
"Aku butuh darahmu. Dan untuk pertukangan itu, kau bisa melakukan apapun denganku."
Merinding bulu kuduk Zeline mendengar ucapan Athlas. Ketika dia meresapi kata demi kata, dia merasa ingin lari sejauh mungkin saat ini juga.
"Apa yang terjadi jika aku menolakmu?" tanya Zeline semakin kacau, "Dan juga, apakah aku bahkan... memiliki hak untuk memilih?"
Athlas tidak menjawab. Dia hanya tersenyum kecil di ujung bibirnya. Tangan yang memegang dagu Zeline bergerak turun mengarah persis ke arah leher.
Zeline hanya kembali ketakutan dan ketakutan. Matanya mendelik saat merasakan jari-jari solid yang siap mencekik lehernya, napasnya memburu dengan dada kembang kempis.
Seolah-olah memang tidak mengizinkan Zeline menolak. Suka atau tidak, Zeline harus memberikan darahnya. Jika tidak, lehernya akan dikoyak.
"...Kumohon lepaskan," lirih Zeline mencoba melepaskan diri.
"Hmm, apa sakit? Bahkan aku tidak menggunakan kekutan," Athlas berucap dengan senyum provokasi.
Ya, cengkraman tangannya memang sama sekali tidak kencang. Tidak, tapi belum.
"Tidak. Please, lepaskan. Aku... Aku akan lakukan," pinta Zeline memelas.
Athlas akhirnya melepaskan leher Zeline. Ekspresi puas terlihat di wajahnya yang tampan.
"Ahh, aku selamat," gumam Zeline memegangi leher. Kakinya sudah sudah seperti jeli. Bila dia masih bersama Athlas, dia bisa pingsan sebentar lagi.
"Ingat, Miss. Zeline. Jika kau berkeliling dan memberitahu semua orang tentangku. Aku akan mengikuti dan mengganggumu selamanya," ujar Athlas menasihati Zeline.
Dan membunuhmu.
"Ya."
Mengangguk, menelan saliva. Menguatkan hati dan diri. Zeline sudah sadar sejak awal bahwa itu akan terjadi padanya. Sekarang, tinggal membuat waktu semakin panjang agar dirinya terhindar dari kematian.
Athlas melangkah, menjauh. Dia berjalan menuju sisi lorong sebelah kanan, tanpa menoleh melambaikan tangan, "Aku akan pergi!"
Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Athlas pergi tanpa memperdulikan kondisi Zeline yang masih merasa ngeri.
"Bekerja sama dia bilang? Lebih seperti pengorbanan sepihak di bagianku!" gumam Zeline meratapi nasib.
Itu adalah hari biasa, sampai sekarang.
Sudah dipastikan, sang vampir akan terus meneror Zeline ke depannya.
**
Karena Athlas adalah muridnya, dia tidak memiliki pilihan selain bertemu satu sama lain. Fakta ini membuat Zeline takut dan takut.
Vampir itu pasti akan meminta darahnya kapan saja.
__ADS_1
Dan meski Zeline tahu, dia masih terus gelisah jika akan berakhir mati kehabisan darah.
"Miss. Zeline. Anda tidak pergi ke ruang rapat?"
"Saya akan segera ke sana."
Ah, Zeline hampir melupakan rapat guru pada pagi ini, terima kasih untuk mengingatkan. Tanpa membuang waktu lagi, dia memutuskan untuk pergi ke ruang rapat.
Sesampainya di ruang rapat, wakil kepala sekolah sudah menunggu kedatangan para guru. Dan Zeline segera duduk di kursi yang sudah disediakan.
Rapat pun dimulai.
"Mungkin kalian semua sudah tahu, sementara kami menyarankan untuk tidak memaksa murid belajar. Jangan memaksa belajar tapi temukan krisis belajar mereka, dengan menjadikan mereka masuk ke universitas terbaik di Edinburgh, kepala sekolah memiliki harapan yang tinggi..."
Namun, Zeline tidak fokus. Dia justru memikirkan apa yang dikatakan Athlas tempo hari. Ada sesuatu yang tidak bisa dia abaikan begitu saja.
"Miss. Zeline? Apa anda mendengar?"
Sontak Zeline mengenyahkan pemikiran itu. Merasa malu karena ketahuan tidak fokus.
"...Ya, saya mendengar," jawabnya.
"Semuanya tolong fokus," ujar wakil kepala sekolah pada para guru yang berada di ruang rapat.
Zeline hanya mengangguk mendengar itu, dirinya sempat melirik Mr. Lee Param yang menatapnya.
"Dan persiapan selanjutnya, perpustakaan baru yang telah disebutkan. Kami akan menyediakan perpustakaan profesional tahun depan jika kontruksi sudah selesai. Sampai pembukaan kelas musim dingin, salah satu guru akan bertanggung jawab atas penyelanggaraan buku."
Zeline mengernyitkan dahi tatkala wakil kepala sekolah menatapnya kembali, perasaannya menjadi tidak enak.
"Jadi, sejak Miss. Zeline sudah bertanggung jawab dalam perencanaan acara membaca, saya ingin jika anda mengambil posisi itu."
Benar saja, Zeline mendapatkan pekerjaan tambahan yang pastinya akan membuat lebih lelah lagi.
Kelihatannya, kebijakan membuat tekanan tidak hanya ditargetkan pada murid.
Setelah rapat yang berlangsung kurang dari satu jam, wakil kepala sekolah membubarkan para guru untuk kembali ke tempat masing-masing.
Terlihat tiga siswi yang berjalan di koridor ketika Zeline keluar dari ruang rapat. Matanya terbelalak karena familiar dengan salah satu siswi itu.
"Kenapa makan roti di pagi hari?"
"Kalau aku tidak sarapan, perutku akan keroncong sepanjang hari. Itu akan memalukan jika aku membuat berisik selama kel──"
"Tunggu!" seru Zeline menghentikan langkah ketiga siswi itu, yang membuat obrolan mereka terhenti.
Siswi berambut panjang bergelombang dengan nametag Stella Ketlovly bertanya penuh kebingungan, "Ada apa, Miss?"
__ADS_1
Zeline mengingatnya. Stella adalah gadis yang digigit Athlas di belakang sekolah.
"Kau masih hidup?" ceplos Zeline begitu saja.
"Hah?" Stella terlihat tidak paham, tentu saja dia masih hidup.
Zeline memegang kedua pundak Stella, "Oh, syukurlah."
Dia memeriksa leher Stella yang mulus. Tidak ada bekas gigitan vampir di sana. Apa hilang seperti dirinya? Tapi Zeline senang mengetahui fakta jika gadis ini masih hidup. Tenyata Athlas tidak membunuhnya.
"Aku melihatmu dengan Athlas di belakang sekolah, kau──hmpt!"
Ucapan Zeline terhenti saat Stella membungkam mulutnya dengan tangan. Kemudian gadis itu menatap kedua temannya, "Kalian duluan saja, aku ada perlu dengan Miss. Zeline."
"Oh, oke."
Stella menarik Zeline menjauh, pergi ke tempat yang cukup sepi. Mereka berhenti di samping tangga.
"Apa Miss benar-benar melihat kami di belakang sekolah?" tanya Stella to the point.
"Ya, aku mengikuti kalian berdua. Aku kira kau sudah mat──"
Lagi, Zeline tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena Stella menyela dengan cepat, "Kumohon rahasia ini."
"Huh?" Zeline mengerjap heran.
"Tentang aku yang menyatakan cinta pada Athlas, akan memalukan jika aku yang palingan cantik di kelas ditolak. Jadi, kumohon Miss. Zeline merahasiakannya," pinta Stella memelas.
Karena aku sudah bilang pada teman-temanku jika Athlas yang kutolak.
Yang benar saja!
Padahal Zeline sangat menghawatirkan gadis di depannya itu. Tapi apa yang dikatakan Stella membuatnya tidak bisa berkata-kata.
Sepertinya Stella tidak ingat tentang dia yang digigit vampir. Athlas telah menghapus ingatannya. Itu bekerja, akan tetapi tidak bekerja terhadap Zeline.
Mengingat tentang keberadaan vampir dan lycan. Sebenernya sulit untuk dipercaya, tapi Zeline sudah ditampar oleh kenyataan dengan bertemu vampir sungguhan.
Apa aku benar-benar lycan campuran? Itulah mengapa aku berbeda...
Namun, ada sesuatu yang Zeline khawatirkan.
Dia tidak akan berubah menjadi serigala, bukan?
Zeline berpikir kritis. Tidak bisa membayangkan kalau-kalau dirinya berubah menjadi seekor serigala wanita.
Itu tidak akan pernah terjadi, 'kan?
__ADS_1
_To Be Continued_