Terjerat Cinta CEO Aneh

Terjerat Cinta CEO Aneh
Part 21


__ADS_3

Handoko, Irma dan Arumi baru sampai di lokasi pesta. Begitu mereka sampai di depan halaman hotel, Angga langsung menghampiri mereka. Ternyata dari tadi Angga sudah menunggu kedatangan Arumi, Angga dari tadi duduk di dalam mobilnya.


''Om, Tante,'' Angga menyalami tangan Handoko dan Irma begitu dirinya sudah tiba di depan mereka.


''Sudah lama kamu di sini Nak Angga?'' tanya Handoko.


''Lumayan lah, Om, Papa dan Mama aku sudah ada di dalam,'' jawab Angga.


''Oh baiklah, kalau begitu mari kita masuk bersama,'' ucap Handoko lagi.


Sedangkan Arumi, tangannya sudah bergelayut manja pada lengan Angga dengan kepalanya ia rebahkan pada bahu Angga. Ia sama sekali tidak merasa sungkan sama Handoko dan Irma. Gaya berpacaran nya sudah seperti pasangan suami istri saja. Bebas, tanpa malu dan tanpa ada yang di batas-batasi oleh Irma.


''Om, tadi aku melihat Amira datang bersama Tuan Edward, Amira tampak sangat berbeda malam ini, dia terlihat sangat cantik,'' ucap Angga seraya membayangkan wajah cantik Amira yang sempat ia lihat secara sekilas tadi.


''Kamu ini, bisa-bisa nya kamu bilang Amira cantik,'' Arumi menepuk kecil lengan Angga, Arumi tidak suka mendengar Angga memuji Amira.


''Lho, emang begitu kenyataannya, Sayang,'' sanggah Angga.


''Terus, kalau dia cantik kamu mau apa? Lagian masih cantik kan aku di bandingkan dia,'' ucap Arumi lagi dengan percaya dirinya. Mendengar itu Angga hanya diam saja, ia sudah tahu Arumi adalah tipekal wanita pencemburu dan keras kepala.


''Sudah, sudah, sudah. Ayo kita masuk,'' ucap Irma menengahi, ia mencoba bersikap biasa saja. Padahal di dalam hati, ia merasa ketar ketir, entahlah, rasanya ia tidak suka mendengar nama Amira di sebut-sebut. Ia tidak suka dengan kehadiran Amira yang ternyata datang ke pesta juga.


Handoko pun sama, ia tahu, malam ini Amira datang ke pesta bersama Edward, jadi dia harus pura-pura baik sama Amira saat di depan Edward, supaya Edward tidak menarik dana yang begitu banyak yang telah ia berikan untuk membantu menyelamatkan perusahaan nya dari kebangkrutan.


Mereka berempat berjalan memasuki lokasi pesta dengan berjalan berdampingan. Begitu sudah sampai di dalam hotel tempat diadakannya pesta, mata mereka mengedar ke seluruh ruangan, mereka tidak mencari sang pemilik pesta tetapi mereka malah mencari keberadaan Amira.


''Iih dasar brengsek! Bisa-bisanya Tuan Edward membawa Amira ke pesta ini,'' umpat Arumi di dalam hati begitu dirinya sudah melihat keberadaan Amira. Arumi merasa begitu kesal melihat penampilan Amira yang lebih elegan dari penampilan nya. Apalagi gaun yang di pakai oleh Amira, gaun yang tampak sangat indah, membuat Arumi juga ingin memiliki gaun seperti itu.

__ADS_1


''Kok seperti nya Tuan Edward bersikap begitu baik sama Amira, ya. Wah, jangan sampai Tuan Edward jatuh cinta sama si anak tiri belagu itu, bisa-bisa aku sama Arumi kalah saing sama Amira,'' kali ini Irma yang berucap di dalam hati. Di sebuah meja, ia melihat Edward sedang menuangkan minuman untuk Amira, hal itu berhasil membuat Irma merasa iri melihat sikap manis Edward kepada Amira. Ia kira, setelah menikah Amira akan sengsara karena di siksa oleh Edward yang terkena begitu dingin dan angkuh, tapi nyatanya Edward dengan percaya diri nya membawa Amira ke pesta, ke keramaian.


''Amira? Kamu cantik sekali. Wajah kamu persis seperti almarhum Mama mu. Ah, kok aku malah jadi ingat sama almarhumah Mama nya Amira. Tidak, aku tidak boleh berlarut-larut memikirkan almarhumah mantan istri ku, aku harus mengubur semua tentang Mama Amira dalam-dalam. Kalau Irma tahu bisa-bisa dia marah sama aku dan aku tidak dia kasih jatah nanti,'' ucap Handoko di dalam hati.


Mereka berempat berdiri diam memperhatikan Amira.


Setelah di rasa puas memandang Amira dari jarak cukup jauh, akhir nya mereka berempat berjalan menghampiri Tuan Antoni dan Nyonya Meli, mereka akan mengucapkan selamat kepada Antoni dan Meli.


***


''Mas, sudah,'' tolak Amira saat Edward hendak menyuapi nya dengan kue brownies coklat stroberi yang di letakkan oleh pelayan di atas meja di hadapan mereka, kue brownies yang di hidangkan di dalam piring berukuran kecil.


''Kenapa, Sayang?'' tanya Edward.


''Aku malu Mas, kenapa orang-orang masih saja melihat ke arah kita?'' ucap Amira, karena ia menyadari beberapa pasang mata masih saja tetap melihat ke arah dirinya dan Edward.


''Sudah, Sayang. Tidak usah pedulikan orang lain. Bahagia itu kita yang ciptakan, jadi tutup mata dan tutup telinga mu dari penilaian orang-orang,'' ucap Edward tersenyum tipis.


''Kalau begitu kamu makan kue ini, ya?'' ucap Edward, dan Amira mengangguk kecil.


''Sekali saja, ya,'' sahut Amira.


''Oke,''


''Ini, Sayang,'' kata Edward lagi seraya menyodorkan sendok kue ke depan mulut Amira.


''Am,'' Amira melahap kue tersebut, lalu ia menelan nya dengan cepat. Melihat itu Edward tersenyum karenanya.

__ADS_1


''Bagaimana rasanya, Sayang?'' tanya Edward.


''Rasanya manis, Mas,''


''Tapi menurut Mas lebih manis kamu dari pada kue yang baru saja kamu makan, kalau kue manisnya hanya sebatas kerongkongan, tapi kalau kamu, manisnya awet hingga bisa di bawa ke dalam kamar,'' Edward mengeluarkan kata-kata gombalannya seraya terkekeh kecil.


''Kamu bisa saja,'' Amira menunduk malu. Edward telah berhasil membuat dirinya mabuk kepayang dengan hati berbunga-bunga. Menurut nya Edward memperlakukan dirinya dengan sangat istimewa.


Saat sepasang suami istri tersebut tengah merasa begitu bahagia karena mereka yang sedang jatuh cinta, tiba-tiba seseorang muncul di dekat mereka. Orang tersebut langsung saja memeluk Edward dari belakang, mendapati itu, membuat Edward merasa kaget, dengan repleks ia langsung saja menepis tangan yang dengan lancang telah berani menyentuh tubuh nya.


''Aw,'' Rahayu mengaduh kecil karena hampir saja dirinya terjatuh akibat tepisan tangan Edward yang cukup keras.


''Rahayu,'' Edward menoleh kebelakang.


''Sayang, kamu kok tega sih sama aku? Padahal aku sudah kangen banget sama kamu,'' Rahayu menjatuhkan pantatnya pada kursi yang berada tepat di samping Edward. Amira hanya diam melihat tingkah Rahayu yang menurutnya begitu kecentilan.


''Rahayu, kecil kan nada bicara mu itu, ingat, diantara kita tidak punya hubungan apa-apa. Lihatlah wanita ini, perkenalkan dia adalah istri aku, jadi jangan pernah lagi kamu menganggu aku,'' ucap Edward tegas.


''What? Dia ini 'kan pelayan di rumah kamu,'' Rahayu berkata seraya memandang lamat-lamat wajah cantik Amira. Awalnya dia tidak mengenali sosok Amira, tapi setelah ia menatap wajah Amira cukup lama, akhir nya dirinya bisa mengenali Amira.


''Kemarin itu aku hanya membohongi kamu,'' sahut Amira santai.


''Tidak, tidak mungkin kamu istri Edward. Aku lah satu-satunya wanita yang pantas mendampingi kamu Edward,'' teriak Rahayu seraya menatap Amira dan Edward bergantian. Suara teriakkan Rahayu berhasil mengundang perhatian tamu-tamu yang lain.


''Rahayu, diamlah!'' bentak Edward. Dari dulu, Rahayu memang lebih berani orang nya, ia tidak pernah jera mengejar ngejar Edward meskipun Edward sudah menolak nya seribu kali banyak nya.


''Tidak, aku harus menghajar wanita ini karena dia telah berani merebut kamu dari aku, dia pasti telah mengguna-guna kamu supaya kamu terpikat dengan dirinya,'' Rahayu berjalan menghampiri Amira, tangannya siap menarik rambut Amira. Tapi dengan cepat Edward berdiri di depan sang istri, ia akan melindungi sang istri dari gangguan apapun. Kini, mereka sudah menjadi tontonan orang-orang, bahkan Irma, Handoko, dan Arumi juga tengah menonton mereka.

__ADS_1


Irma dan Arumi tersenyum senang melihat Rahayu yang hendak menghajar Amira, mereka merasa Amira pantas untuk dihajar. Kalau tidak malu dengan orang-orang, sudah pasti Arumi dan Irma akan membantu Rahayu untuk menghajar Amira.


Bersambung.


__ADS_2