Terpaksa Berpisah Akibat Sebuah Sumpah

Terpaksa Berpisah Akibat Sebuah Sumpah
Kemarahan


__ADS_3

Zay Aditya mulai menarik perlahan kabel itu, tidak, Zay Aditya tidak menariknya hanya mengangkatnya sedikit kemudian menggerakkan beberapa bagian mobil itu ke samping agar kabel yang ditarik bisa menunjukkan kemana dia berada.


Kabel yang sangat panjang, dengan hati-hati Zay Aditya membuka pintu mobil dan memerintahkan dewan untuk menutup kursi dengan hati-hati.


Zay Aditya memperingatkan kepada dewan mungkin ini adalah kabel yang digunakan untuk pemicu meledaknya bom yang ada di mobil ini.


Diwan mengatakan kepada Zay Aditya, ada dia berhati-hati untuk mencari di mana letak pemicu bom tersebut.


Zay Aditya dengan hati-hati dan perlahan mengeluarkan kabel itu dari mobil, yang ternyata kabel itu juga tersembunyi di balik bebatuan kecil yang ada di tanah tempat di mana Zay Aditya berdiri dan menginjak bagian kabel yang lain.


Zay Aditya menarik kabel itu dari balik bebatuan dengan hati-hati, terus saya Aditya menarik dan sedikit menarik dengan keras untuk mencari tahu seberapa panjang kabel itu.


Hingga, saat talinya sudah sangat panjang terdapat sesuatu yang sangat sulit ditarik oleh Zay Aditya.


Zay Aditya menariknya dengan sekuat tenaga hingga muncullah sebuah piringan bulat yang terpendam tepat di belakang Akira yang sedang berdiri sambil merekam situasi yang ada di sekitar tempat ditemukannya bom.


Zay Aditya tentu saja terkejut saat menemukan pemicu bom itu berada tepat di belakang Akira.


"Akira..."


"Akira."


Zay Aditya berteriak dengan sangat lantang berharap Akira akan melihat ke arahnya untuk memberitahu bahwa tepat di belakangnya terdapat sebuah pemicu bom.


Sayangnya, Akira yang sedang merekam situasi menggunakan kamera dan menutup telinganya dengan musik yang sangat keras, tidak mendengarkan panggilan dan juga teriakan keras dari Zay Aditya.


"Akira.."


"****.."


Zay Aditya segera berlari begitu mengetahui akhirat berjalan perlahan mundur ke belakang.


Zay Aditya berusaha berlari kencang untuk mencapai Akira sebelum langkah kaki Akira yang berjalan perlahan mundur ke belakang itu sampai pada pemicu bom.


Akira sedang fokus pada gambar yang berhasil dia tangkap dan juga menikmati alunan musik.


Akira terus berjalan mundur dengan sedikit menghentakkan kaki mengikuti musik yang sedang dia dengarkan.

__ADS_1


Akira tidak tahu jika Zay Aditya sedang berlari ke arahnya dan langsung meraih tubuh Akira, begitu kaki kanannya menginjak pemicu bom.


Duar !!!!


Sebuah gudang penyimpanan yang berada tepat di belakang Akira, langsung meledak besar begitu Akira menginjak pemicu bom tersebut.


Zay Aditya sedikit terpental karena dia berusaha menjauhkan Akira.


Bunyi mobil saling bersahutan disusul meledaknya gudang penyimpanan tersebut.


Akira tentu saja terkejut dan langsung melepas handset yang berada di telinganya kemudian melihat ke arah tempat di mana ledakan terjadi.


Akira tidak menyangka bahwa gudang yang berada di belakangnya meledak dan hancur.


Zay Aditya segera bangkit untuk melihat apakah masih ada serpihan bom yang tersisa. Akira yang syok segera ditolong oleh Krisna dan Kamal.


Setelah beberapa saat, Zay Aditya terlihat marah kepada Akira.


(What do you think is going on here? Do you think there's a movie shooting here? or some kind of adventure that you will show your friends)


"Kau pikir apa yang sedang terjadi di sini? Apa kamu pikir di sini sedang ada syuting film? atau semacam petualangan yang akan kamu perlihatkan kepada teman-temanmu?" Zay Aditya terlihat sangat marah atas apa yang terjadi di luar kendalinya.


(We're dealing with a bomb here. Today because of you, the lives of my entire team are in danger. They could have fallen because you didn't listen to my call and instead covered your ears with a useless tool)


"Kita berurusan dengan bom di sini. Hari ini karena dirimu, nyawa seluruh timku dalam bahaya. Mereka bisa saja gugur karena kamu tidak mendengarkan panggilanku dan justru menutup telingamu dengan alat yang tidak berguna."


Akira terdiam dan hanya menundukkan kepala sambil menerima kemarahan dari Zay Aditya.


Dia tidak menyangka jika keputusannya untuk merekam situasi dengan mendengarkan musik yang dia setel pada volume besar, justru membuatnya dalam masalah besar.


"Aku minta maaf." Lirih Akira.


Zay Aditya berbalik badan membelakangi Akira untuk mengontrol emosinya yang sudah sangat meluap-luap.


(I said 350 meters behind me. Didn't I already warn you)


"Ku bilang 350 meter di belakang ku. Bukankah aku sudah memperingatkannya kepada kamu."

__ADS_1


(Don't come with us anymore, you will withdraw from here. I can no longer let you make the same mistake the next moment)


"Jangan ikut dengan kami lagi, kamu akan mundur dari sini. aku tidak bisa lagi membiarkan kamu melakukan kesalahan yang sama pada momen berikutnya."


Zay Aditya kemudian memakai kacamatanya dan bersiap pergi meninggalkan Akira.


(No Soldier, I'm not going anywhere because I'm not going to back down and I'm still going with you)


"Tidak Tentara, aku tidak akan pergi kemanapun karena aku tidak akan mundur dan aku akan tetap ikut dengan kamu."


Zay Aditya status berjalan walaupun Akira mengejarnya sambil melambaikan tangan pertanda bahwa dia tidak menyetujui tentang apa yang baru saja Akira katakan.


(The road ahead is too dangerous for a woman like you, you won't be able to face it. Especially when it's your character that can't follow the rules I give)


"Jalan di depan terlalu berbahaya untuk wanita seperti kamu, kau tidak akan mampu menghadapinya. Terutama saat sifat kamu yang tidak bisa menuruti peraturan yang aku berikan."


(Soldier, this is the only chance of my life, I will overcome it all. please I'm sorry and give me one more chance)


"Tentara, ini satu-satunya kesempatan dalam hidupku, akan ku atasi semuanya. kumohon aku minta maaf dan berikan aku satu kesempatan lagi."


"Akira." Zay Aditya akhirnya berhenti melangkah dan langsung menatap tajam ke arah Akira.


(Listen, you are a good girl. You are also a very brave girl. But this is impossible for an untrained woman or man. Look, forget this story.)


"Dengar, Kamu adalah gadis yang baik. Kamu juga gadis yang sangat berani. Tapi ini tidak mungkin untuk wanita atau pun pria yang tidak terlatih. Dengar, lupakan saja cerita ini."


Itu adalah perkataan terakhir yang diucapkan Zay Aditya, sebelum kembali melangkah pergi meninggalkan Akira.


Namun, baru beberapa langkah Zay Aditya berjalan meninggalkan Akira. Langkahnya terhenti karena Akira mengatakan sesuatu.


(If I ask you to forget Mira will you forget her)


"Jika aku meminta kamu untuk melupakan Mira apakah kamu akan melupakannya?"


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2