Terjerat Murid Vampir

Terjerat Murid Vampir
Diluar Dugaan


__ADS_3

Drett Drett


Ayo keluar bersamaku.


Zeline menatap kalimat yang tertulis di layar ponsel dengan seksama, merasa bingung karena didapatkan dari nomor yang tidak dikenal.


Siapa yang mengajaknya keluar di akhir pekan?


Siapapun itu, Zeline akan menolaknya. Hari libur adalah hari kebebasannya, yang ingin dia lakukan hanya tidur sepanjang hari.


Namun, dia cukup terkejut mendapati pesan kedua dari nomer yang sama.


Panjang.


Helaan napas Zeline begitu panjang.


"Oh, please... Jangan lagi vampir itu. Aku bisa gila kalau dia terus saja meneror."


**


Dan di sinilah Zeline berada siang ini, Old Town of Edinburgh.


"Hey!"


Zeline terlonjak kaget saat tiba-tiba mendengar suara berat yang sedikit serak.


Menoleh perlahan, menatap pemuda di sampingnya. Menatap Athlas Aldridge. Rasanya jantungnya yang berdegup kencang tiba-tiba berhenti diam. Hatinya langsung tenggelam.


Vampir itu sudah berhasil membuat debaran jantungnya menjadi kacau.


"Ngapain? Aku memanggilmu, tapi kau tidak mendengarku," Athlas menunduk dan memajukan wajahnya, dia tersenyum namun matanya masih terlihat dingin.


"A-a-a-a-a-apa!" gagap Zeline dengan agak berteriak, dia mundur beberapa langkah ke belakang untuk menciptakan jarak, "Kenapa kau begitu di depanku, sih?"


Kenapa tiba-tiba dia begitu dekat? Dia mengejutkanku. Jantungku masih berpacu, batin Zeline merasa frustasi.


"Ha? Apa?" salah satu alis Athlas terangkat, "Tahukah kau berapa kali aku memanggilmu? Kau tidak mau menjawab, sebenarnya apa yang kau lakukan? Dan kau benar-benar diam saja. Kau ngapain?"


Ah, bagaimana bisa aku melamun di jalan?


Zeline merutuki dirinya sendiri, terlebih alasan dia melamun karena memikirkan Athlas. Memikirkan tentang debaran aneh yang selalu dia rasakan jika bersama dengan pemuda itu.


Sungguh, itu bukanlah debaran rasa takut.

__ADS_1


Bahkan Zeline menganggap Athlas tidak semenakutkan yang dia pikirkan sebelumnya. Itu karena pemuda itu kerap kali menolongnya dan berkata tidak akan pernah membunuhnya. Meski tidak bisa dipungkiri masih ada sedikit rasa ngeri.


"Yeah, ehm..." Zeline melempar pandangan pada lalu lalang orang yang berjalan cepat, dia tidak sanggup menatap mata kuning keemasan yang berkilau karena terkena sinar matahari, "Kenapa kau mengajakku keluar di akhir pekan?"


"Ikut aku."


Tidak memberitahu, Athlas justru meraih tangannya dan menyeretnya pergi entah ke mana. Zeline yang tidak bisa menahan tubuhnya untuk tidak mengikuti Athlas, hanya bisa pasrah.


Sial, Zeline memang selalu tidak diberi kesempatan untuk menolak murid vampirnya itu. Seperti dia tidak bisa menolak ajakan Athlas untuk keluar di akhir pekan ini karena diberi berbagai ancaman.


Zeline melihat jika Athlas menjadi objek yang sangat menarik perhatian. Pada setiap langkahnya, dia berhasil menarik perhatian orang di sekitarnya untuk terus menatapnya dengan tatapan kagum dan berbinar. Wajah tampan rupawan impian setiap orang, tubuh tinggi atletis, serta penampilan kasual yang mengguncang hati. Sungguh karismatik dan memancarkan aura luar biasa.


Tentu saja, Zeline bisa mengerti pesona Athlas. Mereka mungkin bertanya-tanya bagaimana seorang laki-laki bisa terlihat sangat tampan dan ada wanita berpakaian kampungan digandengnya.


Berbahaya... Zeline merasa tidak percaya diri.


Dia melihat sekeliling. Tatapan semua orang menilai menjadi lebih aneh pada saat itu, terlebih Zeline bisa mendengar apa yang dipikirkan mereka. Mencemoohnya.


"Tidak usah pedulikan mereka," ujar Athlas seolah tahu kegelisahan Zeline, lalu mengeratkan genggaman tangannya.


Tersadar, mata Zeline mengerjap berapa kali. Ya, sejak kapan dia menjadi perduli dengan pemikiran orang lain? Ini bukan seperti dirinya saja. Namun, entah kenapa Zeline merasa kesal.


Zeline menggelengkan kepala mencoba menghilangkan perasaan itu. Saat itu juga, dia menyadari jika Athlas mengajaknya memasuki salah satu optik.


Di sana, mereka disambut beberapa staf. Zeline mengikuti langkah Athlas memasuki optik berukuran besar dengan dekorasi art yang terlihat high class.


Athlas berbicara dengan salah satu staf. Zeline dapat mendengar jika pemuda itu ingin mengambil kacamata yang sudah dipesan sebelumnya.


Ngomong-ngomong Zeline harus membeli kacamata baru karena miliknya rusak, penglihatannya sedikit agak buram jika tidak mengenakan kacamata, terlebih dia tidak suka menggunakan softlens. Namun, isi dompetnya tidak sanggup untuk membeli kacamata dengan brand eklusif di sini.


Tidak menunggu waktu lama, staf itu menyerahkan sebuah kacamata dengan bingkai berwarna hitam yang terlihat familiar. Athlas menerimanya. Dengan menunduk, dia memasangkan kacamata itu pada Zeline, lalu membantu merapikan rambut bernuansa kecoklatan yang sedikit berantakan.


Membuat tertegun.


Zeline memiliki temperamen tenang dengan mata yang bulat dan besar. Ketika dia tanpa kacamata, itu sangat berbahaya sebab terlihat lebih muda. Sekarang lensa di jembatan hidung yang tinggi menutup permusuhan dari matanya, tampak tenang dan terkendali, dan dewasa.


Terungkap, alasan lain dia mengenakan kacamata untuk menutupi wajah baby face miliknya. Wajah yang membuat Zeline kesulitan dalam pekerjaan menjadi guru killer.


Kini, itu bukan masalahnya, sebab jantung Zeline kembali berdegup kencang.


Melihat Zeline yang tidak bergerak, Athlas mengerutkan kening, "Tidak nyaman?"


Zeline berkedip menggelengkan kepala. Athlas menghalanginya ketika hendak melepas kacamata.

__ADS_1


"Itu untukmu, Miss. Zeline. Aku bertanggung jawab untuk kacamatamu yang rusak waktu itu. Aku memesannya secara khusus dengan mengikuti lensa dan frame kacamatamu dulu," ucap Athlas dengan senyum limitnya.


Jadi Athlas mengajaknya keluar hanya karena ingin membelikannya kacamata? Seorang vampir memiliki rasa tanggung jawaban. Itu seperti bukan dirinya, batin Zeline takjub.


Sungguh diluar dugaan.


Kacamata ini memang memiliki lensa dan frame yang sama dengan sebelumnya, tapi harganya jelas sangat berbeda.


"Aku tidak bisa──"


"Hmm, apa kau ingin model yang lain? Itu memang terlihat jadul dan tidak keren, atau kau mau aku membelikan semua model kacamata di sini?" seloroh Athlas menghentikan kata penolakan yang hendak Zeline lontarkan.


Dasar si sendok berlian sialan!


"Tidak perlu! Kau sangat berlebihan..." kilah Zeline sesegera.


"Jangan menolak apa yang kuberikan, oke? Atau kau akan menyesal," Athlas sedikit memiringkan kepala. Masih dengan mengulas senyum, dia mengusap kepala Zeline lembut.


Seperti biasa, Athlas tidak memberi kesempatan bagi Zeline untuk menolak. Benar-benar vampir yang pemaksa.


"Baiklah," ucap Zeline pada akhirnya, lalu menepis tangan pemuda tampan itu, "Tapi, kau tidak seharusnya menyentuh kepala gurumu seperti itu."


Oh ayolah, bisa-bisanya Athlas mengancam bersama dengan tindakan yang lembut. Heran saja.


Athlas tertawa dan menggelengkan kepala dibuatnya.


Astaga! Apa-apaan tawa dengan satu dimple itu? Kenapa Zeline baru menyadari betapa bagusnya itu? Kenapa juga jantungnya seperti berdetak dua belas kali sehari?


Jantungnya terus berpacu secara acak.


Sepertinya dia akan mati.


Zeline menyalahkan Athlas, yang terus mengejutkannya.


Aku sudah gila, gila, gila, gila, batin Zeline benar-benar frustasi.


Zeline takut karena dia mempunyai perasaan pada seorang vampir, jika dia tahu mengapa dia seperti ini dan apa yang dia rasakan.


Dia tidak ingin tahu.


Itu sementara ada yang salah dengannya. Itu saja.


Zeline pasti sakit karena sesuatu. Dia harus ke rumah sakit mana?

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2