Terjerat Murid Vampir

Terjerat Murid Vampir
Heat


__ADS_3

"Biasanya memang sangat sulit ditahan. Apa kau ingin aku menyentuhmu?" ujar Athlas menyeringai tipis.


Sang vampir menyadari jika Zeline sudah mulai mengikuti insting sebagai lycan wanita yang sedang heat.


"A-apa...?"


Tiba-tiba Athlas menarik pinggang Zeline hingga tubuh mereka terhimpit tanpa jarak.


Zeline merasa kepalanya berat ketika menghirup aroma seduktif dari tubuh Athlas. Entah kenapa indra penciuman menjadi sangat sensitif. Kali ini aroma sang vampir membuatnya nyaman.


Aroma manis dan lembut, seperti aroma bunga dari pohon-pohon di jalanan ketika musim semi tiba.


Bagaimana bisa seorang laki-laki memiliki aroma seperti itu?


Namun, bukannya merasa jauh lebih baik, Zeline malah merasa kalau dirinya semakin aneh. Dia bahkan tidak tahu lagi harus berbuat apa, karena saat ini isi kepalanya hanya dipenuhi keinginan untuk terus berada di pelukan Athlas. Dia menginginkan pemuda itu.


"Kau tahu, Miss. Zeline? Jika wanita lycan sedang heat, tidak mungkin bisa menekan insting untuk mencari laki-laki untuk memuaskan nafsumu."


Di antara cahaya bulan dan lampu kamar yang mengabur, Zeline dapat melihat mata merah ruby yang berkilat.


Seluruh tubuh Zeline gatal dan terbakar, seperti digigit.


Semakin sulit mengendalikan diri karena panas.


Kejadian ini terlalu tiba-tiba bagi dirinya, seharusnya dia dapat mengendalikan diri, ini seharunya tidak terjadi, seharusnya tidak terjadi...


"Apa yang aku lakukan hanyalah service," Athlas mengecup telinga serigala Zeline.


Ingin menyuarakan protes, ingin berteriak sekencang mungkin. Namun, suara Zeline menguap seakan tidak ada yang tersisa meski hanya mengucapkan 'tidak'. Bibirnya keluh dan lidahnya membeku dan semua itu terjadi tatkala sebuah bibir dingin menyentuh setiap jengkal permukaan wajahnya. Seperti pipi, dagu, hidung, dan keningnya.


Tangan Athlas bergerak melepas kacamata tebal yang menyembunyikan bola mata biru turquoise dan wajah sayu nan jelita. Serta rambut panjang dengan nuansa kecoklatan tergerai indah ketika ikatan rambut dilepas.


"Apa ini? Saat aku melihat wajah Miss. Zeline lebih dekat ...Itu terlihat cantik," Athlas berbisik dengan nada rendah. Saat kalimat itu menembus telinganya, wajah Zeline memanas.


Sebentar, Athlas terdiam. Dia menatap wajah cantik yang memerah karena ulahnya. Dia membelai pipi Zeline, lalu mengusap bibirnya dengan pelan.


Kini jarak antara bibir Zeline dan Athlas hanya sekitar sepuluh centimeter saja.


Zeline melihat tujuan Athlas dengan jelas, yaitu menciumnya. Hatinya bergetar hebat ketika wajah Athlas semakin mendekat hingga tidak ada jarak lagi di antara keduanya. Dia gamang karena merasa belum siap. Masih teringat jelas ciuman pertamanya yang terasa sangat sakit, dia takut pemuda vampir itu mengigit lidahnya lagi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, tidak apa-apa," ujar Athlas seakan tahu rasa takut Zeline, lalu dengan tiba-tiba menyerang bibir merah muda itu.


"Hmm!"


Namun, ketika bibir keduanya bertemu. Athlas mencium Zeline dengan lembut. Terasa, pelan, hangat, dan mesra. Seakan mencicipi buah segar dan tidak ingin segera berakhir.


Jantung Zeline melompat ke sana ke sini tidak karuan. Sama sekali tidak menyangka akan dicium sedemikian hangat oleh Athlas dengan segala kengerian yang telah dilihatnya sebelumnya.


Selama mereka berciuman, Zeline tidak berani membuka mata. Tidak tahan melihat wajah tampan Athlas yang begitu dekat di depannya. Napas sang vampir terdengar menderu, terasa jelas mendesis di pipinya.


Bibir Athlas mengait bibir bawah Zeline. Gigi taringnya sedikit mengigit dan menarik ke atas, dengan sangat perlahan. Diulangi terus oleh pemuda itu, sampai tiga kali, baru dia kembali mencium keseluruhan bibir Zeline.


Telapak tangan bergerilya masuk ke balik tengkuk, menahan agar wajah Zeline tidak mundur saat dia menekan bibirnya lebih hebat, dengan ciuman lebih intens, tanpa jeda.


Zeline merasa sulit bernapas. Bukan hanya rentetan ciuman yang tanpa sela, tapi juga karena hentakan di dalam jantung yang mulai menikmati ini semua.


Hingga saatnya, pemuda itu melepaskan tautan bibirnya. Zeline segera mengambil napas, dan nampak terengah-engah.


Athlas menarik wajahnya. Membiarkan Zeline mencari oksigen sebanyak mungkin. Sementara dirinya menelusuri, leher janjang Zeline. Mencium dengan lembut.


"Harummu lembut sekali, aku sangat suka," gumam Athlas semakin memburu napas. Bibir dan lidahnya bergantian merasakan kelembutan kulit leher Zeline, bahkan meninggalkan beberapa tanda di sana.


"Akh, sakit...."


Sakit, perih, dan menyengat. Itu yang Zeline rasakan saat lehernya digigit. Darahnya terasa tersedot. Kali ini matanya mengeluarkan air mata.


Dan benar saja, Athlas sedang menghisap darahnya.


Kepala Zeline terkulai dengan lemas pada bahu Athlas, dia mengerjap dengan pandangan tidak fokus begitu taring dicabut dari lehernya. Lidah dingin dan basah menjilati tempat sang vampir menyantap, membuatnya menggeliat kegelian dan melenguh serak.


Satu kecupan di leher, sebelum Athlas memegang dagu Zeline. Kemudian kepalanya diarahkan agar menatap pada iris merah menyala.


"Miss. Zeline? Bagaimana kau menangis seperti ini? Kita bahkan baru saja memulainya," suara rendah yang sarat akan rasa lapar itu membuat seluruh tubuh Zeline gemetar.


Athlas memegang kepala Zeline, seolah-olah menyesal dan mulai menjilat serta menghisap pipinya.


Tubuh lemas Zeline diangkat, Athlas membawanya menuju tempat tidur, dan meletakkannya di sana.


Athlas tersenyum. Dia merayap naik. Lalu jarinya lincah melepas semua kancing yang ada di bagian depan. Satu persatu, hingga habis semua, memampangkan tubuh sensitif seorang Zeline Hallensa.

__ADS_1


"Siap untuk menyerahkan tubuhmu padaku?" Athlas menatap tajam ke area dada tersebut, "Aku akan membuatmu polos sekarang. Siap-siap, ya?"


"Hah? Apa?" Zeline yang sudah setengah sadar mendengar ucapan Athlas. Detik-detik ini terlalu menegangkan baginya.


"Aku akan melepas semua bajumu, Miss. Zeline. Kamu bisa kira-kira sendiri apa yang akan terjadi setelahnya."


Zeline tahu, apa yang akan terjadi pada dirinya. Dia seorang gadis dewasa yang sudah paham, apa yang akan terjadi selanjutnya. Ini sangat berbahaya, tapi dia sudah tidak bisa berpikir rasional lagi.


Benar saja, Zeline benar-benar sudah mengikuti insting sebagai lycan wanita yang sedang heat.


Ini gila!


Zeline mengutuki diri sendiri karena kalah oleh gairah hewannya yang menggebu.


"Aku akan membelai kedua kakimu, apa kamu menyukainya?"


Jemari Athlas mulai membelai paha kanan dan kiri. Membuat Zeline memekik karena tidak menyangka akan disentuh seperti itu. Semua yang dilakukan pemuda vampir itu adalah pertama kali baginya.


Mata Zeline terus terpejam, rona merah semakin bersemi di wajahnya. Dia merasa malu dan tidak berani menatap Athlas. Bisa gila rasanya dimainkan seperti ini.


"Akh!"


Memekik dan menarik napas terburu begitu merasakan taring Athlas menancap, menembus paksa kulit paha kanannya. Bahkan sang vampir menggigit di tempat lain yang bukan lehernya. Ini lebih sekedar dari buruk.


Di samping rasa sakit, lidah Athlas terasa sangat memabukkan, suara yang dibuatnya tidak manusiawi secara positif, liar di balik tenggorokannya.


"Sudah cukup, Athlas..."


"Darahmu mulai terasa lebih manis."


Lagi-lagi taring sang vampir menembus kulit tubuhnya yang lain. Ini terlalu banyak, Zeline bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi lagi, sudah banyak gigitan sehingga seluruh tubuhnya terasa senang dan nyeri...


Rasanya seperti Zeline tenggelam dalam emosi yang tidak bisa dijelaskan. Jantungnya berdebar kencang, dadanya sangat panas, itu sakit. Dia merasa hatinya akan meledak. Ini semua karena... Suara, tubuh, dan wajah Athlas.


"Ini membuatku gila, tolong berhenti..."


Pandangannya semakin kabur.


Zeline beruntung, karena pingsan sebelum melangkah ke step yang lebih jauh lagi.

__ADS_1


Pengalaman heat pertama di malam musim panas...


_To Be Continued_


__ADS_2