Terjerat Murid Vampir

Terjerat Murid Vampir
Diteror


__ADS_3

Terdengar suara tirai jendela yang melambai-lambai karena tertiup angin. Dalam cahaya dan bayangan yang redup, Athlas berdiri di sebelah ranjang tempat Zeline terlelap. Dia hanya bergeming dan menatap wajah cantik yang terlihat damai, lekat dan lama memandangi.


Rambut kecokelatan yang tersebar di bantal, wajah yang kecil dan membuat terlihat sangat muda, kedua mata yang besar dan alis yang tebal, serta bibir yang merah alami. Semuanya sangat indah... Namun, Zeline sangat baik menyembunyikan pesonanya.


"Sial... Tanpa sadar aku datang ke tempatnya," lirih Athlas mengusap wajah tampannya. Bisa-bisanya dia menerobos masuk ke kamar Zeline dengan melewati jendela, meski ini bukan pertama kalinya.


Tatapan Athlas beralih pada leher Zeline, putih dan menggoda. Kedua bola mata berubah warna karena rasa haus yang tiba-tiba menerpa, gigi taringnya mulai terlihat.


Dia mendekat, lalu merenggangkan mulutnya di ceruk leher Zeline, dengan perlahan menyeret taringnya yang memanjang ke kulit putih itu seperti jarum-jarum pada sutra, sebelum dia menancapkan mereka ke dalam.


"Aaah!" Zeline meringis di antara tidurnya saat merasakan rasa sakit di daerah lehernya. Meskipun begitu dia tidak terbangun.


Bibir Athlas tersenyum miring, ketika mendengar suara merdu yang berasal dari bibir Zeline. Suaranya cukup menggoda, pikirannya.


"Aku sangat suka darahnya yang seharum baunya..."


Rasanya dia tidak pernah merasakan darah yang begitu nikmat seperti darah Zeline.


Athlas menghisap darah Zeline dengan semangat. Namun, dia tidak mau sampai mengeringkan tubuh gadis itu.


Setelah selesai, Athlas menarik kembali taringnya. Ajaib luka gigitan itu menghilang.


Kemudian Athlas menatap lekat wajah Zeline dengan ekspresi sukar, tangannya mengusap pelan bibirnya untuk menghilangkan sisa darah.


"Bermain-main? Apakah aku? Aku..."


**


Zeline membuka kedua matanya. Bangun dan duduk di ranjang. Dia terbangun dengan keringat yang mengucur dan rasa lelah. Kepalanya menoleh ke atas dinding kamar yang remang-remang. Samar kedua matanya melihat jarum jam menunjukkan pukul tiga pagi.


Menghela napas. Dia menyerah untuk tidur kembali.


Zeline menegang lehernya yang terasa panas. Lalu segera menatap sekeliling kamar. Mengira rasa panas yang dia rasakan akibat dari Athlas menggigit lehernya, namun dia tidak menemukan keberadaan sosok pemuda vampir itu. Dia merasa lega.


Akan tetapi, jendela kamarnya terbuka lebar. Zeline merasa aneh dengan hal itu karena tadi dia sudah menguncinya.


Apa dia memang lupa menutup jendela? Entahlah, Zeline tidak mau ambil pusing.


Zeline kemudian beranjak dari tempat tidur. Berjalan menuju jendela dan menutupnya, tidak lupa juga menutup tirai.


Tanpa disadari, di hitam yang mewarnai langit, Athlas terbang dengan sepasang sayap kelelawar terbentang lebar di punggungnya, mata merah menyala mengawasi gerak-gerik Zeline dengan tatapan tidak dapat diartikan. Segera setelah jendela tertutup, sang vampir terbang menjauh.

__ADS_1


**


"Selamat pagi, Mr. Param."


"Oh, halo! Selamat pagi!"


"Param penuh energi hari ini."


"Lalu kenapa kita tidak pergi untuk secangkir kopi pagi? Untuk bangun dan menyegarkan..."


"Itu bagus."


Terlihat Zeline yang sedang mengintip ruang guru dari balik kaca jendela, bahkan dia harus sampai berjinjit untuk bisa melihat ke dalam.


"Bisakah aku menghindarinya?" gumam Zeline menatap Lee Param yang sedang mengobrol dengan para guru, dengan sinis.


Zeline masih menyimpan dendam atas perbuatan Param waktu itu, gara-gara pria itulah dia mengalami heat dan berakhir menjadi hewan yang sedang birahi.


Dia menyadari bahwa tidak mungkin bisa menghindari Param, mereka adalah rekan kerja sesama guru, bahkan meja kerja mereka bersebelahan.


Kenapa Zeline belum datang? Aku seperti mencium baunya.


Sontak Zeline berjongkok ketika Param melirik ke jendela di mana dia mengintip.


Kenapa Lee Param mencariku? Apa dia masih ingin mengangguku? Apa yang harus kulakukan? Harusnya aku tidak datang bekerja, pikir Zeline dengan menunduk dalam kedua lutut yang terlipat.


Kini, hidupnya menjadi sangat tidak tenang. Karena alasan yang tidak dapat dijelaskan, Zeline diteror oleh vampir dan lycan, kedua laki-laki yang sama-sama mengerikan dan manipulatif.


Bagaimana bisa seperti ini? Apa kesalahan yang telah diperbuatnya?


Zeline tidak seharusnya membiarkan mereka mencengkeramnya.


Bisakah dia menuntut seorang vampir dan lycan...? Jika dia menuntutnya, apakah semua orang akan percaya?


"Bagaimana aku bisa melewati ini..."


Karena terlalu kalut dengan apa yang dia pikirkan, Zeline tidak menyadari langkah kaki yang mendekatinya.


"Ah! Waaa!"


Betapa terkejutnya Zeline, karena tubuhnya diangkat tiba-tiba oleh seseorang dengan cara menyelipkan tangan di bawah ketiaknya. Dia memberontak panik dengan menggoyang-goyangkan kedua kaki yang meninggalkan pijakannya.

__ADS_1


"Kau, apa yang kau lakukan...!" seru Zeline menoleh ke belakang, dan semakin terkejut saat melihat siapa pelaku yang mengangkatnya, "Athlas!"


Oh ayolah, ini masih pagi. Kenapa Zeline sudah bertemu dengan si murid vampir jelmaan iblis? Apakah ini akibat dari dia yang memikirkan tentang menuntut Athlas? Tapi, dia tidak benar-benar akan menuntut!


Athlas memasang senyum limitnya, "Apa yang kau lakukan di sini, Miss. Zeline? Sedang mencari uang yang jatuh?"


"Lepaskan!" alih-alih menjawab, Zeline justru semakin memberontak. Dia merasa malu dengan keadaanya saat ini. Salahkan tubuhnya yang terlalu kecil hingga mudah sekali diangkat.


Akhirnya Athlas melepaskannya, lalu memutar tubuh Zeline supaya mereka berhadap-hadapan.


Apakah aku ini bonekamu? gerutu Zeline di dalam hati.


Sebentar, Athlas terdiam. Dia menatap wajah Zeline yang terlihat kesal, karena ulahnya. Tidak ada kacamata tebal di sana, dia ingat jika itu rusak ketika mereka tidur bersama. Lalu tatapan beralih ke leher jenjang yang sedikit berkeringat, dapat tercium aroma manis yang menguar dari sana.


"Bisakah kau mengontrol aromamu?" ujar Athlas meluncur begitu saja.


"A-apa maksudmu?" Zeline langsung menutupi lehernya, dia merasakan firasat buruk tiap kali Athlas menatap lehernya. Terlebih bagian lehernya entah kenapa terasa panas sejak dia bangun tidur.


"Ah, kau tidak menyadari aroma kewanitaanmu sendiri, ya?" Athlas tersenyum sini ketika melirik ke arah belakang Zeline, "Cobalah untuk mengontrolnya. Jika tidak... Anjing di sekitarmu bisa terangsang."


Zeline tidak paham dengan apa yang dikatakan si pemuda vampir. Sampai akhirnya, dia menoleh ke belakang.


Di sana, berdiri Lee Param di pintu masuk ruang guru dengan kedua mata memicing, dengan napas memburu, menatap tajam, marah.


Ke-kenapa dia? A-ada apa? batin Zeline kaget melihat ekspresi wajah Param.


Zeline merasa lengannya ditarik dengan sedikit bertenaga. Membuatnya yang sedang tertegun sempat terhuyung ke arah lelaki lycan itu.


Dengan mengertakkan gigi, Param berucap, "Baumu... Kau melewati heat bersama vampir itu?"


Zeline terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Param, terlebih lengannya sakit karena dicengkeram kuat.


Sebuah dengusan meremehkan menjadi respon dari pertanyaan bernada tajam yang Param lontarkan. Athlas lah yang menjawab pertanyaannya "Kalau 'ya' kenapa?"


Berbeda dengan Zeline, sepertinya sang vampir paham kenapa emosi lelaki lycan itu meledak.


Namun, bukankah itu terlalu blak-blakkan? Zeline sampai mendelik dibuatnya.


Resonansi di dada Param menghasilkan suara geram rendah. Tangannya semakin kencang mencengkeram tangan Zeline, susah payah menahan amarah yang sewaktu-waktu yang dapat dia luapkan dalam bentuk hantaman keras ke wajah Athlas yang terlihat memuakkan baginya.


Zeline berharap jika Lee Param cukup waras untuk tidak membuat keributan di koridor sekolah, apalagi memukul Athlas yang berstatus seorang murid.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2