Terjerat Murid Vampir

Terjerat Murid Vampir
Perdebatan


__ADS_3

Pada bersama dimulainya kelas tambahan sepulang sekolah.


Di perpustakaan, terlihat Zeline Hallensa yang sedang berdiri di samping rak buku yang menjulang tinggi. Sedang memilah buku selama tiga jam ke depan. Waktu tiga jam memang tidak sebentar namun ini adalah tugasnya sekarang, untungnya hal ini dilakukan tiga minggu sekali.


"Aku akan pulang larut hari ini," keluh Zeline menghembuskan napas panjang.


"Fuh~"


Tiba-tiba ada udara meniup beberapa anak rambut berantakan di belakang telinga, beraroma mint dan terasa dingin.


Zeline terkejut. Ia reflek terlonjak kaget dan langsung berbalik, mata mengerjap lebar saat melihat Athlas berdiri di belakangnya.


"Athlas...?"


Athlas tidak menjawab, dia hanya menatap datar. Bahkan matanya lekat menatap leher Zeline.


Ah, aku ingin mengigitmu.


Mengerti arti tatapan itu. Zeline langsung menutupi lehernya dengan kedua tangan, dia merasa gelisah.


"Ada urusan apa yang membawamu ke perpustakaan?" tanya Zeline mencoba tersenyum meski sangat sulit.


"Aku ingin bertemu denganmu, beberapa siswa mengajarkan jika Miss. Zeline di sini," jawab Athlas sambil meraih kedua tangan Zeline agar menjauh dari leher, "Bukankah kau menjadi pengawas belajar mandiri?"


Berusaha tetap tenang, Zeline menepis tangan Athlas, "Ah, tidak. Perpustakaan sedang dalam kontruksi, aku menjadi tanggung jawab manajemen buku."


"Hmm," Athlas tersenyum miring, lalu lemparkan pandangan ke rak-rak yang dipenuhi banyak sekali buku, "Benarkah kau melakukan ini sendiri? Kau selalu melakukan pekerjaan berat."


Aku memang sangat sibuk, karena itu jangan terus menggangguku!


Zeline hanya bisa berteriak di dalam hati.


"Bukan seperti itu..." suara Zeline memelan saat Athlas meringsek maju. Membuatnya melangkah mundur.


Athlas terus mendekat dan mengunci rute menghindar dari Zeline, membuat punggung ramping menabrak rak buku, terpojok, tidak dapat lagi menghindar.


"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Zeline yang sebenarnya sudah tahu.


Athlas mengabaikan, dia menghentakkan telapak tangan ke sisi rak buku. Menimbulkan bunyi yang mengagetkan, membuat pundak Zeline terhentak dan rak buku terguncang.


Hal yang terduga terjadi, tumpukan buku di bagian terjatuh. Zeline yang melihat itu langsung impulsif memeluk Athlas.


"Minggir!"


Bam! Bunyi buku yang berjatuhan terdengar cukup kencang.


Memeluk dan melindungi dengan tubuh kecil dan ringkih itu. Zeline terpejam dan meringis menahan sakit.


Lantas saja membuat Athlas terperangah.


"Ugh... Sangat berbahaya," lirih Zeline melepas pelukan, lalu mendorong tubuh Athlas agar menjauh darinya.


Memegang pergelangan tangannya yang berdenyut sakit, terdapat memar akibat kejatuhan buku. Seakan tidak perduli, Zeline justru lebih khawatir dengan buku-buku yang berceceran di lantai, dia harus memilah dari awal.

__ADS_1


Dia... Melindungiku?


Athlas menatap nanap pergelangan tangan Zeline.


Apa yang dipikirkan hingga melukai tangannya? Padahal aku ingin mengambil darahnya. Dasar manusia bodoh.


"Itu hanya insting!" sergah Zeline kesal karena Athlas mengatakan dia bodoh.


Athlas tersenyum miring, "Haruskah aku berterima kasih?"


"Tidak perlu," tolak Zeline ketus.


Si sialan ini...


Kenapa harus bertanya jika ingin berterima kasih? Sungguh vampir berdarah dingin yang menyebalkan.


Namun, Zeline hanya berani mengutuk Athlas di dalam hati.


Saat tatapan Athlas bergerak rendah, tanpa kelembutan meraih tangan kanan Zeline, ibu jarinya mengusap lebam yang memerah.


"Itu sakit," lirih Zeline.


"Bagaimana jika aku menjilatmu?"


"Apa?" Zeline mengangkat alis, melirik ragu karena mungkin salah dengar.


Athlas mulai bergerak dan mendekatkan mulutnya ke pergelangan tangan yang terdapat lebam. Sontak tubuh Zeline tersentak ketika merasa sensasi basah di pergelangan tangannya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Zeline dengan wajah yang memerah. Dia langsung menarik tangan kanannya.


"Menjilatmu," jawab Athlas dengan bibir yang melengkung. Tersenyum santai.


"Dasar kau mesum!" pekik Zeline menunjuk dengan jari yang gemetar.


Senyum Athlas memudar, "Mesum?"


Aku hanya mengobatimu, Bodoh.


Mendengar isi pikiran si pemuda bermata kuning keemasan, Zeline mendadak diam. Tidak paham dengan hubungan menjilat dengan mengobati.


"Athlas, bukan seperti itu jika kau ingin mengobati pergelangan tanganku. Aku hanya perlu salep dan perban," ujar Zeline menasihati.


Athlas nampak terkejut, pupil matanya berubah menjadi merah sesekian detik.


"Kau membaca pikiranku tanpa izin?" tanya Athlas dengan menelisik tajam.


"Terdengar begitu saja, aku tidak sengaja," ungkap Zeline melirik telinga Athlas yang memerah.


Mungkinkah dia malu? Imut...


"Jangan membaca pikiranku dengan seenak jidatmu lagi!" titah Athlas tegas, sambil mendorong jidat Zeline dengan telunjuknya.


Oh, harga diri Zeline sebagai guru terkoyak karena muridnya yang satu ini. Kedua tangannya terkepal.

__ADS_1


Benar-benar kurang ajar! Lupakan tentang Zeline yang menganggap telinga memerah Athlas imut!


"Hey, kau mengerti tidak?" desak Athlas karena Zeline tidak kunjung menjawab.


"Aku mengerti, berhenti mendorong jidatku!" seru Zeline menyingkirkan jari telunjuk Athlas, "Kau benar-benar tidak sopan padaku! Berapa umurmu? Dan aku jauh lebih tua. Apa kau sudah lupa jika aku gurumu? Kau bajingan kasar!"


"Kau lebih dulu yang tidak sopan membaca pikiranku! Bahkan umurku seribu kali lipat darimu! Guru ingin selalu diperlakukan dengan hormat hanya kerena sudah tua dan sedikit lebih pintar. Baiklah, saya akan berbicara sopan dengan anda. Apakah itu lebih baik, Guru?" Athlas tersenyum sarkastik, tatapannya merendahkan.


"Hah? Seribu kali lipat dari umurku?" Zeline mendelik, terkejut mengetahui bahwa Athlas sudah sangat melebihi tua, namun tidak merasa heran, "Ah, lupakan saja! Kau pasti akan segera membunuhku!"


"Ya, aku memang ingin menghisap darahmu sampai kering!" dengkus Athlas sinis.


Merinding bulu kuduk Zeline mendengar ucapan Athlas. Kini dia menyesal telah terbawa emosi.


"Huaaa! Kau memang mengerikan! Menjauh dariku, Sialan!" rengek Zeline ingin Athlas jauh-jauh darinya.


"Cerewet! Diam atau kugigit detik ini juga!" ancam Athlas.


Zeline mengerucutkan bibir, "Seperti kau tidak berniat mengigitku beberapa menit yang lalu."


"Miss. Zeline, kau di mana?"


Perdebatan keduanya terhenti karena mendengar seseorang yang memanggil Zeline.


Terlihat Lee Param memasuki perpustakaan. Melempar pandangan ke segala arah, sampai menemukan orang yang dicarinya.


Zeline melirik Athlas sekilas sebelum bergerak menghampiri Param, "Apa yang membawamu ke perpustakaan, Mr. Param?"


"Kami sudah mendiskusikan tentang calon asisten pustakawan. Kami butuh konfirmasimu," Param langsung mengatakan maksud tujuannya.


"Huh? Oh, Ya itu," Zeline mengangguk. Dia memang membutuhkan asisten untuk membantunya di perpustakaan.


"Karena kau sudah menempati posisi ini, kami hanya mempunyai dua opsi. Kami bisa mempekerjakan seseorang pegawai negri, atau mempekerjakan siswa ilmu perpustakaan. Jadi keputusan akhir diserahkan padamu. Apa kau bisa menanganinya sendiri?"


"Tapi lamarannya..."


"Atau kau ingin aku membantumu? Aku bisa membantu memasang pengumuman dan kau yang membaca resume," tawar Param tersenyum, menatap Zeline tanpa kedip.


"Apa tidak merepotkan? Bukankah Mr. Param masih memiliki kesibukan lain?" Zeline merasa ragu dan tidak enak.


"Tidak apa, itu tidak merepotkan sama sekali."


Sementara itu, Athlas diam di tempat. Memperhatikan Zeline yang berbicara dengan Param. Sontak matanya memicing saat bertemu dengan mata milik Lee Param, keduanya saling pandang dengan meruncing, menebar pandangan sinis satu sama lain.


Well, Apa ini? Anjing yang sedang mengejar Anjing?


Sontak Zeline menoleh pada Athlas, seolah bertanya maksud dari apa yang dia dengar.


Lihat si bodoh ini, dia tidak sadar jika ada anjing lain di sekitarnya.


Dan masih saja membaca pikiranku seenaknya.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2