
"Tuan Muda, anda tidak bisa minum, kenapa memaksakan diri begini" ucap Saha sembari membopong tubuh Winston masuk kedalam mobil.
"Kau ... sangat cerewet" ucap Winston langsung ambil posisi. Sembari menyandarkan kepalanya kebagian sandaran kursi mobil. Sementara itu, setelah memastikan posisi duduk Winston sudah aman, Saha pun langsung ambil kendali, duduk di bangku kemudi. Tidak menunggu lama, mobil itu pun Saha kemudikan menuju kediaman Shefard tempat tinggal Winston saat ini.
Sudah 3 tahun sejak Winston bercerai dengan Naira. Diawal perceraian sebenarnya Winston sempat berkeinginan untuk pindah. Namun karena kenangan masa kecilnya, Winston mengurungkan niatnya. Dia memilih tetap tinggal disana meski ada sebagian kenangan bersama Naira yang tidak bisa dia lupakan.
"Tuan Muda, barusan saya menerima informasi dari London mengenai Nyonya Naira. Saat ini Nyonya Naira masih sama seperti dulu. Bisnis yang beliau jalankan juga masih lancar" ucap Saha sambil memperhatikan keadaan Winston dari kaca depan mobil.
"Mulai saat ini, terkait informasi Naira, kau tidak perlu lagi melaporkannya padaku" ucap Winston. Winston pun memiringkan posisi tubuhnya. Harusnya Winston menutup matanya sejenak, namun karena ucapan Saha barusan, Winston langsung memeriksa ponselnya.
"Tapi Tuan Muda, bukannya selama ini Tuan Muda selalu penasaran dengan kabar Nyonya Naira" ucap Saha lagi.
"Kau cukup melaksanakan apa yang aku perintahkan. Sudah berjalan 3 tahun, waktu terus berjalan. Naira akan menjadi masa lalu" ucap Winston. Winston pun langsung memblokir semua media sosialnya yang berkaitan dengan Naira.
"Baik Tuan Muda" ucap Saha mengakhiri pembicaraan mereka.
"Sejak kapan Tuan Muda berubah, apa karena dia sedang mabuk. Tidak mungkin, Nyonya Naira selalu menjadi nomor satu di hatinya" batin Saha.
"Untuk saat ini tidak ada lagi alasanku untuk mencintaimu Naira. Sudah 3 tahun berlalu, aku pasti bisa melupakanmu" batin Winston.
Sementara itu di lain tempat.
"Hatsym ... hatsym ...."
"Ndok ... minum air hangat dulu" ucap Bi Ratih memberikan segelas air hangat pada Sella.
"Huf ...." Sella pun melap hidungnya dengan tissue. Air hangat itu pun langsung Sella seruput sampai habis.
"Bi, aku nggak mau ini" tolak Sella ketika Bibi Ratih menyodorkan obat demam untuk Sella.
"Tapi Ndok ... besok ada pertemuan penting, kalau tidak mau minum ini, Bibi khawatir demammu tidak sembuh" ucap Bibi Ratih sembari mengelus punggung Sella.
"Bi, ini hanya demam ringan, entar juga sembuh kok" ucap Sella langsung menarik selimutnya.
"Ya udah Ndok, kalau ada apa-apa, segera panggil Bibi ya" ucap Bibi Ratih merapikan selimut Sella. Sella hanya mengangguk. Tidak lama kemudian mata Sella sudah terpejam.
Setelah memastikan Sella tertidur, Bibi Ratih langsung keluar dari kamar Sella. Bibi Ratih sangat terkejut mendapati keberadaan Pak Sondakh dibalik pintu kamar.
"Tuan Besar" ucap Bibi Ratih sembari menarik pintu kamar pelan.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Pak Sondakh sembari melirik kasur Sella dari celah pintu kamar.
"Keadaan Nona Sella sudah membaik. Tuan Besar bisa memeriksa sendiri" ucap Bibi Ratih sembari menunduk.
"Itu tidak perlu. Pastikan dia istirahat yang cukup malam ini!" perintah Pak Sondakh langsung membelakangi pintu kamar Sella.
"Baik Tuan Besar" ucap Bibi Ratih. Pak Sondakh pun langsung pergi.
"Masih sama seperti dulu, beliau tidak pernah menunjukkan pada Sella kalau beliau sebenarnya begitu peduli pada Sella" batin Bibi Ratih.
Keesokan harinya.
Matahari sudah terbit memancarkan sinarnya. Dari pukul 05.00 pagi Sella sudah bangun. Seperti sudah kebiasaan, Sella langsung lari pagi. Begitu juga dengan para pengawal yang ada di kediaman keluarga Sondakh ikut lari pagi.
"Aku tidak bisa tidur tadi malam, kenapa kau mengajakku lari pagi."
"Aku juga masih mengantuk, tidak tahu apa yang di bahas oleh Tuan Besar dengan anak pemilik Perusahaan Shefard."
"Bukannya namanya Winston."
"Sepertinya mereka membahas hal serius. Aku hanya melihat selintas. Bahkan tidak ada satu orang pun yang masuk ke ruangan rahasia itu selain Tuan Besar dan Winston."
"Kehidupan orang berpengaruh itu tidak bisa di tebak. Mereka membicarakan hal serius saat semua orang sudah tidur. Apa mereka tidak lelah ya, mereka sudah banyak uang, tapi tidur pun tidak nyenyak."
"Hust ... jaga mulutmu, Nona Sella sepertinya menguping pembicaraan kita."
"Astaga, aku baru sadar kalau Nona Sella ada disamping kita."
"Kalau kalian sudah selesai pendinginan lebih baik kalian segera siap-siap" ucap Mohan untuk membubarkan kerumunan para pengawal itu.
"Siap" sahut para pengawal. Setelah mereka bubar, Mohan pun menghampiri Sella.
__ADS_1
"Selamat pagi Nona Sella" ucap Mohan menyapa Sella.
"Apa aku melewatkan hal penting tadi malam" ucap Sella sembari meletakkan botol air mineral yang sudah dia habiskan.
"Tidak ada yang perlu Nona khawatirkan" ucap Mohan sembari memberikan handuk kecil untuk Sella.
"Kalian selalu menyembunyikan hal penting dariku. Haruskah aku mencari tahu sendiri" celoteh Sella langsung meraih handuk kecil itu dari tangan Sella.
"Penata rias sudah tiba, gaun Nona juga sudah disiapkan. Tuan Besar meminta Nona untuk segera kembali" ucap Mohan sembari menuduk untuk undur diri.
"Mohan ... kau malah mengalihkan pembicaraan" teriak Sella sembari melemparkan botol minumannya. Botol minuman itu tepat sasaran mengenai kepala Mohan.
"Aduh" Mohan pun beranjak sembari memegangi kepalanya.
"Apa aku tidur terlalu cepat tadi malam, hingga aku melewatkan hal penting. Apa yang kakek bahas dengan Winston semalam" Sella membatin sembari mengepalkan tangannya.
#Gedung Pertemuan Perusahaan Sondakh.
"Cekrek ... cekrek ...." suara kamera dari para wartawan sudah mengerumuni tubuh Sella.
"Wanita itu masuk dari pintu VIP."
"Kalau tidak salah wanita ini cucu Owner dari Perusahaan Sondakh."
"Benar, kemarin beliau juga menghadiri acara pembukaan produk baru di Perusahaan Shefard."
Para wartawan itu terus mengambil gambar Sella. Pak Sondakh sudah menunggui Sella untuk duduk disampingnya.
"Apa gaunnya kepanjangan" bisik Pak Sondakh pada Maesto.
"Gaun Nona Sella sesuai dengan pesanan Tuan" ucap Maesto.
"Hm ...." balas Pak Sondakh sembari memperhatikan kedatangan Sella.
"Aku khawatir dia akan marah karena gaun itu" batin Pak Sondakh.
"Tolong berikan jalan" pinta Mohan menghalangi para wartawan itu. Tidak lama kemudian mereka tidak bisa menyentuh Sella.
"Gaun ini terlalu panjang" celoteh Sella pelan sembari memegangi gaunnya.
"Argh ...." teriak Mohan langsung menutup mulutnya.
Pandangan semua orang pun tertuju pada Sella dan Mohan. Begitu juga dengan Pak Sondakh.
"Tuan" ucap Maesto untuk membantu Mohan.
"Itu tidak perlu" ucap Pak Sondakh.
"Nona anda sangat keterlaluan" ringis Mohan menahan rasa sakit di kakinya.
"Jangan buat aku marah" ucap Sella langsung meninggalkan Mohan. Pak Sondakh pun beranjak dari tempat duduknya, beliau pun mengulurkan tangannya untuk Sella.
"Kemarilah Sella" ucap Pak Sondakh.
"Kakek" ucap Sella gugup meraih tangan kakeknya.
"Apa gaunnya kepanjangan" tanya Pak Sondakh.
"Seperti yang kakek lihat" Sella pun duduk disamping kakeknya.
"Apa perlu kau menggantinya?" tanya Pak Sondakh memastikan keadaan Sella.
"Itu tidak perlu" ucap Sella menutup pembicaraan mereka.
"Tidak ada gunanya sekarang aku ganti gaun, sudah terlanjur" batin Sella. Pak Sondakh pun kembali duduk.
Tidak lama kemudian Winston sudah tiba di ruangan itu. Para wartawan pun langsung meliput kedatangan Winston.
"Aku berharap dia tidak datang kemari" batin Sella ketika Winston berjabat tangan dengan Pak Sondakh. Sella pun memalingkan wajahnya.
"Sepertinya dia tidak senang aku datang kemari" batin Winston.
__ADS_1
"Kau ...." ucap Sella sadar Winston duduk disampingnya.
"Kau harusnya beruntung duduk dengan pria tampan" ucap dengan percaya diri Winston pun menyibakkan rambutnya.
"Aku tidak peduli, mau setampan apa orang yang ada disampingku" ucap Sella. Sella pun memperhatikan sekitar, berharap ada tempat duduk yang kosong. Sella pun berdiri dari tempat duduknya.
"Jangan bilang kau mau pindah" ucap Winston menebak niat Sella.
"Sella, kau tidak nyaman duduk disamping kakek" ucap Pak Sondakh menenangkan cucunya.
"Bukan begitu kek" ucap Sella pasrah kembali duduk.
"Kalau bukan karena kakek, aku lebih baik tidak menghadiri acara ini" batin Sella.
Beberapa menit kemudian, pembawa acara sudah tampil ke panggung. Tepuk tangan meriah dari tamu undangan menyambut pembukaan acara tersebut.
Sedari awal acara dimulai, Sella fokus memandang pada panggung, tidak sadar bahwa Winston sesekali memandanginya.
"Dilihat dari sisi mana pun, dia memang cantik. Tapi sedari acara dimulai, aku belum mendengar tawanya, padahal komedian di atas panggung sedang menceritakan lawakan lucu. Apa dia begitu tertekan menghadiri acara ini. Raut wajahnya pun datar tanpa ekspresi" batin Winston.
"Haha ...." tawa Winston lepas. Sedari tadi Winston sudah tertawa, namun tawanya kali ini yang paling kuat, membuat fokus Sella tertuju padanya.
"Sedari tadi aku menahan diri untuk tidak menatapnya. Leherku juga mulai tegang. Aku rasa pria ini tidak memiliki beban hidup. Tawanya begitu lepas. Apa dia tidak kepikiran dengan dirinya. Ah ... kenapa aku harus peduli dengan hidupnya" batin Sella. Sadar dipandang oleh Sella. Winston pun menatap pada Sella. Pandangan mata mereka bertemu. Tidak lama, Sella langsung memalingkan wajahnya.
"Hadirin yang berbahagia. Sebagai puncak dari acara ini, mari kita sambut Owner dari Perusahaan Sondakh. Kepada Yang Terhormat Bapak Sondakh dipersilahkan naik kepanggung" ucap MC.
"Prok ... prok ...." tepuk tangan meriah dari tamu undangan.
"Terimakasih saya ucapkan kepada semua pihak yang sudah dapat menyisihkan waktunya untuk menghadiri acara opening leadership Perusahaan Sondakh" ucap Pak Sondakh.
"Prok ... prok ...." sambut tamu undangan dengan tepuk tangan. Setelah tepuk tangan dari tamu undangan, Pak Sondakh pun melanjutkan kata sambutannya.
Beberapa saat kemudian sambutan Pak Sondakh pun sudah selesai. Sesi tanya jawab pun dimulai.
"Sambutan dari Bapak Sondakh sangat inspiratif, membuat tamu undangan semakin penasaran dengan perkembangan Perusahaan Sondakh. Kali ini kita akan tampung sesi tanya jawab" ucap MC. Sesi itu pun berlangsung dengan baik. Namun ketika pihak wartawan melontarkan pertanyaan, tamu undangan pun fokus pada pertanyaan yang dilontarkan.
"Ada begitu banyak media yang sudah memberitakan kehadiran dari cucu Owner Perusahaan Sondakh. Selama ini kenapa kehadiran cucu tersebut disembunyikan, lalu kenapa sekarang baru muncul?" tanya salah satu wartawan. Mendengar pertanyaan itu, Sella pun menatap pada Pak Sondakh.
"Saya hanya menginginkan pertanyaan yang menyangkut perkembangan Perusahaan. Namun untuk masalah cucu saya, kenapa baru hadir, biarlah ini menjadi masalah intern keluarga Sondakh. Yang pasti saya sebagai Owner akan melakukan yang terbaik untuk Perusahaan" ucap Pak Sondakh.
"Saya mendengar kabar, bahwa cucu bapak akan segera menikah. Apakah itu benar?" tanya wartawan yang lain.
"Belum pernah masalah ini saya singgung. Tapi media sudah mengetahui hal yang belum terjadi. Saya sangat salut dengan informasi yang media dapatkan. Cucu saya Micella akan melangsungkan pernikahan di Minggu pertama bulan depan nanti" ucap Pak Sondakh. Semua media pun langsung meliput. Para tamu undangan ikut berbisik. Tubuh Sella pun ikut bergetar mendengar ucapan kakeknya.
"Dia tidak meminta pendapatku lebih dulu. Langsung memutuskan jadwal pernikahan. Apa aku ini hanya sebagai barang mainan. Apa hak bicaraku sudah hilang" batin Sella. Gaun Sella sampai mengerut dalam genggamannya. Winston sangat terkejut melihat Sella sudah menunduk. Ada air mata menetes pada gaun Sella.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Winston.
"Mataku kelilipan, aku harus ke toilet" ucap Sella langsung melap matanya. Sella pun beranjak buru-buru dari tempat duduknya. Walaupun gaunnya yang panjang memperlambat langkahnya.
"Nona" ucap Mohan untuk mengejar Sella. Namun Winston langsung menahan tubuh Mohan. Winston pun mengikuti Sella dari belakang.
"Sejak kecil ... aku sudah melakukan apa yang kakek mau. Tidak ada satupun perintah kakek yang tidak aku lakukan. Aku menghabiskan masa kecilku dengan belajar, masa remajaku dengan belajar. Kaki dan tanganku ini rasanya sangat lelah bila mengingat hal itu. Sampai-sampai di sekolah semua orang mengatakan aku ini anak haram, yatim piatu. Tidak ada orang tua yang mengambil raportku. Hanya Bibi Ratih yang melakukan semua itu. Hidupku hanya menyamar. Setiap aku tanya siapa ayahku. Kakek juga tidak pernah memberitahu. Aku siap menerima semua itu. Saat dewasa pun aku masih belajar. Aku mengabaikan rasa cintaku pada lawan jenis, mengabaikan teman-temanku yang selalu mengajak untuk bercengkrama, mengabaikan keinginanku hanya untuk perintah kakek. Dan sekarang, untuk suami pun, aku tidak bisa memilih. Kasihan sekali aku ini ... pada akhirnya aku ini hanya pionmu ...." batin Sella.
Tidak lama kemudian Sella sudah sampai di dalam toilet. Tubuh Sella pun langsung Winston tarik. Mata Sella sudah basah karena air matanya.
"Kenapa kau disini ...." ucapan Sella langsung terpotong.
"Jangan bicara" ucap Winston langsung memeluk tubuh Sella. Sella pun pasrah dipeluk oleh Winston.
"Menangislah, tidak ada yang melarangmu menangis. Aku tau kau sangat terkejut dengan semua ini" bisik Winston pada telinga Sella.
"Hiks ...." Air mata Sella pun membasahi jas yang Winston pakai.
"Wanita ini sangat rapuh hatinya" batin Winston.
Bersambung .......
Menangis bukan berarti lemah. Tandanya menangis, berarti kamu meluapkan emosi sedihmu. Akan lebih baik langsung menangis, karena kalau di tahan akan menimbulkan sakit hati @Purnama Sitinjak.
Hai Reader 🤗
__ADS_1
Terimakasih atas kunjungan kalian. Jangan lupa like dan komentar ya, agar cerita ini berkembang. 😊
See You 👋👋👋