
"Djhudjhu ... djhudjhu ....β suara helikopter mulai mendekati area halaman belakang kediaman Sondakh. Seorang wanita muda dengan parasnya yang cantik, tubuhnya yang berisi serta bibir tipisnya yang merah merona tanpa dipoles oleh apapun. Wanita itu langsung turun dari helikopter sembari menenteng tas koper kecil berwarna hitam miliknya.
"Selamat datang Nona Muda" Ucap semua orang menyambut kedatangan Misella Sondakh. Wanita ini balas tersenyum pada pelayan yang sudah menyambutnya di kediaman keluarga Sondakh.
"Bi Ratri ...." ucap Sella ketika seorang wanita separuh baya muncul di depan pintu masuk ruang tamu.
"Ndok ... eh, Nona sudah pulang" ucap bibi Ratih sangat terkejut melihat kedatangan Sella yang begitu mendadak.
"Hanya wanita ini yang bisa kuajak kompromi, semua orang memperlakukan aku sebagai orang yang berbeda di kediaman ini, tapi untuk Bibi Ratih, dia sudah seperti ibu kandungku sendiri" batin Sella.
"Bi, panggilan Ndok nggak boleh berubah, aku seneng Bi Ratih panggil dengan sebutan ndok, jangan jadi orang lain untukku" bisik Sella sembari memeluk tubuh Bibi Ratri.
"Wes Ndok, Bibi juga seneng. Ndok ... kenapa kurusan, sebelumnya sudah gemukan" ucap Bibi Ratih memperhatikan penampilan Sella.
"Yah, you know lah Bi, si tua bangka selalu menekanku, apa aku sungguh kurusan. Ha ... Bibi aku juga inginnya gemukan" ucap Sella ikut memperhatikan penampilannya.
"Astaga, anak gadis Bibi" Bibi Ratih kembali memeluk tubuh Sella. "Ndok, jangan khawatir, Bibi akan masak kesukaanmu, semur daging sapi plus rendang jengkol, biar bisa gemukan lagi, hihi" bisik Bibi Ratih sembari tertawa kecil.
"Wah ... boleh juga, aku sudah kangen masakan Bibi" ucap Sella melepaskan pelukannya. Mereka pun masuk kedalam, sembari tertawa kecil Sella dan Bibi Ratih saling berbincang hingga Sella masuk kedalam kamarnya.
"Ah ... akhirnya aku kembali kerumah ini" ucap Sella berbicara sendiri sembari memperhatikan kamar pribadinya itu. Ketika arah pandangan Sella tertuju pada foto keluarga yang sudah rapi terletak diatas meja rias minimalis miliknya. Sella pun meraih foto itu.
"Mama ... sudah lama ya mama pergi. Bukan satu bulan atau satu tahun, tapi untuk selama-lamanya. Sekarang aku sudah dewasa, mama tahu tidak, sekarang aku sudah berhasil menjalankan bisnis kakek. Dari dulu mama selalu sibuk bahkan tidak ada waktu untuk keluarga. Aku baru sadar sekarang, ternyata mama melakukan semua itu karena sebuah alasan juga karena rasa bersalah mama pada kakek ...." tidak terasa air mata Sella pun mengalir sembari memeluk foto itu.
"Sudah 20 tahun mama pergi. Aku sengaja pulang hari ini karena hari ini adalah hari ulang tahun mama" ucap Sella lagi berbicara sendiri.
"Tok ... tok ...." suara ketukan pintu dari luar kamar Sella. Sella langsung buru-buru meletakkan kembali foto lama itu dan langsung melap matanya yang sudah basah. Setelah merasa keadaan dirinya sudah baik-baik saja dan wajahnya sudah kering, Sella pun beranjak untuk membuka pintu kamarnya.
"Ya ampun Mohan, ada apa" ucap Sella karena terkejut melihat Mohan sudah berdiri dihadapannya. Mohan adalah pelayan setia dikediaman Sondakh. Usia Mohan sama dengan usia Sella saat ini. Tugas Mohan dikhususkan untuk melindungi Sella sekaligus sebagai pengawal pribadi Sella. Sella sudah terbiasa memanggil dengan sebutan nama.
"Maaf Nona Sella, Tuan Besar memanggil Nona untuk menghadap keruangan beliau" sahut Mohan sembari menunjuk pada ruangan pribadi kakeknya.
"Aku bahkan belum sempat meminum air mineral di rumah ini, si tua bangka itu kenapa terburu-buru" gerutu Sella langsung menutup pintu kamarnya.
"Ini perintah Tuan Besar, lebih baik Nona segera masuk, Tuan Besar sangat sibuk, waktu luang beliau hanya sedikit" ucap Mohan sembari memonyongkon mulutnya untuk menunjuk pada pintu. Sella balas memonyongkon mulutnya pada Mohan.
__ADS_1
"Pria ini sangat menyebalkan" batin Sella.
"Sudah setua itu masih saja sibuk mengurusi dunia" ucap Sella lagi sembari melepaskan jaket yang masih bertengger di tubuhnya. Seorang pelayan wanita langsung meraih jaket Sella tadi.
"Sudah lama aku tidak mampir keruangan kakek, terakhir saat aku lulus kuliah" batin Sella.
"Silahkan Nona" ucap Mohan untuk mempersilahkan Sella masuk keruangan pribadi itu. Sella hanya mengangguk, Mohan pun langsung undur diri.
"Rambutnya sudah hampir memutih semua, seharusnya di hari tuanya ini, dia sudah bisa istirahat, namun sejak mama meninggal, tidak ada lagi yang bisa melanjutkan bisnis kakek, bahkan kakek masih meragukan kemampuanku" batin Sella sembari memperhatikan tubuh Pak Sondakh yang masih terlihat kekar walau wajahnya sudah berkeriput.
"Aku sangat sibuk, segeralah duduk!" perintah Pak Sondakh.
"Baiklah" ucap Sella dengan malas langsung melemparkan tubuhnya kesofa.
"Kekek memanggilmu karena urusan penting. Kau kembali kemari bukan untuk bersantai-santai" ucap Pak Sondakh sembari menyeruput minuman yang ada dihadapannya.
"Aku tahu diri kok, kakek jangan khawatir, aku pasti akan membalaskan kematian mama. Sekarang Perusahaan mereka sudah bangkrut, itu sudah menjadi langkah awal bagiku" ucap Sella.
"Kakek lupa mengatakan padamu, kau sudah dewasa sekarang. Usiamu saat ini sudah 25 tahun" ucap Pak Sondakh sembari menyerahkan lembaran artikel untuk Sella baca. Sella langsung membaca artikel itu. Dahi Sella mengerut saat mengetahui informasi dari artikel itu.
"Bukannya perusahaan ini adalah Perusahaan jam tangan bermerek. Apa hubungan Perusahaan Shefard dengan balas dendamku" ucap Sella sambil meletakkan artikel itu kembali keatas meja. Sella pun meraih gelas kosong yang ada dihadapannya, lalu mengisi gelas kosong itu dengan air mineral. Sella pun langsung meneguk isi gelas itu.
"Kau harus menikahi Presdir Shefard" ucap Pak Sondakh sembari menekan jari telunjuknya pada meja.
"Ukhuk ... ukhuk ...." air yang Sella minum langsung keselek ditenggorokannya.
"Apa maksud kakek?" tanya Sella untuk memastikan. Sella berharap dia salah mendengar perintah yang baru disampaikan oleh kakeknya.
"Apa ucapanku barusan kurang jelas. Presdir Shefard sekarang sudah duda, kau bisa menikahinya" ucap Pak Sondakh mengulangi perintahnya.
"Tidak-tidak ... perintah kakek semakin lama semakin ngawur saja" batin Sella. Sella langsung berdiri dari sofa. Sella langsung memegangi kepalanya, sembari tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kakek ... apa kakek serius?" tanya Sella tidak percaya. Tangan Sella mulai mengepal memikirkan ucapan kakeknya barusan.
"Aku sudah tahu sikapmu akan begini. Kakek menikahkanmu karena ada alasannya" ucap Pak Sondakh sembari menarikan jari telunjuknya agar Sella kembali duduk.
__ADS_1
"Kek ... apa kakek tidak memikirkan perasaanku, semuanya bisa aku lakukan, tapi .... " Sella diam sejenak.
"Selama ini aku sudah melakukan apa yang kakek perintahkan, segalanya kakek yang mengendalikan, aku ikut saja. Tapi untuk urusan pribadiku, kakek sudah janji tidak akan mengusiknya ... hah ...." ucap Sella dengan nada yang tinggi. Sebenarnya Sella ingin meluapkan emosinya pada kakeknya. Sella masih menahan diri.
"Apa kau sudah memeriksa semua artikel itu. Aku menyuruhmu menikahi Presdir Shefard karena ada alasannya. Kematian putriku ternyata ada sangkut pautnya dengan keluarga Shefard" ucap Pak Sondakh.
"Keluarga Shefard, bukannya mereka hanya terlibat dalam kerja sama saja dengan mama. Dari awal juga mereka tidak terlibat" ucap Sella menyanggah.
"Aku juga awalnya berpikir begitu, tapi setelah team penyidik memberikan bukti, salah satu tamu undangan yang ada di dalam ruangan itu merupakan pemimpin dari Shefard pada masa itu, dia Glen Shefard" ucap Pak Sondakh memberikan selembar foto pada Sella. Sella langsung melihat foto itu. Semua artikel yang ada diatas meja serta foto-foto lama yang ada di meja langsung Sella cermati.
"Kenapa semuanya saling berkaitan, jadi pria yang mengajak mama untuk minum anggur itu adalah bajingan ini" pekik Sella sembari menatap tajam pada foto itu.
"Penyidik mengatakan, pada saat itu racun sianida itu berasal dari jaketnya. Walau begitu, kita belum memiliki bukti yang falid, hanya saja untuk wajahnya sudah membuktikan bahwa pria itu Pak Glen Shefard, aku juga tidak menyangka hal ini akan mengarah padanya" ucap Pak Sondakh.
"Kakek ... apa yang harus aku lakukan" ucap Sella masih belum menerima kenyataan yang sudah ada didepan matanya. Sella pun memejamkan matanya sejenak, sembari kepalanya dia sandarkan kebahu sofa.
"Pikirkan baik-baik perintah kakek. Winston Shefard sudah pernah gagal menikah. Kau hanya perlu masuk kedalam keluarga mereka. Untuk mendapatkan bukti yang falid. Kakek sudah memikirkan ini matang-matang. Bukti sudah mengarah pada Pak Glen sebanyak 90% sisanya ada pada keberuntungan beliau" ucap Pak Sondakh. Sella pun langsung membuka matanya.
"Bagaimana dengan putranya? Apa kakek yakin akan menikahkan aku dengannya. Ini akan menjadi semakin rumit" ucap Sella.
"Setelah bukti bisa kau dapatkan, kau bisa bercerai dengannya. Tapi kalau kau sudah jatuh cinta dengannya, tidak ada yang salah. Winston pria yang baik. Kakek sudah mengenalnya. Selama ini Winston selalu berlawanan dengan ayahnya. Kau bisa melanjutkan pernikahanmu kelak" ucap Pak Sondakh.
"Kakek ... bagaimana aku bisa hidup dengan anak seorang pembunuh, apa lagi dia menghilangkan nyawa mama. Aku bisa mencari bukti, tapi aku tidak bisa menikahi anaknya" ucap Sella membantah.
"Sella ... ini memang bukan satu-satunya cara. Tapi ini merupakan cara yang paling tepat. Pikirkan ini baik-baik. Kakek akan memberikanmu waktu selama 2 hari. Kau sudah dewasa, kakek yakin kau bisa mempertimbangkan saran kakek ini" ucap Pak Sondakh langsung beranjak dari sofa.
"Hah ... kenapa semuanya jadi seperti ini. Winston Shefard ... aku pernah mendengar namanya. Aku belum pernah bertemu dengannya. Bagaimana mungkin aku menikahi seorang anak pembunuh" batin Sella.
Bersambung .............
Hai reader π€
Salam dari Ratu. Jangan lupa untuk like dan komentar ya π
Jadikan novel ini sebagai favorit untuk update terbaru βΊοΈ
__ADS_1
See You πππ