
Zay Aditya memandang Mira dengan tatapan tidak mengerti setelah dokter keluar dari ruangan.
"Aku tidak mengerti, 10 tahun."
"Tenanglah, Zay Aditya." ucap Mira sambil memegang kedua pipi Zay Aditya.
"Apa kita sudah bersama selama 10 tahun ini?" tanya Zay Aditya.
"Iya.."
Zay Aditya menatap merah dengan tatapan sendu, berulang kali matanya memerah seolah-olah air mata akan jatuh membasahi kedua ppipinya
"Apa kita bersama selama 10 tahun terakhir ini?" tanya Zay Aditya.
"Ya."
"Sudah berapa lama kita menikah?" tanya Zay Aditya.
Mira terkejut, dia tidak menyangka Zay Aditya akan menanyakan hal itu. Dalam kebingungannya, Mira teringat akan perkataan dokter yang mengatakan jika kondisi Zay Aditya sangat rentang. Jadi untuk sementara waktu, Zay Aditya tidak boleh terlalu syok.
Akhirnya, Mira terpaksa berbohong dengan mengatakan bahwa mereka sudah menikah.
"Lima tahun," ucap Mira.
Zay Aditya langsung memeluk Mira dan menangis.
"Hiks, aku ingin mengingat semua nya. Bantu aku untuk mengingat moment kebersamaan kita selama 10 tahun."
Mira hanya memeluk Zay Aditya dan tidak berkata apapun.
Sore harinya..
Mira terlihat menangis di taman rumah sakit, dia tidak tahu kenapa Tuhan membuatnya kembali di pertemukan dengan Zay Aditya dalam keadaan Zay Aditya yang tidak dapat mengingat apapun.
Mira menangis, dia tidak tahu harus berbuat apa, niatnya ingin membantu Zay Aditya, justru membuatnya masuk dalam lingkaran kasih sayang dan cinta masa lalu.
...----------------...
Keesokan harinya, Mira mengajak Akira untuk bertemu dengan Bakir.
Dokter mengatakan bahwa Zay Aditya harus berada di sekitar orang-orang yang dia ingat selama 10 tahun yang lalu.
Mira melihat Bakir sedang sibuk menyapa para pelanggan restoran.
__ADS_1
Melihat kedatangan Mira, Bakir langsung menghampiri Mira. Mira dan Akira kemudian menceritakan apa yang terjadi pada Zay Aditya. Juga meminta nya untuk membantu dalam peran penting untuk kesembuhan Zay Aditya.
"Maaf, jika kami meminta kamu untuk melakukan banyak hal bagi Zay Aditya," ucap Akira.
"Banyak hal? tidak Akira. kamu justru tak minta hal kecil untuk aku lakukan Zay Aditya. Jika kalian ingin tahu, restoran ini, rumah dan segala yang aku miliki adalah milik Zay Aditya. Aku memulai semuanya dari uang yang dia tinggalkan untuk ku. Dia mengatakan bahwa dia akan kembali suatu hari nanti untuk mengambil bagiannya. Tapi Aku tidak menyangka Jika dia akan kembali dalam keadaan seperti ini."
"Sepuluh tahun aku menunggunya, hari ini. Aku tidak menyangka dia kembali namun dengan ingatan yang mundur sepuluh tahun lalu. Jangan khawatir, Aku akan segera pindah ke rumah lama aku dan Maria. Katakan saja kapan kalian akan membawa Zay Aditya pulang dari rumah sakit."
"Besok," ucap Mira.
"Kesepakatan ala London, itu yang selalu dibicarakan oleh Zay Aditya ketika melakukan kesepakatan."
Akira tersenyum sambil menjabat tangan Bakir sambil mengucapkan terima kasih karena bahagia sudah mau untuk melakukan sandiwara seperti Mira.
Mira terdiam, ingatan nya kembali pada masa dimana dia pertama kali melakukan kesepakatan dengan Zay Aditya.
Keesokan harinya..
Bakir ke rumah sakit untuk menjemput Zay Aditya. Zay Aditya merasa tidak percaya saat Bakir mengatakan bahwa mereka memiliki restoran yang masuk dalam 10 besar restoran favorit se london.
"Apa kamu yakin jika rumah sebesar istana itu adalah rumah dari hasil kerja keras kita berdua?" tanya Zay Aditya.
"Tentu saja, sebenarnya kita tinggal di rumah ini bersama-sama. Namun, karena kamu yang tidak dapat mengingat momen kebersamaan selama 10 tahun terakhir ini. Aku dan Maria memutuskan untuk pindah ke rumah lama kami."
"Tidak apa-apa, sekarang pergilah. Nyonya besar sudah menunggu."
Zay Aditya tersenyum saat melihat Mira sudah berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan nya.
Zay Aditya tersenyum, Mira melakukan ritual sederhana untuk menyambut kedatangan sang suami.
Mira memejamkan mata saat Zay Aditya mencium keningnya. Ingin rasanya Mira menangis, namun dia harus kuat agar Zay Aditya tidak curiga jika apa yang terjadi sekarang adalah sandiwara.
Zay Aditya mengajak Mira untuk masuk ke dalam rumah, saat Mira akan menutup pintu. Dia melihat Akira tersenyum dan menganggukkan kepala kepada Mira.
Mira membantu Zay Aditya mencukur kumis nya, mata Zay Aditya tidak pernah lepas memandang wajah wanita yang sangat amat dia cintai. Setidaknya itulah yang di rasakan Zay Aditya.
Satu Minggu berlalu, itu adalah waktu yang sangat sulit bagi Mira karena dia harus selalu berusaha mencari alasan agar mereka tidak sampai melakukan hubungan suami istri.
Hari ke sepuluh, Mira memutuskan datang menemui dokter dan mengatakan bahwa dia sudah tidak bisa lagi menjalani sandiwara seperti ini.
"Aku takut jika terlalu lama aku menolaknya, dia akan curiga jika memang ada sesuatu yang tidak beres," ucap Mira
"Sebenarnya tahap selanjutnya akan di mulai Minggu depan. Tapi karena keadaan ini sudah tidak lagi memungkinkan untuk kamu terus bersandiwara sebagai istri dari Zay Aditya. Akira, besok kamu akan datang menemui Zay Aditya dengan menggunakan motor yang biasa dia gunakan."
__ADS_1
Mira menatap Akira, Akira tersenyum dan mendekati Mira.
"Maafkan aku karena aku terlalu melibatkan kamu."
...----------------...
Hari itu, Zay Aditya dipertemukan dengan Akira yang mengaku sebagai reporter ARC Chanel. Yang akan melakukan wawancara awal mula Zay Aditya hingga dia menjadi pengusaha sukses yang memiliki restoran terfavorit.
Akira bener-bener terkejut saat melihat Zay Aditya yang berbeda.
"Tentara, ternyata sebelum ini kamu adalah pribadi yang sangat ceria. Cinta, perpisahan yang harus terjadi karena sebuah sumpah membuat kamu berubah menjadi pribadi dingin dan kaku. Sekarang, kamu sudah kembali kepada sifat kami sebelumnya dan aku tidak mengerti apakah setelah kamu mendapatkan kembali ingatanmu. Apa kamu akan kembali memperjuangkan cinta atau kembali pada kehidupan kamu yang lama."
Zay Aditya menikmati kebersamaan bersama dengan Akira yang selalu membuatnya mengingat momen-momen di masa sebelum dia mencapai kejayaan.
Hari ini, Zay Aditya yang terlalu sibuk untuk berjalan-jalan menikmati london. Terkejut saat Bakir menelponnya dan mengatakan bahwa Zay Aditya harus segera kembali untuk melakukan wawancara terakhirnya bersama dengan Akira.
Zay Aditya memilih untuk segera ke stasiun kereta, namun tiba-tiba kereta baru saja tidak ada sebuah peringatan yang mengatakan jika semua penumpang diharapkan untuk keluar dan penumpang yang berada di dekat kereta untuk menjauh karena di dalam kereta ditemukan tas yang diduga berisi bom.
Zay Aditya yang mendengar alarm kecemasan tiba-tiba teringat akan sesuatu, refleks dia mendekat ke arah tas yang diduga berisi bom tersebut.
"Maaf, tuan. Anda tidak diperkenankan untuk masuk."
"Itu adalah bom dengan kontrol jarak jauh. Mungkin menggunakan jam atau ponsel sebagai kendali untuk meredakan bom itu."
"War, sepertinya tuan ini mengetahui sesuatu tentang bom. Biarkan saja dia datang." ucap petugas yang lainnya.
Zay Aditya mendekati dan mengambil tas ransel yang tergantung di pegangan di dalam kereta. Zay Aditya membuka tas yang memang benar-benar berisi bom tersebut kemudian segera menjinakkan bom itu dengan tangan kosong.
"Terima kasih, Tuan. Siapa nama anda?"
"Mayor Zay Aditya. Pasukan penjinak bom GHY kota I."
Zay Aditya kemudian segera keluar dari stasiun dan memilih untuk berada di sebuah taman, Zay Aditya kembali mendapatkan ingatannya kembali.
Hujan membasahi tubuhnya, namun Zay Aditya justru merasakan hawa panas karena ternyata selama ini apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya adalah sebuah sandiwara. Terutama Mira.
"Mira, Kenapa kamu sangat bersandiwara. Kamu yang sebelumnya tersumpah atas tidak pernah menjalin hubungan yang lebih dekat dari aku. Kini justru kamu hidup berdua denganku selama beberapa minggu."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1