Terjerat Murid Vampir

Terjerat Murid Vampir
Rekan


__ADS_3

Burung-burung kecil berkicau. Sinar matahari pagi yang melewati tirai berwarna putih mengusik Zeline yang tidur di ranjang super besar.


Saat membuka mata, Zeline sadar dia sendirian di kamar yang tidak dia kenal, serta aroma seprai baru dicuci. Meski sedikit sulit untuk bangkit dari tidurnya, dia tetap berusaha mendudukkan tubuhnya meskipun harus bersusah payah.


"Ugh..." erangan tiba-tiba keluar dari mulutnya, namun yang lebih mengejutkan adalah suara yang keluar. Suaranya begitu serak seperti angin bersiul memasuki tenggorokan. Dan itu sungguh menyakitkan seperti terbakar.


"Su-suaraku, tubuhku... M-mengapa semua begitu sakit...?"


Dari leher, lengan, perut, pinggang, dan kaki, semuanya terasa sakit seperti segerombolan orang baru saja memukulinya tanpa henti. Rasa sakitnya menyengat di setiap bagian tubuh, membuatnya takut untuk bergerak.


"Semalam aku..." Zeline tercekat mengingat tindakan tidak bermoral yang dia lakukan dengan muridnya sendiri.


Di tengah-tengah ledakan kekalutan yang bergemuruh, wajah dan penampilan Athlas semalam tergambar dengan sangat jelas dalam benaknya, hingga membuat Zeline tidak dapat berpikir rasional lagi.


Saat dada bidang dengan pundak yang kokoh memeluknya, bagaimana bibir dingin yang mencium dengan lembut, dan sentuhan-sentuhan yang terasa dingin namun seperti terbakar secara bersamaan.


Lebih dari itu, bayangannya beralih pada bagaimana Athlas mengigit setiap bagian tubuhnya, sentuhan manis lidah yang menjilat dengan lembut. Semua masih terasa nyata.


Aku sudah gila... Dia memang vampir, tapi aku dengan siswa? Apa ada yang salah denganku?


Aku berbicara soal moralitas dengan mudah, tapi kenyataannya aku tidak memiliki moral sebagai guru.


Aku guru tapi tidak mampu belajar mengendalikan diri...


"Sial..."


Zeline merutuki dirinya yang menjadi seperti hewan yang sedang didesak birahi. Untungnya dia tidak berubah menjadi serigala sepenuhnya, serta telinga dan ekor berbulu itu sudah hilang.


"Ini semua karena Lee Param...!"


Melirik ke bawah dan melihat kacamata miliknya yang patah menjadi dua. Sontak hati Zeline berdebar dan wajahnya merona matang.


Benar-benar malu setengah mati! Bahkan kacamatanya sampai rusak!


"Tunggu... Mengapa tubuhku... "


Zeline memeriksa keadaan tubuhnya yang menjadi bersih saat terakhir kali. Ini tidak seperti yang dia pikirkan. Dia juga sudah memakai dress berwarna putih.

__ADS_1


"Jangan bilang jika Athlas yang... Bagiamana pun aku tidak mau membayangkannya. Tapi, dia tidak ada di sini, itu membuatku merasa jika kejadian itu hanyalah mimpi."


Zeline melihat sekeliling, baru memperhatikan di mana dirinya berada saat ini. Kamar bernuansa monokrom yang sama seperti semalam. Dia baru menyadari betapa luas dan mewahnya kamar ini.


"Tiga ruangan di rumahku masih kalah luasnya, aku menjadi merasa sangat kecil," gumam Zeline terkagum-kagum, "Jam berapa sekarang? Kenapa tidak ada jam di sini? Ha... Aku tidak pulang kemarin malam. Nenek pasti khawatir. Di mana ponselku?"


Ketika Zeline hendak turun dari ranjang, suara pintu yang terbuka menghentikannya.


Dengan santai, Athlas memasuki ruangan dengan membawa nampan berisi makanan di tangannya. Pemuda itu menunjukan senyum tipisnya dan bersikap seperti biasa, seolah-olah tidak ada yang terjadi di antara mereka sebelumnya.


"Ah... Kau bangun? Kupikir kau akan bangun selama beberapa jam lagi, setidaknya."


Zeline mengepalkan tangan sambil menundukkan tatapan. Bagaimana vampir itu bisa bersikap biasa setelah apa yang mereka lakukan?


"Sepertinya kau tidak bisa bangun, Miss. Zeline. Jadi aku bawakan makanan dari koki yang sengaja aku panggil khusus untuk membuat makanan manusia. Apakah kau menyukai yogurt tawar dan keju? Aku membawakan keduanya."


Zeline hanya bisa menganga tanpa suara melirik Athlas yang masih tidak acuh seperti tidak ada yang terjadi. Dengan memasang wajah polos, pemuda vampir itu memiringkan kepalanya seolah bertanya 'mengapa?'.


"Apa ada yang salah, Miss. Zeline? Kenapa kau menatapku seperti itu, hmm?" tanya Athlas seraya meletakkan nampan di atas meja di samping ranjang.


"Kau tidak sekolah?" tanya Zeline meluncur begitu saja.


"Hmm...? Aku harus merawat guruku yang sakit," Athlas memandangi Zeline yang jelas sedang tidak baik-baik saja.


"Tidak perlu, aku akan segera pulang..."


"Apa aku harus merasa jahat di depanmu karena apa yang telah kita lakukan? Bukankah kita tidak benar-benar bercinta?" tanya Athlas mengabaikan perkataan Zeline.


Ya, Zeline bersyukur tentang dia yang pingsan sebelum semakin mempermalukan dirinya sendiri. Tetapi, tetap saja hal itu tidak bisa dibenarkan. Dia sudah cukup menyesal.


Zeline kembali menunduk dan menatap jari-jarinya yang sedang memainkan kuku, "Aku rasa tidak ada paksaan..."


Suasana tiba-tiba hening. Zeline berusaha tetap tenang meski merasa sepasang mata yang masih terus memandanginya.


Zeline menghembuskan napas pelan, "Aku hanya berpikir, bagaimana orang tenang dengan segala sesuatu?"


"Bukankah kita rekan? Aku butuh darahmu, dan kau bisa melakukan apapun denganku," sahut Athlas kalem.

__ADS_1


Terdiam dan tertohok. Baiklah, Zeline ingat kalimat-kalimat itu. Dan pada akhirnya, dia memanfaatkan Athlas. Dia merasa sangat buruk.


"Aku benar-benar tidak waras..." lirih Zeline frustasi.


Pemilik mata kuning keemasan tersenyum tenang, dia duduk di tepi ranjang dan menatap lekat. Dipegangnya tangan Zeline yang tanpa sadar mulai mencabut kulit di sekitar kuku hingga berdarah. Sesekian detik matanya berkilat merah.


"Tenang saja, kau tidak sakit, bahkan kau tidak gila. Justru bagus karena telinga dan ekor anjingmu sudah menghilang, meski kau terlihat imut memiliki itu."


"Ha? Apa?"


Aku tidak salah dengar, 'kan? Aku imut? Bukan amit? Zeline meyakinkan pendengarannya yang mungkin bermasalah.


Kemudian Zeline berusaha menarik tangannya, namun Athlas tidak membiarkannya lepas. Tangan besar yang terasa begitu dingin itu menggenggam dengan erat.


Aku benci betapa basahnya tanganku, batin Zeline gelisah.


"Maaf... Aku telah mempermalukan diri sendiri sebagai orang dewasa dan guru," cicit Zeline yang kembali menyesali perbuatannya.


"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri," ujar Athlas sambil memberi usapan memutar pada punggung tangan Zeline.


Zeline menjengit kaget, namun di sisi lain usapan itu seakan memberi ketenangan, "Tapi aku──"


Tiba-tiba dengan cepat Athlas mengecup bibir Zeline, membungkamnya selama satu detik. Membuat kedua mata si wanita membola dengan sempurna.


Kemudian jari Athlas mengusap sudut mata Zeline, "Siapa yang tahu? Ada mata biru yang sangat indah di balik kacamata tebal. Kau sangat cantik, Miss. Zeline."


Zeline tertegun. Mata bulatnya menatap wajah sempurna dan tampan murid vampirnya. Ucapannya terdengar tulus, seakan itu memang berasal dari hari terdalam Athlas.


Debaran jantung Zeline menjadi kacau, wajahnya memerah, dadanya sesak, dan ratusan kupu-kupu seakan berterbangan di perutnya.


Astaga! Jika terus begini, dia bisa kena serangan jantung! Kalau dipasang alat pengukur tensi mungkin sudah 200/150 tensinya alias tinggi, setinggi-tingginya. Jantungnya memompa aliran darah begitu cepat.


"...Cantik dari mana? Berhenti mengatakan omong kosong kepada gurumu sendiri," ujar Zeline dengan menahan desiran aneh yang dirasa.


"Aku tidak mengatakan omong kosong padamu..." Athlas tersenyum hingga satu lesung pipinya terlihat, "Aku senang karena kau tidak marah lagi saat kucium."


"Berhenti menggodaku! Lepaskan tanganku!" seru Zeline benar-benar frustasi.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2