
Bulan purnama menggantung tinggi, dan bayang-bayang pepohonan berputar-putar di kejauhan, dan angin malam musim panas menjauh menerbangkan rambut cokelat gelap yang tergerai indah. Terlihat Zeline yang berdiri di depan jendela yang terbuka sambil memandang langit malam yang indah.
"Huh? Bulan purnama?
Zeline bertanya-tanya apakah dia akan berubah menjadi serigala saat terkena sinar bulan purnama. Itu terlalu mengerikan untuk dibayangkan. Dia takut jika benar-benar terjadi.
Mengulurkan tangan untuk menyingkirkan helaian rambut yang menutup wajah, Zeline tiba-tiba terdiam saat melirik pergelangan tangan. Lebam itu hilang tanpa bekas.
"Hal yang sama dengan bekas gigitan di leherku..."
Benar-benar tidak habis dipikir.
Merasa frustrasi dengan apa yang dia pikirkan, Zeline pun beranjak menuju kamar mandi. Mungkin guyuran air akan menjernihkan pikirannya.
Zeline dan neneknya tinggal di unit apartemen sederhana. Hanya ada dua kamar tidur, ruang tamu, dapur, dan satu kamar mandi. Dia harus keluar kamar untuk bisa ke kamar mandi.
Selama kurang dari tiga puluh menit, Zeline menghabiskan waktu di bawah guyuran shower. Kemudian keluar dari kamar mandi dengan bathrobe dan handuk yang melilit kepalanya.
Memasuki kamarnya kembali. Zeline berjalan menuju ke tepi tempat tidur, bergegas mengeringkan rambut basahnya. Aroma segara shampo menguar saat dia melepas handuk di kepalanya. Dia meraih pengering rambut di laci meja lalu mengeringkan rambutnya dengan santai.
Knock Knock
Saat meletakkan kembali hair dryer ke tempat semula, suara ketukan pintu mengalihkan atensinya.
"Nenek sudah menyiapkan makan malam," ujar sang nenek dari balik pintu.
"Ya, Nek. Aku akan segera keluar."
Setelah mengatakan itu, Zeline segera memakai piyama beruang berwarna cokelat dan menyisir rambutnya. Setelah memakai kacamata, dia keluar kamar.
Sebenarnya sudah terlalu larut untuk makan malam, tapi Zeline merasa sangat lapar. Beruntung ada sang nenek yang selalu perhatikan padanya.
"Aku sangat mencintaimu, Nek!" seru Zeline ceria sambil mencium pipi neneknya. Dia adalah gadis yang ceria jika dengan keluarganya.
Nenek yang sedang menata piring di meja pantry terkekeh pelan, "Apa karena itu kau belum mendapatkan kekasih?"
Zeline mengajurkan bibir ke bawah dan ke depan, dan dengan yakin mengatakan, "Pokoknya nenek yang akan selalu aku cintai. Tidak ada siapapun."
Karena sang nenek yang telah merawat Zeline semenjak kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Nenek adalah satu-satunya keluarnya.
Zeline mendudukkan tubuhnya di kursi pantry. Berbinar saat melihat sup ayam kesukaan, dan segera menyantapnya.
__ADS_1
"Kau sudah berumur dua puluh enam tahun, Eline. Kapan kau mengenalkan nenek dengan kekasihmu?"
"Aku tidak ingin."
Sudah terlalu bosan mendengar pertanyaan sang nenek yang bermakna mengharapkan dia memiliki kekasih. Zeline tahu, nenek hanya ingin melihat dirinya bahagia dengan orang yang dicinta, membangun keluarga dan membesarkan anak-anak.
"Kenapa? Apa tidak ada laki-laki yang tertarik padamu? padahal cucu nenek ini sangat cantik," ucap nenek sambil meletakkan air putih di depan Zeline.
"Semua laki-laki sama saja. Betapa mengerikan isi pikiran mereka, benar-benar mesum dan menjijikan," Zeline bergidik ngeri.
"Eline, jangan berpikir semua lelaki seperti itu. Jika mereka tidak mesum dan tidak memiliki gairah terhadap wanita, bukan berarti mereka normal. Yang bisa kau lakukan adalah jangan takut membuka hati."
Pergerakan tangan Zeline terhenti.
Jangan takut membuka hati? Apa dia bisa melakukannya di saat tahu isi pikiran mereka yang tidak setulus kelihatannya?
"Kau hanya belum menemukannya, Eline," ucap sang nenek yang seolah mengerti apa yang dipikirkan Zeline.
"Ya..." jawab Zeline setengah hati.
Menatap lurus ke tembok putih di belakang sang nenek. Jika Zeline tidak memiliki kemampuan mendengar isi pikiran orang-orang, mungkin dia tidak akan kesulitan dalam berteman atau berkencan.
"Ya?" sahut nenek tanpa menoleh.
"Tentang Ayah, apa dia... lycan?"
Ting! Suara dentingan sendok dengan piring membuat Zeline mengeryit. Nenek langsung berbalik dan menatapnya dengan terkejut. Seolah tidak menyangka jika Zeline akan meluncurkan pertanyaan itu.
Kemudian sang nenek menghela napas panjang, menghentikan kegiatan mencuci piringnya dan menghampiri Zeline. Mendudukkan dirinya di kursi pantry, tepat di sebelahnya.
"Tidak," sangkal nenek berekspresi serius, dan detik berikutnya bertanya dengan tersenyum lembut, "Apa kau terkejut?"
Zeline tidak pernah melihat neneknya seserius ini. Sampai suatu ketika ada satu hal yang menjadi rahasia si nenek. Itu lah yang Zeline ketahui malam ini.
"Meskipun kedua orang tuamu dan aku bukan lycan. Kakek adalah seorang lycan. Suami... Dia suamiku."
Ya, ini memang mengejutkan. Zeline merapatkan bibir untuk menahan gejolak rasa. Dalam sekian menit ke depan, dia akan mengetahui semuanya.
"Dia memberitahu tentang peraturan lycan, ada kemungkinan anak atau cucu kami menjadi lycan. Dia merasa gugup karena keturunan kami akan mengalami masa-masa sulit."
"Kakek..." Zeline hanya mampu mengucap demikian.
__ADS_1
"Dan sewaktu kau lahir, kau terlihat mirip dengannya. Dia semakin merasa khawatir mengetahui cucunya akan mengalami banyak kesulitan."
"Apakah kau serius..." tenggorokan Zeline mendadak kering.
"Namun, secara teknis dikatakan bawah kau lebih dekat ke arah manusia. Kami yakin jika kau akan baik-baik saja. Kami merahasiakannya agar kau bisa hidup bahagia tanpa memikirkannya," ucap nenek merasa tidak ada lagi yang harus disembunyikan. Dia belai lembut kepala Zeline.
**
Jelas. Sudah sangat jelas. Dia adalah setengah lycan.
Selangkah demi selangkah menuju kamar, Zeline butuh tidur untuk menenangkan diri.
Namun, saat Zeline memasuki kamar kedua pupil matanya melebar, dia terkejut hingga tidak bisa berpikir beberapa saat.
Mendapati Atlas yang duduk di jendela yang ternyata masih terbuka lebar. Wajah yang diterangi cahaya bulan memicu dorongan yang kuat. Banyak darah yang melumuri tubuhnya. Sorot matanya tajam dan berwarna merah menyala.
Athlas menyeringai lebar hingga menampakkan kedua taringnya, "Ah, selamat datang."
"K-kau kenapa bisa berada di kamarku?" gagap Zeline dengan kepanikan besar dari lubuk hatinya.
"Aku datang dari jendelamu, kau harus menjamin keamanan rumahmu."
"Kamarku ada di lantai sembilan! Bagaimana bisa kau masuk lewat jendela?"
Ah, sial.
Vampir itu sungguh meneror Zeline hingga menakut-nakutinya meski berada di rumah. Dia bahkan lebih mengerikan dengan penampilan seperti itu.
Jangan bilang... Dia habis membunuh orang!
Zeline tidak bisa berpikir positif tentang darah di pakaian yang dikenakan Athlas. Dia menggigil di tempat, ketakutan.
Saat Athlas menegakkan tubuh, lengan kakunya langsung bergerak merengkuh tubuh Zeline. Dia menggendong Zeline dan melemparkannya ke atas ranjang.
Tidak bisa mengelak dan menghindar, karena terjadi tiba-tiba dan secepat kilat. Zeline membeku saat Athlas merangkak naik di atas tubuhnya.
Astaga, Zeline benar-benar tidak beruntung karena berada di dalam posisi sangat membahayakan.
"Bolehkah aku menggigitmu?" suara Athlas muncul di hadapannya, hingga Zeline menatap terbelalak. Mata merah itu sangat pekat jika dilihat dari dekat.
_To Be Continued_
__ADS_1