
"Padahal aku telah menghapus ingatanmu, tapi terlihat jelas jika kau tidak lupa. Apakah mungkin karena kau seekor anjing?" desak Athlas menatap intens.
"Anjing?" Zeline tidak bergerak sedikitpun.
Dia tidak paham. Apa maksud perkataan Athlas?
"Apa yang kau pikirkan tentang itu? Miss. Zeline benar-benar tidak tahu, hmm?" Athlas santai bertanya.
"Ya, aku tidak tahu," jawab Zeline dengan gemetaran.
Athlas menundukkan kepala dan mendekat, mengendus dengan seksama, seolah sedang memastikan sesuatu.
Sementara itu, Zeline terpojok, wajahnya pucat karena Athlas semakin mendekat. Dia melirik ke kanan dan kiri berharap ada yang menolongnya, tapi tidak ada seorangpun.
"Bukan hanya aroma manis dari Lavender dan Rosemary. Aku rasa, aku mencium bau anjing dari tubuhmu," Athlas berhenti mengendus, tapi tidak menjauh. Wajahnya disejajarkan dengan wajah Zeline, "Aneh, bukan?"
Mata Zeline terpejam, benar-benar gelisah dengan jarak yang sangat tipis, sampai-sampai dia menahan napas, "Apa yang sedang kau bicarakan?"
Wajah Athlas menjauh. Menyeringai tipis, karena melihat Zeline yang benar-benar mirip seperti kelinci yang ketakutan. Bukan, lebih tepatnya anjing yang ketakutan.
Zeline kembali membuka mata tatkala merasa wajah Athlas telah menjauh. Sedikit merasa lega, dia mulai bernapas dengan normal, namun jantungnya masih berdetak takut-takut.
"Kau seorang lycan, bukan? Kau adalah lycan berdarah campuran."
Mulut Zeline terkunci. Dia tidak tahu harus membantah atau mengiyakan? Sudah terlalu bingung dan tidak mengerti, terlebih rasa takutnya masih belum berkurang sedikitpun.
"Lycanthrope, untuk lebih jelasnya, kau adalah peranakan serigala. Sepertinya kau benar-benar tidak tahu," terang Athlas, menahan tawa melihat ekspresi tertekan Zeline yang terlihat konyol baginya.
Sepertinya Athlas tidak menyadari fakta bahwa betapa dia sangat menyeramkan bagi Zeline.
"Y-ya," jawab Zeline yang memang tidak tahu apa itu lycan atau peranakan serigala. Apa itu lebih menyeramkan daripada vampir di hadapannya ini?
"Aku akan menjelaskannya, aku berpikiran kau paham maksudku karena kau seorang guru yang pintar. Jadi dengarkan baik-baik, oke?" tawar Athlas.
"Sebelum itu..." lirih Zeline lebih seperti mencicit. Menunduk dan mengintip Athlas dari balik bulu matanya yang lentik, "Bisakah kau menjaga jarak lima meter dariku? Aku akan berterima kasih tentang itu."
Athlas tertawa di udara, melihat tingkah Zeline yang...
Menggemaskan?
Apapun itu, yang pastinya cukup menghibur Athlas.
__ADS_1
Sedangkan korban yang ditertawakan merasa gelisah, dan mengartikan kata menggemaskan yang di pikiran Athlas memiliki arti ingin mencekik dirinya. Dia sungguh paranoid.
Mungkinkah permintaannya berlebihan? Zeline buru-buru kembali berucap, "Kurasa jarak satu meter sudah cukup."
Athlas berhenti tertawa, akhirnya dia mengangguk, kakinya melangkah mundur, memberi jarak satu meter yang diinginkan Zeline.
"Relaks, Miss. Zeline. Tidak usah takut padaku. Bukankah kau pernah menyentil dan menjewer muridmu ini?"
Mendengar itu, kegelisahan Zeline semakin menjadi-jadi. Apa perbuatannya itu tidak termaafkan? Dia sangat menyesal pernah seberani itu.
"Ng... Maafkan aku," ucap Zeline tidak yakin dimaafkan.
"Hmm," Athlas hanya merespon dengan bergumam, kemudian mengambil ponsel dari saku celana untuk melihat jam, "Bisa aku mulai menjelaskan? Sebentar lagi bel akan berbunyi."
Jika bisa, Zeline ingin bel berbunyi saat ini juga. Dia ingin sekali pergi!
"Ya," jawab Zeline, yang sebenarnya penasaran juga.
Dahulu kala, vampir dan lycan memburu manusia sebagai predator utama. Kedua ras yang menjadi sumber ketakutan bagi manusia.
Vampir itu para taring pemakan intisari kehidupan dari mahkluk hidup lainnya. Sedangkan lycan adalah siluman serigala. Keduanya benar-benar kuat dan penuh ancaman.
Namun, sebagian manusia mereka terus berkembang. Perang suci dan pertumpahan darah dilakukan untuk memusnahkan para vampir dan lycan. Mengakibatkan kedua spesies hilang.
Sampai saat ini.
Akan tetapi, nyatanya vampir dan lycan tidak benar-benar menghilang.
Zeline terlihat serius mendengar apa yang dijelaskan Athlas. Angin dingin bertiup, terasa begitu sejuk melewati kedua orang yang berhadap-hadapan.
Athlas menyisir rambut pendeknya yang berantakan karena tertiup angin dengan jari tangan. Dia lebih banyak menatap lurus ke depan, meski dengan pandangan datar.
"Vampir sepertiku, membutuhkan darah manusia untuk bertahan hidup. Maka kami harus meminumnya diam-diam seperti ini."
Masih diam. Zeline tidak tahu harus berkata apa. Dia menunggu kelanjutan perkataan Athlas
"Tapi para lycan bajingan itu tidak membutuhkan para manusia untuk bertahan hidup, mereka tidak memakan daging manusia. Oleh sebab itu, mereka dapat bergabung dalam masyarakat dan tinggal berdampingan. Ketika mereka hidup bersama manusia, mereka bahkan kawin dengan manusia..."
"...Jika itu terjadi, maka semua masuk akal. Aroma anjing ada pada tubuhmu, dan fakta ingatanmu tidak dapat di hapus. Dan mungkin kau memiliki kemampuan mendengar pikiran?"
Bagaimana Athlas tahu jika Zeline memiliki kemampuan membaca pikiran? Karena itu, sekarang Zeline sangat terkejut, padahal tidak ada yang tahu tentang ini selain keluarganya.
__ADS_1
Jadi kemampuannya ini karena dia adalah lycan? Tapi kenapa dia tidak tahu? Itu tidak mungkin, 'kan...?
"Ekspresimu mengatakan jika kau memang bisa membaca pikiran orang lain. Itulah mengapa kau mengikutiku, bukan?" Athlas tersenyum miring.
"A... A... Aku... " Zeline sulit untuk berkata-kata, seolah tercekik oleh sebuah kebenaran yang didengarnya tiba-tiba.
Terasa sulit menerima dan mencerna kebenaran ini. Semua diproses secara lambat karena disertai penyangkalan. Merasa ini adalah kebohongan saja.
"Namun, sepertinya kau bukan sepenuhnya lycan. Darah manusia yang kau miliki lebih unggul karena aku bisa meminumnya, biasanya aku tidak bisa meminum darah lycan karena rasanya menjijikan," Athlas kembali dengan penjelasannya.
Apa perkataan Athlas itu benar?
Aku...
Lycan berdarah campuran?
"Tidak, aku bukan monster," Zeline menyangkal dengan mata yang terbelalak. Beberapa kali dia menggelengkan kepala dengan cepat ke kanan dan kiri.
Pada akhirnya, vampir atau lycan adalah spesies yang sama-sama mengerikan bagi Zeline. Dia tidak mau menjadi lycan meskipun hanya campuran. Dia hanya ingin menjadi manusia.
"Monster?" desis Athlas lirih.
Kedua tangan Zeline saling meremas dengan gelisah.
"Kau begitu percaya dengan dirimu sendiri. Manusia memang seperti ini..." ucap Athlas menghela napas kasar, "Mereka menyebut orang lain sebagai monster dengan standarnya sendiri, ketika mereka sendiri saling membunuh satu sama lain dan berburu binatang demi kulit atau bulu. Menurutku, tidak ada perbedaan."
Suasana menjadi hening. Zeline menunduk karena Athalla terus saja menatapnya.
Athlas bergerak satu langkah kecil ke depan, tangannya terulur menarik dagu Zeline. Membuat wajah dengan kacamata tebal itu mendongak paksa.
Mau tidak mau, Zeline harus beradu tatap dengan Athlas. Dia terkejut saat melihat berapa dinginnya tatapan pemuda itu.
"Lagi pula aku tidak perduli jika kau tidak percaya," dengkus Athlas sinis.
Zeline benar-benar merasa mati kutu. Tangannya menjadi dingin dan bergetar karena rasa takut kembali menyerang.
"Tapi..." sambung Athlas menggantung, yang membuat Zeline merasa was-was, "Jadilah rekanku!"
"A-apa?" tanya Zeline dengan suara bergetar, dia tidak mengerti.
"Aku butuh darahmu. Dan untuk pertukaran itu, kau bisa melakukan apapun denganku."
__ADS_1
_To Be Continued_