
"Bolehkah aku menggigitmu?" suara Athlas muncul di hadapannya, hingga Zeline menatap terbelalak. Mata merah itu sangat pekat jika dilihat dari dekat.
Zeline berkedip beberapa kali, mencoba mengenyahkan perasaan takut, didorongnya dada Athlas yang semakin menghimpit, "Tidak!"
"Apa aku mengatakan kau bisa berkata tidak, Miss. Zeline?" Athlas tersenyum provokasi.
Tidak! Aku belum menyiapkan diri untuk mempersembahkan leherku, ini terlalu tiba-tiba, aku membutuhkan waktu... Setidaknya untuk pemanasan!
Berteriak dan menangis di dalam hati. Zeline menutup mata, mencoba menghindar sebisa mungkin saat wajah Athlas semakin mendekati lehernya.
"Tapi... Tapi kau sangat bau."
Terdiam, dan hening.
Zeline menelan saliva dengan susah payah, tidak berani membuka mata, dia takut melihat wajah murka sang vampir. Sungguh, dia tidak bermaksud mengumpat Athlas, meski pemuda itu beraroma darah bercampur tanah.
"Aku mau mandi."
"Eh?" sontak membuka dan terperangah. Zeline menatap Athlas dengan seksama, mata merah sudah berubah menjadi mata kuning keemasan.
Jadi itu bukan softlens?
Tanpa sadar Zeline terpesona ketika matanya bertemu dengan sepasang mata indah dan jernih milik Athlas. Begitu berbeda dengan mata merah yang tadi membuatnya ketakutan setengah mati.
"Tunjukkan kamar mandimu!" titah Athlas memasang ekspresi datar.
Sontak Zeline tersadar dan menjadi kikuk. Dia bertanya agak ragu, "Kau benar-benar ingin mandi?"
"Hmm!" gumam Athlas tegas.
Benar saja, Athlas bangkit dari tubuhnya. Lalu memberi isyarat dengan menggerakkan dagu agar Zeline segera menunjukkan jalan ke kamar mandi.
Zeline buru-buru meloncat dari ranjang tidurnya. Melangkah menuju pintu kamar dan membukanya dengan perlahan. Kepalanya melongok keluar, menolah ke kanan dan kiri, memastikan sang nenek sudah tidur. Lalu menghela napas lega tatkala melihat ruang tamu dan dapur yang gelap, karena lampu sudah dimatikan.
Kemudian Zeline menoleh ke belakang, menempelkan jari telunjuk di bibir dan berucap pelan pada Athlas, "Shttt... Nenekku sedang tidur, jadi tenanglah dan jalan dengan perlahan."
"Oke," Athlas hanya menurut dan mengikuti langkah Zeline.
Aku ingin segera mandi dan menghisap darahnya.
Aku sudah cukup sabar menahan rasa lapar.
"...Y-ya, nanti kau bisa melakukan apa yang kau inginkan," cicit Zeline dengan wajah pucat.
Zeline tahu sekali, vampir itu pasti tidak akan melepaskannya seperti saat di perpustakaan. Jadi, dia hanya mencoba menerima nasib yang sudah tidak bisa dihindari.
Athlas menyeringai, "Kau mendengar pikiranku lagi, huh?"
__ADS_1
Langkah Zeline berhenti di depan kamar mandi, dia tidak menjawab pertanyaan Athlas dan langsung berucap dengan cepat, "Kau bisa meletakkan baju kotormu di mesin cuci, aku akan mencucinya. Aku tidak suka kau memakai baju yang dipenuhi darah."
Zeline pun langsung berlalu meninggalkan Athlas. Lebih tepatnya melarikan diri.
Di dalam kamar Zeline mengobrak-abrik lemari pakaian untuk mencari sesuatu yang dapat dipakai pemuda itu. Dia menemukan baju training hitam berukuran besar.
"Ini adalah pakaianku yang paling besar. Kupikir Athlas bisa memakainya," gumam Zeline yakin dengan pilihannya.
Setelahnya, dia bergegas ke kamar mandi. Dan sesampainya di depan pintu kamar mandi, tangannya terulur mengetuk pintu dengan pelan.
Knock Knock
Hanya terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi, yang menandakan Athlas belum menyelesaikan acara mandinya.
"Hey, aku akan meletakan baju ganti di depan pintu. Tidak apa-apa, kau bisa memakai punyaku."
Zeline berjongkok untuk meletakkan pakaian yang dibawanya di depan pintu.
"Oke," jawab Athlas.
Tiba-tiba pintu terbuka dengan perlahan.
"Berikan saja padaku."
Terlihat Athlas yang tidak memakai apapun. Hanya ada handuk yang disampirkan di pundak.
Terdiam dalam posisi jongkok. Mata Zeline terbelalak. Bola matanya hendak melompat dari kelopak saking lebarnya dia membuka mata. Garis rahangnya menjadi kaku seketika. Kepalanya mendongak, lalu sekian detik kemudian menunduk.
Lelaki itu... Tel-anjang.
"...Ke, Kenapa...?" masih terus terbata dengan mata terbelalak.
Sementara Athlas masih santai menggosok rambutnya yang basah dengan handuk. Tidak mengatakan apapun.
"Kenapa tidak masuk? Jangan keluar seperti itu! Apa yang akan aku lakukan jika nenekku muncul!"
Zeline berteriak dan melempar Athlas dengan baju ganti. Pintu kamar mandi langsung kembali ditutup dengan cepat, bahkan dia tidak memperdulikan kaki Athlas yang terjepit.
"Jangan tutup dulu! Sebentar pintunya...! Kakiku tersangkut!"
Setelah pintu kamar mandi berhasil ditutup, Zeline menoleh ke arah di mana kamar sang nenek berada, lalu bernapas lega karena keributan tadi tidak membangunkan neneknya.
Muncul semburat merah, kuning, dan hijau di wajahnya. Jantung Zeline berdetak kencang.
Sial, matanya ternoda oleh tubuh tel-anjang muridnya sendiri.
**
__ADS_1
Malam semakin larut. Suasana kamar yang biasanya sangat nyaman, kini berubah menjadi mencekam.
Di depannya, Athlas sedang berdiri dengan baju training yang terlihat kekecilan. Namun, Zeline tidak berani menertawainya, meski dia ingin.
Apa aku akan tetap hidup setalah melewati malam ini? Aku masih harus mengoreksi tugas muridku besok.
Ayolah, Zeline masih saja memikirkan tugas murid-muridnya di saat seperti ini. Rasa tanggung jawabnya memang pantas di acungi jempol.
"Kau tidak mengerjakan PR?" tanya Zeline begitu saja, mengingat si vampir juga salah satu muridnya.
"Kau masih saja mendengar isi pikiranku," ucap Athlas mengabaikan pertanyaan Zeline.
"Ma-maaf..." hanya itu yang bisa Zeline ucapkan. Tangan saling meremas satu sama lain, matanya melirik ke samping, menghindari tatapan sang predator.
Dipelototi dan diintimidasi seperti ini oleh mata merah menyala. Membuat Zeline merasa tercekik hingga sulit bernapas.
"Kau menjepit kakiku dengan pintu, aku juga bisa merasa sakit," Athlas kembali menyebutkan kesalahan Zeline.
"Kau bersalah karena keluar tanpa memakai apapun," Zeline tidak mau menjadi pihak yang disalahkan untuk kejadian itu. Justru dialah yang rugi karena matanya menjadi ternoda.
Athlas menyeringai, "Bukankah kau menyukai apa yang kau lihat?"
"Tentu saja tidak!" sangkal Zeline setengah berteriak, "Itu... itu..."
Aku tidak ingin membayangkannya lagi!
Kepala Zeline menggeleng beberapa kali, dia sangat ingin mengenyahkan tubuh tel-anjang Athlas dari pikirannya.
Tapi...
Sontak mata Zeline membulat sempurna, wajahnya terbakar mengingat jelas bagian-bagian tubuh Athlas yang seputih porselen.
"Coba lihat wajahmu sekarang, mirip seperti ubi jalar matang dalam bentuk manusia," gertak Athlas tersenyum mengejek.
"Eh?" Zeline memegang kedua pipinya yang memerah.
"Kau sangat mesum, Miss. Zeline," kekeh Athlas mencibir.
"Hah? Apa?" pekik Zeline terbelalak, "Aku tidak mesum!"
Menahan ledakan rasa malu. Ingin rasanya Zeline menggali tanah untuk mengubur diri. Vampir jelmaan iblis itu menggodanya habis-habisan.
"Ngomong-ngomong, kau akan mendapatkan hukuman," ucap Athlas sambil menarik dagu Zeline kasar.
Zeline mengernyitkan kening, lehernya sakit karena dipaksa mendongak. Pada akhirnya, dia harus menatap mata merah pekat itu lagi.
"Julukan lidahmu."
__ADS_1
_To Be Continued_