
''Alhamdulillah kami baik dan sehat-sehat saja, Pa. Bagaimana perusahaan Papa? Apakah sudah kembali pulih seperti sedia kala?'' tanya Edward sengaja memancing Handoko.
''Syukurlah kalau kalian baik baik saja. Em, begitulah Edward, untuk kembali pulih seperti sedia kala masih sulit sepertinya, masih butuh kerja keras dan pemasukkan dana tambahan lagi,'' ucap Handoko. Kini, mereka semua sudah duduk mengelilingi meja berbentuk bundar.
Dari tadi Arumi terus saja menatap Amira dengan tatapan sinis, tetapi Amira mengabaikan nya, ia sama sekali tidak peduli dengan kakak tirinya itu.
Arumi juga terus menatap Edward lekat, sekarang ia baru menyadari kalau paras Edward sungguh lah sangat tampan. Angga tak ada apa-apa nya di bandingkan Edward.
Berulangkali Arumi meneguk saliva melihat ketampanan Edward, melihat bibir tipis Edward yang bewarna merah muda, melihat tebal nya asli Edward yang hampir bertautan. Rasanya Arumi ingin merasakan hangatnya dekapan seorang Edward. Sesaat Arumi melupakan kekasihnya yang ada di sebelahnya, kekasihnya yang telah berhasil merenggut keperawanan nya.
__ADS_1
''Ah, andai saja. Kalau suami aku setampan Tuan Edward, mungkin aku akan memiliki keturunan yang lucu lucu, yang memiliki paras yang sempurna pula,'' ucap Arumi di dalam hati. Kini, Arumi sudah menjadi salah satu bagian dari wanita-wanita yang mengagumi sosok Edward.
''Dana tambahan? Bukankah dana dari aku sudah cukup banyak?'' tanya Edward dengan kening berkerut menatap Handoko.
''Papa kira dana yang kamu kasih waktu itu sudah lebih dari cukup, tetapi setelah di hitung baik-baik ternyata masih banyak kurang nya, karena sebagian nya sudah di gunakan untuk menutupi hutang-hutang Papa di perusahaan lain,'' jelas Handoko seraya menghembus nafas berat dengan wajah di buat sesedih mungkin. Ia sengaja berpura-pura supaya Edward merasa kasihan dan memberikan dana tambahan lagi. Irma pun mengangguk mengiyakan ucapan sang suami.
Amira begitu muak melihat wajah penuh kepura-puraan sepasang suami istri yang tak lagi muda itu. Rasanya Amira ingin segera beranjak dari hadapan mereka, tetapi belum puas rasanya kalau dirinya belum memberikan pelajaran kepada sang papa dan keluarga barunya.
Handoko dan Irma merasa sangat kesal mendengar perkataan Edward, mereka kira setelah Handoko berkata seperti tadi akan membuat Edward kasihan, dan dengan senang hati ia akan mentransfer uang yang cukup banyak kepada mereka, tetapi nyatanya, Edward malah meminta maaf mengatakan tidak bisa membantu.
__ADS_1
Beberapa saat tidak ada yang bersuara diantara mereka, hanya terdengar suara alunan lagu yang di putar oleh penyelenggara pesta. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Setelah beberapa menit, Handoko bersuara.
''Em, Amira, Papa mau berbicara berdua saja sama kamu, apakah kamu bersedia, Nak?'' ucap Handoko lembut menatap Amira.
''Tanyakan sama suami aku saja, Pa. Apakah dia mengizinkan aku untuk berbicara sama Papa, soalnya sekarang 'kan aku sudah menjadi milik suamiku,'' balas Amira.
''Bagaimana Edward?'' tanya Handoko dengan kekesalan di dada.
''Baiklah. Silahkan saja, Pa,'' sahut Edward.
__ADS_1
Setelah itu Handoko meminta Amira mengikutinya dari belakang, mereka berjalan beriringan menuju tempat yang lumayan sepi. Edward hanya bisa menatap kepergian sang istri dengan berat hati, ia takut Amira kenapa-kenapa. Walaupun Handoko merupakan Papa kandung Amira, tetapi tidak menghilangkan kekhawatiran nya kalau Handoko berani menyakiti Putri nya sendiri.
Bersambung.