
Edinburgh Old Town, pada saat tengah malam.
Lampu penerang jalan tidak terlalu benderang, agak sedikit kontras dengan area Grassmarket yang sepanjang jalan dipenuhi pub, bar, cafe, dan penginapan.
Terlihat seorang pria yang berjalan terhuyung karena mabuk. Beberapa menit setelah langkahnya sampai di sebuah persimpangan, dapat ditangkap satu bayangan samar. Dan di saat yang sama dia berjalan tanpa menyadari beberapa lampu di bahu jalan yang tidak menyala sebagimana mestinya.
Pria mabuk itu diikutinya dari belakang oleh siluet berambut perak sedikit panjang, di dalam kegelapan dapat terlihat mata merah yang menyala. Seorang vampir yang sedang mengintai mangsanya.
Vampir itu langsung menggapai leher pria mabuk itu dan mendorongnya kuat ke dinding jalan yang sepi. Dia membuka mulut dan menampakkan taring tajam yang siap mengigit leher pria malang itu.
"Akh!"
Tidak perduli mangsanya berteriak sekeras apa, vampir ini hanya menghisap darah dengan rasa lapar yang berlebih tanpa henti, hingga merasa puas.
Tap. Suara langkah kaki menginterupsi, membuat vampir berambut perak itu menolah dan melepas korbannya yang sudah tidak berdaya.
"Lihat bajingan ini," sinar bulan yang muncul dari awan gelap menyinari wajah si pemilik langkah itu. Terlihat seorang pemuda berambut hitam dengan mata merah.
Si vampir berambut perak nampak tidak suka acara makannya diganggu oleh vampir lain, "Aku tidak ingin berbagi denganmu."
"Heh?" melirik ke arah manusia yang tergeletak dengan leher yang penuh dengan darah karena terkoyak, mata merah si pemuda berambut hitam berubah dingin, "Apa yang kau lakukan ini benar-benar membuatku kesal. Dasar vampir yang tidak tahu aturan."
"Bocah vampir sialan ini, kau mengoceh apa, ha?" hardik si rambut perak kasar.
"Oh..." pemuda berambut hitam itu memicingkan mata tajam.
Mata itu.
Mata merah yang lebih pekat dibandingkan vampir lainnya.
Mereka seperti mata predator yang terkunci pada mangsanya. Predator sesungguhnya.
Mereka membuatnya seperti diburu...
__ADS_1
Dan pikiran itu mengirim gelombang kejut ke tubuhnya.
Mata vampir berambut perak terbelalak. Dia baru saja menyadari dengan siapa dia berhadapan sekarang, yang lebih menakutkan daripada dirinya sendiri.
"Kau adalah... Athlas?" si vampir berambut perak nampak gemetar ketakutan.
Athlas menyeringai, "Oh, bukankah sudah terlalu terlambat untuk menyadarinya sekarang?"
"A-ampun, aku tidak tahu. Tolong maafkan aku," si rambut perak benar-benar takut.
"Apa aku harus mempertimbangkan ampunan untuk vampir yang menentangku? Sudah berapa banyak manusia yang sudah kau bunuh, hmm?"
Aura di sekitar mendadak berat dan mencekam. Si vampir berambut perak terduduk dengan lutut yang tertekuk, tubuhnya menjadi lemas tidak berdaya, bahkan untuk menggerakkan jemari saja tidak bisa. Dia hanya bisa berkeringat dingin dan gemetaran. Athlas mampu membuatnya bergeming dengan mudah.
"Kau mungkin berpikir bahwa aku akan diam saja sementara kau berkeliling membunuh manusia dan menunjukkan keberadaan vampir dengan bangganya. Ahh... Sayangnya, aku tidak mempunyai niat untuk diam saja."
Gumpalan darah mengelilingi si vampir yang ketakutan, lehernya dicengkeram oleh darah-darah itu hingga terangkat ke atas. Dia hanya bisa merasa sesak hingga sama sekali tidak bisa berkata apa-apa.
"Jika aku bisa membuat kau yang bersikap keras berlutut, dan aku juga bisa menghancurkanmu," sambung Athlas dengan kata-kata yang penuh penekanan.
Kemudian jeritan demi jeritan terdengar begitu memilukan dan penuh kesakitan, diiringi suara kertak tulang yang patah dan daging yang terbelah memecah kesunyian malam. Kini aroma malam itu dipenuhi dengan anyir darah yang pekat terbawa angin.
Athlas. Sebuah keberadaan yang mengatur para vampir. Dia adalah vampir pertama yang ada sampai saat ini. Jenis yang bisa hidup selamanya, kecuali dibunuh dengan perak dan tidak bisa menua. Dia memiliki berbagai keterampilan dan kemampuan, kekuatannya sangat ditakuti. Leluhur dari para vampir, yang lebih dikenal dengan sebutan ketua klan darah.
Sepanjang hidupnya, Athlas harus berpura-pura hidup sebagai anak laki-laki biasa. Selama ini dia menyembunyikan identitas aslinya sebagai vampir dari kalangan manusia, dan lebih penting agar bangsa vampir hidup tenang meski harus selalu bersembunyi.
Selang beberapa waktu, bunyi-bunyi mobil ambulans terdengar. Dari atas gedung yang menjulang tinggi, sepasang mata merah menyala milik Athlas memperhatikan keributan itu.
"Yaah... Ini cara yang cepat untuk membereskan pengacau," ujarnya dengan tatapan menerawang ke depan.
"Aku yakin besok akan masuk berita utama," ucap Nathaniel yang muncul dari arah belakang.
"Bukankah itu tugasmu? Gunakan uangmu untuk mengurusnya. Jangan biarkan media melaporkan berita itu, hilangkan semua bukti tentang keberadaan kaum kita," Athlas memerintah dengan tegas.
__ADS_1
"Hahh, merepotkan," keluh Nathaniel menghela napas panjang. Namun, dia tidak mungkin tidak melakukannya, karena dia sudah menjadi yang terpilih untuk membantu Athlas mengatur para vampir.
Athlas memejamkan mata merasakan desir angin yang menyentuh setiap helai rambut hingga membelai wajahnya, dingin yang menusuk kulit tidak berarti apapun. Athlas membuka kembali kelopak matanya, menampakkan iris mata kuning keemasan.
"Ugh... Bau manis yang tidak enak," protes Nathaniel menutup hidung dengan punggung tangan. Dia mencium aroma Zeline yang tertinggal di tubuh Athlas.
"Apakah begitu?" Athlas menoleh ke belakang.
"Ya, di mana kau meninggalkan anjing itu?" tanya Nathaniel yang merujuk pada si lycan wanita yang ditemuinya tadi siang.
"Aku mengantarnya pulang," jawab Athlas eksplisit.
"Lee Param... Kudengar dia guru di sekolahmu. Kau sudah bertemu dengannya? Kau dalam masalah sekarang, bodoh," tukas Nathaniel terlihat khawatir.
"Lee Param...?" Athlas diam sejenak. Detik berikutnya, dia teringat guru pendidikan jasmani di sekolahnya, "Ah... Lycan itu."
"Itu benar. Seorang lycan berdarah murni, berikutnya yang akan menjadi kepala suku."
"Aku tahu, 'Grace Param' itu yang pernah aku dengar mereka memanggilnya di Vatikan," sahut Athlas, selalu hidup berpindah-pindah tempat yang memungkinkan untuk berkeliling ke penjuru dunia, membuatnya tahu banyak hal.
"Rumor tentangmu yang ikut campur dalam urusan lycan telah kemungkinan besar menyebar sekarang," ujar Nathaniel memberi peringatan.
"Itu tidak masalah bagiku. Aku sudah lama hidup, mungkin ini saatnya untuk mati," Athlas mengangkat bahu acuh, seolah-olah lelah dengan kehidupan abadinya.
"Asal kau tahu, lycan selama bertahun-tahun menjadi milik manusia dan seiring waktu darah mereka menipis. Darah yang terus-menerus dilemahkan oleh kelahiran anak-anak manusia, secara bertahap menghasilkan seorang anak yang lebih dekat dengan manusia daripada lycan..."
"Lycan wanita, mempunyai kemampuan lebih tinggi untuk menghasilkan lycan yang kuat, dan lycan sangat ingin mempertahankan hubungan darah."
"...Sepertinya Lee Param sedang melihat gurumu itu. Apa yang akan kau lakukan?" ucap Nathalia panjang lebar.
"Yang kulakukan...?" gumam Athlas.
"Kau tidak benar-benar menjalin hubungan dengannya, 'kan? Kau pasti hanya berencana bermain-main dengan lycan wanita itu," desak Nathaniel.
__ADS_1
Athlas terdiam, namun alis mata kirinya akan naik saat dia kebingungan.
_To Be Continued_