Terjerat Cinta CEO Aneh

Terjerat Cinta CEO Aneh
32


__ADS_3

''Apa yang terjadi?!'' pekik Arumi melihat pemandangan di dalam kamar Handoko dan Irma.


Dengan cepat Arumi bertindak, ia melepaskan ikatan tali yang mengikat tangan Handoko dan Irma.


Irma dan Handoko duduk di atas tempat tidur dalam kondisi tangan dan kaki teringat, mulut mereka pun di balut perban, hingga mereka tak dapat bersuara.


Setelah melepaskan ikatan tali, Arumi lalu menarik paksa perban pada mulut Handoko dan Irma, hingga mereka mengaduh kecil karena rasa perih di area mulut.


Begitu sudah terlepas, sepasang suami istri yang tak lagi muda itu terlihat ngos-ngosan mengatur nafas.


''Apa yang terjadi, Ma?'' desak Arumi bertanya.


''Ambilkan Mama dan Papa minum dulu,'' perintah Irma, Arumi lalu berjalan ke belakang dengan langkah kaki lebar.


Sejenak Arumi melupakan tentang kehamilan nya karena melihat kekacauan di dalam rumah.


Arumi kembali ke kamar dengan membawa sebotol air minum, lalu memberikan kepada Handoko dan Irma.


Mereka berdua meneguk minuman itu dengan cepat untuk menghilangkan rasa haus dan rasa lemas. Mereka sudah tua, jadi wajar saja tubuh keduanya gampang sekali lemas.

__ADS_1


Arumi bertanya lagi untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, karena tadi yang ia tahu Amira dan Edward berkunjung ke rumah.


''Ini semua perbuatan anak tak tahu diri itu dan suaminya yang pelit.''


Arumi kaget, lalu bertanya.


''Mama serius?''


''Iya.''


''Kenapa bisa?'' tanya Arumi.


''Panjang cerita,'' celetuk Handoko.


''Argh! Dasar anak kurang ajar!'' umpat Handoko sambil membanting pintu lemari. Handoko merasa sangat kesal melihat sertifikat rumah serta aset-aset penting yang lain sudah di bawa kabur oleh Amira.


Begitu juga dengan Irma, Irma mengumpat Amira berulangkali.


Niat mereka ingin memeras Edward, tapi nyatanya mereka yang harus mengalami kerugian besar.

__ADS_1


Sekitar setengah jam yang lalu, dengan berani nya Amira mengobrak-abrik lemari sang papa, mencari apa yang ia rasa menjadi hak nya. Mencari harta peninggalan sang mama.


Tadi, saat Handoko mencekik leher Amira dan saat Irma menodongkan pistol ke arah Edward dengan maksud mengancam, Edward tak merasa takut sama sekali, karena ia juga memiliki pistol kecil di balik jas nya. Pistol yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi, untuk berjaga-jaga. Karena terkadang kejahatan bisa terjadi kapanpun dan di manapun, dan Edward tidak boleh lengah, mengingat status nya yang seorang atasan serta ketua mapia juga.


Iya, ternyata selama ini Edward juga merupakan seseorang yang tidak segan-segan melenyapkan nyawa orang lain kalau orang itu mengusik hidupnya dan menghalangi jalannya.


Dengan sikap Edward mengeluarkan pistolnya, lalu ia tembakkan ke arah dinding di dekat Irma, hingga membuat Irma kaget luar biasa tanpa melakukan perlawanan. Dan dengan sekita pistol yang di pegang oleh Irma jatuh ke lantai karena tangannya yang gemetar ketakutan melihat tatapan mata Edward yang seakan ingin membunuhnya.


Begitu juga dengan Handoko, keberanian yang di milikinya seketika berubah menjadi ketakutan yang teramat sangat, Handoko belum siap mati, ia masih ingin hidup di dunia untuk bersenang-senang dengan Irma.


Setelah itu, tanpa pikir panjang lagi Edward mengikat tangan beserta kaki Handoko dan Irma juga. Sedangkan Amira hanya diam melihat apa yang dilakukan oleh sang suami. Amira tak menyangka bahwa sang suami membawa senjata.


''Sayang, cepat ambil semua surat-surat berharga yang kamu rasa itu adalah milik almarhum Mama.'' Edward memberi perintah. Dan Amira pun bergerak cepat, ia membuka lemari lalu mengambil aset-aset berharga serta perhiasan yang cukup banyak milik sang mama yang selama ini dikuasai oleh Irma.


Usai melakukan itu, Edward lalu mengajak Amira pulang.


Ada rasa puas yang Amira rasa saat ia sudah berhasil mengambil harta peninggalan sang mama dari orang-orang jahat seperti Irma dan Handoko.


Tetapi tetap saja Amira merasa kasihan melihat Handoko yang semakin tua semakin jahat karena salah memilih pendamping hidup.

__ADS_1


Mereka sudah memiliki banyak harta, tetapi masih ingin memeras Edward. Rakus sekali. Pikir Amira.


Bersambung.


__ADS_2