
"Halo? Oh, nenek. Sekarang? Aku sedang di rumah teman. Sudah bangun? Sudah makan belum? Jangan membuat dirimu kelaparan lagi. Baiklah aku tutup teleponnya."
Setelah berbicara pada sang nenek tentang alasannya tidak pulang, Zeline melihat keluar jendela.
Berbicara tentang iblis, saat ini dia sedang berada sarang vampir. Dia ingin pulang, namun dia tidak bisa melakukan apapun atau bahkan bergerak. Salahkan Athlas yang terlalu banyak menghisap darahnya.
"Bagaimana jika aku membutuhkan sesuatu? Siapa yang bisa kumintai bantuan?"
Zeline sedikit menyesal karena telah mengusir Athlas sebelumnya. Bukan karena apa-apa, dia hanya masih merasa takut.
Jujur, Zeline adalah orang yang penakut. Dia takut pada Athlas, dia seorang pengecut, dan sangat tahu jika dia tidak jauh lebih kuat dari vampir itu.
Zeline berbaring meringkuk di atas ranjang. Tatapannya kosong, menerawang jauh dalam pikiran.
Seharusnya jika ada sesuatu masalah yang melibatkan orang lain, dia berpura-pura tidak mengenalnya dan menghindarinya. Ya, meskipun pada akhirnya dia hanya terlalu malas untuk melakukan sesuatu yang orang lain harapkan.
Dan sekarang...
Dia sudah terlibat terlalu jauh dengan seorang vampir. Zeline merasa seperti menyebabkan masalah yang mengerikan, tapi dia berharap itu berakhir dengan baik.
"Apa kau sudah tidur?"
Tersentak mendengar pertanyaan tiba-tiba itu, Zeline yang meringkuk membelakangi pintu tidak menyadari kedatangan Athlas karena terlalu hanyut dalam pikiran.
"Jika kau bosan katakan padaku, aku akan mengambilkanmu sebuah buku. Kalau dipikir-pikir, aku mempunyai kakak yang gemar mengoleksi buku-buku kuno," tawar Athlas menunjukkan sikap keperdulian yang tidak disangka-sangka.
"Tidak butuh. Bukan berarti aku suka membaca buku meski selalu berada di perpustakaan, itu hanya karena aku sedang berkerja," tolak Zeline tanpa menoleh ke belakang.
Menit berikutnya, betapa terkejutnya Zeline ketika Athlas bergerak menaiki ranjang, merangkak melangkahi tubuhnya dan berbaring di sampingnya.
Athlas memejamkan mata, mengabaikan mata biru yang mengerjap lebar, "Hari ini aku sangat lelah, aku ingin sekali minum darah, tapi aku tidak menyerang seseorang yang sedang sakit. Jadi, kau tidak perlu takut."
Zeline memutar bola mata. Memang gara-gara siapa dia sampai sakit seperti ini?
"Kupikir vampir tidak tidur," ceplos Zeline begitu saja.
"Memang tidak," sahut Athlas dengan masih terpejam, nada suaranya terdengar rendah.
__ADS_1
Menyipitkan mata, Zeline memberi tatapan menyelidik, namun justru salah fokus dengan bulu mata milik Athlas yang sangat panjang, "Lantas kenapa kau tidur di sini?"
"Hmm," Athlas bergumam tidak jelas. Ketika Zeline hendak membuka mulut dia melanjutkan, "Hanya saja... Aroma tubuhmu sangat manis."
Wajah Zeline bersemu merah, lagi-lagi debaran aneh menyelimuti hati, sama persis ketika Athlas mengatakan dirinya cantik. Hal yang pasti, ini bukan perasaan takut seperti biasanya.
"Kalau begitu... Apakah kau lemah terhadap sinar matahari atau bawang putih?" tanya Zeline agak ragu.
"Miss. Zeline, apa kau sedang mencari kelemahanku? Kau tidak sedang berencana membalas, bukan?" kekeh Athlas.
Iris kuning keemasan bertemu dengan iris biru turquoise. Waktu seolah-olah berhenti, keduanya saling menatap selama sesekian detik.
Hingga Zeline yang terlebih dahulu memutus kontak mata dengan melempar pandangan ke sembarang arah, dengan kikuk dia berucap, "Aku tidak berani."
"Kukira kau sudah tidak takut lagi padaku, mengingat betapa dekatnya kita semalam," seloroh Athlas dengan tawa yang menderai di udara.
Dengan segenap usaha menahan rasa malu, Zeline berucap lirih, "Mau bagaimana pun, vampir tetaplah vampir."
Meski kini dia sedang diperlakukan dengan baik, Zeline tidak mungkin melupakan fakta betapa mengerikannya Athlas.
"Sayangnya, hal-hal yang kau sebutkan tadi tidak akan efektif melawanku. Meski itu berbahaya bagi vampir berdarah murni, tapi vampir menyesuaikan diri sedikit demi sedikit dengan masyarakat modern... Untuk melindungi mereka dari kelemahan ini," beber Athlas pada akhirnya.
"Menakjubkan," ucap Zeline tanpa sadar.
Mendengar itu, Athlas memiringkan tubuhnya. Tidak mengatakan apapun, hanya menatap Zeline dengan tatapan tidak dapat diartikan, yang membuat salah tingkah.
"Ah, itu... Maksudku..." ingin rasanya mendengar isi pikiran Athlas supaya tahu arti tatapan itu. Namun, Zeline takut lidahnya digigit lagi, dia kapok dihukum.
Masih dengan tatapan yang sama Athlas berucap, "Hidup ribuan tahun seperti kami, dan kau akan melihat banyak hal yang tidak pernah kau harapkan."
"Kau pasti sangat kesulitan," Zeline paham itu semua. Bagian terburuk hidup abadi adalah tidak bisa merasakan kematian, dan tidak memiliki tempat untuk kembali.
Sudut bibir Athlas terangkat, membentuk senyum tipis, "Ya."
Zeline membeku saat tangan Athlas merengkuh pinggangnya, dan membenamkan kepala di antara pundak dan lehernya.
"K-kau... Apa yang kau la-lakukan?"
__ADS_1
Athlas menahan Zeline yang hendak melepaskan diri, rengkuhannya semakin dieratkan, serta menggunakan kakinya untuk mengapit kaki Zeline.
"Tubuhmu begitu kecil dan sangat pas untuk kupeluk. Hangat dan juga lembut," suara Athlas terdengar parau.
Terkunci di dalam dekapan, Zeline tidak dapat bergerak. Wajahnya kian memanas dan jantungnya meronta-ronta.
Zeline tidak bisa jika seperti ini!
Ciuman demi ciuman didaratkan Athlas di seluruh wajah dan leher Zeline, "Kau membuatku gila," desisnya.
What the...!
Seharusnya aku yang gila di sini!
Zeline hanya bisa berteriak frustasi di dalam hati. Hujanan kecupan dari Athlas semakin membuatnya kaku seperti batang kayu. Namun, entah kenapa dia merasa senang diperlakukan sedemikian hangat dan lembut setelah sebelumnya ditakut-takuti.
Hingga terdengar suara pintu yang terbuka menyelamatkannya, dan menampakkan sosok pria blonde bermata merah menyala dari balik daun pintu.
"Athlas, aku masuk..." perkataan pria itu terhenti, tercekat melihat dua orang yang sedang berpelukan di atas ranjang, sampai bola matanya melotot tidak percaya.
Zeline langsung terduduk saat Athlas melepaskannya. Ekspresinya seperti seseorang yang baru saja tertangkap basah hendak mencuri sesuatu, terlebih melihat pria yang kemungkinan besar seorang vampir.
Bau... Anjing? Apa yang sedang lycan lakukan di sini?
"...Uh, I-itu..." gagap Zeline ingin meluruskan, namun tidak tahu harus berkata apa.
Pria blonde itu melirik tanda-tanda merah yang ada di sekitar tubuh Zeline.
Mereka tidur bersama? Athlas dengan lycan? Bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku datang di waktu yang tidak tepat?
Tidak seperti kelihatannya, pria blonde itu banyak berbicara di pikirannya. Sampai-sampai membuat Zeline gelagapan, dia hanya tidak ingin terjadi kesalahpahaman.
"Dia tahu apa yang sedang kau pikirkan, Kakak," ucap Athlas yang tidak panik sama sekali, "Bagaimanapun juga, aku habis membantu guruku melewati masa krisisnya."
Apa? Kakak? batin Zeline dengan wajah pucat pasi.
Si pria blonde mengernyitkan dahi, "Kau dengan gurumu...?"
__ADS_1
_To Be Continued_