Terjebak Cinta Tuan Muda Duda

Terjebak Cinta Tuan Muda Duda
Bab 16. Saran Teman


__ADS_3

Malam datang menjemput, mengantarkan manusia untuk istirahat sejenak. Menghilangkan penat setelah beraktifitas seharian. Kerlip kota Jakarta begitu menawan. Merah putih pertanda pancaran warna dari kendaraan yang berlalu lalang.


Kebiasaan masyarakat kota Jakarta jika bertemu dengan malam hari adalah menikmati kuliner malam. Tidak heran lagi dengan kota ini, ada begitu banyak tempat kuliner yang buka saat malam dan tutup saat matahari terbit. Begitu juga tempat hiburan malam menjadi sasaran kalangan anak muda untuk melepas penat sejenak.


Suara alunan musik mengiringi tarian muda-mudi dilantai dansa dibarengi lampu gerlap-gerlip. Sesekali mereka bersorak saat irama musik seirama dengan tarian mereka. Tidak pandang bulu baik pria atau pun wanita tetap ikut menari bersama. Malam ini Winston sudah tiba di Klub tempat biasa dia hangout bersama teman-temannya.


"Wins ...." teriak salah seorang pria dari tempat duduknya. Winston pun memperhatikan sumber suara itu. Ternyata suara itu datang dari lantai dua.


"Tuan Muda, sebaiknya anda menunda pertemuan ini. Jadwal anda seharusnya menemui Tuan Besar" ucap Saha mengikuti langkah kaki Winston menaiki tangga menuju lantai dua. Winston tidak peduli dengan ucapan Saha. Winston pun bergegas menemui teman-temannya.


"Bro" sahut Winston sembari mengacungkan tinjunya pada temannya. Teman Winston balas mengacungkan tinju mereka pada Winston. Winston pun balas merangkul dan memeluk mereka satu persatu.


"Wins, what happened? why you come late?" tanya Rehan teman Winston semasa putih abu-abu.


"Sewaktu kau masih berstatus sebagai suami sih it's okey. Tapi kan sekarang sudah single, urusan bisnis itu nanti saja" ucap Bima menimbuhi. Winston pun langsung ambil posisi duduk di bangku bagian tengah. Teman-temannya sudah mempersiapkan bangku itu untuk pria yang berstatus ex-husbund.


"Ada hal kecil yang harus kuselesaikan" ucap Winston sembari meraih botol minuman yang ada di hadapannya.


"Tuan Muda, sebaiknya anda mengkonsumsi bir tanpa alkohol" ucap Saha langsung menepikan whiskey itu dari tangan Winston.


"Wah, dari dulu sampai sekarang dia masih setia menjadi pelayanmu" cengir Dimas mengejek Saha selalu mengawasi aktifitas Winston.


"Kau hanya bisa mengejek, bukannya keadaanmu lebih parah, kau bahkan diawasi orang rumahmu 24 jam" ucap Winston pada Dimas. Winston pun mengarahkan padangannya pada seorang wanita.


"Hay Karen ...." ucap Winston lagi sembari melambaikan tangannya pada seorang wanita cantik yang ada di samping meja mereka.


"Hay Wins, kau semakin tampan saja, butuh pendamping tidak" balas Karen sembari mengedipkan matanya. Rehan dan Bima malah tertawa mendengar ucapan Winston.


"Boleh juga" ucap Winston sembari mengembangkan senyumnya. Karen pun beranjak dari mejanya.


"Dia belum orang rumahku, masih calon!" tegas Dimas. Saat Karen ambil posisi duduk disamping Winston, Dimas langsung menarik tangan Karen.


"Karen, kau mau apa, kembali kekursimu!" ucap Dimas memerintah. Teman-teman Winston malah tertawa melihat sikap Dimas yang mudah cemburu.


"Baiklah sayang" ucap Karen langsung kembali ke posisinya semula.


"Apa kau tidak bosan terus-terusan berpacaran" ucap Winston pada Dimas.


"Statusnya saja pacaran, tidur mah bareng terus" ucap Bima langsung menimbuhi topik pembicaraan itu.


"Karen itu gadis baik-baik, kalau kau hanya untuk main-main dengannya, sebaiknya kau sudahi hubungan kalian" ucap Rehan ikut menimbuhi.


"Dia tidak mungkin melepaskan Karen, selagi masih ada yang gratis, kenapa tidak, bukan gitu bro" ucap Bima sembari tersenyum pada Dimas.


"Bima, kau keterlaluan banget sih. Aku mau ngapain dengan Karen itu bukan urusanmu. Aku yang jalani kenapa kau yang sok tahu. Sebejat-bejatnya aku, aku masih tau batasan. Kalian hanya melihat dari luar, aslinya aku belum pernah menyentuhnya" ucap Dimas membela diri.


"Terus kenapa kau tidak menikahinya?" tanya Bima lagi.


"Hah, kalau aku dapat restu dari ortuku, sudah dari lama aku menikahinya" ucap Dimas.


"Apa mungkin karena ortunya mantan koruptor" ucap Rehan pelan.


"Hust, bisa-bisa Karen dengar" ucap Dimas menutup mulut Rehan sembari menatap ke meja yang Karen tempati.


"Stop sampai disini ... kita bahas hal lain saja. Kalau membahas masalah hubungan Dimas dan Karen, tidak akan ada habisnya" ucap Winston mengalihkan pembicaraan.


Rehan pun mengangkat kedua bahunya. Sedang Bima langsung mengotak-atik ponselnya.


"Aku rasa kita sudah bisa membahas hal serius" ucap Winston pada intinya dia ikut bergabung bersama teman-temannya malam ini.


"Benar yang kau katakan, lebih tepatnya hal penting itu ada pada dia" unjuk Rehan pada Dimas. Rehan pun meneguk wine yang ada di hadapannya. Begitu juga dengan Bima ikut meneguk minumannya. Dimas pun langsung main mata pada Karen. Sedang Winston balas main mata pada Saha. Karen dan Saha langsung ikut instruksi, mereka pun keluar dari ruangan lantai dua.


"Apa hal penting yang ingin kau sampaikan" ucap Winston pada Dimas. Rehan dan Bima ikut serius menatap pada Dimas. Dimas langsung melemparkan dua lembar foto dari tasnya. Rehan dan Bima langsung berebut untuk memperhatikan foto itu.

__ADS_1


"Sepertinya aku kenal dengan wanita culun ini" ucap Rehan.


"Lalu wanita cantik ini siapa?" tanya Bima.


"Cantik, Secantik apa dia? Coba ku lihat" ucap Rehan langsung meraih foto itu. Foto yang ada di tangan Bima pun terjatuh kelantai karena dorongan dari tangan Rehan. Begitu juga foto yang Rehan pegang tadi ikut terjatuh .


"Aih, kalau wanita cantik, kau langsung maju kedepan" ucap Bima mendorong wajah Rehan dari hadapannya. Rehan pun menunduk untuk meraih foto tadi. Begitu juga dengan Winston ikut menunduk. Winston pun penasaran dengan foto yang jatuh kelantai. Ketika Winston meraih foto itu. Winston sangat terkejut melihat foto wanita culun itu.


"Kenapa Wins?" tanya Dimas melihat sikap Winston terheran-heran dengan foto itu. Rehan dan Bima pun menatap pada Winston.


"Bukannya wanita ini bonek cupu" ucap Winston dengan spontan.


"Bonek cupu" ucap Rehan dan Bima bersamaan. Dimas pun ikut kebingungan mendengar ucapan Winston barusan.


"Apa kau mengenal wanita culun itu?" tanya Bima pada Winston.


"Wanita benar-benar cantik" ucap Rehan memperhatikan foto yang ada di hadapannya.


"Dulu aku pernah bertemu dengannya, kalau tidak salah, sewaktu di kampus" ucap Winston mengingat kembali wajah culun itu.


"Lalu apa hubungannya kedua foto yang berbeda ini" ucap Bima pada Dimas.


"Mereka adalah orang yang sama" ucap Dimas sembari meraih kembali kedua foto itu.


"Tunggu dulu" ucap Winston saat memperhatikan foto yang satu lagi.


"Apa kau mengenal wanita ini" ucap Dimas.


"Bukannya wanita ini Sella" ucap Winston sembari menyamakan kedua foto itu.


"Aku rasa mereka berdua tidak sama, mereka berbeda" ucap Rehan memperhatikan kembali kedua foto itu.


"Apa mungkin wanita ini operasi plastik" ucap Bima lagi.


"Kedua foto itu adalah orang yang sama" ucap Dimas.


"Pantesan aku tidak asing dengan Sella, ternyata dia adalah wanita itu. Apa ini kebetulan" batin Winston.


"Aku sudah memeriksa identitasnya, dia tidak pernah operasi plastik, itu memang wajah aslinya" ucap Dimas.


"Dia begitu cantik, kenapa sampai menutupi kecantikannya dengan cupu begitu" ucap Reihan.


"Benar, mana ada wanita yang mau jelek, apa lagi saat di bangku perkuliahan" ucap Bima menimbuhi.


"Aku juga tidak tahu apa alasannya, yang jelas dia penerus keluarga Sondakh" ucap Dimas.


"Apa ...." ucap Reihan dan Bima lagi bersamaan. Bima langsung mengecek ponselnya untuk mengetahui lebih lanjut. Begitu juga dengan Reihan. Tidak lama kemudian semua informasi mengenai Sella langsung Reihan dan Bima ketahui melalui informasi di internet.


"Sudah setua ini, aku baru tahu kalau tante Eva memiliki seorang Putri, bahkan Putrinya sangat cantik" ucap Reihan.


"Aku juga baru tahu, bukannya Tante itu tidak pernah menikah. Sewaktu kecil dulu aku tidak pernah melihatnya hamil" ucap Bima mengingat.


"Kita kan dulu masih kecil, masih bocil, emang kau ingat" ucap Reihan mendorong lengan Bima.


"Waktu itu seingatku, Tante Eva pernah tinggal di luar negeri selama setahun. Ada yang bilang bahwa dia menikah disana dengan pengusaha Indonesia. Tapi identitas suaminya tidak diketahui. Semuanya sangat tertutup. Bahkan kalau tidak salah ingat, Tante Eva sempat jadi orang ketiga" ucap Bima mengingat.


"Melihat kecantikan Tante Eva dulu, aku juga sempat bercita-cita ingin menikahinya, tapi aku tidak ingat tentangnya. Kok bisa kau ingat hal sedetail itu" ucap Reihan.


"Emang aku sama denganmu, kau tetap saja ingusan, tentu saja aku ingat masa kecilku" ucap Bima.


"Brengsek, kayak kau tidak ingusan saja dulu" ucap Reihan balas memukul perut Bima.


"Kalian berdua, harusnya kalian minum Pertamax saja. Kalian sangat mirip dengan Tom and Jerry" ucap Dimas sembari meneguk minumannya.

__ADS_1


"Apa hubungannya kedua foto ini denganmu" ucap Winston pada intinya.


"Mendengar kabar ini, ayahku langsung menyuruhku untuk menikahi cucu Pak Sondakh" ucap Dimas.


"Bagaimana dengan Karen" ucap Winston mulai cemas dengan posisinya direbut oleh Dimas.


"Tentu saja aku menolak. Aku sudah ada Karen, tidak perlu secantik apa wanita yang di jodohkan untukku, aku akan tetap memilih Karen" ucap Dimas.


"Syukurlah Dim, kau harus berbaik hati padaku. Berhubung diantara kita berempat, hanya aku yang belum pernah pacaran, kalian harus merelakan wanita ini padaku" ucap Reihan.


"Bukan itu masalahnya. Apa kalian tidak janggal dengan kehadiran cucu Pak Sondakh ini. Kenapa beliau baru sekarang menunjukkan pada publik, kalau dia masih memiliki cucu. Apa kalian lupa, kematian Tante Eva saat itu sangat misterius. Bahkan saat itu juga kematiannya sama dengan hari kematian Tante Rika" ucap Dimas.


"Apa yang kau ucapkan, itu memang benar" ucap Winston.


"Dan yang aku ketahui, saat ini Winston sedang mendekati wanita ini" ucap Dimas sembari menunjuk foto itu. Reihan dan Bima sangat terkejut mendengar ucapan Dimas barusan. Mereka pun serentak menatap pada Winston.


"Ada apa dengan kalian" ucap Winston menyangkal ucapan Dimas tadi.


"Aku sudah menyelidiki Sella. Kau tidak perlu sungkan pada kami. Bagaimana pun kita adalah keluarga. Persahabatan mama kita akan tetap melekat pada anak-anaknya. Aku yakin kematian Tante Eva dan kematian Tante Rika ada hubungannya. Kenapa sekarang Pak Sondakh menunjukkan cucunya pada publik pasti berhubungan dengan kematian putri semata wayangnya" ucap Dimas.


"Kalau begitu, Winston akan dijadikan sebagai batu loncatan" ucap Bima menebak.


"Bisa di bilang begitu" ucap Dimas.


"Kau sudah sejauh ini menyelidiki segalanya" ucap Winston pada Dimas.


"Wins, selagi itu menyangkut kematian Tante Rika, aku akan membantumu. Aku tidak lupa janji kita dulu" ucap Dimas.


"Benar Wins, kita akan bantu semaksimal mungkin" ucap Reihan. Bima pun ikut mengangguk.


"Sudah selama ini, aku belum menemukan titik terang. Seolah-olah ada pihak yang menutup rapat-rapat terhadap kasus pembunuhan ini" ucap Winston sembari mengepalkan tangannya.


"Kau tidak sendirian, kami ada untukmu. Tanpa kau minta pun, kami akan tetap membantu" ucap Bima.


"Apa langkah selanjutnya yang akan kau lakukan" ucap Dimas.


"Dulu sewaktu di pemakaman mama, Pak Sondakh pernah memberikan surat padaku. Isi dari surat itu, menikahlah dengan cucuku. Aku pikir itu hanya tulisan lelucon. Dan sehari setelah cucunya sampai di Jakarta, dia mengabariku, bahwa cucu yang dia katakan dulu sudah siap dinikahkan. Aku sangat syok, aku pun memastikan segalanya. Namun sehari sebelum itu aku sudah bertemu dengan Sella di pemakaman" ucap Winston.


"Ini sangat gila, kau bahkan sudah pernah menikah, dan sekarang kau sudah duda, seolah-olah waktu memberimu kesempatan untuk mempersunting wanita yang ada pada surat itu. Surat itu pun sudah lama, sejak kau kanak-kanak" ucap Reihan tidak percaya.


"Terlihat seperti direncanakan" ucap Bima menimbuhi.


"Ini bukan lelucon, seperti yang Bima katakan, pasti ini sudah di rencanakan oleh Pak Sondakh. Jika dengan menikahi cucunya bisa memunculkan pelaku pembunuhan itu, kenapa tidak, Winston sudah melakukan segalanya selama ini, namun belum ada petunjuk, apa salahnya Winston mencoba" ucap Dimas memberikan saran.


"Wins, kau sudah pernah gagal menikah. Apa lagi wanita ini tidak kau kenal. Mempertahankan hubungan saja sangat sulit, apa lagi membangun dari awal. Apa kau mau pernikahan mu yang kedua kalinya gagal lagi. Aku lihat wanita ini adalah wanita baik-baik. Aku sebagai laki-laki tidak ingin membuatnya terluka. Apa lagi menjadikan dia sebagai alat. Pikirkan baik-baik Wins" ucap Reihan memberikan saran.


"Kalau aku sih, apa pun keputusan yang kau ambil, aku akan tetap mendukungmu. Kita bertindak tegas, tidak harus memakai perasaan. Ada begitu banyak wanita diluar sana yang mau jadi istrimu. Tapi segalanya akan kembali pada perasaan Wins" ucap Bima memberikan saran.


"Kenapa kita jadi serius begini" ucap Dimas sembari tersenyum.


"Wins, jika kau berubah pikiran, itu lebih bagus, aku siap ...." ucapan Reihan langsung terpotong saat Bima menutup mulutnya.


"Dimana kata-kata bijakmu tadi" ucap Bima menjitak pelipis pipi Reihan.


"Sakit Bim" celoteh Reihan mengelus pipinya.


"Hahaha ...." Mereka pun tertawa melihat tingkah Reihan balas meninju perut Bima. Winston sudah geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka.


Bersambung ...........


Orang yang berada di balik layar, dia tidak terkenal. Waktu tidurnya tidak tentu. Suksesnya acara, namanya tidak akan pernah disebut. Namun saat acara tersebut gagal, dia akan menjadi orang pertama yang di cari. Kegagalan dan keberhasilan berbanding terbalik padanya. @Purnama Sitinjak


Hai reader 🤗

__ADS_1


Author kembali lagi, maaf ya reader, author sangat lama untuk up selanjutnya. Beri like dan komentar kalian agar Novel ini berlanjut.🙏


See You 👋👋👋


__ADS_2