak atik ponselnya memarahi Winston. Mohan pun geleng-geleng kepala melihat sikap Sella.
Tidak lama kemudian, mobil yang membawa Sella pun tiba di lapangan golf Jogorawi Golf.
"Sial, kenapa cuacanya panas sekali" ucap Sella menutupi wajahnya dari sinar matahari.
"Nona biarkan saya memayungi anda" seru salah seorang pelayan wanita sembari mengejar langkah kaki Sella.
"Tidak perlu" tolak Sella. Sella fokus memperhatikan kakeknya sedang menemani seorang pria juga seumuran dengan kakeknya bermain golf. Sella yakin pria itu adalah tamu undangan untuk urusan bisnis. Pelayan wanita itu tertinggal jauh dari langkah Sella. Kaki Sella memang begitu jenjang.
"Sella, kemarilah" ucap Pak Sondakh sembari mengembangkan senyumnya menyambut kedatangan Sella.
"Kenapa pak tua ini terlihat akrab padaku didepan umum. Apa mungkin dia salah makan" batin Sella. Sella pun menghampiri Pak Sondakh dan tamu undangannya.
"Kakek" ucap Sella dengan gugup. Ini kali pertama Sella memanggil Pak Sondakh dengan sebutan kakek didepan umum.
"Pak Mariho, ini cucuku yang kuceritakan barusan, namanya Micella" ucap Pak Sondakh pada tamu undangannya.
"Salam kenal Tuan Mariho, saya Micella, biasa dipanggil Sella" ucap Sella dengan sopan mengulurkan tangannya.
"Pak Sondakh, cucumu benar-benar cantik, aku harap kemampuan bermain golfnya juga cantik" ucap Pak Mariho membalas jabatan tangan Sella.
"Itu tidak perlu diragukan lagi Pak Mariho, dia ini sangat jago hole in one" ucap Pak Sondakh kembali mengelus punggung Sella. Dengan terpaksa Sella langsung mengembangkan senyumnya pada Pak Mariho.
"Aku tidak sabar menantikan kehebatan golfmu Sella" ucap Pak Mariho sembari memberikan tongkat golf (golf club) pada Sella.
"Sebenarnya apa yang Tuan dengar tidak sepenuhnya benar, kemampuan saya tidak seberapa" ucap Sella.
"Haha, kau tidak perlu merendah padaku, aku ini sudah tua. Kau juga tidak perlu formal, panggil saja aku kakek, aku sudah seumuran dengan kakekmu" ucap Pak Mariho.
"Benar Pak Mariho, cucuku juga cucumu, jika kau melihat kemampuan Sella nanti, jangan lupa dengan janjimu tadi" ucap Pak Sondakh.
"Apa yang aku pikirkan, dia tetaplah orang yang menekankanku, dia menjual kemampuan cucunya untuk urusan bisnisnya" batin Sella.
"Kau harus mengalahkannya, aku sudah banyak memujimu, harga diriku ada padamu" bisik Pak Sondakh pada Sella. Pak Sondakh pun mengambil tempat untuk istirahat sejenak.
"Nona Sella, suasana disini masih panas, ini topi anda" ucap Mohan memberikan topi berwarna putih pada Sella.
Sebelum memulai permainan golf, Sella pun melakukan pemanasan.
__ADS_1
"Tubuhmu lumayan terbentuk, kau juga mirip dengan seseorang yang aku kenal. Aku pikir kau anaknya. Apa mungkin aku salah" ucap Pak Mariho masih berpikir.
"Tuan pasti berpikir saya mirip dengan mama saya" ucap Sella menebak. Pak Mariho pun memperhatikan wajah Sella.
"Bukan, aku tidak terlalu kenal mamamu, aku juga bertemu dengannya hanya beberapa kali. Aku merasa kau mirip dengan seseorang. Tapi dimana ya" ucap Pak Mariho lagi sembari berpikir mengingat-ingat seseorang yang mirip dengan Sella.
"Mungkin wajah saya pasaran" ucap Sella.
"Entahlah, mungkin aku yang salah ingat. Aku sangat kaget kalau kakekmu masih memiliki penerus, aku pikir kekayaannya akan dia sumbangkan untuk amal. Ternyata dia merahasiakan segalanya dan masih memiliki cucu yang sangat cantik" ucap Pak Mariho.
"Kalau dipikir-pikir, dia ada kemiripan dengan keluarga Wijaksono" batin Pak Mariho.
"Tuan terlalu memuji saya" ucap Sella langsung meemegang tongkat golf yang diberikan Pak Mariho tadi. Ia pun berdiri di samping bola golf. Sella pun merenggangkan kedua kakinya selebar bahu, sembari menekukkan sedikit lututnya. Untuk menstabilkan kekuatan ayunan tongkat, Sella sudah menaburkan bedak bayi ketelapak tangannya. Tips ini selalu Sella pakai setiap bermain golf. Merasa posisi tubuhnya sudah pas, Sella pun memukul bola golf. Bola yang Sella pukul tepat sasaran masuk ke lubang pertama. Pak Mariho langsung mengembangkan senyumnya melihat kemampuan golf Sella.
Tidak lama kemudian setelah putaran permainan selesai.
"Prok ... prok ...." Pak Mariho dan Pak Sondakh langsung tepuk tangan pada Sella.
"Permainan anda bagus Nona Sella, semoga lebih bagus kedepannya" ucap Pak Mariho sembari melepaskan topinya. Begitu juga dengan Pak Sondakh ikut melepaskan topinya.
"Saya akan berlatih, supaya lebih baik lagi" ucap Sella ikut melepaskan topinya.
"Prok ... prok ...." seseorang pun ikut tepuk tangan dari arah kejauhan sembari melepaskan topinya. Saat orang tersebut jaraknya semakin dekat. Sella langsung melotot melihat kedatangan Winston.
"Kenapa dia ada disini" gerutu Sella pelan.
"Presdir Winston" ucap Pak Mariho dan Pak Sondakh bersamaan.
"Permainan golf Nona Sella sangat bagus, semoga lebih baik kedepannya" ucap Winston meraih tangan Sella untuk berjabat tangan. Sella pun terpaksa membalas jabatan tangan Winston barusan.
"Akan saya usahakan" ucap Sella memaksakan senyumnya.
"Kita bertemu lagi" bisik Winston pada Sella.
"Dunia ini memang sempit" balas Sella masih menjabat tangan Winston dengan tenaganya.
"Aku sudah meremehkan wanita ini, tenaganya lumayan kuat, tanganku sangat sakit" batin Winston menarik tangannya.
"Gila, bisa-bisanya aku bertemu lagi dengan pria brengsek ini" pekik Sella dalam hati.
Bersambung .............
Hai reader π€
Author kembali lagi dengan kisah Winston dan Sella. Pada kengen gak dengan kisah mereka. Author harap kalian suka dengan karya ini. Ya ... walau pun agak lama up nyaβΊοΈ
Tapi kalian jangan khawatir, author akan usaha supaya bisa up, jangan lupa ya like dan komentar, agar author semangat lanjutin kisah mereka π
See You πππ
__ADS_1