Terjebak Cinta Tuan Muda Duda

Terjebak Cinta Tuan Muda Duda
Bab 8. Bunga Tulip


__ADS_3

Setelah mendapatkan perintah dari Pak Sondakh. Seharian penuh Sella memikirkan perintah itu didalam kamarnya.


"Aku bahkan tidak mengenal pria itu. Tidak mungkin aku menikah dengannya ... lalu bagaimana dengan Nikolas. Selama aku hidup, aku sangat menyukai Niko, sampai sekarang aku selalu mengejar-ngejarnya. Namun aku belum bisa mendapatkannya. Sekarang Niko juga sudah memiliki kekasih. Apa aku memang tidak di takdirkan bersama pangeran impianku" batin Sella sembari menarik selimutnya.


Keesokan harinya, mata Sella masih mengantuk karena dia tidak bisa tidur memikirkan perintah kakeknya.


"Selamat pagi Nona Muda" ucap Mohan sembari membukakan pintu mobil untuk Sella. Sella tidak menggubris ucapan Mohan barusan. Sella pun masuk kedalam mobilnya dan memilih duduk dikursi pengemudi.


"Nona, anda tidak boleh menyetir sendiri" ucap Mohan menggedor pintu kaca mobil. Ternyata Sella sudah menutup semua pintu mobil.


"Nona, jangan paksa saya untuk bertindak kasar" ucap Mohan sembari memberikan perintah pada pengawal. Para pengawal itu pun langsung berdiri menghalangi di depan mobil Sella.


"Pria ini sangat keterlaluan ...." tangan Sella langsung membanting setir mobilnya. Sella pun membuka kaca pintu mobilnya.


"Nona ... sejak anda kembali, Tuan Besar sudah memerintahkan saya untuk mengawasi anda" ucap Mohan sembari membuka pintu mobil dari dalam.


"Apa kau tidak tahu hari ini tanggal berapa" ketus Sella. Mohan pun mengingat-ingat hari ini tanggal berapa. Mohan sangat terkejut setelah tahu hari ini adalah tanggal terpenting bagi Sella. Mohan langsung menarik dirinya dari mobil itu. Sella pun langsung menghidupkan mesin mobilnya sembari menutup kembali pintu mobil.


"Biarkan dia pergi" ucap Mohan pada pengawal. Para pengawal itu langsung undur diri. Sella pun melajukan mobilnya setelah para pengawal itu melepaskannya. Mobil itu dengan cepat menghilang dari gerbang utama kediaman Sondakh.


"Kita ikuti dia dari kejauhan" ucap Mohan langsung masuk kedalam mobilnya.


"Baik" ucap para pengawal itu mengikuti Mohan masuk kedalam mobil.


Pagi itu Pak Sondakh baru selesai sarapan. Melihat cucunya sudah rapi pagi sekali, Pak Sondakh ingin menyapa Sella. Namun Sella tidak menghiraukan keberadaan kakeknya. Pak Sondakh pun memperhatikan tindakan Sella dari kejauhan.


"Dia masih bisa bangun pagi, aku yakin dia tidak bisa tidur semalaman" batin Pak Sondakh. Pak Sondakh pun geleng-geleng kepala melihat sikap Sella terhadap Mohan.


"Dia masih saja keras kepala. Aku tidak tahu keras kepalanya itu dari siapa ... putriku tidak pernah membantah perintahku. Apa mungkin dia meniru sikap ayahnya yang brengsek itu. Sampai sekarang aku masih merahasiakan identitas ayahnya. Aku sangat takut memberitahukan padanya siapa sebenarnya ayah kandungnya" batin Pak Sondakh lagi.


"Tuan Besar, Nona Muda pergi menyetir sendiri" bisik Maesto pada Pak Sondakh. Maesto merupakan pengawal pribadi Pak Sondakh, sekaligus kepala operasional keamanan di kediaman keluarga Sondakh.


"Hem ... suruh mereka mengawasi dari kejauhan" balas Pak Sondakh.


"Baik Tuan" ucap Maesto langsung memberikan sinyal pada Mohan.


"Sudah 20 tahun berlalu, hari menyedihkan ini akan terus dia kenang. Seandainya saja Sella lahir dari pernikahan yang sah, semuanya akan baik-baik saja saat ini. Bahkan mungkin saat ini aku sudah mendapatkan cucu laki-laki juga sebagai penerus" batin Pak Sondakh.


Sementara itu,


"Kenapa aku kekanakan begini, sudah jelas mereka akan membuntutiku" ketus Sella sembari memperhatikan kaca spion mobilnya.


Sella pun menambah kecepatan mobilnya sembari memperhatikan kaca spion mobilnya.


"Aku berharap mereka tidak mengikutiku" batin Sella. Sella terus menyusuri kota Jakarta Selatan. Saat melewati daerah Kebagusan, Sella pun ingat sesuatu.

__ADS_1


"Ckit ...." tiba-tiba saja Sella menginjak rem mobilnya. Mobil Sella berhenti tepat di toko bunga dekat jalanan kecil jauh dari perumahan.


"Sudah lama aku tidak berkunjung kesini" ucap Sella berbicara sendiri sembari membuka pintu mobil. Sella pun keluar dari mobil. Toko bunga itu masih sepi dari pengunjung. Mungkin karena Sella datang terlalu pagi, pengunjung toko bunga juga sepi.


"Neng Sella ...." teriak seorang wanita paruh baya pada Sella.


"Ibu Rena masih kenal denganku" ucap Sella sembari melepas kacamatanya.


"Tentu saja kenal, Neng Sella sudah tumbuh dewasa" ucap ibu Rena sambil merapikan rangkaian bunga untuk dipajang.


"Waktu memang cepat berlalu" ucap Sella sembari memperhatikan semua rangkaian bunga yang sudah terpajang.


"Neng Sella mau bunga apa?" tanya ibu Rena pada intinya mengetahui kedatangan Sella.


"Bukannya ibu Rena sudah tahu, bunga yang biasa saja" lirik Sella pada serangkai bunga Tulip warna putih.


"Neng Sella, maaf sebelumnya stok bunga tulip warna putih ini sudah tidak ada lagi. Kebetulan perkembangan bunga ini sangat langka akhir-akhir ini" ucap ibu Rena sembari meraih rangkaian bunga mawar warna putih lalu disodorkan pada Sella.


"Ibu Rena tidak perlu khawatir, aku ambil ini saja. Walau bunga ini yang tersisa, ini masih segar kok" ucap Sella langsung meraih bunga tulip tadi.


"Neng ... bukan seperti itu maksud ibu" ucap ibu Rena. Ibu Rena semakin panik karena seseorang sudah keluar dari mobil mewah menghampiri mereka.


"Ibu Rena, aku ambil ini saja" ucap Sella sembari memberikan selembar uang seratus ribu rupiah pada ibu Rena. Sella langsung memakai kaca mata hitamnya.


"Ibu Rena, aku datang menjemput bunga untuk Tuan Muda Winston" ucap Saha.


"Neng Sella, sebelumnya saya minta maaf, saya tidak tahu kalau Neng Sella akan kembali dihari ini, sebelumnya saya selalu menyiapkan bunga tulip warna putih untuk Neng, namun selama 4 tahun belakangan Neng Sella sudah tidak kembali kemari. Bunga tulip itu sudah ada yang pesan" ucap ibu Rena sembari mengulurkan uang yang Sella berikan tadi. Sella pun menolak uangnya.


"Ibu Rena, masih ada bunga tulip warna lain?" tanya Sella.


"Kebetulan stok bunga tulip datangnya nanti sore Neng" ucap ibu Rena.


"Kalau begitu berikan saja bunga yang lain padanya" ucap Sella sembari melirik pada Saha. Ibu Rena semakin kebingungan menghadapi situasi saat ini.


"Nona, Tuan Muda saya sudah lebih dulu memesan bunga ini. Bunga tulip warna putih ini sangat sulit ditemukan. Lebih baik Nona mengembalikan bunga itu padaku" ucap Saha.


"Katakan pada Tuan Mudamu, aku lebih dulu datang kemari, bunga ini sudah jadi milikku" ucap Sella langsung melangkah menuju mobilnya.


Melihat Saha sedang berdebat dengan seorang wanita, membuat Winston keluar dari mobil. Winston pun beranjak menghampiri Saha.


"Saha, kenapa kau lama sekali" ucap Winston.


"Tuan Winston, saya minta maaf, Neng Sella sudah membawa bunga pesanan anda" ucap ibu Rena sembari melirik pada Sella yang sudah beranjak.


"Kenapa wanita itu terlihat familiar" batin Winston.

__ADS_1


"Saha, apa yang kau lakukan, apa yang sudah menjadi milikku tidak bisa dirampas oleh orang lain" ucap Winston penuh penekanan.


"Maaf Tuan Muda" Saha pun langsung berlari menghampiri Sella. Saat Sella membuka pintu mobilnya, tangan Saha langsung menahan pundak Sella. Sella pun berbalik badan. Winston pun ikut menghampiri Sella. Sesekali Winston memperhatikan mobil yang Sella pakai.


"Nona, lebih baik anda memberikan bunga ini untuk saya" ucap Saha.


"Lepaskan tanganmu!" bentak Sella pada Saha.


"Ah, maafkan saya" ucap Saha langsung menarik tangannya.


"Ada begitu banyak bunga, namun untuk bunga tulip itu aku tidak bisa menyerahkannya untukmu" ucap Winston langsung meraih tangan Sella.


"Wanita ini sangat wangi, wanginya tidak asing" batin Winston. Sella langsung menginjak kaki Winston dengan tumit sepatunya.


"Mimpi saja" ucap Sella tidak memperhatikan wajah Winston dengan jelas.


"Ah ... wanita ini ...." teriak Winston sembari mengangkat kakinya. Wajah Winston langsung memerah merasakan rasa sakit di kakinya.


"Tuan Muda, anda baik-baik saja" ucap Saha mengkhawatirkan kaki Winston.


"Kenapa tenaga wanita ini kuat sekali" batin Winston.


"Nona, jangan buat saya bertindak kasar pada wanita, saya ini seorang pria" Ucap Saha langsung meraih tangan Sella. Sella pun dengan sigap melemparkan rangkaian bunga tulip tadi masuk kedalam mobilnya. Dengan gerakan yang sigap, Sella langsung membanting tubuh Saha.


"Brugh ...." tubuh Saha spontan terhempas kelantai. Mata Winston langsung terbelalak melihat tubuh Saha.


"Ukhuk ...." Saha menahan rasa sakit ditubuhnya karena malu sudah dihajar oleh seorang wanita.


"Aku sudah sepele dengannya" batin Saha.


"Jangan buat aku marah" pekik Sella sembari menekan kaki Saha.


"Kya ... sakit ...." teriak Saha meringis menahan sakit di kakinya. Sella langsung menarik tumit sepatunya.


"Mengalahlah pada wanita, bagaimana pun aku yang lebih dulu sampai disini. Kalian sudah menghabiskan banyak waktuku" ucap Sella langsung masuk kedalam mobilnya. Dengan cepat Sella menghidupkan mesin mobilnya. Mobil itu pun langsung melaju dengan cepat.


"Tuan kalian tidak apa-apa ... saya lupa mengatakan pada kalian, Neng Sella itu bukan wanita biasa" ucap ibu Rena membantu Saha untuk bangkit berdiri.


"Mobil yang dia kenakan tidak sembarangan mobil. Seingat ku merek mobil ini hanya ada 5 buah saat di launching. Siapa sebenarnya wanita ini, kalau saja dia membuka kaca mata hitamnya itu. Hum ... namanya Sella ya" batin Winston.


"Ya ampun Nona Sella, bisa-bisanya menindas orang lain. Apa dia tidak sadar, orang yang dia singgung adalah Tuan Muda Shefard" batin Mohan mengawasi dari kejauhan.


Bersambung...........


Hai reader πŸ€—

__ADS_1


Maaf ya lama update nya. Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa like dan komentar kalian ya☺️


See You πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


__ADS_2