
Setibanya di rumah, Amira dan Edward langsung masuk ke dalam kamar. Amira mengatakan kalau dirinya ingin segera beristirahat, pertemuan dirinya dan sang papa di pesta tadi membuat mood nya menjadi tidak baik baik saja.
Amira melepaskan gaun yang ia pakai, ia mengganti nya dengan piyama tidur.
Begitu juga Edward, sekarang mereka sudah memakai piyama yang memiliki motif yang sama. Mereka tampak sangat serasi, cantik dan tampan.
Setelah mengganti baju, mereka ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan menggosok gigi, mereka melakukan bersama-sama. Dari tadi Edward terus menghibur sang istri, supaya sang istri kembali ceria.
"Udah, kamu jangan ganggu aku malam ini, Mas. Aku akan segera tidur,'' Amira memunggungi sang suami, ia menarik selimut hingga ke dada. Kini mereka sudah berbaring di atas kasur king size yang empuk.
Edward lalu memeluk tubuh sang istri dari belakang. Ia mengendus aroma tubuh sang istri yang begitu menenangkan bagi nya.
''Tapi, Mas pengen berusaha lagi malam ini,'' ucap Edward lembut.
''Berusaha apa, Mas?'' Amira berucap kesal.
''Berusaha menanam benih di rahim kamu, Sayang,''
''Udah. Kamu mah cemen, tiap malam menaman benih, tapi benihnya tak kunjung tumbuh,'' balas Amira, dia sudah menutup matanya.
''Makanya malam ini kita coba lagi, siapa tahu berhasil,''
''Kamu bisa aja, enggak mau ah,'' Amira semakin merapatkan selimut ke tubuh nya. Tapi Edward malah menarik selimut itu.
''Mas sungguh ingin memiliki anak dari kamu Sayang. Supaya semua harta yang Mas punya ada pewaris nya dan supaya kamu ada teman nya juga,'' kata Edward lagi.
''Aku juga kepengen,'' sahut Amira.
''Ya udah, yuk kita bikin,'' Edward berkata dengan begitu bersemangat, wajahnya tersenyum bahagia. Ia menggelitik perut serta ketiak Amira, hingga Amira tertawa terbahak-bahak karenanya.
''Ah, Mas kamu jahil banget sih, hahahaha ....''
__ADS_1
''Kamu cantik kalau lagi tersenyum dan tertawa begini. Sudah jangan sedih lagi,''
''Terimakasih, tapi lain kali kamu jangan menggelitik aku lagi, aku sungguh tidak tahan,''
''Mas juga tidak tahan,''
''Apaan sih, enggak nyambung banget!''
Edward merengkuh tubuh sang istri, hingga kini Amira sudah berbaring di dada bidangnya.
Mereka mengobrol sebentar, setelah itu Edward mulai melancarkan aksinya.
Perlahan Edward mulai mengecup kening Amira, lalu turun ke mata, ke pipi, ke hidung dan yang terakhir dan yang paling lama, ke bibir Amira. Di bibir Amira, lama bibir Edward menetap di sana.
Mereka berciuman cukup lama, bertukar saliva dengan nafas yang memburu.
***
Keesokan paginya, seperti biasa, Edward bersiap-siap hendak ke kantor, sedangkan Amira bersiap-siap hendak ke kampus, setelah dua hari tidak masuk kampus, akhirnya pagi ini Edward sudah mengizinkan dirinya kembali ke kampus.
''Terus nanti siapa yang akan menjemput aku saat jam pelajaran selesai?''
''Kamu tidak usah khawatir, Sayang. Mas yang akan menjemput kamu. Kamu tinggal hubungi saja, Mas,'' ujar Edward. Kini dirinya dan Amira sudah berada di dalam mobil.
''Ya ampun, aku kok jadi lupa gini ya,''
''Lupa apa Sayang?''
''Kita 'kan belum menjenguk Leon di rumah sakit,''
''Nanti kita jenguk dia bersama-sama. Kata anak buah Mas, Leon sudah berhasil melewati koma nya, dia sudah sadar dan dia sudah dipindahkan ke kamar rawat inap,''
__ADS_1
''Syukurlah. Kamu tidak cemburu lagi 'kan sama dia?''
''Tidak, sekarang Mas sudah percaya sama kamu,'' Edward mengusap pucuk kepala sang istri.
''Terimakasih Sayang,'' Amira memeluk tubuh sang istri.
Edward mengantarkan Amira hingga sampai di depan gerbang kampus, sebelum keluar dari dalam mobil, Amira mengambil tangan Edward, menyalami dan mengecup punggung tangan nya.
''Jangan nakal,'' pesan Edward.
''Baik lah, Sayang,'' balas Amira tersenyum simpul.
Amira keluar dari dalam mobil bewarna hitam berharga ratusan juta tersebut, lalu ia melambaikan tangannya melepaskan kepergian sang suami.
Setelah Edward sudah pergi, Amira masuk ke kampus, baru beberapa langkah Amira melangkah masuk ke halaman kampus, tiba-tiba ponselnya yang ada di dalam tas berdering nyaring, Amira mengambil ponsel tersebut lalu melihat siapa gerangan yang menghubungi dirinya.
''Tante Irma,'' Amira menyipit mata melihat nama itu.
Amira lalu memutuskan untuk tidak mengangkat panggilan dari sang mama tiri, ia takut mood nya kembali memburuk setelah berbicara dengan Irma.
Tapi hingga dirinya tiba di dalam kelas, ponsel nya masih tetap berdering, dan nama Irma masih tertera di layar ponsel.
Akhirnya Amira mengangkat panggilan dari Irma juga.
''Amira,'' ucap Irma begitu panggilan nya terhubung.
''Iya, ada apa?'' tanya Amira sedikit ketus.
''Kamu lagi ada di mana sekarang?''
''Aku sedang berada di kampus,''
__ADS_1
''Bisakah kamu ke rumah sekarang? Papa kamu sakit, tadi malam sepulang dari pesta tiba-tiba penyakit jantung nya kumat, dan sedari semalam Papa kamu selalu menyebut nama mu,'' jelas Irma dengan nada suara terdengar panik.
Bersambung.