
Begitu sudah tiba di salah satu ruangan yang sepi yang adi di Hotel, Handoko menghentikan langkahnya, begitu juga Amira, Amira masih tetap setia berdiri di belakang Handoko. Kalau dulu hubungan Ayah dan anak itu terjalin cukup dekat dan akrab, berbeda dengan sekarang, sekarang mereka sama-sama merasa seperti orang asing. Seperti ada jarak yang tak kasat mata memisahkan mereka dan membuat hubungan mereka menjadi dingin dan kaku.
Handoko membalikkan tubuhnya, hingga kini ia dan Amira sudah berdiri dengan saling berhadapan, ia menatap Amira sebentar, lalu ia berkata.
''Amira, kamu bantu Papa, bantu Papa agar Edward bersedia menyumbangkan dana yang banyak ke perusahaan Papa lagi, kamu berbicaralah dengan lembut dan hati-hati kepadanya,'' Handoko berucap lancar tanpa ragu.
__ADS_1
Mendengar itu membuat Amira menggeleng pelan dengan dada terasa sesak, ia kira sang papa akan berbicara pribadi kepadanya mengenai hubungan ayah dan anak yang sudah lama tidak berjumpa. Tapi nyatanya ... Lagi-lagi Handoko ingin berbicara dengan nya hanya ingin membahas masalah uang. Selalu saja tentang uang yang ada di pikiran Handoko saat ini. Semenjak menikah dengan Irma, Handoko terkesan matre. Begitulah pikir Amira.
''Uang lagi? Selalu saja soal uang. Setahu aku beberapa bulan yang lalu suami aku sudah memberikan uang yang banyak kepada Papa, maaf, Pa. Kali ini aku tidak bisa menuruti mau nya Papa. Suamiku bukan ATM berjalan, sebelum di posisi seperti sekarang, tentu suamiku butuh kerja keras untuk membangun dan menjalankan perusahaan nya agar tetap stabil. Suamiku tidak pernah meminta-minta kepada orang lain untuk memajukan perusahaan nya. Jadi Papa belajarlah seperti Mas Edward,'' balas Amira, ia membuang muka dari tatapan Handoko. Amira berjalan lalu berdiri di dekat jendela yang ada di ruangan, ia berdiri menghadap ke arah luar.
Mendengar apa yang di katakan oleh Amira membuat wajah Handoko memerah, ia tidak percaya Amira sudah berani membantah perkataan nya.
__ADS_1
''Kamu seharusnya tahu diri Amira, Papa menjodohkan kamu sama Edward guna nya emang buat membantu perekonomian Papa, membantu perusahaan Papa dari kebangkrutan!'' bentak Handoko keras dengan buku tangan mengepal.
''Jangan jadikan aku dan suami ku sebagai sapi peras, Pa! Hanya karena dua wanita licik itu tega-teganya Papa mengorbankan anak Papa sendiri, tega-teganya Papa menyakiti perasaan aku. Beruntungnya Mas Edward mencintai aku, begitu pun aku. Aku yang awalnya merasa begitu tersiksa dengan perjodohan yang Papa lakukan, tapi kini, aku merasa begitu bersyukur karena aku telah bebas dari kalian, aku telah bebas dari rumah yang selalu menekan ku. Papa tahu, semenjak Mama meninggal, tidak ada lagi hal yang membuat aku bersemangat untuk hidup, Papa ku sendiri telah tak peduli lagi terhadap aku. Beruntungnya aku punya suami yang terang-terangan mengatakan cinta kepada ku, yang terang-terangan bersikap begitu peduli dan perhatian terhadap aku, sehingga kini aku kembali bersemangat untuk hidup. Mulai malam ini, aku tegaskan kepada Papa, kalau Papa ingin memenuhi gaya hidup dua wanita yang begitu Papa cintai dan sayangi itu, kalau Papa ingin membahagiakan mereka, maka carilah uang sendiri, tanpa melibatkan aku, tanpa menekan aku. Aku tak apa kalau Papa tidak menganggap aku anak lagi, asalkan jangan ganggu kehidupan aku lagi, aku pun begitu, aku tidak akan pernah ikut campur dalam urusan Papa dan keluarga baru Papa!'' Amira berucap panjang lebar dengan dada turun naik, suaranya terdengar serak dengan mata berkaca-kaca. Setelah itu ia berlari meninggalkan Handoko sendiri.
Bersambung.
__ADS_1