
Tidak lama kemudian Sella sudah sampai di Pemakaman. Tulisan yang terukir dipemakaman itu masih jelas walau sudah 20 tahun berlalu.
"Mama ... aku kembali lagi kesini. Hiks ...." Sella tidak bisa lagi menahan air matanya. Air matanya mengalir begitu saja ketika melihat pemakaman itu. Sella langsung berlutut sembari meletakkan serangkai bunga Tulip di atas pemakaman mamanya.
"Mama ... maafkan aku selama 4 tahun ini aku sibuk membalaskan rasa sakit yang mama alami. Setidaknya Perusahaan bajingan itu sudah bangkrut. Mama tidak perlu khawatir, aku pasti akan memberikan pelajaran kepada mereka yang sudah melenyapkan nyawa mama. Bahkan jika sekalipun aku harus menikahi anaknya, aku akan lakukan itu" ucap Sella sembari melap air matanya.
Sinar matahari semakin menyibak pada kulit Sella. Sudah ada selama 1 jam Sella berlutut memandangi pemakaman mamanya. Mohan dan para pengawal yang mengikuti Sella ikut memantau dari kejauhan. Ketika salah satu pengawal ingin memayungi Sella. Mohan langsung mencegah pengawal itu.
"Kalau kau ingin nyawamu masih ada, lebih baik kau diam disini, dia tidak membutuhkan payung" ucap Mohan.
"Tapi, Nona sudah terlalu lama disana" ucap pengawal itu mengundurkan niatnya.
"Hari ini tepat hari kematian Nyonya Eva. Nona Sella akan sangat terpukul, bagaimana pun dia sudah kehilangan satu-satunya orang tua yang dia miliki di usianya yang masih belia" batin Mohan.
Sella pun langsung berdiri sembari merapikan bunga Tulip yang dia bawa tadi.
"Bunga tulip warna putih adalah kesukaan mama, aku akan sering berkunjung kemari, tananglah mama disana" ucap Sella berbicara sendiri. Sella pun langsung beranjak pergi. Mohan dan para pengawal yang mengikuti Sella ikut beranjak keluar dari pemakaman.
Ternyata di pekaman itu bukan hanya Sella saja, ada pengunjung lain yang datang untuk berziarah. Salah satunya adalah Winston. Winston tidak membawa apa-apa datang kepemakaman. Begitu juga dengan Saha ikut mendampingi Winston. Walau kakinya masih terasa sakit.
"Mama, aku datang lagi. Hari ini tepat 20 tahun mama pergi. Aku masih mengingat semuanya. Jika saja saat itu aku sudah dewasa, mungkin aku bisa menyelematkan mama" batin Winston sembari mengepalkan tangannya. Winston pun membasahi pemakaman Nyonya Rika dengan air mineral. Winston pun langsung berlutut sembari memandangi pemakaman mamanya. Saha pun mulai memayungi Winston.
"Mama ... aku belum bisa melawan papa. Bahkan sampai saat ini, aku masih hidup dalam bayangannya. Jika saja papa tidak ikut dengan bisnis gelap itu. Ini semua tidak akan pernah terjadi. Bahkan aku harus bercerai dengan wanita yang kucintai" ucap Winston.
"Mama, tenanglah disana" batin Winston.
Tidak lama kemudian Winston langsung bangkit berdiri. Saha pun mengikuti Winston. Sembari menyusuri pemakaman, pandangan Winston tertuju pada Sella.
"Wanita itu" ucap Winston. Tangan Saha langsung gemetar melihat sosok Sella dari kejauhan. Winston pun melihat arah pemakaman yang ditinggali Sella barusan.
"Bunga tulip" ucap Winston langsung menghampiri pemakaman itu.
"Eva Angelika Sondakh" ucap Saha membaca tulisan yang ada di batu nisan.
"Keluarga Sondakh, jadi wanita itu dari keluarga Sondakh" ucap Winston sembari mengingat.
"Tuan Muda, setahu saya kematian putri tunggal Pak Sondakh sangat misterius, hari kematiannya sama dengan hari kematian Nyonya Besar" ucap Saha.
"Selidiki apa hubungan wanita itu dengan keluarga Sondakh, ah siapa tadi namanya" ucap Winston sembari bangkit berdiri.
__ADS_1
"Namanya Sella Tuan Muda" ucap Saha.
"Ah, iya Sella ... aku sangat familiar dengan wanita ini, tapi aku lupa dimana aku pernah bertemu dengannya. Selidiki semua tentangnya" ucap Winston langsung beranjak dari pemakaman.
"Baik Tuan Muda" ucap Saha mengikuti langkah kaki Winston dari samping.
###
Sekembalinya Sella dari pemakaman. Sella langsung mengganti pakaiannya.
"Tok ... tok ...." suara ketukan pintu kamarnya.
"Masuk" ucap Sella ketika dia selesai merapikan dirinya.
"Kakek" ucap Sella saat Pak Sondakh masuk kedalam kamarnya. Sebenarnya kamar itu sebelumnya milik putrinya. Sekarang kamar itu ditempati oleh Sella.
"Kecantikan putriku masih menurun pada cucuku ini" batin Pak Sondakh. Pak Sondakh pun memperhatikan sekitar kamar itu.
"Kakek masuk kesini bukannya ada hal penting yang ingin kakek sampaikan" ucap Sella sudah tahu dengan tujuan kakeknya.
"Apa kakek salah menghampiri cucu semata wayangnya" ucap Pak Sondakh sembari mendudukkan pantatnya di atas sofa.
"Sepertinya dia sudah salah paham dengan sikapku padanya selama ini. Kau akan tahu kenapa aku begitu keras padamu. Bagaimana bisa kakekmu ini menjadi jahat, kau selamanya akan menjadi cucu kesayanganku" batin Pak Sondakh.
"Kakek ...." ucap Sella melambaikan tangannya dihadapan Pak Sondakh.
"Ehum" ucap Pak Sondakh terlihat serius.
"Hari ini Perusahaan Shefard dan Perusahaan kita akan mengadakan kerja sama, Pukul 11.00 nanti acara launching untuk merek jam tangan terbaru mereka akan diluncurkan" ucap Pak Sondakh.
"Aku sudah tahu hal itu, aku hanya perlu menghadiri acara itu" ucap Sella.
"Tidak semua orang tahu bahwa kau adalah cucuku" ucap Pak Sondakh.
"Seperti biasa, aku akan menutupi identitasku" ucap Sella.
"Bukan begitu, kau sudah bisa berdiri sendiri menjadi dirimu. Kakek selamanya tidak bisa menyembunyikan identitasmu" ucap Pak Sondakh.
"Maksud kakek? aku tidak perlu berpenampilan culun lagi" ucap Sella tidak percaya.
__ADS_1
"Itu tidak perlu kau lakukan. Mulai saat ini, biarkan Mohan selalu berada disampingmu" ucap Pak Sondakh sembari bangkit berdiri. Sella masih mencerna ucapan Pak Sondakh barusan.
"Ah, satu lagi, kau seorang wanita, untuk menaklukkan Presdir Shefard, kau tidak boleh menunjukkan kekuatanmu. Aku baru saja mendapatkan kabar bahwa kau sudah menghajar dua pria pagi tadi. Kau seorang wanita, ada kalanya kau harus terlihat kemayu. Berkas kesepakatan ada pada Mohan, berdamailah dengan Mohan" ucap Pak Sondakh langsung keluar dari kamar Sella.
"Kenapa dia terlihat berbeda ... siapa yang selama ini begitu keras menekanku, yang menyuruhku belajar ilmu bela diri, membuatku tidak ada waktu untuk menangis ... dan sekarang aku diminta untuk menjadi wanita kemayu ... besok-besok aku dimintai mau jadi robot mungkin" batin Sella sembari mengepalkan tangannya.
"Jadi diri sendiri, hem ... baiklah" batin Sella sembari bercermin.
Sella pun memperhatikan jam tangannya sudah menunjukkan pukul 10.20 wib. Sella meraih tas selempangnya. Dia mengerutkan keningnya mengingat ucapan kakeknya barusan.
Setelah merasa rapi, Sella beranjak keluar dari kamarnya menuju lobi kediaman.
"Silahkan Nona Sella" ucap Mohan membukakan pintu mobil untuk Sella. Sella menurut saja langsung masuk kedalam mobil tanpa sepatah katapun.
"Tumben Nona patuh, biasanya mengoceh" ucap Mohan pelan masih didengar oleh telinga Sella.
"Kalau bukan karena perintah kakek, sabar-sabar" batin Sella.
Sella pun duduk manis di bagian belakang mobil. Mohan langsung melajukan mobil itu keluar dari kediaman Sondakh. Sella sangat benci pada Mohan, karena setiap pergerakan yang Sella lakukan selama ini selalu di laporkan pada kakeknya, termasuk urusan pribadinya. Itulah alasan Sella begitu benci pada Mohan.
Tiga puluh menit kemudian, mobil yang membawa Sella sudah sampai di Perusahaan Shefard.
"Silahkan Nona" ucap Mohan membukakan pintu mobil untuk Sella. Mohan pun melemparkan kunci mobil pada pelayan Perusahaan untuk memarkirkan mobil Sella.
"Nona, anda sudah diperintahkan Tuan Besar untuk terlihat kemayu" bisik Mohan pada Sella. Sella pun memicingkan matanya menatap pada Mohan, Mohan langsung mengambil posisi takut kakinya di injak.
"Cerewet banget sih" ucap Sella pelan.
"Selamat datang Nona" sambut salah seorang wanita pada Sella dan Mohan. Sella balas tersenyum pada wanita itu. Wanita itu pun mengarahkan pintu pemeriksaan fisik dan memastikan bahwa tamu undangan tidak membawa senjata tajam yang dapat membahayakan nyawa orang lain. Setelah itu, wanita itu langsung membawa Sella dan Mohan menuju ruang konferensi pers Perusahaan Shefard.
Sementara itu, di dalam ruangan Presdir. Winston masih mengawasi setiap tamu undangan yang hadir, termasuk kedatangan Sella barusan.
"Dia datang lebih cepat dari waktu yang ditentukan" batin Winston sembari memperhatikan jam tangannya menunjukkan pukul 10.57 wib. Winston pun keluar dari ruangan Presdir menuju ruangan konferensi pers.
Bersambung ...........
Hai reader π€
Jangan lupa like dan komentar ya, di Vote juga boleh βΊοΈ
__ADS_1
See You πππ