
Jam delapan pagi, Zeline sudah berada di meja kerjanya. Sedang mengulik apa yang terjadi padanya kemarin.
"Kau tidak ingat, Miss. Zeline? Siswa bernama Athlas menggendongmu di punggung."
"Dia berkata bahwa kau tidur di lantai koridor."
"Ada apa denganmu? Kami semua sangat khawatir. Jangan terlalu memaksakan diri, jaga kesehatanmu."
Zeline hanya bereaksi selama lima detik, "Apa kau serius?"
Jenifer memberikan tatapan aneh, "Tentu saja."
Zeline mengerutkan kening, merasa janggal.
Miss. Jenifer memegang pundak Zeline, "Apa kau berterima kasih pada Mr. Lee Param?"
"Apa?"
"Dia yang mengantarmu pulang, kau harus berterima kasih padanya."
"Yang benar saja, dia..."
Mata Zeline memandangi guru pendidikan jasmani, pria Asia yang usianya lebih tua beberapa tahun darinya. Zeline tidak yakin memiliki hubungan dekat dengan Mr. Param sehingga bersedia repot untuk dirinya.
"Kau harus membelikannya makan siang," saran Jenifer.
Mata Zeline mengerjap. Apa harus?
**
Waktu bergulir.
Pada jam makan siang di sinilah Zeline, makan bersama dengan Lee Param di cafetaria sekolah. Dia merasa kikuk. Selain karena dia tidak dekat dengan orang yang duduk di hadapannya, namun juga karena baru kali ini dia makan bersama dengan seorang pria.
"Aku cukup terkejut ketika Miss. Zeline mengajakku makan siang bersama," celetuk Param.
Berhenti makan, lalu memandang serius pada guru tampan, "Aku ingin berterima kasih untuk kemarin. Maaf telah merepotkan."
"Tidak masalah, lagi pula aku senang melakukan itu," Param tersenyum. Wajahnya teduh. Pandangannya terhadap Zeline bukanlah pandangan lelaki nakal. Lebih ke pandangan sendu dan syahdu.
Selama ini, Zeline juga tidak mendengar isi pikiran Lee Param yang aneh-aneh. Pria itu cukup baik.
"Eh? Maaf?" Zeline tidak tahu arti senang yang dimaksud Param.
"Maksudku senang membantu sesama rekan kerja," sahut Param tertawa ringan, "Kuharap kita bisa menjalin hubungan dekat setelah ini."
Zeline tersenyum menyembunyikan keresahan. Dia sebenarnya agak enggan. Dia tidak ingin dekat dengan lelaki manapun.
"Ah, maksudku hubungan dekat antara rekan kerja," ralat Param tidak mau Zeline salah paham.
Zeline terdiam dan menunduk. Dengan memaksa untuk tersenyum kembali, dia berucap, "...Ya."
Apapun itu, sejujur Zeline ingin menjaga jarak dari siapapun. Entah itu Miss. Jenifer atau Mr. Param. Dia hanya tidak nyaman dengan isi pikiran mereka yang sebenarnya.
__ADS_1
Param melirik, "Apa kau selalu menyisakan ikan? Ternyata ada sisi Miss. Zeline yang pemilih makanan."
"Aku hanya sedikit tidak menyukainya," sahut Zeline lugas.
"Hmm. Bisakah aku mengambilnya?"
Zeline mengernyitkan dahi. Pria yang aneh. Kenapa mau mengambil ikan yang sudah dimakan sedikit?
"Apa kau menyukai ikan?" ceplos Zeline begitu saja.
"Ya, aku sangat suka," jawab Lee Param menatap lurus. Memandangi Zeline membuat salah tingkah.
Mendadak gelisah, Zeline langsung memindahkan ikan miliknya ke piring makan siang Param, "Kalau begitu ambil saja."
Seorang siswi tiba-tiba berdiri di samping meja, "Oh, Miss. Zeline dan Mr. Lee Param?"
"Oh... Kami hanya sedang makan bersama," tanggap Param. Dia berhenti memandang Zeline dan beralih pada siswi itu.
Zeline mengangguk. Mengiyakan.
"Lalu kenapa kalian saling membagi makanan? Bukankah itu sangat romantis?" celetuk siswi itu menaik-turunkan alis.
"Ugh, yang benar saja..." protes Zeline dengan wajah memerah, "Itu tidak berarti apa-apa."
Mengabaikan protes Zeline, siswi itu tertawa berbahak-bahak dan berlalu begitu saja, "Hahaha, guru matematika akhirnya membuka hati! Apakah dia tidak akan marah-marah lagi?"
"Uhuk! Uhuk!" Zeline batuk sampai wajahnya memerah, "Uhuk! Uhuk! Ehem! Ehem!"
Param menyodorkan segelas air putih untuk Zeline, "Kau baik-baik saja?"
"Aku minta maaf tentang apa yang dikatakan siswi tadi, anak-anak memang──"
"Tidak perlu minta maaf, itu tidak masalah," kekeh Param seolah memaklumi.
"Hello, Athlas."
"Hello."
Deg! Jantung Zeline seolah berhenti berdetak beberapa detik tatkala mendengar nama itu.
Terlihat Athlas dari arah pintu masuk cafetaria. Suasana menjadi ricuh karena banyak yang menyapanya, dia benar-benar populer.
Mati aku! Aku harus segera kabur! Aku tidak ingin bertemu dengan vampir jelmaan iblis itu!
"Aku harus pergi! Sampai jumpa lagi, Mr. Param!" pamit Zeline pada Param, yang membuat kebingungan.
Zeline bangkit dari kursi, lalu berjalan menunduk untuk menghindari tatapan dari mata kuning keemasan. Namun, ada sepasang kaki terbalut sepatu berwarna hitam menghentikan langkahnya.
Kepala yang ditundukkan, mendongak melihat si empunya sepatu. Di depannya, berdiri Athlas yang sedang tersenyum. Rahang Zeline mengeras seketika, merasa ledakan sinyal bahaya di dalam dada.
"Apa Miss. Zeline baik-baik saja?" tanya Athlas dengan suara berat magnetiknya.
Pupil mata Zeline menyusut begitu saja. Perasaan ngeri meleleh ke dalam jiwanya dan serial tekstur terukir di wajah tidak dapat di sembunyikan.
__ADS_1
"Monster," ucap Zeline.
Senyum Athlas perlahan memudar.
Zeline melangkah ke samping dan pergi melewati Athlas begitu saja.
Athlas masih berdiri dalam diam. Hingga beberapa detik senyumnya menjulang. Tertawa kecil mengingat ekspresi ketakutan Zeline, "Damn you, Miss. Zeline. Ternyata kau masih ingat."
**
Berlari meninggalkan cafetaria, dan memasuki kamar mandi.
Wanita berkacamata itu bersandar di wastafel. Pantulan wajah yang pucat dan berantakan membuatnya kesal.
"Ahh, aku benar-benar lelah."
Zeline melepas kacamata dan membasuh wajah dengan air. Lalu terdiam beberapa saat dan mengulurkan tangan untuk menyentuh lehernya. Terbayang gigi taring yang menancap di sana.
Kaki lemas Zeline sudah tidak bisa lagi menopang berat tubuhnya. Dia ambruk di atas lantai. Tubuhnya gemetaran. Dia sangat takut.
"Aku tidak bisa terus menghindarinya. Aku harus mengajar di kelasnya saat jam kelima," keluh Zeline merasa tidak bisa melarikan diri.
Mengepalkan lutut, mencoba mengumpulkan keberanian meski hanya seujung kuku jari.
Perlahan Zeline bangkit, dan kembali memandangi diri sendiri di depan kaca, "Eline, kau pasti bisa melewati teror dari vampir jelmaan iblis itu."
Setelah itu, Zeline memperbaiki penampilannya. Memakai kacamata dan merapikan yang berantakan.
Kemudian membuka pintu kamar mandi. Dia melangkah keluar seraya menghela napas dengan mata yang terpejam.
"Baiklah, ayo ke ruang guru dan menyiapkan materi pembelaja──"
"Aku tahu? Aku bertanya-tanya kenapa Miss. Zeline bertingkah lucu seperti kelinci yang ketakutan."
Sontak Zeline berhenti berbicara dan melangkah. Dia takut untuk menoleh ke samping.
"Ngomong-ngomong Miss. Zeline memanggilku monster tanpa perduli dengan perasaanku."
Athlas berdiri dengan bersandar di tembok. Kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana panjang. Kepalanya menoleh, menatap Zeline. Mata kuning keemasannya begitu lekat, begitu tajam, dan begitu... membuat perasaan merinding melanda seluruh tubuh.
Zeline bergeser sedikit demi sedikit. Ngeri kalau tiba-tiba lehernya digigit lagi.
"Apakah kau tahu berapa banyak masalah yang aku alami karena kau kemarin?" tanya Athlas tersenyum sarkastik.
"Masalah?" Zeline semakin ngeri dan hendak lari.
Tidak ingin si wanita berkacamata melarikan diri lagi, Athlas menghalangi dengan menendang tembok di samping tubuh mungil itu. Membuat Zeline mendongak takut.
"Padahal aku telah menghapus ingatanmu, tapi terlihat jelas jika kau tidak lupa. Apakah mungkin karena kau seekor anjing?" desak Athalla menatap intens.
"Anjing?" Zeline tidak bergerak sedikitpun.
Zeline tidak paham. Apa maksud perkataan Athlas?
__ADS_1
_To Be Continued_