
"Sudah lama sejak pertama datang ke Skotlandia, aku langsung tahu jika kau adalah pasanganku dari aroma kewanitaanmu. Aku mencoba mendekatimu dengan bersembunyi dengan sebaik mungkin, karena kau pasti membenciku jika membawamu dengan paksa."
"Itulah mengapa aku tidak bisa mendengar pikiranmu yang sebenarnya?"
Kini sudah jelas, Param menjaga pikiran buruknya supaya tidak terdengar. Oleh sebab itu, Zeline hanya mendengar pikiran baik pria itu.
"Ya, aku tahu jika lycan wanita memiliki kemampuan melihat apa yang orang lain pikiran, terlepas dari betapa langkahnya mereka."
Langkah? Apakah itu alasan Lee Param mengejarnya? Entah itu untuk dikawini atau dimangsa, Zeline tidak mau keduanya!
Bau apa ini?
Berkeringat dingin karena tubuhnya terasa tidak enak, juga kepalanya semakin sakit. Zeline merasa bau yang menyapa indera penciumannya semakin pekat.
"Kupikir kau tidak akan bereaksi terhadap feromonku karena kau berdarah campuran," si guru tampan berwajah oriental tersenyum tipis.
"Jadi bau ini berasal darimu?" saat ini Zeline menyadari feromon yang dimaksud Param adalah bau yang membuatnya tidak berdaya.
"Aku senang, kau bereaksi terhadap feromonku, aku akan membuatmu merasa nyaman," ucap Param dengan wajah penuh dengan keegoisan yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan.
"Jangan mendekat..." napas Zeline tersengal. Dia ingin sekali lari namun tubuhnya tidak bisa digerakkan, seluruh sistem ototnya terasa terganggu.
Tolong.
Zeline kesulitan bernapas karena tertekan udara di sekelilingnya, dan tubuhnya terasa terbakar. Dia tidak berdaya.
Tolong.
Zeline menahan rasa takutnya, diluar hanya menampilkan ekspresi waspada saat tangan Param terukur ingin mencapainya.
Siapapun tolong aku...
Pergerakan Param dihentikan oleh gumpalan darah yang melindungi Zeline. Darah-darah itu secara aneh bergerak mengelilingi Zeline, menutupi tubuhnya dengan capat.
"...Ini...!" Param dibuat terkejut, lalu meloncat mundur.
"Jauhkan tanganmu darinya," suara berat, tenang, dan dingin terdengar bersamaan dengan kemunculan tiba-tiba Athlas. Ditariknya Zeline ke dalam pelukannya. Mata merah menyala buas, menatap tajam pada si lelaki lycan.
"Athlas...?" Zeline mengerjap beberapa kali, memastikan bahwa ini benar-benar nyata. Tidak terlintas dalam pikirannya jika Athlas datang menolongnya.
"Ah, tidak seharusnya kau ikut campur dalam urusan lycan, Athlas. Dia wanitaku," desis Param menatap marah.
"Aku hanya tidak ingin guruku dimakan anjing laki-laki yang sedang kebelet kawin," dengkus Athlas dengan suara pelan namun mematikan.
Detik berikutnya, Athlas dan Zeline dibungkus gumpan darah yang semakin banyak, dan menghilang begitu saja. Meninggalkan Lee Param yang menahan emosi di dalam dada.
"Ini sangat tidak menyenangkan."
**
Zeline tidak ingat bagaimana dia bisa sampai di rumah Athlas, tepatnya berada di kamar murid vampirnya itu.
__ADS_1
Dia hanya...
Merasa tidak enak pada tubuhnya.
Duduk di tepi ranjang dengan mengepalkan lutut, Zeline nampak gelisah. Dan merasa risih dengan tatapan intens dari pemuda yang berdiri di hadapannya.
"Alismu berkedut, ada keringat dingin di dahimu, kamu menghindar tatapanku," Athlas menyimpulkan dengan tepat.
Bulu mata Zeline bergetar cepat. Dengan keraguan, dia menatap Athlas, "Aku ingin pulang."
"Aku tidak yakin kau ingin pulang dengan keadaanmu itu, Miss. Zeline," Athlas tersenyum menggeleng.
Udara dingin dari AC yang menyala tidak membuat Zeline kedinginan, justru dia kepanasan. Tubuhnya bahkan menggeliat tidak nyaman akibat rasa panas yang semakin mendera.
Apa yang terjadi dengan tubuhku?
"Oh, heat mu pasti dipicu si pecundang itu," celetuk Athlas melihat gerak-gerik ketidaknyamanan Zeline.
"Heat?" tanya Zeline tidak paham.
Menarik ujung bibirnya, Athlas menyeringai tipis, "Saat di mana lycan wanita merasakan keinginan yang sangat besar untuk berhubungan seksual."
Kedua mata Zeline mengerjap lebar.
Apa itu sama seperti serigala yang sedang birahi? Tapi bukankah dia manusia?
"Aku belum pernah mengalami heat sebelumnya, kenapa baru sekarang? Apa itu karena feromon?" lirih Zeline lemas.
"Apa alasannya melakukan itu?"
Athlas mengangkat bahu, "Lycan bajingan itu berniat memberimu tanda, mungkin dia terlalu putus asa untuk melewati musim kawinnya tanpa pasangan."
Yang benar saja! Zeline mendelik dibuatnya.
Athlas tertawa kecil, dia menggaruk ujung hidungnya, lalu menggelengkan kepala. Ekspresi terdistorsi Zeline memang selalu menghiburnya.
Zeline melirik sinis, "Aku sedang tidak ingin bercanda, dasar vampir menyebalkan."
"Apakah itu yang kau ucapkan untuk penyelamatmu?" tanya Athlas mengernyitkan kening.
Zeline terdiam sesaat. Ya, vampir menyebalkan itu adalah penyelamatnya. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika Athlas tidak datang.
"Terima kas──"
Ucapan Zeline terhenti saat mendapati perubahan ekspresi Athlas, nampak sedang melihat sesuatu yang mengerikan.
Apa yang lebih mengerikan dari vampir itu sendiri?
"Apa apa?" tanya Zeline dengan perasaan waspada.
"Apa yang tumbuh di kepalamu?" Athlas bertanya dengan tangan yang bergerak ke atas kepala Zeline, lalu menarik sesuatu yang mirip..., "Telinga anjing?"
__ADS_1
Bukan. Lebih tepatnya telinga serigala dengan bulu lembut berwarna cokelat gelap.
"...Dan ekor?" sambung Athlas sesaat setelah melirik belakang punggung Zeline.
"Hah!" Zeline berteriak dan langsung memegang telinga dan ekor serigalanya, "Apa ini?"
Dengan impulsif, Zeline bangkit dan berlari menuju pintu keluar. Namun, Atlas bergegas menahannya.
"Kau mau ke mana?"
"Ini yang terburuk... Aku ingin mati."
Zeline meronta dan mencoba melepaskan diri, tapi lagi-lagi kekuatannya tidak sebanding dengan seseorang yang menarik kerah bajunya.
"Kenapa?" tanya Athlas melirik telinga berbulu yang bergerak-gerak ke belakang, "Kau lucu, kok."
"Ini memalukan," keluh Zeline merutuki nasib, pada akhirnya berhenti meronta.
Dia benar-benar menjadi serigala! Apa selanjutnya akan tumbuh moncong dan bulu lebat?
"Huh?" lirikan bola mata kuning keemasan beralih pada ekor yang bergoyang ke kiri dan ke kanan dengan cepat.
"Jangan meledekku, ini tidak lucu..." gerutu Zeline menoleh pada Athlas dengan mata berkaca-kaca.
"Hahaha!" tawa Athlas pecah.
"Kenapa kau tertawa? Apa yang sangat lucu?" protes Zeline mengerucutkan bibir.
"Kau sangat lucu. Haha, ekormu sangat lucu. Itu bergerak! Itu milikmu sekarang!" gelak Athlas.
Zeline tidak acuh, karena tiba-tiba bulu kuduknya merinding. Dia merasa sangat takut.
"Ugh... Badanku..."
"Hmm," Athlas bergumam panjang dan memegang dagu, ditatapnya Zeline dengan seksama, "Ini buruk, heat mu masih belum hilang."
"Aku... Aku... Merasa aneh, seluruh tubuhku terasa geli..." lirih Zeline lebih terdengar merengek.
Ini terasa aneh.
Sesaat Zeline berpikir ketika matanya bertemu dengan mata kuning keemasan milik Athlas...
Pupil matanya, suaranya, cara dia berbicara, dan auranya. Untuk beberapa alasan, dia memancarkan energi magnetik yang aneh sehingga aku tidak bisa berpaling.
"Biasanya memang sangat sulit ditahan. Apa kau ingin aku menyentuhmu?" ujar Athlas menyeringai tipis.
Sang vampir menyadari jika Zeline sudah mulai mengikuti insting sebagai lycan wanita yang sedang heat.
_To Be Continued_
Note : Feromon adalah bau dari masing-masing individu (lycan).
__ADS_1