Terjerat Cinta CEO Aneh

Terjerat Cinta CEO Aneh
Part 27


__ADS_3

Mendengar apa yang dikatakan oleh Irma semerta-merta tidak langsung membuat Amira percaya begitu saja.


''Iya, nanti sepulang dari kampus aku akan mampir di rumah,'' balas Amira.


''Baiklah, Mama tunggu,'' ucap Irma lagi, setelah itu panggilan diakhiri.


Amira menghembus nafas kasar, lalu ia mengirim pesan kepada Edward. Ia mengatakan kalau sang papa tengah sakit, dan Edward pun mengatakan kalau nanti dia akan menemani Amira ke rumah Handoko, Edward tidak akan membiarkan sang istri pergi sendiri ke rumah orang-orang yang hanya ingin memanfaatkan nya.


***


Di tempat berbeda, Handoko duduk bersandar di kepala ranjang. Sedangkan Irma berdiri di depan jendela kamar.


''Apa kata Amira?'' tanya Handoko penasaran.


''Iya, nanti sepulang dari kampus dia akan ke sini,'' kata Irma. Irma lalu duduk di pinggir ranjang.


''Baguslah, semoga saja rencana kita berhasil,'' ucap Handoko lagi dengan senyum tipis.

__ADS_1


"Terimakasih Mas, karena dari dulu kamu selalu menuruti apa yang aku mau,'' Irma memeluk tubuh Handoko, kini ia sudah berbaring di atas dada bidang Handoko.


''Sama-sama Sayang. Apapun akan Mas lakukan asalkan kamu bahagia, karena Mas sangat mencintai kamu, karena kamu adalah cinta pertama Mas. Di sisa-sisa usia kita yang tak lagi muda ini, Mas ingin selalu seperti ini, selalu berada di dekat mu, menghabiskan hari-hari bersama wanita yang Mas cintai,'' ucap Handoko lembut, lalu Handoko mengecup kening Irma.


''Sekali lagi terimakasih banyak,'' Irma balas mengecup bibir Handoko.


Saat mereka sedang berciuman, tiba-tiba Arumi masuk ke kamar mereka begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, karena Arumi memang sudah terbiasa seperti itu.


Arumi kaget melihat Mama dan Papa nya sedang berciuman. Begitu juga dengan Handoko dan Irma, mereka langsung melepas ciuman mereka begitu mendengar pintu kamar di buka.


''Ya ampun . . . Mama sama Papa membuat aku mengiri saja,'' ujar Arumi seraya berjalan menghampiri Handoko dan Irma.


''Aku belum mau nikah, Ma. Aku masih nyaman berhubungan seperti ini sama Angga,''


''Terserah kamu saja lah Sayang. Kamu mau ngapain ke sini?'' tanya Irma.


''Minta uang,'' Arumi berkata begitu manja.

__ADS_1


''Berapa Sayang?'' tanya Handoko cepat.


''Lima juta saja, Pa,''


''Baiklah, Papa akan transfer ke rekening kamu sekarang,'' Handoko mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas, lalu ia mengirim uang yang di minta oleh Arumi.


''Ah . . . Papa memang Papa terbaik,'' puji Arumi.


Melihat kedekatan antara Arumi dan Handoko membuat Irma merasa sangat senang. Sebenarnya Papa kandung Arumi masih hidup, tetapi Papa kandung Arumi bersikap abai kepada Arumi, ia tidak pernah peduli kepada Arumi.


Saat mereka sedang mengobrol dengan penuh canda tawa, tiba-tiba saja Arumi merasa begitu mual, dengan cepat Arumi berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamar sang orang tua, Arumi lalu memuntahkan semua isi perutnya, semua sarapan yang ia santap tadi pagi.


Melihat Arumi yang terus saja muntah, membuat Handoko dan Irma merasa sangat khawatir, Irma terus mengelus dan memijat punggung Arumi, berharap rasa mual sang putri berkurang.


''Kamu kenapa Sayang?'' tanya Irma.


''Enggak tahu juga, Ma,'' balas Arumi dengan suara lirih. Wajahnya terlihat pucat.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2