Terjerat Cinta CEO Aneh

Terjerat Cinta CEO Aneh
Part 31


__ADS_3

Di dalam kamar mandi Apartemen, tangis Arumi pecah, ia menggeleng geleng kepala nya berulangkali saat ia melihat dua garis merah yang tercetak jelas pada testpack. Di remasnya testpack tersebut, lalu dilempar ke dinding kamar mandi.


''Tidak, aku tidak mau hamil, aku masih ingin kuliah, aku masih ingin terbang bebas dengan kesendirian ku tanpa pengganggu yang merepotkan,'' gumam Arumi dengan suaranya yang serak.


Di luar, Angga yang mendengar suara tangisan Arumi lalu menggedor pintu, meminta agar Arumi segera membukakan pintu.


''Arumi, buka pintunya!'' seru Angga.


Ceklek! Pintu di buka dari dalam, lalu bisa Angga lihat penampakan paras Arumi yang begitu berantakan. Rambut acak-acakan serta mata merah dengan sisa-sisa air mata di sudut mata dan di pipi.


''Bagaimana hasil nya?'' tanya Angga penasaran, ia menatap Arumi lekat. Sebenernya Angga sudah bisa menebak sendiri saat melihat wajah Arumi, tetapi ia ingin mendengar jawaban dari mulut Arumi langsung dan ia juga ingin melihat hasil yang ada pada testpack.


Arumi tidak menjawab pertanyaan dari Angga, ia berjalan gontai ke arah ranjang, lalu ia duduk di sana dengan tangis nya yang sudah reda, tetapi wajahnya begitu murung seperti penuh tekanan.


Angga lalu memasuki kamar mandi, ia lalu mengambil testpack yang tergeletak di atas lantai, Angga pun memperhatikan testpack tersebut dengan seksama, dan setelah itu, tangan Angga gemetaran karenanya. Angga juga merasa belum siap kalau harus menjadi seorang Ayah, kalau harus menikah dengan Arumi, karena mereka masih sama-sama kuliah, tinggal setengah semester lagi bagi mereka untuk menyelesaikan kuliah.

__ADS_1


Angga menghampiri Arumi, lalu ia duduk di sebelah sang kekasih, dengan menjaga jarak.


''Bagaimana ini, Arumi?'' tanya Angga binggung.


''Aku enggak tahu juga,'' sahut Arumi, lagi, tangisnya pecah.


Angga menarik nafas dalam lalu menghembus kasar.


''Aku akan bertanggungjawab, aku akan menikahi kamu, karena walau bagaimanapun kita melakukan nya karena sama-sama suka dan sama-sama sadar,'' ucap Angga dengan penuh pertimbangan di awal. Angga lalu semakin mendekati Arumi, ia menghapus air mata yang terus terjatuh dari netra sang kekasih.


''Lalu kamu mau apa?'' tanya Angga, Angga masih tidak mengerti apa mau sang kekasih.


''Aku mau menggugurkan anak ini,'' ucap Arumi lirih.


''Kamu gila!'' Angga menatap Arumi dengan wajahnya yang memerah, ia tidak menyangka Arumi bisa berkata seperti itu.

__ADS_1


''Iya, aku memang gila. Aku merasa belum siap menjadi seorang Ibu. Dan aku juga belum siap kalau Mama dan Papa aku tahu tentang kehamilan ku ini, belum lagi teman-teman kuliah kita, mereka pasti akan menjadikan kita sebagai bahan omongan. Satu lagi, Amira, iya, Amira pasti merasa sangat senang kalau ia tahu kalau aku hamil di luar nikah,'' racau Arumi.


Mendengar itu, Angga pun menjadi bingung, semua yang dikatakan oleh Arumi memang benar ada nya, karena Angga pun merasa takut sama kedua orang tuanya.


''Baiklah kalau begitu, kalau itu mau mu, maka aku akan menemani kamu untuk menggugurkan janin yang ada di perut mu,'' Angga menatap perut Arumi yang masih datar, ia tidak menyangka, karena perbuatannya, mahluk kecil yang tak tahu apa-apa tumbuh di sana.


''Iya. Terimakasih karena kamu sudah mau mengerti,''


''Aku akan mencarikan tempat aborsi yang terpercaya dan yang berpengalaman, supaya semuanya berjalan lancar,''


''Baiklah,''


''Kalau begitu kamu pulang dulu, ya. Aku juga akan pulang. Kita bersikap biasa saja kepada orang-orang, jangan tunjukkan kehamilan mu kepada siapapun, termasuk kepada teman-teman mu, besok aku pasti akan menjemput mu, dan kita akan pergi bersama-sama untuk mengatasi masalah yang ada,'' ucap Angga meyakinkan, mendengar itu Arumi mengangguk kecil, Arumi merasa lega, karena Angga masih mau menemani nya saat dirinya lagi dalam kesusahan.


Mereka lalu pulang ke rumah masing-masing, setibanya Arumi di rumah, Arumi merasa begitu kaget melihat pemandangan di depan matanya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2