
''Mang, siomay nya sepuluh ribu, ya,'' ucapku saat aku sudah berdiri di sisi gerobak.
''Iya, Neng. Masukin ke piring atau ke dalam plastik, Neng?''
''Masukin ke dalam plastik saja, Mang,''
''Baiklah, tunggu sebentar, ya, Neng,'' balas sang penjual siomay tersenyum simpul ke arah ku dengan kepala mengangguk kecil. Setelah itu tangannya sibuk meracik siomay untuk ku. Sang penjual siomay yang ku taksir usianya sekitar lima puluh tahun lebih. Melihat nya aku jadi teringat dengan Papa ku, rasa rinduku kepada cinta pertama ku itu sudah menggunung rasanya, sulit di bendung, tapi sepertinya Papa tidak merindukan aku, buktinya sampai saat ini Papa tak kunjung menghubungi aku dan juga tak membalas pesan yang aku kirim. Beliau tak menanyakan bagaimana kabar ku, bagaimana aku melewati hari-hari yang menyakitkan dengan suami yang dia jodohkan karena ingin menyelamatkan perusahaan. Mengingat itu membuat aku merasa sedih.
Setelah memesan siomay, aku berjalan dua langkah ke gerobak sebelah, aku lalu memesan cilok ke kang cilok, kalau kang cilok, usia nya masih muda, mungkin sekitar tiga puluh tahunan.
Setelah memesan dua jajanan sederhana tersebut, aku lalu duduk di atas bangku kayu panjang di bawah pohon rindang yang ada di pinggir jalan. Aku memeluk tubuhku, mengelus lengan ku, dingin, aku merasa dinginnya hembusan angin malam karena aku hanya memakai gaun tanpa lengan.
Aku lalu membuka ponsel ku, aku bingung harus menghubungi siapa untuk menumpang tidur malam ini, ah . . . Tega sekali Tuan Edward meninggalkan aku. Pernikahan macam apa ini! Rutuk ku tak mengerti.
Di saat aku masih bingung harus menghubungi siapa, Mang siomay dan kang cilok menghampiri aku, mereka memberikan jajanan yang aku pesan. Aku menyimpan kembali ponsel ku ke dalam tas yang aku pakai, nantilah aku pikirkan lagi perihal mau nginap di mana, kini aku harus menikmati jajanan yang tampak begitu menggugah selera.
''Terimakasih, Mang,'' ucapku begitu penjual siomay dan penjual cilok memberikan plastik yang berisi pesanan aku. Aku lalu memberikan uang bayaran kepada mereka masing masing, uang lima puluh ribu lima puluh ribu.
''Iya, sama-sama, Neng,'' sahut mereka serentak.
''Kembaliannya untuk kalian saja,'' ucapku lagi.
''Wah beneran, Neng?'' tanya kang cilok.
''Iya, Kang,'' balasku ramah. Setelah itu mereka mengucapkan terimakasih lagi kepada ku.
''Neng cantik kok sendirian saja,'' tanya kang cilok.
''Hehe, aku lagi kepengen sendiri saja, Kang,''
''Mau di temani tidak?''
__ADS_1
''Tidak usah. Terimakasih,''
''Sudah, Man. Jangan ganjen, ingat anak istri mu di rumah,'' Bapak penjual siomay menegur.
''Hehe iya, Kang,'' Kang penjual cilok terlihat salah tingkah, setelah itu ia berlalu dari hadapan aku.
Aku tersenyum kecil mendengar perkataan mereka, setelah itu aku menyantap siomay terlebih dahulu, siomay yang rasanya sungguh pas di lidah, hal itu membuat aku begitu mudah untuk menghabiskan seplastik siomay yang masih hangat.
Setelah siomay sudah berhasil aku habiskan, lalu aku memakan cilok lagi, aku begitu menikmati jajanan yang mengenyangkan perut yang harganya begitu bersahabat.
"Alhamdulillah,'' ucapku seraya bersendawa kecil, aku melempar dua plastik bening yang telah kosong ke arah tong sampah yang tidak terlalu jauh dari aku berada.
Aku lalu berjalan menghampiri penjual air mineral, aku membeli sebotol air mineral lalu meneguknya dengan cepat.
Di pusat kota ini, kendaraan masih ramai berlalu lalang, aku berjalan kaki menyusuri jalanan panjang yang tak berujung, entah ke mana aku akan membawa langkah ku yang sudah mulai terasa lelah. Perut ku yang sudah kenyang membuat perlahan mata ku terasa berat, aku merasa ngantuk, sesekali aku menguap lebar. Aku melihat jam di ponselku, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat.
Aku mencoba menghubungi Papa, meminta agar Papa menjemput aku, tapi lagi-lagi aku harus menelan kekecewaan mendalam begitu panggilan dari aku tak kunjung Papa angkat. Padahal jelas-jelas Papa sedang online. Papa benar-benar telah berubah, Papa tidak menyayangi aku lagi seperti saat Mama masih hidup, sebelum Mama tiri dan Kakak tiri ku hadir di dalam kehidupan kami. Sepertinya dua wanita itu telah berhasil merebut Papa dari aku, membuat seluruh cinta dan kasih sayang Papa berpaling kepada mereka, sedangkan untukku tak tersisa lagi. Sekarang aku benar-benar merasa sendiri di atas dunia ini, tak ada orang yang tulus menyayangi aku seperti Mama. Rasanya aku ingin segera bertemu dengan Mama, aku ingin mati saja.
Tapi, setelah menunggu beberapa menit, belum ada satu kendaraan pun yang bersedia menabrak tubuh ku, yang ada aku malah mendengar suara umpatan demi umpatan yang tertuju kepada ku.
''Heh, wanita bodoh! Minggir lah, apa kau ingin mati!''
''Minggir!''
''Minggir!''
''Sialan! Hampir saja aku menabrak mu, bisa-bisa kena masalah aku,''
Aku masih tetap menutup mata, tak aku pedulikan suara-suara yang meneriaki ku tak suka. Mereka protes karena diriku telah mengganggu perjalanan mereka.
Lalu tidak lama setelah itu, aku merasa tubuh ku sudah melayang di udara, aku merasa seseorang telah mengangkat tubuh ku.
__ADS_1
''Lepaskan!'' teriakku seraya memukul punggung tegap pria yang telah menggendong ku.
''Ternyata kamu memang wanita bodoh!'' ucap Tuan Edward.
''Ngapain Tuan menemui aku lagi?! Sana pergi! Lepaskan aku sekarang juga!'' aku semakin kuat memukul punggung Tuan Edward, kaki ku bergerak-gerak menendang perut nya yang sispack.
''Aku mengkhawatirkan kamu, Sayang,'' ucap nya terdengar lembut.
''Sayang sayang kepala lu peyang,'' balas ku.
''Apa katamu?!'' Tuan Edward menghempaskan tubuhku ke atas kursi mobil.
''Aduh!'' aku merasa punggung dan pinggul ku sedikit sakit.
''Diamlah, jangan suka membantah!'' ucap nya lagi penuh penekanan.
Kini Tuan Edward sudah duduk di kemudi, setelah itu ia melajukan kendaraan roda empat miliknya dengan kecepatan sedang.
Selama dalam perjalanan pulang, kami hanya diam, aku malas memulai obrolan, dan sepertinya Tuan Edward juga malas.
Tidak lama setelah itu kami sampai di rumah, kami memasuki rumah berjalan beriringan, dengan Tuan Edward yang berada di depan sedangkan aku di belakangnya.
Tuan Edward menaiki anak tangga sedangkan aku berbelok menuju kamar pelayan.
Setibanya aku di dalam kamar, aku langsung saja merebahkan tubuh ku yang terasa lelah, tapi belum ada satu menit aku merebahkan tubuh ku, tiba-tiba saja pintu kamar yang tidak aku kunci dari dalam terbuka perlahan, aku melihat Tuan Edward muncul dari balik pintu. Ia tersenyum buas.
Mau apa dia? Pikirku. Bukankah tadi dia sudah naik ke lantai atas menuju kamarnya. Mendadak aku merasa deg degan.
Bersambung.
Ada yang baca cerbung ini, tidak, ya?
__ADS_1
Cuma pengen ngasih tahu, judulnya sudah aku ubah, ya.