Terpaksa Berpisah Akibat Sebuah Sumpah

Terpaksa Berpisah Akibat Sebuah Sumpah
Perjanjian London


__ADS_3

Beberapa hari berlalu..


Zay Aditya menikmati pekerjaannya sebagai pelayan restoran ternama di London.


Zay Aditya tidak pernah bertemu lagi dengan Mira setelah kejadian itu, Zay Aditya menjalani kehidupan seperti biasa dan tetap mengamen serta menjadi montir cucian mobil.


Namun hari ini, ada yang berbeda.


Zay Aditya yang sedang mengumpulkan uang receh dari hasil pengamen, terkejut saat melihat beberapa uang Dollar terpampang di depannya.


Zay Aditya mendongak dan dia melihat Mira yang memberikan uang itu padanya.


"Ini ada seratus dolar, satu jam setiap hari, dan selama 30 hari," ucap Mira.


"Wow, siapa yang akan aku bunuh dalam setiap harinya?" tanya Zay Aditya.


"Kamu harus mengajari aku untuk bernyanyi."


"Apa?"


"Aku ingin kamu mengajari aku nyanyi yang seperti yang selalu kamu nyanyikan."


"Kenapa?"


Mira kemudian menceritakan bahwa ayahnya berasal dari India, dan sangat berharap bahwa Mira bisa menyanyikan lagu-lagu India.


"Sebentar lagi ulang tahun ayahku ke 50 tahun, jadi aku ingin mengejutkannya dengan memberikan persembahan lagu di hari yang spesial."


"Begini Nona, aku tidak diajarkan untuk menerima uang ketika seseorang ingin belajar bernyanyi kepadaku."


"Baiklah kalau begitu." Mira hendak pergi karena mengira Zay Aditya menolak untuk membantunya.


"Eh nona tunggu. Begini, Bagaimana jika kita membuat perjanjian."


"Perjanjian apa?"


"Selama satu bulan ini aku berjanji akan menjadikan kamu wanita yang sangat hebat dalam menyanyikan lagu-lagu India. Sebagai gantinya kamu harus mengajari aku berbahasa Inggris yang benar, selama ini bahasa Inggris ku sedikit kacau. Aku ingin memperbaikinya agar aku bisa dengan mudah memberikan pelayanan yang terbaik untuk para konsumen yang datang untuk menikmati makanan di VodreGrass."


"Baiklah, aku setuju."


"Jika nona setuju, maka ayo berjabat tangan dan ucapkan kesepakatan ala London."


"Kesepahaman ala London."


Zay Aditya tersenyum sambil terus memandangi Mira yang mulai berjalan pergi meninggalkannya.


Keesokan harinya, perjalanan cinta Zay Aditya di mulai.


Dia dengan semangat mengajari Mira setiap kunci gitar dan lirik nada yang harus dia mainkan.


Mira belajar dengan cepat karena memang Mira mempunyai kepribadian yang cepat tanggap akan sesuatu jika dirinya begitu indah menguasainya.


Zay Aditya tidak percaya saat Mira mengajaknya untuk berdoa kepada Tuhan.


"Tuhan, aku mohon buat aku lebih cepat menguasai lagu yang akan aku mainkan di hari ulang tahun ayahku. Aku berjanji bahwa aku akan berhenti merokok mulai hari ini dan menjadi gadis yang baik."


Zay Aditya terus melihat ke arah Mira yang sedang khusyuk berdoa dan meminta sesuatu kepada Tuhan.


"Apa kamu pikir dengan meminta sesuatu dan menyerahkan sesuatu, maka apa yang menjadi keinginanmu bisa terkabul?"

__ADS_1


"Ya, itu adalah keyakinanku sejak dulu. Begini, jika kita hanya terus meminta tanpa ada yang dikorbankan. Bagaimana bisa keseimbangan di dunia ini akan terus berjalan? jadi jika kamu sesuatu kepada Tuhan, kamu harus mengorbankan sesuatu untuknya."


"Ini adalah kepercayaanku sejak lama dan tidak ada yang bisa untuk mematahkannya."


"Wow.."


...----------------...


Zay Aditya dan Mira menjadi begitu dekat sejak mereka terlibat dalam perjanjian Ala london, Zay Aditya cukup terkejut karena ternyata Mira sering datang pada acara amal dan mengunjungi Panti asuhan serta panti jompo.


"Jadi, apa kamu datang ke sini dan ikut membagikan makanan gratis kepada mereka?" tanya Zay Aditya.


"Ya."


"Apa kamu hanya datang ke sini?"


"Tidak..."


Mira kemudian menceritakan tentang kunjungan yang selalu dia lakukan di hari-hari tertentu.


Hari ini, persamaan dengan jatah libur Zay Aditya. Mira mengajaknya ke salah satu restoran, Mira terlihat memainkan gitar yang dibawa oleh Zay Aditya dan mulai bernyanyi.


Suara Mira yang fales membuat Zay Aditya tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.


Zay Aditya tertawa dan itu membuat Mira tersinggung, refleks saja Mira menyiramkan jus yang ada di sebelahnya ke wajah Zay Aditya dan pergi dari sana.


"Mira, tunggu."


Zay Aditya mencoba mengejar Mira namun ditahan oleh karyawan kafe.


"I'm sorry sir, you can't leave before paying your bill," ucap karyawan cafe sambil menahan kepergian Zay Aditya.


"Mira, ayolah jangan marah kamu tahu aku hanya bercanda. Mira, Aku tidak mempunyai uang untuk membayar tagihan ini."


Mira hanya menggerakkan bahunya tanda dia tidak mau tahu atas apa yang sudah terjadi.


Zay Aditya mengela nafas panjang sambil menerima nota dari karyawan cafe tersebut dan menjadikan kertas itu untuk mengelap tumpahan jus yang ada di wajahnya.


Zay Aditya kemudian memberikan kode kepada karyawan kafe itu untuk masuk ke dalam.


Zay Aditya membayarnya dengan mencuci piring dan membersihkan kafe itu seorang diri hingga kafe itu tutup.


Beberapa Minggu berlalu..


Zay Aditya dan Mira sedang berada di lapangan di mana saat itu banyak sekali orang yang sedang menghabiskan akhir pekan dengan bersantai.


Zay Aditya memperhatikan Mira yang sedang bernyanyi.


Heer Heer Na Akho Adiyo..


-Jangan memanggil ku Heer, kawan..


Main Te Sahibaan Hoye..


-Aku telah menjadi Sahibaan


Ghodi Leke Aaye Le Jaaye..


-Semoga seorang berkuda datang membawaku

__ADS_1


Ghodi Leke Aaye Le Jaaye


-Semoga seorang berkuda datang membawaku


O Mainu, Le Jaaye Mirza Koi..


-Aku ingin, orang seperti Mirza membawaku


Le Jaaye Mirza Koi, Le Jaaye Mirza Koi...


-Seseorang seperti Mirza yang membawaku pergi


Heer Heer Na Akho Adiyo..


-Jangan memanggil ku Heer, kawan..


Main Te Sahibaan Hoye...


-Aku telah menjadi Sahibaan


Ghodi Leke Aaye Le Jaaye..


-Semoga seorang berkuda datang membawaku.


Ghodi Leke Aaye Le Jaaye..


-Semoga seorang berkuda datang membawaku.


Mira tersenyum dan bernafas dengan lekas saat dia telah selesaikan menyanyikan satu bait dari lagu yang diajarkan oleh Zay Aditya.


Mira menatap Zay Aditya, seolah-olah ingin bertanya bagaimana hasil dari lagu yang dia bawakan.


Zay Aditya Aditya menggeleng-gelengkan kepala dan itu memicu kekecewaan Mira.


"Ini benar-benar tidak adil, aku sudah mengajarkan kamu berbahasa Inggris dan baik dan sekarang lihat, bahasa Inggris kamu berkembang dengan baik. Aku? bahkan aku tidak bisa menyanyikan satu lagu pun dengan baik."


"Mira dengar, aku melihat kamu begitu cepat menguasai segala jenis lagu dan kata kunci yang harus kamu mainkan. Hanya saja, aku melihat ada ketakutan di wajah kamu saat kamu menyanyikannya."


"Kenapa? apa kamu takut suara kamu akan mengganggu anak-anak yang sedang bermain bola itu? apa kamu takut jika suara kamu mengganggu pasangan yang sedang berkencan?"


"Tidak. Kamu hanya merasa tidak percaya diri akan kemampuan kamu dalam bernyanyi."


Brak !!


Mira melempar gitar itu ke arah Zay Aditya.


"Dalam diri kamu sebenarnya ada jiwa yang lain, hanya saja itu tertutup oleh kepolosan dan kecantikan kamu."


"Permisi, Aku harus meminjam ponsel kamu."


"Untuk apa"


"Untuk..."


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2