
Kini, posisi Zeline dan Param sedang berhadap-hadapan.
"Lepaskan! Tanganku sakit!" seru Zeline mencoba melepas cengkeraman tangan Param.
Namun, semua itu sia-sia. Lee Param masih tetap mencengkeram lengannya, tidak sedikitpun dilonggarkan.
Sementara itu, wajah yang dihiasi senyum mengejek milik Athlas berubah drastis dalam waktu yang sangat cepat ketika melihat tangan Param yang mencengkeram lengan Zeline. Sesaat kedua bola matanya yang berwarna kuning keemasan berkilat merah.
"Tidak seharusnya kau bersama dengan seorang vampir sepertinya."
Mendengar perkataan Param yang penuh dengan kemarahan, Zeline merasa bingung. Kenapa pria itu harus sampai seperti ini? Apa penciuman lycan berdarah murni setajam itu? Sampai-sampai dapat mencium bau Athlas pada tubuhnya. Padahal Zeline yakin kalau sudah mandi tadi pagi.
Sepertinya ada kesalahpahaman di sini.
Namun.
"Itu bukan urusanmu, Mr. Param," sengit Zeline.
Ya, apa yang dilakukanya bukanlah urusan pria itu. Meski nyatanya hubungan Zeline dengan Athlas tidak sejauh yang Param pikirkan.
"Kau adalah wanita idaman lycans. Ini adalah aturan kita," desis Param dengan gigi yang gemeretak, "Kau milik lycan sepertiku, Zeline."
Yang benar saja.
Zeline mengerutkan kening. Dia sangat tidak menyukai kerumitan ini.
Haruskah dia mematuhi aturan yang bahkan tidak diketahuinya? Aturan lycan atau apapun itu, dia tidak mengerti!
"Aku──"
"Bodoh," perkataan Zeline terhenti tatkala Athlas menyela tiba-tiba, "Kau berbicara seolah-olah dia adalah barang..."
Athlas menepis kasar tangan Param yang mencengkeram lengan Zeline, lalu menariknya menjauh. Membuat Zeline tertegun dibuatnya.
"Sialan, berhentilah ikut campur!" geram Param sarat akan emosi, darahnya seakan mendidih, "Kau bajingan yang masih pengecut, pengecut yang menghindari manusia. Kau vampir pertama yang seharusnya mengatur kaum penghisap darah itu, bukan? Bahkan kau tidak becus dalam mengatur para vampir yang sedang berulah di kota akhir-akhir ini."
"Heh, apa kata-kata para anjing memang sekasar ini? Kau banyak bicara untuk seorang yang menganggu wanita yang lemah," kekeh Athlas mencibir.
"Terkutuklah kau, Bangsat."
"Kau yang terkutuk, Sialan."
Bersama dengan kalimat sumpah serapah yang dilontarkan, semakin berkobarlah api permusuhan di antara kedua lelaki itu.
__ADS_1
"Hentikan kalian berdua! Berhentilah sebelum kalian menarik perhatian semua orang!" Zeline mencoba melerai ketegangan. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Seperti wanita di tengah pertandingan. Dia tidak ingin mengambil resiko jika mereka berdua berakhir berkelahi di tengah-tengah koridor sekolah.
Tidak bisa dibiarkan, sesuatu yang buruk pasti akan terjadi jika si kedua monster mengamuk.
"Ah, biarkan saja, Miss. Zeline! Aku ingin tahu taring dan cakar siapa yang paling tajam. Tidakkah kau penasaran, juga? Dengan begitu, kau bisa memilih siapa yang lebih pantas memilikimu!" tukas Athlas tersenyum dingin, semakin memanasi.
Kedua mata Zeline mendelik. Siapa juga yang ingin memilih? Lebih baik keduanya jauh-jauh darinya!
"Kau harus menuruti gurumu, Athlas! Ayo ikut aku!"
Zeline menarik tangan Athlas dan menyeretnya menjauh. Dia harus memisahkan mereka berdua.
Param melihat kepergian Zeline dan Athlas dengan tatapan yang menghunus tajam. Tangannya terkepal kuat. Dia menahan napas, seperti juga menahan emosi di dalam dada.
"Aku tidak akan tinggal diam," geramnya.
**
Ah, berbicara soal cuaca pagi di musim panas, hari ini cuacanya begitu hangat, sinar matahari tidak terhalang oleh apapun kecuali awan yang melewatinya sejenak.
Di atap sekolah. Kini, di sinilah Zeline berada. Tentu saja dia tidak sendiri di tempat itu, ada Athlas yang terpaksa dia seret.
"Pasti ada antrian panjang untuk burger ini. Kenapa kau memberikan ini untukku?" Zeline menatap hamburger di tangannya.
"Kau sampah," ceplos Athlas dengan kurang ajarnya, "Lagi pula aku tidak memakan hamburger."
"Aku hanya memakan ini karena akan sia-sia. Jika tidak, demi kebaikan," ucap Zeline mencoba mengabaikan kekurang ajaran murid vampirnya.
Zeline menyantap hamburger itu dan memandang langit sebentar, lalu melempar tatapan pada murid-murid yang berdatangan memasuki gerbang sekolah.
Dari atas sana, semua terlihat bahagia dengan senyum merekah menghiasi wajah, saling berbincang dan tertawa.
"Itu enak?" tanya Athlas yang menatap lekat.
"Well, yeah," jawab Zeline tanpa mengalihkan tatapan. Melihat raut kebahagiaan mereka, dapat membuat perasaannya membaik.
"Kau sering dengar bahwa kau membuat suara yang bagus saat kau makan, bukan?" Athlas melontarkan pertanyaan yang tidak terduga.
"Huh?"
Kepala Zeline menoleh, dia terkejut karena wajah mereka berdua sangat dekat. Bahkan dia bisa merasakan hembusan napas Athlas yang menyapu wajahnya. Pemuda vampir itu terlihat begitu mempesona dari jarak sedekat ini. Ini gila, bukankah dia curang dengan tampang yang seperti itu. Ah... Napasnya dingin, pikirannya.
"Ketika kau makan seperti itu, kelihatan sangat lezat."
__ADS_1
Bersama dengan kalimat terucap, Athlas semakin mengikis jarak. Dia memangut bibir Zeline tanpa permisi. Menciumnya lembut, perlahan, kemudian berhenti. Keduanya saling bertatapan.
Detik itu juga, jantung Zeline mendadak berdebar kencang. Darah seakan berkumpul di wajahnya. Terlebih ketika melihat Athlas yang menjulurkan lidah untuk menjilat bibirnya sendiri.
"Seperti yang kukira, tidak enak," ucap Athlas menyeringai.
Memberanikan diri untuk terus membuka mata dan membalas tatapan lekat Athlas. Zeline mencoba menyelami, apa yang membuat vampir itu begitu senang menekan perasaan seorang wanita sepertinya.
Kontak mata berlangsung tidak terlalu buruk. Justru Zeline menganggap betapa menawannya iris mata berwarna kuning keemasan itu. Merasa tidak keberatan untuk menatap lama.
Padahal dia sangat takut sebelumnya.
"Bukankah kau tidak seharusnya mengganggu anjing saat dia sedang makan?" keluh Zeline menahan debaran di dalam dada.
"Aku menganggumu karena kau bukan anjing," sahut Athlas tertawa, cekikikan.
Zeline hanya mendengus menanggapinya. Jika seperti ini, pemuda itu terlihat seperti remaja pada umumnya. Dia belum terbiasa dengan aura Athlas yang sering kali berubah-ubah.
Dengan semakin merapatkan tubuh mereka, Athlas menyandarkan kepalanya di pundak Zeline, membuat sang empunya terkejut.
"Apa yang kau lakukan? Kau berat," protes Zeline dengan wajah yang semakin terbakar.
"Sebentar saja," ujar Athlas lirih.
Zeline yang hendak mengangkat kepala Athlas dari bahunya mengurungkan niat.
Seperti kucing yang menunjukkan cakarnya, tiba-tiba mendekat dan menggosok kepala kearahnya dan bertingkah lucu. Meski tidak melupakan fakta bahwa Athlas seorang vampir.
Rasa hangat tiba-tiba menjalar di hati.
Zeline duduk di sana, bertanya-tanya apakah dirinya memiliki suhu tubuh yang tinggi. Pipinya benar-benar memanas.
Setiap kali bibir dan tangan dingin Athlas menyentuhnya, entah kenapa Zeline merasa aneh.
Dia merasa lengah. Dia tidak bisa mengatasinya...
Bahwa... dia menyadari denduman keras itu adalah peringatan.
Gila.
Bisakah Zeline lari saat ini juga? Jauh... Sejauh yang bisa dia lari.
_To Be Continued_
__ADS_1