Terjerat Murid Vampir

Terjerat Murid Vampir
Tertangkap


__ADS_3

Terlihat Zeline yang mencoba memfokuskan pikiran pada buku yang dia baca, kegiatan yang selalu dia lakukaan setiap malam di kala senggang. Meski menyangkal, faktanya dia memang sangat suka membaca buku. Lihat saja, banyak buku yang tersusun rapi di rak, buku apapun itu yang menarik baginya.


Namun, tidak seperti biasanya. Malam ini Zeline sulit sekali berkonsentrasi. Buku itu sudah dia baca satu jam yang lalu, tetapi dia belum beranjak dari halaman pertama.


Athlas Aldridge benar-benar mengganggu pikirannya. Bagaimana bisa dia bersantai di saat ada vampir yang duduk di bingkai jendela dan menatapnya lekat. Jika ingin jujur, pemuda itu lebih menarik dari apa yang sedang dilakukannnya, dia terlalu gugup untuk membalas tatapan dari mata kuning keemasan.


Zeline menutup buku yang dia pegang, kemudian bersandar pada kursi dan membenarkan posisi kacamatanya yang melorot. Percuma saja dia membaca buku ini, dia tidak benar-benar membacanya. Athlas benar-benar pengacau hati dan jalan kehidupannya yang bagus.


"Kenapa kau selalu menerobos masuk ke rumahku lewat jendela?" ketus Zeline yang sudah tidak tahan lagi.


"Itu lebih mudah untukku," kekeh Athlas cuek.


Sudah lewat dua minggu sejak Zeline keluar bersama Athlas.


Sang vampir selalu datang padanya dengan wajah yang tampan. Membuat kepalanya pusing. Zeline kira itu sebabnya Athlas disukai semua orang.


Tidak hanya itu, Athlas begitu wangi. Wangi bunga musim semi yang lembut dan manis.


Penciuman Zeline semakin tajam semenjak dia heat, hormon lycan pada dirinya semakin berkembang. Dia bersyukur karena hal ini tidak terlalu mempengaruhi aktivitas sehari-harinya, selagi dia tidak dekat-dekat dengan Lee Param.


Selama ini, Zeline menghindari Param sebisa mungkin, dia takut terpengaruh dengan feromon lelaki lycan itu lagi. Namun sialnya, dia tidak bisa menghindari Athlas.


Seperti saat ini.


"Apa yang sedang kau pikirkan hingga berkerut seperti ini, hmm?"


Ketika merasakan sentuhan dingin dari jari telunjuk Athlas di antara kedua alisnya, Zeline terkejut dan hampir terjatuh dari kursi. Wajahnya panas seketika.


"Ti-tidak ada," kilah Zeline gelagapan. Menundukkan kepala, tidak berani menatap wajah sang vampir yang berada tepat di depannya.


"Lihat aku, Miss!" desak Athlas menyentuh dagu Zeline, kemudian mendongakkan kepala sampai kedua mata mereka bertatapan. Melihat Zeline yang memandangnya seperti itu, dengan wajah yang penuh antisipasi, "Kau kenapa? Masih takut padaku?"


"Ya? Ya, aku kepanasan! Bukankah suhu di sini sangat tinggi?" jawab Zeline dengan sedikit terbata, setengah berteriak.


Sial, betapa konyolnya aku, batin Zeline riuh.


"Oh?" menyadari respon Zeline yang jelas terlihat sangat panik, Athlas tersenyum tipis, "Mungkinkah kau jatuh cinta padaku?"

__ADS_1


Oh, double sial. Kali ini sangat tepat sasaran.


Dari semua cara untuk tertangkap. Kenapa wajahnya harus memerah saat ini juga? Tidak, Zeline benci bagaimana dia tidak pernah bisa menyembunyikan emosinya. Bahkan dia tidak yakin dengan apa yang dia rasakan.


"Apa, tidak mungkin! Apa kau pikir aku benar-benar tersipu... " sangkal Zeline bersikeras, "...Aku jatuh cinta padamu? Kau pikir aku siapa?"


"Pftt," Athlas menahan tawanya yang ingin meledak.


Zeline menarik napas. Dalam hati, dia membayangkan sedang mencakar Athlas, memukuli dan menjambak rambut hitam sang vampir hingga lepas semua dan menjadi botak.


Apa menggodanya begitu menyenangkan bagi pemuda vampir itu? Athlas sangat menyebalkan, dia ada vampir jelmaan iblis. Zeline tidak bisa memahaminya, dan dia membencinya, tapi...


Kenapa jantungnya masih berdegup kencang? Zeline benar-benar kehilangan akal.


"Aku benar, bukan?" desak Athlas menyeringai.


Mata Zeline mendelik lebar. Vampir gila! Masih saja berlanjut menggoda!


"Hentikan!" Zeline melengos dan mendorong Athlas. Bibirnya cemberut, mengerucut ke depan.


"Tidak! Kau bukan! Aku bilang bukan itu!" gusarnya, berdiri dan melangkah ke rak buku di sudut ruangan, hendak meletakkan buku yang tidak jadi dia baca.


Langkah kaki Zeline menghentak, lalu meletakkan buku dengan agak kasar. Dia marah, entah pada siapa. Pada keadaan, pada Athlas, dan mungkin pada dirinya sendiri.


"Ah... Astaga. Salahku terlahir begini. Daftarnya bertambah lagi," seloroh Athlas dengan raut wajah yang sengaja dibuat tertekan.


"Hey!" seru Zeline dalam posisi membelakangi Athlas.


Apakah sekarang nama Zeline Hallensa sudah tercatat di dalam daftar orang yang menyukai Athlas? Bing no!


"Jangan berusaha keras untuk menyembunyikannya itu tertulis di seluruh wajahmu. Tidak masalah, aku mengerti."


"Aku bilang bukan itu! Dengarkan aku!"


Lagi. Zeline terus berusaha menyangkal.


Tiba-tiba sang vampir sudah berada tepat di belakang Zeline yang masih menghadap rak buku, kedua tangannya mengunci di kedua sisi tubuh gadis mungil itu. Pergerakan Athlas benar-benar cepat. Suara beratnya menyapa Zeline dari belakang, "Oke. Aku akan mendengarkan Miss. Zeline, jadi bicaralah. Jadi itu apa?"

__ADS_1


"J-jadi, bukan itu..." Zeline menelan saliva berat, posisinya saat ini sungguh membahayakan.


"Hah? Itu bukan apa? Mengapa kau memerah?" pancing Athlas menjilat daun telinga Zeline.


Dia semakin resah. Lalu Zeline menoleh ke kiri, yang membuat keduanya saling tatap. Dalam sekian detik mata Athlas terlihat berbeda. Tidak ada keangkuhan dan keganasan, hanya ada... Kelembutan.


Ditatap terus membuat Zeline salah tingkah, "Kau... Serius! Aku lebih suka kau tidak berbicara dan bertingkah menyeramkan! Bagaimana kau berubah 180° begitu cepat!"


Sesuatu yang dilakukan atau ekspresi Athlas tidak pernah bisa ditebak. Senyum dan tawa bisa diganti dengan seringai ganas dalam sekejap. Kelembutan bisa bertukar dengan kengerian dalam hitungan detik. Ingin mendengar apa yang dipikirkan pemuda itu, tetapi Zeline sudah berjanji untuk tidak melakukannya lagi.


Athlas tersenyum geli, "Aku tidak tahu. Aku tiba-tiba dalam suasana hati yang baik."


"Ah, aku sedang bad mood sekarang! Menjauh dariku!" kesal Zeline.


Bukan Athlas Aldridge namanya jika menurut begitu saja. Dibaliknya tubuh Zeline hingga mereka berdua berhadapan, tangan kekarnya merayap di pinggang, memeluk.


"Aku senang, jadi tidak masalah."


"Kenapa kau!"


Jantung Zeline berdetak kencang. Getarannya sampai menghajar kalbu. Tangan Athlas di pinggang ditarik, diangkat, agar lepas dari tubuhnya.


Namun, semakin Zeline berusaha melepaskan diri dari pelukan, lelaki itu justru semakin kencang memeluk, dan dia kembali tidak berdaya. Kecupan dingin Athlas hadir di lehernya, dia tahu apa yang diinginkan vampir itu.


"Bisakah kau tidak melakukan skinship? Gigit langsung saja," Zeline sedikit menggeser letak kepala Athlas. Dia belum terbiasa dengan segala sentuhan-sentuhan itu, rasanya benar-benar aneh.


"Apa kau yakin? Aku hanya ingin membuatmu relaks, kau akan berakhir sangat kesakitan jika lehermu tegang."


Apanya yang relaks? Yang ada menjadi setegang kayu!


Zeline takut jika Athlas dapat mendengar detak jantungnya, seperti dia yang dapat merasakan hembusan napas dingin di kulit lehernya.


Mungkin... Zeline harus membiarkan momen ini.


Karena itu hanya gigitan dari mahkluk penghisap darah...


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2