Terjerat Cinta CEO Aneh

Terjerat Cinta CEO Aneh
Pergi Ke Pesta


__ADS_3

''Assalamu'alaikum, Pa,'' ucap Amira begitu panggilan dari Handoko ia angkat.


''Hm, kamu lagi ada di mana, Amira?'' bukannya menjawab salam, tapi Handoko malah langsung bertanya di mana keberadaan Amira. Mendengar itu, membuat Amira menggeleng kepalanya, menurut nya sang papa benar-benar telah berubah. Sang Papa yang dulu selalu menanamkan kebaikan kebaikan kepadanya, tapi kini, sang papa seakan lupa sama apa yang pernah ia ajarkan kepada Amira. Ajaran tentang pentingnya menjawab salam dari seseorang.


Menurut Amira, Irma benar-benar telah berhasil mengubah seluruh kehidupan dan kepribadian sang papa.


''Aku sekarang sedang berada di rumah, Pa. Emang kenapa?''


''Kamu tidak kuliah?''


''Tidak, Pa. Aku lagi enggak enak badan,'' jawab Amira.


''Baguslah,'' ucap Handoko terdengar santai. Mendengar itu membuat hati Amira terasa sakit. Bisa-bisanya Handoko berkata bagus mendengar dirinya tengah tidak enak badan.


''Bagus?'' ulang Amira.


''Iya. Emang sebaiknya kamu tidak usah kuliah lagi Amira,''


''Apa Papa tidak mengkhawatirkan aku yang tengah demam?'' tanya Amira. Sebenarnya Amira sudah tidak demam lagi. Ia berkata seperti itu hanya ingin melihat apakah sang papa peduli terhadap dirinya atau tidak.


''Tidak. Kamu itu sudah dewasa, sudah menikah dan sudah punya suami. Jadi untuk apa Papa mengkhawatirkan kamu, cukup suami mu saja yang mengkhawatirkan kamu,'' mendengar apa yang di katakan oleh Handoko membuat dada Amira menjadi sesak. Tapi ia berusaha untuk menguatkan dirinya agar air matanya tak tumpah. Menurut nya air matanya sungguh tak pantas ia keluarkan untuk menangisi pria yang tak punya hati seperti Handoko.


''Pa, bagaimana kalau Arumi yang demam? Apakah Papa akan mengkhawatirkan nya?'' tanya Amira terdengar konyol.


''Tentu, tentu Papa akan mengkhawatirkan nya. Karena dia merupakan anak Papa dan dia juga belum menikah, dia masih tetap menjadi tanggungan Papa,''


''Tapi dia bukan anak kandung Papa,'' tegas Amira berkata dengan nada tinggi.


''Arumi memang bukan anak kandung, Papa. Tapi dia anak dari istri Papa. Itu berarti dia juga sudah menjadi anak Papa. Kamu kenapa sih Amira seperti nya kamu tidak suka sekali sama Arumi?!'' Handoko berkata dengan nada membentak.

__ADS_1


''Papa telah berubah!'' balas Amira dengan bentakan yang lebih keras. Setelah itu ia langsung saja memutuskan panggilan.


Walaupun Amira sudah berusaha untuk tidak menangis, tetapi pada kenyataannya, tetap saja ia tidak dapat membendung bulir beningnya. Bulir beningnya keluar dengan cepat dari netra bersamaan dengan hati nya yang terasa sakit. Air mata itu jatuh membasahi pipi lalu turun ke dagu dan membasahi pakaian yang ia pakai.


''Baiklah, Pa. Kalau itu mau Papa. Maka akan aku buat Papa menyesal karena Papa sudah begitu tega kepada aku. Akan aku buat perusahaan Papa benar-benar bangkrut. Supaya Papa, Tante Irma dan Arumi, tidak bisa bersikap sombong lagi kepada aku,'' gumam Amira bersungguh-sungguh. Kilatan kebencian terlihat jelas pada wajahnya saat ia mengingat apa yang diucapkan oleh Handoko tadi. Tidak sulit bagi Amira meminta Edward untuk menarik semua dana yang telah Edward berikan ke perusahaan Papa nya, karena saat ini suami nya sudah begitu mencintai nya.


***


Di tempat berbeda, Arumi dan Irma tersenyum penuh kemenangan mendengar perkataan demi perkataan yang keluar dari mulut Handoko. Mereka dari tadi terus menguping pembicaraan antara Handoko dan Amira. Mereka sungguh senang melihat hubungan ayah dan anak kandung yang semakin memanas.


''Yes, kalau Mas Handoko sudah benar-benar tidak memperdulikan Amira lagi, berarti seluruh harta yang ia punya akan jatuh kepada aku dan anak aku,'' Irma tersenyum senyum sendiri.


Sekarang mereka sedang berada di depan kampus, setelah menghubungi Amira, Handoko dan Irma pamit pergi. Untuk ke dua kalinya mereka gagal bertemu langsung dengan Amira.


Sedangkan Arumi, selepas kepergian Irma dan Handoko, bukannya masuk ke kampus, tapi dia malah pergi bersama kekasihnya, kekasihnya yang merupakan mahasiswa yang sama di kampus tempat dia berkuliah.


''Ke mana kita Sayang?'' tanya Angga, kekasih Arumi yang usianya sepantaran dengan Arumi. Angga memiliki paras yang cukup tampan, tapi ketampanan nya masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Edward. Hanya saja Arumi sudah sangat mencintai Angga, karena mereka berpacaran sudah cukup lama. Irma setuju-setuju saja sama hubungan Arumi dan Angga, karena apapun pilihan Arumi, maka Irma akan menyetujui nya.


''Terserah kamu saja, Sayang,'' jawab Arumi.


''Ke Hotel?'' tanya Angga lagi.


''Em, baiklah, Sayang,'' jawab Arumi lagi.


Kehidupan bebas yang di jalani oleh Arumi selama ini membuat dia sudah tidak perawan lagi, dia dan Angga sudah berulang kali menyelami kenikmatan tanpa adanya ikatan suci, mereka berpacaran sudah di luar batas. Dan Irma sama sekali tidak tahu soal itu, karena dia selalu menganggap Arumi adalah wanita baik-baik.


***


Malam harinya, Amira berdiri di depan cermin meja rias, ia menatap penampilan nya dengan penuh kekaguman.

__ADS_1


Bagaimana tidak, seorang MUA handal telah berhasil menyulap wajah cantik menjadi semakin cantik dengan polesan make up tipis yang begitu elegan. Kini, wajah cantiknya persis seperti Princess hidup. Teramat cantik, sampai-sampai Amira sendiri menjadi pangling melihat wajahnya sendiri, karena selama ini ia tidak pernah meminta bantuan MUA untuk memoles wajah nya. MUA itu khusus Edward datangkan ke rumah untuk merias istrinya. MUA yang jam terbang nya sudah tinggi dan bayarannya pun tidak kaleng kaleng.


''Sayang, kamu cantik sekali,'' puji Edward yang datang-datang langsung saja memeluk tubuh Amira dari belakang. Ia mencium tengkuk Amira dengan begitu lembut, sehingga membuat Amira merasa geli.


''Sungguh?'' tanya Amira tersipu malu.


''Iya, Sayang,'' jawab Edward.


Amira membalikkan tubuhnya, hingga kini dirinya dan sang suami sudah berdiri dengan saling berhadapan. Amira mengalungkan tangannya pada leher Edward. Mereka saling tatap tatapan, Amira pun memuji ketampanan Edward di dalam hati, malam ini Edward terlihat sangat tampan dengan pakaian yang ia pakai. Rambut nya pun tertata rapi.


Edward semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah sang istri, tanpa penolakan, Amira menutup matanya, hingga beberapa detik setelah itu.


Cup!


Edward mengecup bibir Amira dengan begitu lembut. Mereka berciuman selama beberapa detik, bertukar saliva dengan nafas sedikit ngos-ngosan.


"Sudah, Sayang,'' ucap Amira begitu pagutan terlepas. Untung nya Amira memakai lipstik mahal, sehingga lipstik nya tidak berpindah pada bibir Edward.


''Kalau tidak ingat kita akan pergi ke pesta malam ini, sudah pasti kamu akan habis Mas lahap Sayang,''


''Nanti saja kita lanjutkan, Sayang,'' sahut Amira. Kini Amira semakin berani, ia tidak malu-malu lagi kepada Edward. Mendengar itu membuat Edward tersenyum senang.


''Oke Sayang,'' balas Edward.


Setelah itu mereka berjalan berdampingan keluar dari dalam kamar. Amira menggandeng tangannya pada tangan sang suami. Sepatu hak tinggi yang ia pakai membuat dirinya sedikit kesulitan untuk berjalan, tapi dengan sabar Edward mensejajarkan langkahnya dengan langkah sang istri.


Malam ini mereka akan pergi ke pesta, pesta yang mungkin akan mempertemukan Amira dan Handoko.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2