
Dil kahin rukta nahi
Hatiku tak pernah berhenti dimanapun
Dil kahin rukta nahi
Hatiku tak pernah berhenti dimanapun
Chalta hi jaaye teri ore
Terus berjalan hanya menuju dirimu
Hatiku hanya ingin melihatmu saja
Dil meri sunta nahi
Hatiku tak mendengarkanku.
Ho.. saari fizaaon mein hai,
Dimanapun di angkasa
Mehki hawaon mein hai
dalam angin yang menyenangkan
Tera aur mera fasana
Cerita dari kisah cinta kita
Ho.. jaanu main bhi ye,
Aku juga tahu ini
Jaane hai tu bhi ye
Kau juga tahu ini
Jaane ye saara jamana
Dunia juga tahu ini
Ho.. kabhi kam na hongi ye chahatein
Cinta kita untuk satu sama lain tak kan berkurang
Pal pal badhe, yeh hai mohabbatein
Dengan setiap momen, cinta kita terus bertambah.
Zay Aditya gelisah karena setelah dia pulang dari rumah sakit, dia belum melihat Mira. Bahkan Zay Aditya tidak bisa menghubungi nomor Mira.
"Sebenernya kemana Mira? Aku penasaran apakah ayahnya tidak merestui hubungan kita? atau memang dia sibuk dalam urusan pekerjaan? kenapa dia tidak bisa aku hubungi?" ketus Zay Aditya sambil membanting ponselnya.
"Bankir, kamu mau kemana?" tanya Zay Aditya.
"Aku akan keluar untuk membeli makanan dan minuman hangat untuk kita."
"Di luar hujan, jangan lupa pakai payung," lirih Zay Aditya.
"Baiklah."
Bankir membuka pintu, Zay Aditya tersenyum saat melihat siapa yang ada di balik pintu.
"Selamat malam, Nona Mira," sapa Bankir sebelum mempersilahkan Mira masuk dan dia pergi untuk membeli makanan.
Zay Aditya tersenyum dan mendekati Mira yang menutup pintu karena memang di luar sedang hujan.
"Mira, Kenapa kamu baru datang sekarang? Apa kamu tidak tahu betapa aku sangat merindukan kamu dan sangat berharap kamulah yang aku lihat saat aku pertama kali membuka mata di rumah sakit?"
"Maafkan aku, Zay Aditya."
"Baiklah, aku tidak apa apa. Sekarang Ayo duduk dan katakan kepadaku, bagaimana hasil pembicaraan kamu dengan ayahmu?"
Zay Aditya menarik Mira untuk duduk di tempat tidur karena memang di flat Zay Aditya tidak ada kursi.
"Aku belum berbicara dengan ayah."
"Kenapa? ah ya, bagaimana bisa aku lupa. Kamu pasti telah disebut dengan pekerjaan kamu sehingga kamu tidak memiliki waktu untuk berbicara dengan ayah kamu."
"Aku tidak melakukan apapun selama beberapa hari."
"Apa? lalu apa yang kamu lakukan selama beberapa hari?"
__ADS_1
"Berdoa."
"Untuk?" tanya Zay Aditya.
"Untuk mu."
"Apa kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan?"
"Ya." Mata Mira boleh berkaca-kaca namun dia berusaha untuk tetap menahan diri agar tidak menangis.
"Tentu saja, Mira selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Apa yang kamu minta untukku kepada Tuhan?" tanya Zay Aditya.
"Hidupmu."
Zay Aditya mulai tegang. Dia menatap Mira dan dengan ragu dia kembali bertanya,
"Lalu, Apa yang kau tukar sebagai gantinya?"
"Dirimu."
Deg !!
Zay Aditya langsung memberikan tatapan tajam kepada Mira.
"Zay Aditya, tolong mengertilah. Kamu tidak tahu betapa paniknya aku saat melihat kamu tidak kunjung sadarkan diri walaupun petugas ambulans usaha mengembalikan nyawa kamu."
"Mira..."
"Zay, saat itu aku merasa bahwa inilah teguran dari Tuhan karena aku melewati batas. Dia menegur Aku melalui kamu. Jadi..."
"Cukup Mira. Kapan kamu akan mengerti bahwa di dunia ini tidak dapat janjian seperti yang kamu lakukan terhadap Tuhan."
"Zay Aditya, itu sudah menjadi keyakinanku sejak dulu dan masih belum ada yang mampu untuk mematahkannya. Maafkan aku Zay, kamu takut apa sulitnya aku untuk datang menemuimu mengingat aku sudah terikat janji dengan Tuhan.,"
Zay Aditya terdiam.
"Zay Aditya, maafkan aku."
"Pergilah.."
"Zay..."
"Aku bilang pergi."
"Zay Aditya, Apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu di hari terakhir kita bertemu?"
"Zay Aditya, maafkan aku...."
"Tidak. Cukup. Jangan berkata apa apa lagi."
"Zay..."
"Go (Pergi)"
Mira pergi meninggalkan flat Zay Aditya dengan air mata.
...----------------...
Tumko Bhi Hai Khabar Mujhko Bhi Hai Pataa
(Kau dan aku tahu bahwa jalan kita terpisah)
Ho Raha Hai Judaa Dono Ka Raasta
(Dan jalan hidup kita akan berpisah jauh entah kemana)
Door Jaake Bhi Mujhse, Tum Meri Yaadon Mein Rehna
(Kau akan hidup dalam kenanganku bahkan setelah kau pergi)
Kabhi Alvida Naa Kehna
(Jangan pernah ucapkan selamat tinggal)
Jitni Thi Khushiyan, Sab Kho Chuki Hai
(Apa pun kebahagiaan kita telah hilang)
Bas Ek Gham Hai Ke Jaata Nahin
(Sekarang hanya kesedihan yang tidak akan pergi)
Samjha Ke Dekha, Behla Ke Dekha
__ADS_1
(Kucoba untuk membuatnya mengerti, kucoba dengan alasan itu)
Dil Hai Ke Chain Is Ko Aata Nahin Aata Nahin
(Tapi hati ini memang seperti itu sehingga tak dapat menemukan kedamaian)
Ansoon Hai Ke Hai Angaare
(Apakah ini air mata atau bara api)
Aag Hai Ab Ankhon Se Behna
(Rasanya seperti hujan api dari mataku)
Kabhi Alvida Naa Kehna
(Jangan pernah ucapkan selamat tinggal)
Ruth Aarahi Hai, Ruth Jaa Rahi Hai
(Musim datang dan pergi)
Dard Ka Mausam Badla Nahin
(Tapi musim luka tidak pernah berubah)
Rang Ye Gham Ka, Itna Hai Gehra
(Warna penderitaan begitu dalam)
Sadiyon Bhi Hoga Halka Nahin Halka Nahin
(Mereka tidak akan memudar selama berabad - abad)
Kaun Jaane Kya Hona Hai
(Siapa yang tau apa yang akan terjadi)
Humko Hai Ab Kya Kya Sehna
(Dan apa lagi yang kita harus bertahan)
Kabhi Alvida Naa Kehna
(Jangan pernah ucapkan selamat tinggal)
Tumko Bhi Hai Khabar Mujhko Bhi Hai Pataa
(Kau dan aku tahu bahwa jalan kita terpisah)
Ho Raha Hai Judaa Dono Ka Raasta
(Dan jalan hidup kita akan berpisah jauh entah kemana)
Door Jaake Bhi Mujhse, Tum Meri Yaadon Mein Rehna
(Kau akan hidup dalam kenanganku bahkan setelah kau pergi)
Kabhi Alvida Naa Kehna
(Jangan pernah ucapkan selamat tinggal)
Zay Aditya sedang berada di gereja dan berhadapan dengan Tuhan yang selalu melakukan perjanjian dengan Mira.
"Tega nya kau. Kau mengirimkan dia kepada aku dan dengan mudahnya kamu menghempaskan dia kembali. Kamu menjauhkan aku dan dia seolah-olah kamu ingin mengingatkan bahwa kamulah yang menang atas cinta dan segala-galanya."
"Dia telah menukar cintanya dengan nyawaku. Mulai sekarang aku akan bermain dengan kematian dan melihat, seberapa lama aku bisa hidup atas perjanjian yang sudah dia buat bersama mu."
"Aku menantang mu. Kau sudah mengambil cinta dariku, dan aku akan menghancurkan kepercayaannya terhadap mu."
Malam itu, Zay Aditya pergi ke negara I dan mendaftarkan diri sebagai anggota penjinak bom.
Bankir yang baru saja pulang terkejut saat melihat tumpukan uang yang sangat banyak disertai surat.
Bankir..
Katakan kepada ibumu bahwa anaknya tidak akan pernah gagal dan justru akan meraih kesuksesan...
Aku meninggalkanmu dengan seluruh uangku..
Jadikan uang ini berkali-kali lipat dari jumlah yang sudah aku tinggalkan..
Suatu saat aku akan datang untuk mengambil bagianku..
__ADS_1
Aku akan merindukan teh pahit buatan mu..
Zay Aditya.