
General Nataraja ordered it himself, this documentary will benefit army I. You know how difficult it is to recruit bomb squad soldiers, so I think by hearing your courageous stories and by seeing you work in person the youths will be inspired and want to be like you.
"Jenderal Nataraja yang menyuruhnya sendiri, film dokumentasi ini akan menguntungkan tentara I. Kau tahu betapa sulitnya merekrut tentara penjinak bom, jadi kurasa dengan mendengar cerita keberanianmu dan dengan melihat kamu bekerja secara langsung para pemuda akan terinspirasi dan ingin menjadi seperti kamu," ucap letnan pada mayor Zay Aditya.
(Don't worry because this interruption will only last 2 weeks)
"Jangan khawatir karena gangguan ini hanya akan berlangsung 2 minggu."
(I really hope for your support for a film that tells the story of your courage)
"Aku sangat mengharapkan dukunganmu akan film yang menceritakan kisah keberanian kamu."
"Yes, Sir (Baik, Pak)" ucap Zay Aditya sambil menegakkan tubuhnya tanda bahwa dia bersedia menjalankan perintah yang baru saja diucapkan.
Zay Aditya terlihat menghela nafas panjang dan berpikir bagaimana mungkin ada orang yang tertarik untuk menuliskan kisah perjalanannya yang menjadi penjinak bom tanpa menggunakan pelindung.
Ya, tentu saja Zay Aditya aneh karena ini sudah 10 tahun dia berkarir di dunia penjinak bom, dan kenapa baru sekarang ada orang yang ingin menuliskan kisahnya.
Bahkan, orang itu berhasil membujuk jenderal nataraja dan bisa masuk ke dunia permiliteran.
Zay Aditya kemudian memilih untuk tidak terlalu memikirkan tentang masalah ini, Zay Aditya tidak tahu jika ternyata orang yang tertarik ingin menuliskan kisah tentang dirinya adalah Akira sendiri.
Keesokan harinya..
Tepat saat Zay Aditya dan para kelompoknya sedang melakukan makan siang, seorang wanita dengan membawa tas dan juga beberapa perlengkapan lainnya. Tidak lupa sebuah kartu nama resmi yang dikeluarkan oleh ARC Chanel, tergelantung di tangan kanannya.
Dengan penuh percaya diri wanita itu berjalan melewati ratusan tentara yang melihat ke arahnya.
Tentu saja wanita itu menjadi pusat perhatian karena dia adalah wanita satu-satunya yang berhasil masuk ke dalam dunia permiliteran, terutama memasuki kawasan tentara penjinak bom.
Wanita itu terus berjalan hingga sampai pada meja di mana Zay Aditya dan beberapa rekannya sedang melakukan makan siang.
Zay Aditya yang menggunakan kacamata hitam saat sedang makan, tentu saja langsung mendongak begitu melihat ada seseorang yang berhenti tepat di depan mejanya.
Akira memberikan senyum terbaiknya saat orang yang sekarang menjadi pujaannya melihat tepat ke arahnya.
(Akira Rai, ARC Chanel reporting for duty, sir)
"Akira Rai, ARC Chanel melapor untuk bertugas, pak." Dengan penuh senyum kebahagiaan mariasi wajahnya, Akira menunjukkan identitasnya sebagai seorang reporter kepada Zay Aditya.
__ADS_1
(Is this stolen or real?)
"Ini curian atau asli?" tanya Zay Aditya sambil kembali fokus pada makanannya.
(Of course it's 100% authentic, soldier.)
"Tentu saja ini asli 100%, tentara." Akira tidak bisa berhenti tersenyum untuk menunjukkan betapa Dia sangat bahagia karena selama dua minggu ini dia akan terus bersama orang yang sangat dia idolakan saat ini.
Ya, kisah cinta Zay Aditya dan Mira sudah menyihir Akira untuk terus mencari tahu sebenarnya motif di balik Zay Aditya yang menjinakkan bom tanpa menggunakan alat pelindung.
Apakah dia percaya bahwa suatu saat dirinya akan bisa dipertemukan kembali dengan Mira?
Ataukah Zay Aditya hanya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa tidak ada satupun perjanjian yang bisa terjadi dengan Tuhan.
(Army, for 2 whole weeks wherever you go, I will also go with you)
"Tentara, selama 2 minggu penuh kemanapun kamu pergi, aku juga akan ikut bersama dengan kamu."
Zay Aditya mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut Akira sambil menikmati makanannya dan tanpa sedikitpun menoleh ke arah Akira.
(How many people are willing to die with you?"
(Just me and the only one. One female crew)
"Hanya aku dan satu-satunya. Satu kru perempuan."
Zay Aditya menatap ke arah Akira yang terus saja tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya yang rapi, putih dan bersih.
Berkali-kali juga Akira tersenyum sambil terus menatap ke arah mata Zay Aditya yang masih menggunakan kacamata.
Zay Aditya kemudian melihat ke arah tiga rekannya yang tampak mengabaikan makanannya karena tidak percaya ada seorang wanita yang akan menemani hari-hari mereka selama 2 minggu.
(Hey, why don't you guys look like jerks? Don't you guys have to finish your food)
"Hei, Kenapa kalian tidak terlihat bengal Bukankah kalian harus menghabiskan makanan kalian?"
Ketiga rekannya itu langsung kembali fokus pada makanannya setelah mendapat peringatan dari Zay Aditya.
Setelah beberapa saat, setelah jam makan siang selesai dan beberapa orang yang juga duduk dalam ruangan terbuka mulai pergi meninggalkan meja makan untuk kembali melakukan tugasnya masing-masing. Ketiga rekan Zay Aditya sedang berdiri berjejer untuk berkenalan dengan Akira.
__ADS_1
Di mulai dari Kapten Kamal, yang selalu memakai topi mirip sorban dengan janggut tebal.
"Halo, aku kapten Kamal." Ucapnya sambil menyalami tangan Akira.
"Hai kapten Kamal, aku Akira."
Akira kemudian berjalan ke sebelah kiri, dan berkenalan dengan orang yang memiliki tinggi tubuh sama seperti Kapten Kamal, hanya saja pria di sampingnya ini hanya memiliki kumis yang lebih tebal.
"Dan Aku adalah kapten Diwan." Ucapnya ketika Akira menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Kapten Diwan." Akira memejamkan mata sambil menunjuk ke arah otaknya seakan-akan sedang menuliskan nama beberapa orang yang baru saja berkenalan dengannya ke dalam otak.
"Aku letnan Hari Krisna, nona." Ucap anggota Zay Aditya yang paling muda.
(Stop calling me Miss because that's a very formal sounding call. I'm Akira. And call me Akira. Akira, isn't that a very simple and beautiful name)
"Berhentilah memanggil aku Nona karena itu merupakan panggilan yang terdengar sangat resmi. Aku Akira. Dan panggil aku Akira. Akira, Bukankah itu adalah nama yang sangat simpel dan juga cantik?" ucap Akira yang protes karena ketiga orang itu memanggilnya dengan sebutan nyonya.
"Halo Akira." ucap Diwan
"Itu lebih baik, dengar selama dua minggu aku akan banyak menyusahkan kalian. mulai dari banyak omong banyak makan dan makian yang tidak bisa di kontrol. Aku minta kalian memaafkanku mulai sekarang."
"Satu permohonan, aku harap kalian tidak pemarah seperti bos kalian," bisik Akira karena dia tidak mau Zay Aditya mendengar nya.
"Tidak sama sekali, kami sangat periang," ucap Kamal.
"Kalau begitu aku takut kita kan sering bersenang-senang." Ucap Akira sambil melakukan tos dengan Kamal.
"Dimana aku bisa menaruh barang-barang ini?" tanya Akira kemudian.
"Biar aku tunjukkan." ucap Kamal.
Namun Diwan yang juga mengatakan hal yang sama lebih dulu mengangkat semua barang-barang milik Akira dan berjalan meninggalkan kedua rekannya.
Kamal hanya bisa melihat kepergian Diwan dan Akira.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...