
Amira dan Edward berdiri di sisi ranjang, tatapan mereka tertuju kepada pria yang tengah berbaring di atas tempat tidur, pria yang mata nya tertutup. Wajahnya pun tampak pucat.
''Papa kamu baru saja tidur setelah minum obat,'' Irma berkata seraya menghembus nafas berat, nada suaranya terdengar seperti seseorang yang tengah bersedih.
''Kenapa tidak di bawa ke rumah sakit saja?'' tanya Edward.
''Em . . . Itulah masalahnya, kami tidak punya cukup uang untuk membayar biaya pengobatan di rumah sakit, belum lagi kalau harus di suruh nginap di rumah sakit, makin pusing Mama memikirkan biaya nya,'' Irma berkata lagi dengan wajah dibuat semakin sedih.
Mendengar itu, Amira lantas tak langsung percaya, entahlah . . . Sulit sekali bagi Amira untuk percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Irma. Dan dari tadi Amira terus menatap lekat wajah sang papa, ia merasa sang papa hanya pura-pura tidur, karena matanya sesekali bergerak.
''Kalau tidak ada uang, biarkan saja Papa tetap di rumah, aku akan selalu berdoa untuk kesembuhan Papa, dan aku juga akan ikut merawat Papa, aku akan menginap di sini sampai Papa sembuh. Boleh 'kan, Mas?'' Amira akhirnya bersuara, ia berkata dengan begitu lembut. Ia lalu duduk di pinggir kasur, tangan nya terangkat, ia akan memijit kening serta kepala sang papa.
Amira bisa merasakan suhu tubuh sang papa yang normal, tidak dingin dan juga tidak panas. Seperti orang tidak sakit.
''Tentu boleh dong, Sayang,'' jawab Edward sambil mengelus pucuk kepala Amira.
Lalu mereka berdua tersenyum tipis.
__ADS_1
Irma merasa begitu kesal dan marah mendengar apa yang dikatakan oleh Amira, rasanya ia ingin menampar pipi Amira yang dianggap nya begitu kurang ajar, tapi keinginan nya itu masih ia tahan, ia tidak mau kebohongan nya dan sang suami terbongkar begitu cepat.
''Mama bisa mengurus Papa kamu sendiri, Amira,'' tutur Irma.
''Hm, aku akan membantu Mama,''
''Kamu tidak usah repot-repot,''
''Aku tidak repot,''
''Edward,'' ucap Irma menatap Edward.
''Papa bisa sakit begini karena dia stress memikirkan keuangan perusahaan, apakah kamu sama sekali tidak ingin membantu Papa dengan menambahkan dana ke perusahaan Papa? Siapa tahu setelah mendengar kamu bersedia menambahkan dana, Papa kamu bisa kembali sembuh dan bersemangat lagi dalam menjalani hidup. Dan juga suatu hari nanti kalau perusahaan Papa sudah maju, Papa pasti akan menggantikan uang itu,'' tutur Irma.
''Seminggu yang lalu kalian liburan keluar negeri, lagian aku heran, sudah tahu kalian tidak punya cukup uang, ngapain harus keluar negeri yang pastinya akan menghabiskan uang yang cukup banyak. Maaf, aku sudah tidak bisa lagi membantu Papa,'' ucap Edward tegas.
Mendengar itu dada Irma turun naik, kini emosi sudah menguasai dirinya. Irma paling tidak suka di bantah perkataan nya, apalagi ini, Amira dan Edward sudah berulangkali membantah perkataan nya.
__ADS_1
Tanpa di duga-duga, tiba-tiba saja Handoko bangkit, Handoko lalu memegang tangan Amira dengan kuat.
''Dasar kalian, anak-anak tidak tahu diri, tidak tahu terimakasih. Tanpa aku, mana mungkin sekarang kalian bisa bersama!'' Handoko berkata dengan keras. Kini, tangannya sudah berada di dekat leher Amira. Ia bersiap mencekik leher Amira. Wajah Handoko memerah.
''Handoko! Lepaskan!'' Edward tampak panik.
Setelah itu Irma lagi yang bersaksi, Irma mengeluarkan pistol dari balik bajunya, lalu ia menodong pistol itu kearah Edward.
Melihat itu, Amira berteriak ketakutan.
''Dasar kalian orang-orang tua gila! Apa yang akan kalian lakukan?!'' ujar Amira keras.
''Kami akan menghabisi kamu dan suami mu, karena kalau kalian mati, maka kami akan menguasai seluruh harta suami mu yang tampan dan pelit ini. Hahahaha ...,'' tawa Irma melengking.
''Atau, kalau kalian mau selamat, maka kalian harus menandatangani perjanjian tertulis, di mana isi dari perjanjian tersebut adalah menyatakan kalau Edward akan memberikan berapa pun uang yang kami minta,'' ucap Handoko.
''Papa, kenapa Papa jadi begini? Racun apa yang telah Irma berikan sehingga Papa bisa sebegitu tega dengan anak Papa sendiri, sadarlah, Pa,'' ucap Amira. Ia memegang lengan Handoko yang semakin keras menekan lehernya, hingga membuat lehernya sakit.
__ADS_1
Bersambung.