
Di sebuah terminal bus dan juga mobil minibus yang sedang terparkir dan ramai oleh orang berlalu lalang.
Pasukan tim penjinakk bom sedang ada di sana, setelah mereka mendapat laporan adanya sebuah bom pada mobil minibus yang dibiarkan begitu saja setelah terlihat memasuki halaman terminal.
Beberapa pasukan yang bertugas untuk mengamankan area lokasi tempat di mana bom itu berada.
Zay Aditya terlihat menggunakan sarung tangannya sambil berjalan mendekati akhir yang sudah siap, tidak, Akira sudah melakukan perekaman dengan kamera yang dia bawa.
Akira yang mengetahui bahwa Zay Aditya sedang berjalan menuju arahnya, tentu saja langsung bersemangat dan tersenyum untuk menyambut kedatangannya.
"Nona Akira, rai." Panggil Zay Aditya
(Akira rai reporting for duty sir, this army style life is very fun. I've only been one day but I already feel very impressed to see this process first hand)
"Akira rai melapor untuk tugas pak, kehidupan ala tentara ini sangat menyenangkan. Aku baru satu hari tapi aku sudah merasa sangat terkesan bisa melihat secara langsung proses ini."
(You must stay behind this doorstop and 350m behind me. if it violates you will be returned to where you came from, no question)
"Kamu harus terus berada di belakang palang pintu ini dan 350 m di belakangku. jika melanggar kau akan dikembalikan ke tempat kamu berasal, ada pertanyaan?" tegas Zay Aditya pada Akira.
(May I listen to music from my iPad)
"Bolehkah aku mendengarkan musik dari iPad ku?" tanya Akira sambil tersenyum dan menunjukkan sebuah headset yang melingkar di lehernya.
Zay Aditya menghela nafas panjang kemudian memilih untuk pergi meninggalkan akhirat tanpa menjawab pertanyaan yang baru saja ditanyakan oleh Akira.
(Hey soldier, Why don't you answer my question? Is the answer to my question yes or no?)
"Hei tentara, Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan dariku? Apa jawaban dari pertanyaanku itu iya atau tidak?" teriak Akira. Zay Aditya hanya melambaikan tangan ke atas tanpa menoleh lagi ke arah Akira.
Akira melewati palang pintu dan langsung kembali menyalahkan kameranya dan fokus pada Zay Aditya yang mulai berjalan cepat menuju mobil dengan bagasi terbuka.
Diwan menutup helm pelindung matanya begitu melihat kedatangan Zay Aditya.
Zay Aditya langsung berjongkok untuk melihat beberapa pipa berukuran besar yang ada di belakang bagasi mobil berwarna putih itu, Zay Aditya melepas kacamatanya dan seperti biasa dia meletakkan kacamata itu di depan kaos yang dia kenakan.
"Astaga." ucap Zay Aditya saat melihat banyak sekali kabel yang tertata rapi di antara pipa-pipa berukuran besar tersebut.
Diwan ikut berjongkok bersama dengan Zay Aditya.
"Topologi bus?" tanya Zay Aditya.
__ADS_1
"Yes, sir," jawap Diwan.
Zay Aditya yang memegang gunting khusus untuk memotong kabel, mulai mengangkat pipa yang berukuran besar itu untuk mengetahui getaran yang ada di dalamnya.
(It's safe to disable the cover)
"Aman menonaktifkan penutupnya?" tanya Zay Aditya.
(Yes, Sir. I checked)
"Ya, Pak. Sudah aku periksa."
Dengan perlahan, Zay Aditya mulai mengambil sesuatu yang berada di dalam pipa besar tersebut. Pipa berlapis yang berwarna hitam keabu-abuan itu, berbentuk seperti sebuah bola boling.
Zay Aditya tidak terkejut saat melihat benda yang diambil ternyata hanya berisi lipatan yang diisolasi menggunakan lakban hitam.
(I thought there might be another switch, Diwan)
"Kupikir mungkin ada saklar lain, Diwan," ucap Zay Aditya.
"(Most likely). Kemungkinan besar" ucap Diwan.
"(It's like sequential). Ini seperti berurutan."
Zay Aditya mulai menarik satu kabel berwarna merah dan hitam yang saling berdekatan itu.
(Where does this cable lead)
"Kabel ini mengarah ke mana?" tanya Zay Aditya.
(I don't know, sir. Because I haven't researched it. I don't even know if there's another cable leading to the other side of this car)
"Aku tidak tahu, Pak. Karena aku belum menelitinya. Aku bahkan tidak tahu jika ada kabel lain yang mengarah ke sisi lain mobil ini."
(Then let me check)
"Kalau begitu biar aku periksa."
Zay Aditya mulai menarik perlahan kabel itu, tidak, Zay Aditya tidak menariknya hanya mengangkatnya sedikit kemudian menggerakkan beberapa bagian mobil itu ke samping agar kabel yang ditarik bisa menunjukkan kemana dia berada.
Kabel yang sangat panjang, dengan hati-hati Zay Aditya membuka pintu mobil dan memerintahkan dewan untuk menutup kursi dengan hati-hati.
__ADS_1
Zay Aditya memperingatkan kepada dewan mungkin ini adalah kabel yang digunakan untuk pemicu meledaknya bom yang ada di mobil ini.
Diwan mengatakan kepada Zay Aditya, ada dia berhati-hati untuk mencari di mana letak pemicu bom tersebut.
Zay Aditya dengan hati-hati dan perlahan mengeluarkan kabel itu dari mobil, yang ternyata kabel itu juga tersembunyi di balik bebatuan kecil yang ada di tanah tempat di mana Zay Aditya berdiri dan menginjak bagian kabel yang lain.
Zay Aditya menarik kabel itu dari balik bebatuan dengan hati-hati, terus saya Aditya menarik dan sedikit menarik dengan keras untuk mencari tahu seberapa panjang kabel itu.
Hingga, saat talinya sudah sangat panjang terdapat sesuatu yang sangat sulit ditarik oleh Zay Aditya.
Zay Aditya menariknya dengan sekuat tenaga hingga muncullah sebuah piringan bulat yang terpendam tepat di belakang Akira yang sedang berdiri sambil merekam situasi yang ada di sekitar tempat ditemukannya bom.
Zay Aditya tentu saja terkejut saat menemukan pemicu bom itu berada tepat di belakang Akira.
"Akira..."
"Akira."
Zay Aditya berteriak dengan sangat lantang berharap Akira akan melihat ke arahnya untuk memberitahu bahwa tepat di belakangnya terdapat sebuah pemicu bom.
Sayangnya, Akira yang sedang merekam situasi menggunakan kamera dan menutup telinganya dengan musik yang sangat keras, tidak mendengarkan panggilan dan juga teriakan keras dari Zay Aditya.
"Akira.."
"****.."
Zay Aditya segera berlari begitu mengetahui akhirat berjalan perlahan mundur ke belakang.
Zay Aditya berusaha berlari kencang untuk mencapai Akira sebelum langkah kaki Akira yang berjalan perlahan mundur ke belakang itu sampai pada pemicu bom.
Akira sedang fokus pada gambar yang berhasil dia tangkap dan juga menikmati alunan musik.
Akira terus berjalan mundur dengan sedikit menghentakkan kaki mengikuti musik yang sedang dia dengarkan.
Akira tidak tahu jika Zay Aditya sedang berlari ke arahnya dan langsung meraih tubuh Akira, begitu kaki kanannya menginjak pemicu bom.
Duar !!!!
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...