
"Nona Sella" ucap Mohan menahan nafasnya sembari menyerahkan gaun baru pada Sella.
"Kenapa kau lama sekali" gerutu Sella langsung meraih gaun itu dari tangan Mohan.
"Apa kau akan mengganti pakaianmu disini" ucap Winston memperhatikan Sella masih berdiri disudut ruangan sembari memegangi gaunnya yang terbuka.
"Disini katamu, apa kau gila" ucap Sella meninggikan suaranya.
"Lalu kau mau keluar dengan penampilan seperti itu" ucap Winston sembari tersenyum.
"Kalian kan bisa keluar dari sini" ucap Sella semakin emosi melihat sikap Winston mempermainkannya.
"Presdir Winston sebaiknya kita keluar dulu" ajak Mohan pada Winston.
"Aku lupa mengatakan padamu, ruanganku ini diawasi CCTV" ucap Winston sembari menatap kesudut langit-langit ruangannya. Sella pun menatap pada kamera pengawas itu. Sella semakin cemas, karena saat resleting gaunnya rusak, punggungnya hampir terbuka semua.
"Ini sangat memalukan" ucap Sella langsung menutupi wajahnya. Mohan masih bingung dengan ucapan Sella.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Presdir Winston terlihat senang melihat Nona Muda cemas" batin Mohan.
"Kau bisa mengganti gaunmu di ruanganku ini" ucap Winston sembari membuka pintu ruangan pribadinya. Sella pun membuka matanya lalu melirik kearah ruangan itu.
"Kau tenang saja, kamera pengawas tidak ada disini, kau bisa mengganti pakaianmu. Aku akan keluar" ucap Winston. Mohan pun langsung keluar dari ruangan Winston. Namun Sella tidak menggubris.
"Tanganku sudah lelah memegangi gaun ini" batin Sella.
"Apa dia takut punggungnya akan tertangkap kamera pengawas" batin Winston.
"Hei, kau meragukan ucapanku barusan" seru Winston sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Sella.
"Sial, pria ini lumayan juga" batin Sella menatap wajah Winston.
"Wanita ini ... kenapa bibirnya sangat menggoda" batin Winston.
"Nampaknya kau sangat menikmati ketampananku ini, wajar saja sih, wajahku ini sudah tampan dari lahir" ucap Winston sembari mengangkat kedua bahunya.
Winston pun menjauh dari Sella. Sella sangat sadar bahwa Winston sudah tersenyum mengejek dirinya. Sudah malu karena ada kamera pengawas, Sella langsung beranjak memasuki ruang pribadi Winston. Mendekati pintu ruangan itu, Sella berbalik menghadap pada Winston.
"Cih, orang gila diluaran sana pun akan terlihat tampan bila memakai pakaian bermerek, rambutnya disisir dengan rapi" ucap Sella memandangi penampilan Winston dari ujung kaki hingga rambutnya.
"Orang gila ... hah ...." ucap Winston mengerutkan keningnya. Winston tidak percaya disamakan dengan orang gila.
"Astaga, bahkan keriput dikelopak matamu kau tutupi dengan scincare pun akan tetap terlihat olehku. Begini dibilang tampan, ck ... ck ... sudah berumur masih lupa diri, paman sebaiknya kau mengaca dulu" ucap Sella langsung menutup pintu itu.
"Kau ... aku berbaik hati memberikan ruanganku, kau bilang aku apa ...." teriak Winston menggedor-gedor pintu itu.
"Buka pintunya!" kaki Winston masih menendang pintu ruangannya.
"Wanita ini memang gila, kenapa aku bisa berurusan dengannya. Bisa-bisanya dia menyamakan diriku dengan orang gila. Tua ... keriput ... awalnya aku menyukainya, tapi setelah aku tahu sifatnya .... tidak-tidak, kenapa muncul kata suka. Sejak kapan aku menyukai wanita bar-bar seperti dia" ucap Winston sembari menunggui Sella keluar.
"Aku tidak akan mengganti pakaianku kalau kau masih ada didepan pintu" ucap Sella dari dalam.
"Wanita gila, sedari tadi aku menungguimu kau masih belum selesai" ucap Winston sembari menggedor pintu itu kembali.
__ADS_1
"Aku ini seorang tamu disini, apa kau mau aku meretas sistem kamera pengawas diluar ruangan ini dan mendapati dirimu berada didepan pintu ruangan sambil mengintipku mengganti pakaian. Aku yakin ini akan jadi berita utama" ucap Sella.
"Wanita ini berani sekali mengancamku" ucap Winston langsung beranjak keluar dari ruangan Presdir. Di luar ruangan, Saha dan Mohan sudah berbincang sembari menunggu Winston dan Sella keluar.
"Presdir" ucap Saha melihat tampang Winston terlihat kesal.
"Presdir Winston, bagaimana dengan Nona Sella" tanya Mohan pada Winston. Tangan Winston masih mengucek rambutnya yang rapi tadi menjadi berantakan.
"Saha lihat wajahku" ucap Winston sembari meraih kerah kemeja yang Saha kenakan. Akibatnya tubuh Saha semakin dekat pada Winston. Mohan masih kebingungan dengan maksud Winston.
"Pres ... dir ... ada apa?" ucap Saha memperhatikan wajah Winston.
"Lihat baik-baik, aku masih tampankan, coba perhatikan dengan baik" ucap Winston mendekatkan kedua tangan Saha pada wajahnya. Melihat hal tersebut, pikirkan Mohan mulai mengambang dengan imajinasinya.
"Tidak mungkin mereka" ucap Mohan pelan sembari menutup mulutnya.
"Presdir, wajah anda masih halus, tidak ada ada yang salah" ucap Saha sembari mengelus wajah Winston. Otak dan pikiran Mohan mulai traveling.
"Kau bilang aku masih tampan, kenapa wanita itu mengatakan ada keriput pada kelopak mataku" dengan kesal Winston menarik wajah Saha semakin dekat dengan wajahnya.
"Ukhuk ... uhkuk" Mohan tidak sanggup lagi menahan diri melihat sikap Winston dan Saha.
"Rasanya aku mau muntah" batin Mohan.
"Presdir anda salah dengar, tidak ada sama sekali keriput diwajah anda" ucap Saha ragu-ragu.
"Benarkah" ucap Winston langsung mengelus wajahnya.
"Huh ...." Saha langsung menghela nafas sudah lepas dari cengkeraman amarah Winston.
"Baik Presdir" ucap Saha. Saat Saha menoleh pada Mohan, spontan Mohan langsung menyilangkan kedua tangannya pada dadanya.
"Kau jangan dekat-dekat padaku" ucap Mohan memberikan sikap melindungi diri ala wanita perawan.
"Ada apa denganmu" ucap Saha tidak mengerti maksud Mohan. Mohan pun beranjak mendekati ruangan Presdir untuk menunggui Sella.
"Aku bisa gila berada di kantor ini, bisa-bisanya jeruk makan jeruk, ih ...." batin Mohan.
"Kenapa dengannya, dia terlihat memusuhiku" batin Saha memperhatikan sikap Mohan barusan, Saha pun mengotak atik ponselnya.
Tidak lama kemudian Sella sudah selesai mengganti pakaiannya.
"Nona Sella" ucap Mohan menunggui Sella di depan ruang pribadi milik Winston. Sella sudah mengganti pakaiannya dengan gaun yang baru Mohan bawa tadi.
"Pergi kemana si brengsek itu?" tanya Sella sembari melemparkan gaunnya yang rusak kewajah Mohan. Mohan pun langsung menangkap gaun Sella.
"Sibrengsek .... maksud Nona?" ucap Mohan balik bertanya belum paham maksud Sella.
"Coba kau perhatikan gaun itu baik-baik, sedari awal aku memakai gaun itu, resleting nya baik-baik saja. Tapi sejak dia meraih punggungku, resletingnya rusak" pekik Sella sembari meremas jari-jemarinya siap ingin menerkam mangsa.
"Gaun ini memang tidak rusak" batin Mohan memperhatikan gaun itu.
"Aku harus mengecek hasil rekaman CCTV ruangan ini, awas saja ... kalau dugaanku benar, tulangmu akan kuremukkan sampai tidak bersisa" ucap Sella mengancam.
__ADS_1
"Nona, sebaiknya kita kembali, waktu anda sangat berharga. Saat ini penampilan Nona juga sudah baik-baik saja. Ingat pesan Tuan Besar, Nona tidak tidak boleh bertindak sembarangan" ucap Mohan memelas pada Sella.
"Karena kau bilang begitu, besok-besok kau harus periksa segalanya, jangan sampai gaun yang aku pakai rusak lagi" ucap Sella meluapkan emosinya pada Mohan. Sella langsung menginjak kaki Mohan.
"Aih ... aih ... aduh ... Nona, anda sangat keterlaluan ...." teriak Mohan langsung meringis kesakitan menahan suaranya agar tidak keluar.
"Siapa suruh kau ikut-ikutan memerintahku" ucap Sella langsung menyerahkan berkas kesepakatan pada Mohan. Mohan pun menerima berkas itu. Untuk gaun yang robek tadi langsung Sella buang ke tong sampah.
"Aduh kakiku ...." ucap Mohan. Sambil berjalan pincang Mohan terus melangkah mengikuti Sella keluar dari ruangan Presdir.
Sementara itu, diruangan pengawas Winston sudah tertawa terbahak-bahak.
"Ahaha ... ahaha ...." tawa Winston sembari menepuk pundak karyawannya.
"Wanita ini benar-benar marah, aku yakin kaki sekretarisnya itu pasti sangat sakit" batin Winston.
Semua orang kebingungan melihat sikap Winston barusan sembari mereka memperhatikan hasil rekaman CCTV yang sedang berjalan di Perusahaan Shefard.
"Apa Presdir sudah gila" batin Saha memperhatikan sikap Winston.
"Presdir" ucap Saha mendekati Winston.
"Ada apa" ucap Winston masih tersenyum.
"Sepertinya Nona Sella sudah beranjak, apa Presdir tidak perlu mengantarkan beliau. Bagaimana pun Nona Micella mulai saat ini bagian dari kerja sama Perusahaan Shefard" ucap Saha.
"Itu tidak perlu, yang perlu kau lakukan, ambil kembali gaun yang dibuang oleh Sella" ucap Winston.
"Gaun" ucap Saha kebingungan.
"Ya, ambil gaun itu kembali!" ucap Winston menunjuk kearah hasil rekaman CCTV dari ruangannya. Saha pun memperhatikan rekaman itu.
"Baik Presdir" ucap Saha sudah mengerti.
"Jangan lupa segera perbaiki resletingnya!" perintah Winston lagi.
"Baik, saya laksanakan" ucap Saha langsung beranjak menuju ruangan Winston.
"Untuk kalian yang ada disini, aku mau hasil rekaman percakapanku dengan wanita ini tidak boleh tersebar kemana pun. Segera hapus hasilnya dan kirimkan hasil rekaman ini keserverku" ucap Winston.
Semua orang saling menatap, belum pernah Winston bertindak begini.
"Apa perintahku kurang jelas?" ucap Winston pada mereka.
"Akan kami kerjakan Presdir" ucap mereka serentak langsung mengotak-atik komputer mereka.
"Aku yakin dia tahu, bahwa aku yang sudah merusak gaunnya" batin Winston.
Bersambung ...............
Hai reader ๐ค
Ada yang penasaran gak dengan kisah Winston dan Sella. Kalau ada, beri tanggapan kalian di kolom komentar ya ๐
__ADS_1
Untuk up selanjutnya butuh support dari kalian nih, jangan lupa like dan favorit, biar author semangat, heheโบ๏ธ
See You ๐