Terjerat Cinta CEO Aneh

Terjerat Cinta CEO Aneh
Part 28


__ADS_3

Edward sudah menunggu di depan gerbang kampus, tidak lama setelah itu Amira keluar dari kampus, ia langsung saja berjalan ke arah mobil sang suami.


''Silahkan masuk Sayang,'' ucap Edward begitu pintu mobil terbuka.


''Iya, Mas,'' balas Amira dengan senyum simpul. Amira lalu duduk di samping sang suami, ia mencium punggung tangan sang suami.


''Bagaimana hari ini? Apakah kamu happy?'' tanya Edward mulai menyalakan mobil.


''Alhamdulillah, aku happy, Mas,''


''Syukurlah, Mas senang denger nya,'' Edward mengusap lembut pucuk kepala sang istri, ia juga mengecup kening istri cantik nya itu. Setelah itu ia memacu kendaraan roda empat miliknya ke kediaman Handoko.


''Nanti sehabis dari rumah Papa baru kita jenguk Leon, ya, Sayang,''


''Iya, Mas,'' Amira mengangguk kecil.

__ADS_1


''Bagaimana kalau kita makan siang dulu di restoran?'' tawar Edward, karena dirinya memang belum makan siang, ia begitu terburu-buru menjemput sang istri, takut sang istri lama menunggu dirinya. Edward tidak mau membuat Amira menunggu.


''Baiklah Sayang, aku juga belum makan siang,'' sahut Amira. Amira lalu merebahkan kepalanya pada bahu kekar sang suami, ia menutup matanya sejenak untuk menghilangkan rasa lelah karena materi yang cukup banyak di sampaikan oleh dosen tadi.


Mereka mampir di restoran sebentar untuk mengisi perut mereka, untuk menambah energi mereka, karena mungkin saja nanti saat mereka sudah bertemu dengan Handoko, mereka membutuhkan banyak energi untuk menghadapi Handoko beserta keluarganya.


Setelah selesai makan, mereka langsung menuju kediaman Handoko, kediaman yang sebenarnya adalah merupakan harta peninggalan dari keluarga Mama Amira. Iya, rumah itu merupakan rumah turun temurun dari nenek Amira, rumah yang seharusnya hanya Amira yang berhak untuk menempati nya, tapi sayang nya Handoko dan keluarga baru nya malah menguasai rumah itu tanpa tahu malu. Dan perusahaan yang Handoko pimpin sekarang juga merupakan perusahaan turun temurun dari keluarga Mama Amira, mengingat semua itu, semakin yakinlah Amira, bahwa di balik kematian sang mama ada yang tidak beres, ada yang mengganjal menurut nya.


***


Lama Amira menatap bangunan tiga lantai yang ada dihadapannya, sudah cukup lama dirinya tidak menginjak kaki di rumah itu. Melihat rumah itu, tiba-tiba bayang-bayang tentang kebersamaan nya dengan sang mama muncul begitu saja di ingatan.


Rindu, Amira sangat sangat merindukan sosok wanita hebat nya itu. Ia menarik nafas dalam lalu menghembuskan perlahan, untuk menguraikan rasa sesak yang bersemayam di dada.


''Ayo, kita masuk Sayang,'' ajak Edward sembari merangkul pinggang sang istri. Amira mengangguk kepala dengan senyum simpul, mereka lalu berjalan menuju pintu utama.

__ADS_1


Begitu mereka tiba di depan pintu utama, tiba-tiba saja pintu terbuka, Arumi keluar dari rumah dengan wajahnya yang terlihat pucat. Mereka saling tatap beberapa saat, hingga akhirnya Arumi bersuara.


''Minggir kamu!'' ketus Arumi saat ia melihat wajah Amira dan Edward. Ia memasang tampang masam.


Amira dan Edward tak berbicara sepatah katapun kepada Arumi, malas rasanya kalau mereka harus meladeni Arumi. Mereka memberi jalan untuk Arumi, hingga Arumi berlalu dari hadapan mereka. Arumi akan menemui Angga untuk membicarakan sesuatu, membicarakan kekhawatiran yang mendadak mendera dirinya, sebenarnya Arumi masih merasa sedikit mual, tapi sebisa mungkin ia tahan rasa itu.


"Assalamualaikum!'' seru Amira.


Tidak lama setelah itu tampak Irma berjalan menghampiri mereka.


''Walaikum'sallam,'' Irma memang senyum semanis mungkin menyambut kedatangan Amira dan Edward.


Melihat itu, membuat Edward dan Amira merasa curiga. Aneh saja rasanya melihat Irma yang selalu bersikap ketus kepada Amira tiba-tiba saja berubah menjadi baik dan lembut.


Bersambung.

__ADS_1


......................


__ADS_2