
Dua orang petugas keamanan menarik paksa tangan Rahayu menjauh dari Edward dan Amira. Melihat keributan yang terjadi membuat mereka bergerak cepat sebelum sang penyelenggara pesta marah. Sebelum Antoni murka sama mereka karena lambat menangani keributan yang terjadi, padahal mereka sudah di bayar mahal oleh Antoni.
Rahayu terus berteriak mengumpat Amira seiring tubuh nya yang di bawa menjauhi lokasi pesta. Para tamu undangan hanya bisa menggeleng kepala melihat kegilaan Rahayu yang begitu terobsesi dengan Edward.
Irma dan Arumi pun merasa begitu kesal melihat Rahayu tidak berhasil menghajar Amira. Wajah mereka merenggut menatap ke arah Amira. Kini Edward tengah memeluk Amira, seperti memberikan ketenangan, melihat itu, semakin yakinlah mereka kalau saat ini Edward benar-benar telah jatuh cinta kepada Amira.
Setelah Rahayu berhasil di bawa keluar, Handoko menyiapkan dirinya untuk menghampiri Edward dan Amira, Handoko ingin mencari muka di depan Edward, ia ingin Edward semakin banyak menyumbangkan dana untuk perusahaan nya.
''Ayo, kita hampiri Tuan Edward dan Amira sebentar,'' ucap Handoko kepada Irma, Arumi dan Angga.
__ADS_1
''Ngapain sih, Pa? Enggak usah lah,'' Irma menolak ajakan Handoko.
''Papa ingin beramah tamah saja sama Edward, supaya dia semakin banyak menyumbangkan dana untuk perusahaan kita,'' bisik Handoko tepat di telinga Irma. Handoko sengaja memelankan nada bicaranya, karena ada Angga di dekat mereka. Handoko tidak ingin Angga sampai mendengar perkataan nya yang terkesan ingin memeras Edward. Takutnya Angga meninggalkan Arumi begitu ia tahu kalau keluarga Handoko adalah keluarga yang materialistis.
''Apaan sih, Pa, pakai bisik-bisik segala?'' tanya Arumi penasaran. Angga pun mengangguk setuju dengan perkataan Arumi karena dia juga merasa penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh Handoko dan Irma.
''Tidak, tidak ada apa-apa, ayo kita temui Amira dan Tuan Edward,'' ujar Handoko lagi.
Melihat sang papa dan keluarga baru nya menghampiri dirinya, membuat Amira terkesiap. Ia langsung berdiri dari duduknya, begitu juga Edward.
__ADS_1
''Aku akan melihat sandiwara apa yang akan Papa mainkan di depan suamiku,'' ucap Amira di dalam hati.
Edward pun memandang Handoko dan keluarga nya dengan wajah datarnya. Melihat wajah Handoko, membuat Edward teringat dengan perkataan kasar yang pernah Handoko ucapkan kepada Amira tempo hari. Tapi sebisa mungkin Edward bersikap biasa saja, ia juga ingin melihat Handoko bersandiwara dengan berpura-pura baik kepada dirinya.
''Nak Edward, Amira, ternyata kalian di sini juga, Papa senang bisa melihat kalian,'' sapa Handoko begitu dirinya sudah tiba di hadapan Edward dan Amira. Dengan berat hati, Amira langsung mengambil tangan Handoko, menyalami dan mencium punggung tangan pria yang waktu dia kecil pernah menggendongnya dengan penuh kasih sayang, tapi kini, kasih sayang itu sudah berubah karena kehadiran orang baru di antara mereka. Amira pun melakukan hal yang sama pada Irma. Mereka semua tersenyum, senyum yang penuh dengan kepura-puraan.
''Iya, Pa. Kami juga senang bisa bertemu sama Papa, Mama Irma beserta Arumi dan kekasihnya,'' balas Edward.
''Apa kabar kalian? Maaf, Papa tidak sempat main ke rumah kalian karena Papa sedang sibuk sekali mengurus perusahaan akhir-akhir ini,'' tutur Handoko lagi.
__ADS_1
''Alhamdulillah kami baik dan sehat-sehat saja, Pak. Bagiamana perusahaan Papa? Apakah sudah kembali pulih?'' tanya Edward sengaja memancing Handoko.
Bersambung.