
Arumi menginjak pedal rem saat dirinya sudah berada di depan Apotik Kurnia Sehat. Arumi turun dari mobil, lalu ia berjalan memasuki Apotik.
Wajahnya ia tutupi dengan masker, dan mata nya memakai kacamata. Malu rasanya kalau ia harus membeli benda kecil yang belum pantas untuk ia beli karena status nya masih gadis belum bersuami.
"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?'' sapa penjaga Apotik dengan ramah begitu Arumi berdiri di depan lemari etalase.
''Saya mau beli testpack, ambil yang harga nya paling mahal dan kualitasnya yang terpercaya,'' sahut Arumi.
''Baiklah, tunggu sebentar,'' penjaga Apotik tersebut lalu berjalan ke suatu rak yang tidak jauh dari nya, ia lalu mengambil apa yang Arumi pinta. Arumi menunggu dengan tak sabaran, ia gelisah. Tadi dirinya sudah menghubungi Angga, mengajak Angga ketemuan di sebuah Apartemen milik Handoko.
''Ini, Mbak,'' penjaga Apotik itu menyerahkan apa yang Arumi pinta.
Arumi lalu membayarnya dengan selembar uang mata merah. Setelah itu ia kembali masuk ke dalam kendaraan roda empat miliknya.
__ADS_1
''Semoga saja tidak terjadi hal yang tidak aku inginkan. Aku sungguh belum siap bila harus punya bayi. Ah . . . Pasti merepotkan sekali. Suara tangisnya yang bisa mengganggu tidur ku, belum lagi kalau dia buang air besar dan kecil, iihh jijik ... Dengan membayangkan nya saja sudah membuat kepalaku sakit,'' Arumi berkata di dalam hati, setelah itu ia melajukan mobilnya membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, rasanya dirinya sudah tidak sabar lagi ingin sampai di tempat tujuan. Ia ingin menceritakan apa yang saat ini tengah ia rasakan kepada sang kekasih.
Setelah melewati perjalanan yang tidak terlalu jauh, akhir nya ia sampai di Apartemen yang ada di pusat kota.
Arumi langsung saja menuju lantai lima, tempat dirinya dan Angga janjian.
Setibanya di dalam Apartemen, lama Arumi menunggu kedatangan Angga, hingga penantiannya nya itu berakhir juga, Angga datang menemui nya.
Kini, mereka berdua sudah duduk di pinggir kasur.
''Tidak, Mas,'' bantah Arumi, menatap Angga lekat. Sehingga baru Angga sadari, wajah Arumi yang tampak pucat.
''Kamu sakit?'' tanya Angga dengan kekhawatiran nya. Ia meraup pipi Arumi dengan tangan nya.
__ADS_1
''Mas, aku merasa begitu mual, aku takut, takut kalau ternyata aku mengandung anak mu,'' ujar Arumi dengan air mata yang sudah menggenangi pelupuk mata.
Mendengar itu, membuat Angga begitu kaget, repleks ia sedikit menjauh dari Arumi.
''Tidak mungkin, kita 'kan selalu pakai pengaman kalau lagi berhubungan,'' bantah Angga. Angga pun sama, ia merasa belum siap kalau harus menjadi seorang Ayah. Mereka hanya mau enaknya saja, tapi tidak mau menanggung resiko dari apa yang telah mereka lakukan secara berulang-ulang.
''Iya, aku juga berusaha untuk membantah apa yang aku rasa,''
''Ya sudah, kalau begitu coba kamu tes pakai tespeck, supaya semuanya jelas,''
''Baiklah, aku tadi juga sudah membeli tespeck di apotik,''
''Ya sudah, sana. Biar Mas tunggu di sini,'' ucap Angga, Arumi pun mengangguk kecil, lalu ia berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Setelah Arumi masuk ke dalam kamar mandi, Angga berdiri dengan perasaan gelisah. Ia berjalan mondar-mandir di depan kamar mandi, berharap apa yang ia takutkan tidak terjadi.
Bersambung.