Terpaksa Berpisah Akibat Sebuah Sumpah

Terpaksa Berpisah Akibat Sebuah Sumpah
Tolong, Demi aku.


__ADS_3

Zay Aditya menjalani kehidupan seperti biasa, karena kegigihannya. Hanya dalam waktu 3 bulan saja. Zay Aditya sudah di angkat menjadi ketua pelayan.


Zay Aditya terus memberikan pelayanan yang menyenangkan hati para pelanggan.


Pernah sesekali Zay Aditya ingin menghubungi Mira, rasa rindu yang bergejolak di dalam hatinya begitu menggebu.


..


Time seems to have ended, I know the end I sit in the past, Through it with longing for the past, To appreciate it meet with the person i love the most, Will miss him at the crossroads of time when walking alone...


Masa seolah-olah telah berakhir,


Aku tahu akhirnya,


Aku duduk pada masa yang telah dilalui,


Melaluinya dengan merindui masa yang sudah berlalu,


Untuk menghargainya berjumpa dengan


orang yang paling aku sayang,


Akan merinduinya di persimpangan masa saat jalan sendirian.


Missing is not only yours Shut up, see what's slipping from my eyes Uprooting heartbeats without permission Draw words from poetry Almost lost meaning In the unwillingness of your absence Counting the empty seconds Measuring time is getting dusty Still with the same longing Everyone I meet is you The whole dream is calling from afar Waving without the wind Stuck at the end of the prayer...


Rindu bukan milikmu saja


Pejamlah, lihat yang lesat dari mataku


Mencerabut denyut hati tanpa permisi


Menarik kata dari puisi


Hampir-hampir kehilangan arti


Dalam ketidakrelaan ketiadaanm


Membilang detik-detik hampa


Mengukur waktu kian berdebu


Masih dengan rindu yang sama


Setiap yang kutemui merupa dirimu


Impian utuh memanggil dari jauh


Melambai tanpa angin labuh


Tersangkut di ujung doa

__ADS_1


Seperti yang dirasakan Zay Aditya, Mira sebenernya juga begitu merindukan Zay Aditya.


Hanya dia kembali pada kepribadian yang tersembunyi pada wajah cantik penuh kebijaksanaan.


Malam ini, Zay Aditya terkejut saat melihat Mira sudah menunggunya di pintu keluar lorong tempat dimana mereka pernah menghabiskan malam istimewa.


"Wah lihat lah, wanita india itu akhirnya tidak tahan akan rindu juga,". goda Bankir yang membuat Zay Aditya tersenyum.


"Aku akan pulang duluan, jaga dirimu baik-baik,"


Zay Aditya melambaikan tangan ke arah Bankir, kemudian menghampiri Mira.


"Hai, jadi apa kamu sudah siap untuk kembali melakukan perjanjian ala London dengan ku?" tanya Zay Aditya.


"Zay Aditya, kita harus bicara."


"Bisakah kita bicara setelah makan? sungguh aku merasa sangat lapar."


Mira mengangguk, Zay Aditya kemudian membawa Mira untuk membeli mie instan yang ada di salah satu jalanan.


Zay Aditya begitu lahap, sementara Mira tidak berselera sama sekali, dia terus melihat Zay Aditya.


Ingin sekali dia memeluk pria yang sudah membuatnya di landa kerinduan itu, namun Mira yang melihat cincin manis di jari manisnya. Membuat keinginan itu tidak bisa dilakukan.


Setelah Zay Aditya menghabiskan makanan nya..


"Zay Aditya, dengarkan apa yang akan aku katakan,"


"Aku mencintaimu, aku akan menikahi Roger."


Deg !!


Zay Aditya refleks melihat ke arah Mira.


"Kenapa kamu menyatakan cinta bersama dengan pernyataan kamu yang akan menikahi orang lain?"


"Zay Aditya, ibu ku pergi meninggalkan aku bersama dengan pria lain saat aku berusia 12 tahun. Ayah adalah satu-satunya orang yang ada di dalam kehidupan aku, beliau selalu melakukan segala cara untuk membuat aku merasa bahagia dan memenuhi kebutuhan ku. Ayah selalu memberikan apapun yang aku inginkan tanpa ada kata protes atau tidak. Dan sekarang, untuk pertama kalinya dia meminta sesuatu kepadaku. Aku tidak bisa menolaknya."


"Zay Aditya, kamulah orang pertama yang tahu tentang kisah kehidupanku. Aku tidak pernah menceritakan hal ini kepada orang lain termasuk kepada Roger."


"Zay Aditya, Aku ingin kamu ikut dan membuat perjanjian bersama denganku di depan Tuhan."


"Mira, kenapa kamu harus melibatkan aku dalam kisah ini?"


"Zay Aditya, kamu sudah mampu menggoyangkan hatiku dan menggetarkan perasaan yang telah lama hilang dari dalam diriku. Aku ingin lari dari kenyataan bahwa sebentar lagi aku akan menjadi istri dari Roger. Aku pentingnya berlari pada bulan mengatakan bahwa aku mencintai, sayangnya aku tidak bisa. Aku harus memenuhi permintaan dari ayahmu yang tidak pernah sekali permintaan penuh terhadap aku."


"Sebagai orang tua, tentu saja mereka akan memberikan apapun yang kita minta tanpa harus meminta balasan yang setimpal," ucap Zay Aditya.


"Tidak, Ayah meminta kepadaku agar aku menikahi Roger. Itu keinginan dan permintaan terakhir nya sebelum pensiun dari pebisnis tersebut di London."


"Tolong Zay Aditya, ini demi aku."

__ADS_1


"Mira, jika memang kamu mencintaiku dan tidak bisa bersamaku karena kamu sudah terikat janji. Jangan khawatir, aku akan tetap seperti ini menjaga batasan yang ada di antara kita."


"Zay Aditya...,"


"Mira, melakukan perjanjian dengan Tuhan bukanlah bagian dari salah satu keyakinan ku. Bagiku Tuhan adalah tempat mengadu, bukan tempat untuk menukar perjanjian yang tidak jelas seperti yang telah kamu lakukan."


Zay Aditya yang merasa Kecewa memilih untuk pergi meninggalkan Mira.


Mira dengan cepat memegang tangan Zay Aditya.


"Zay Aditya, Tolong, demi aku."


Zay Aditya melihat tatapan kesedihan di mata Mira, hingga kemudian Zay Aditya berjalan mengikuti Mira menuju gereja.


Mira sudah duduk bersimpuh dengan posisi siap berdoa dan mata tertutup. Mira melihat Zay Aditya yang masih berdiri, seolah memberikan kode pada Zay Aditya agar ikut juga dalam posisi siap berdoa.


Zay Aditya melakukan apa yang di inginkan Mira. Mira memejamkan mata dan mulai berdoa.


Tidak, bukan doa. Tapi perjanjiannya. Seperti yang selalu dia lakukan.


"Tuhan, tolong jaga agar ikatan yang terjadi di antara kami tidak melewati batas. Jika kami melanggar...."


"Mira, tunggu."


Zay Aditya menghentikan Mira.


"Ada apa?"


"Tidak perlu membuat perjanjian dengan Tuhan, aku bisa menjaga diri agar aku tidak punya wanita karena terlalu mencintaimu. Aku memang mencintai kamu dan berharap bisa memiliki kamu. Tapi aku akan tetap menjaga bahwa kita berada di batas masing-masing."


"Zay Aditya, Bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan kepada kamu. Ini bukan untuk kamu, tapi ini untuk aku. Agar Aku tidak terlalu terbawa dalam perasaan bahagia karena mencintai kamu, Tuhan berhak menghukum siapa saja yang melewati batasan itu. Hukumannya juga terserah Tuhan yang menentukan akan mengungkapkan mereka dengan cara apa. Ini akan menjagaku untuk melakukan hal yang tidak diinginkan."


"Aku mohon, Zay Aditya. Demi aku."


Zay Aditya kembali duduk dan memperhatikan Mira yang mulai mengucapkan perjanjiannya kepada Tuhan. Jika salah satu diantara mereka melanggar janji dan menyatakan perasaan kembali, Tuhan berhak untuk menghukum mereka.


Hanya Mira yang terlihat berdoa, sementara Zay Aditya hanya melihat Mira dan sesekali menatap ke arah Tuhan.


Zay Aditya dan Mira keluar dari gereja dengan perasaan campur aduk.


Pandangan Zay Aditya lurus ke depan sementara merah terus saja memperhatikan wajah Zay Aditya.


Zay Aditya, maafkan aku. Tolong mengerti lah. Ini demi aku.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2