
Si pria blonde mengernyitkan dahi, "Kau dengan gurumu...?"
"Dia guru terbaik di sekolahku, dan aku harus memperlakukannya dengan baik," tukas Athlas, yang semakin membuat Zeline mati kutu.
Memperlakukan dengan baik? Apa maksudnya meniduri dengan baik?
"Tidak! Itu tidak seperti yang kau bayangkan, umm... Tuan...?" sangkal Zeline capat.
"Namaku Nathaniel," ucap si pria blonde memperkenalkan diri, tapi tidak ada keramahan dalam raut wajahnya.
Sepertinya vampir dan lycan memang tidak memiliki hubungan baik. Hal itu juga terlihat dari interaksi Athlas dan Lee Param.
"Ah, ya, namaku──"
Dengan sangat tidak sopan, Athlas menyela dan tangannya merangkul pundak Zeline, "Ngomong-ngomong kenapa kau kemari?"
Zeline memelototi wajah tampan murid vampirnya, S-sialan ini... Kenapa bersikap seperti ini di depan kakaknya? Bukankah ini akan semakin menimbulkan kesalahpahaman?
"Aku baru saja mengetahui posisi pengacau itu," jawab Nathaniel sambil melirik Zeline, "Dia..."
"Um, kalau begitu kalian bicaralah. Aku akan pergi sekarang," kilah Zeline menyingkirkan tangan Athlas dari pundaknya, lalu beranjak dengan susah payah. Dia menyadari tatapan Nathaniel yang mengusir, dan juga tidak ingin ikut campur dengan masalah pervampiran.
Lagi pula aku juga harus meninggalkan tempat ini dan pulang ke rumah, di sini benar-benar berbahaya, pikir Zeline sambil melangkah menuju pintu.
"Kau bisa jalan? Lebih baik kau istirahat karena kondisimu kurang baik," tukas Athlas yang melihat cara jalan Zeline yang terseok-seok.
Zeline hanya merespon dengan lambaian tangan, merasa tidak punya waktu untuk berbicara.
"Tunggulah, aku akan mengantarmu pulang," ucap Athlas sebelum Zeline keluar dan menutup pintu.
"Seolah-olah aku ingin diantar olehnya," cibir Zeline yang tidak ingin menunggu.
Namun.
Zeline langsung tercengang saat mengetahui di mana dia berada, di sebuah mansion bergaya barat yang memiliki begitu banyak lorong dan kamar. Dia yakin akan berakhir tersesat, tapi masih berusaha menelusuri lorong untuk mencari jalan keluar.
Dia berjalan pelan supaya tidak menimbulkan gaduh, waspada jika bertemu vampir lainnya. Menengok ke kanan dan kiri, seperti seorang pencuri yang menjalankan aksinya.
"Kenapa mansion ini besar sekali? Aku sedang tidak berputar-putar, 'kan?" gerutu Zeline, tapi seperti dia benar-benar tersesat.
Zeline melihat satu pintu yang paling mencolok dan hendak membukanya, menggenggam kenop pintu, hingga akhirnya...
"Apa yang sedang kau lakukan?"
__ADS_1
Langsung menghentikan gerakannya, jantungnya juga seolah-olah berhenti mendengar suara dingin itu. Dengan perasaan waspada, Zeline memberanikan diri berbalik. Dilihatnya seorang perempuan berparas cantik tengah berdiri di ambang pintu tidak jauh dari tempatnya, lengkap dengan seekor kucing di dalam gendongannya.
Zeline tahu jika wanita itu seorang vampir, dilihat dari mata merah yang menelisik tajam, terlebih terlihat seperti Nathaniel versi wanita. Mungkinkah keduanya kembar?
"Aku mencari pintu keluar," jawab Zeline tersenyum gugup.
Wajah wanita vampir itu datar terlihat tegang, tapi mata merahnya tidak semenakutkan milik Athlas. Dia mendekati Zeline, langkahnya begitu anggun seperti model di atas catwalk. Namun, dibalik keanggunan itu, dia membawa kengerian.
"Kau seorang lycan...?" selidik wanita itu.
"Aku seorang guru matematika," akunya percaya diri, tapi Zeline tidak mengiyakan jika dirinya lycan.
Kucing yang berada di gendongan meloncat, dengan geram wanita itu bertanya, "Bagaimana bisa lycan berkeliaran di mansion kami?
"Athlas..." Zeline mundur selangkah, merasa terancam karena si wanita vampir semakin mendekat, "Dia yang membawaku ke sini."
"Lancang! Berani sekali kau menyebut namanya!" tatapan wanita itu bertambah tajam. Dengan tiba-tiba, seperti kilat dia sudah mencekik leher Zeline.
"Kkkk... Kkkk..." Zeline mulai kesulitan bernapas karena lehernya dicekik.
Dengan segenap tenaga, Zeline mencoba melepaskan diri, tapi tidak ada guna. Terasa begitu kencang dan tidak bisa dilepaskan, meski wanita itu hanya menggunakan satu tangan.
Ada aroma Tuan Athlas di tubuh pel-acur lycan ini, aku tidak suka...
"Kau menggoda Tuan Athlas, hah?" desis si wanita melotot, "Kau tidur dengannya?"
Zeline kembali menggelengkan kepala, "To-tolong," ucapnya hampir tidak terdengar.
"Berani sekali kau meletakkan tanganmu padanya," ucap seseorang dengan suara familiar.
Tiba-tiba, tubuh wanita vampir itu terhempas karena didorong kekuatan yang begitu besar. Sampai-sampai terlempar beberapa meter, dan membentur tembok hingga menimbulkan retakan di sana.
Sementara Zeline ambruk ke lantai dengan napas tersengal-sengal. Memegangi lehernya yang sangat sakit. Dia terbatuk terus-menerus karena udara belum lancar mengalir ke paru-paru.
"Athlas..." lirih Zeline serak tatkala melihat sosok sang penyelamat.
Lagi-lagi Athlas datang untuknya.
"Tu-Tuan..." sudut bibir si wanita vampir mengeluarkan darah berwarna merah sedikit gelap, sulit baginya untuk bangkit, sebab beberapa tulangnya patah, "Kenapa kau m-melakukan ini padaku?"
Dua mata merah menyala memicing, dengan napas memburu. Athlas menatap tajam, marah.
"Hentikan!" Nathaniel melompat ke hadapan Athlas yang hendak menyerang lagi.
__ADS_1
"Minggir!" bentak Athlas.
"Athlas! Kau... Apa-apaan? Demi apa kau melakukan ini? Kau ingin membunuh Nathalie?" teriak Nathaniel membalas bentakan Athlas.
Menahan napas, menahan emosi di dalam dada. Dengan dingin Athlas berucap, "Singkirkan dia dari sini."
Nathaniel mengangguk. Segera dia menggendong wanita yang bernama Nathalie itu, dan berlalu dalam sekejap mata.
Kemudian Athlas menghampiri tubuh lelah yang terduduk di atas lantai, "Apa kau tidak mengerti arti dari tunggulah?"
"Aku tidak bisa menunggu..." cicit Zeline tidak berani menatap wajah tampan murid vampirnya, jelas sekali sedang sangat marah padanya.
"Kau wanita keras kepala," dengkus Athlas menggerakkan tangannya ke bawah, "Ayo, bangun!"
Melihat tangan milik Athlas terulur padanya, Zeline terdiam sejenak. Lalu dia menyambut tangan yang terasa dingin itu dan membiarkan tubuhnya ditarik untuk berdiri.
Zeline mengigit bibir bawahnya, dan dengan ragu bertanya, "Kau melukai saudarimu demi... Aku?"
Wajah Athlas menegang, menunjukan betapa terkejutnya dengan tindakannya tadi, dia terlihat... Bingung? Apa itu hanya impulsif? Entahlah, Zeline tidak mengerti sama sekali.
"Bukankah kau sejak awal sudah berniat ingin membunuhku? Tapi, kenapa kau melindungiku?" lanjut Zeline karena Athlas hanya diam.
"Tidak," kilah Athlas mengeratkan genggamannya pada tangan Zeline, "Aku tidak akan membunuhmu, karena aku tidak bisa membunuh manusia."
"A... Apa?" gumam Zeline tidak percaya.
"Meski terdapat darah lycan yang mengalir di tubuhmu, tapi kau tetaplah manusia. Ada aturan di mana vampir tidak boleh membunuh manusia," beber Athlas.
"Tapi, sejak awal kau..." Zeline tidak mungkin lupa isi pikiran mengerikan Athlas pada saat pertemuan kedua mereka.
"Vampir dan lycan memiliki hubungan yang tidak baik, kami saling tidak menyukai satu sama lain. Awalnya aku mengira kau seorang lycan karena ada sedikit bau aneh dari tubuhmu, aku juga merasa ragu sebelum menggigitmu saat pertama kalinya," jelas Athlas seolah tahu apa yang dibingungkan Zeline.
"Oh..." Zeline bereaksi singkat.
Jadi, apakah dia bisa bernapas lega sekarang? Dapatkan dia percaya jika Athlas tidak akan membunuhnya?
Kemudian Zeline merasakan tarikan pada tangannya, hingga membuatnya melangkah ke depan.
"Ayo kuantar pulang."
Zeline tidak berontak ataupun protes, dia hanya terdiam sembari menatap lekat tangan Athlas yang menyelimuti tangannya.
Tangannya besar dan dingin...
__ADS_1
_To Be Continued_