
"Julukan lidahmu."
"Untuk apa aku melakukan itu?" tanya Zeline tidak paham.
Tangan Athlas mencengkram pipi Zeline kasar, "Sudah kubilang, kau akan mendapatkan hukuman."
Semua hal yang dilakukan sang vampir terasa menyakitkan, Zeline tidak tahu apa yang akan Athlas lakukan. Dia benar-benar takut hingga hanya bisa patuh menjulurkan lidah.
Detik berikutnya, Zeline dibuat sangat terkejut saat wajah Athlas mendekati wajahnya dan secepat kilat menyambar lidahnya.
"Apa yang..."
Kedua mata Zeline terbelalak lebar.
Bibir keduanya bersentuhan. Tidak hanya itu, Athlas mengigit lidah Zeline dengan taring tajam hingga berdarah, dapat dirasakan rasa anyir di mulutnya.
"...Sa...!"
Sakit.
Mencoba memberontak, tetapi sia-sia. Setiap gerakannya tidak dapat menyingkirkan si pemuda vampir. Liquid bening lolos begitu saja dari sudut mata, lidahnya terasa panas dan menyengat.
Napas Athlas terasa menerpa wajah berkacamata itu. Dapat tercium aroma yang sama bagusnya dengan rambut Zeline, karena dia baru saja mandi dan mengunakan shampo yang sama.
Zeline mulai menangkap gerakan lidah Athlas yang bergumul di dalam mulutnya. Menghisap darah yang keluar, ******* setiap tetes darah segar dengan penuh penghayatan.
Sementara sisi jiwa liar Athlas berkobar, dia tidak bisa berhenti. Dia dimabukkan dengan rasa manis dari darah dan bibir Zeline.
Seperti ini lagi...
Napasnya hampir habis. Kaki Zeline melemas, tidak bisa lagi berdiri. Kesadaran mulai mengikis dan menjadi gelap.
**
Vampir jelmaan iblis sialan.
Tidak hanya mencuri darahku, tapi juga mencuri ciuman pertamaku.
Aku tidak pernah mengharapkan ciuman pertama yang seperti itu.
Ding Dong
"Itu saja kelas..."
Zeline mengakhiri kelas dengan suram dan tidak bersemangat. Lalu meninggalkan kelas dengan gontai, tanpa acuh dengan murid-murid yang menatap heran dengan perilakunya yang tidak biasa.
Sang guru matematika terlihat frustasi.
"Ada apa dengannya...?"
"Entahlah, terlihat lelah dalam hidup ini."
"Ekspresi wajahnya lebih menyeramkan dari yang kemarin."
Hari ini suasana hati Zeline memang buruk, lebih tepatnya sejak dia bangun di pagi hari. Dia bangun dengan perasaan ngeri karena masih teringat apa yang terjadi semalam, meski sudah tidak ada keberadaan Athlas di kamarnya.
Aku tidak ingin bertemu dengan vampir terkutuk itu lagi! batinnya kembali berteriak frustasi.
__ADS_1
Tangan Zeline terulur memegang mulutnya, masih teringat jelas bagaimana rasa lidahnya digigit dengan tidak berperasaan.
Namun.
Tiba-tiba Athlas muncul dari jendela kelas yang Zeline lewati.
"Apa lidahmu masih sakit, hmm?"
"Gyaa!" Zeline refleks memekik dan memegang dadanya.
Zeline menyesal karena telah menempatkan murid vampir itu si kursi dekat jendela. Dia tidak berpikir jika Athlas akan mengejutkannya dengan cara seperti itu.
Athlas memangku dagu dengan telapak tangan pada tepian jendela. Dia tertawa melihat betapa konyolnya ekspresi Zeline, "Kau sangat jelek saat terkejut."
Tangan terkepal menahan luapan emosi, Zeline menatap Athlas dengan wajah merah padam. Suasana hati yang buruk semakin buruk. Dia kesal sekali hingga nyaris memaki Athlas dengan kencang.
"Apa itu lucu? Apa mempermainkanku begitu menyenangkan bagimu?" tanpa Zeline sadar dan inginkan, muncul sudah pertanyaan itu.
Sementara Athlas berhenti tertawa, sekejap berubah datar.
"Kau..."
Kau harus menutup mulutmu, Eline.
Pikirannya mengatakan untuk berhenti berbicara, tapi Zeline tidak bisa berhenti.
"Kau sudah mencuri ciuman pertamaku. Tidakkah kau menyesal?"
Athlas nampak terkejut sesekian detik, dan tersenyum sinis setelahnya, "Heh? Kau marah hanya karena ciuman pertama?"
Benar-benar bajingan.
"Itu sangat berarti bagiku, tapi kau justru mencurinya dengan cara seperti itu," desis Zeline berang.
"Begitukah?" sahut Athlas memicingkan mata, "Ck! Kau sangat kolot, Miss. Zeline. Lagipula itu hukuman buatmu, salahkan dirimu sendiri."
"Tidak, aku tidak terima," kilah Zeline terengah marah.
"Lalu apa peduliku?" ujar Athlas berwajah datar dan dingin, yang membuat telinga Zeline makin panas.
"Kau membuatku merasa kotor," tegas Zeline dingin.
Athlas mendelik tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Seketika rahangnya mengeras.
"Miss. Zeline? Kenapa kau masih di sini? Aku kira kau sudah berada di perpustakaan."
Zeline langsung menoleh, dan melihat Miss. Jenifer yang datang dari arah tangga. Dia pun menghampirinya. Mengambil kesempatan untuk meninggalkan obrolan menguras emosi itu.
"Aku dalam perjalanan ke sana."
"Kudengar Mr. Param membantumu memasang pengumuman untuk mencari asisten pustakawan."
"Ya."
"Apa kau menjadi dekat dengannya?"
"Tidak juga."
__ADS_1
"Dia selalu saja baik padamu, aku merasa iri."
"Kenapa kau iri? Kami hanya..."
Sementara Athlas masih diam di tempat. Mata kuning keemasan menatap tajam punggung Zeline yang menjauh, "Bukankah kata-katanya terlalu kasar?"
**
Di perpustakaan sekolah.
Suasana sepi di antara rak-rak buku yang menjulang tinggi. Hanya ada Zeline yang terlihat duduk di kursi bagian pojok.
Gerakan tangan Zeline yang sedang menggunting kertas mendadak terhenti. Masih terbayang-bayang ekspresi terakhir Athlas, seperti ingin menelannya hidup-hidup. batinnya sedang menyesal.
Mati aku, sebentar lagi aku akan mati...
Apa yang baru saja kukatakan pada Athlas?
Kenapa aku mencari gara-gara dengannya?
Harusnya aku tidak sok berani!
Kau bodoh, Eline! Mulutmu tidak bisa di rem!
Batin Zeline bergemuruh dengan penyesalan. Dia tidak fokus dengan pekerjaan yang dilakukannya saat ini.
Sebuah minuman kaleng dilekatkan di meja, tepat di depan Zeline, yang membuatnya langsung mendongak.
Lee Param berdiri menghalangi silau dari lampu yang menggantung di langit-langit, menerbitkan senyum tatkala matanya bertemu dengan mata Zeline, "Minum ini."
Zeline kembali menunduk, menatap dalam diam kaleng cola yang diberikan Mr. Param. Sesekian detik berikutnya, dia berucap tanpa melirik pria itu, "Aku tidak bisa menerimanya."
Ada maksud di balik kebaikan, Zeline yakin itu.
Param menanggapi, "Ah, apa kau tidak menyukai cola?"
"Tidak, aku hanya tidak bisa. Aku tidak bisa menerima kebaikan atau bantuan darimu."
"Kenapa?" tanya Paham dengan nada gamang.
Zeline berdiri dari kursi dan menatap dengan kilat mata tegas, "Terlepas dari siapa sebenarnya dirimu, kau pasti menginginkan sesuatu dariku."
Lelaki itu mengernyitkan dahi. Perkataan Zeline mengejutkannya. Melihat wanita berkacamata itu dengan seksama, dan mulai tersenyum tipis, "Jadi, kau sudah tahu siapa sebenarnya aku?"
Tiba-tiba Zeline dapat mencium aroma yang enak. Tidak, lebih seperti aroma yang lembut...
"Kau seorang lycan, bukan?" ucap Zeline bernada tegas.
Ah, mengesalkan, batin Param tidak dapat disembunyikan lagi.
Seisi ruangnya menjadi senyap, Zeline menjadi merasa sedikit pusing karena bau aneh yang menyapa indera penciumannya.
Param menumpukan tangannya di pinggir meja, memejamkan matanya sesaat dan menatap Zeline yang terlihat mengerutkan kening, "Apa si bajingan ketua klan darah yang memberitahumu?"
Tidak menjawab, karena terkejut dengan fakta lain. Pupil mata Zeline melebar dibuatnya. Ketua klan darah? Jadi Athlas bukan vampir biasa?
_To Be Continued_
__ADS_1