
Dentuman musik yang keras dan juga teriakan heboh manusia yang ada di taman terbuka itu, membuat riuh suasana. Para pelayan minuman yang mondar-mandir, sibuk memberikan minuman beralkohol pada setiap tamu yang hadir.
Naura tersenyum dan mengambil segelas Red Wine yang dibawa oleh beberapa pelayan. Sedikit mengobrol dengan sang pemilik pesta, Aldi Wijaya Kusuma dan beberapa teman-temannya yang ikut hadir di sana.
"Sukses besar ya, lo, Di. Gimana lo bisa bujuk si tua bangka itu biar bisa bikin pesta mewah ini?" tanya Naura mengejek.
Aldi tertawa mendengar ucapan Naura yang terdengar mengejek. Meminum Vodka yang ada di tangannya dengan tubuh setengah sempoyongan, membuat Naura dan teman-temannya tertawa melihatnya.
"Lo udah kebanyakan minum, Di. Udah sana lo istirahat dulu. Acara utamanya belum mulai, tapi lo udah tepar duluan hahaha," ucap Stefano, teman Naura.
Kemudian mereka semua bubar dan meninggalkan Aldi sendiri, tertawa cekikikan sambil memegang gelas Vodka miliknya.
Naura berjalan menyusuri taman belakang villa yang disewa Aldi untuk pesta ulang tahunnya. Melihat kerumunan orang yang bersenang-senang. Melirik sekilas ke kolam renang yang penuh dengan pria dan wanita yang sibuk bercumbu tanpa malu.
"Hai, kok lo sendirian?"
Naura menoleh dan mendapati Krisna, salah satu pria populer di kampus menyapanya. Naura hanya mengangguk singkat lalu kembali berjalan tanpa menghiraukan Krisna.
"Eits, tunggu dulu. Kok lo jutek banget sih? Gue nyapa lo dengan baik-baik loh," ucap Krisna dengan wajah cemberut.
Naura memiringkan kepalanya dan menatap Krisna dengan mata menyelidik. Sungguh aneh pria seperti Krisna yang merupakan seorang player menyapanya. Sikap Krisna ini seperti sedang mencari mangsa baru untuk ia mainkan.
"Sorry, gue nggak tertarik jadi mainan baru lo." jawab Naura tegas.
Naura berjalan dengan langkah cepat untuk menghindari Krisna. Dia tak ingin berakhir seperti beberapa gadis di kampus yang menjadi korban Krisna. Diterbangkan ke dalam indahnya cinta lalu dihempaskan dengan keras hingga patah hati. Naura tak ingin menjadi salah satu korban Krisna.
Mendengar jawaban Naura, membuat Krisna tak gentar untuk mendekati gadis itu. Dia malah terus mengikuti langkah Naura, berharap gadis itu mau mengobrol dengannya. Namun, ternyata Naura bahkan tak menganggapnya sama sekali.
Naura menoleh ke belakang dan tersenyum puas melihat Krisna yang menyerah mendekatinya. Ia berjalan tanpa melihat ke depan dan terkejut karena menabrak seseorang. Dia terhuyung ke belakang dan hampir jatuh ke kolam renang jika tak ditahan.
Mata Naura dan orang yang ditabrak tadi saling menatap. Posisi mereka yang terlihat mesra, sedikit membuat orang yang melihatnya menggoda mereka. Dengan cepat Naura mendorong pria itu dan menatapnya tak suka.
"Ngapain lo di sini?" tanya Naura kesal.
Pria itu menatap Naura tajam dan mendengkus kesal. Melipat kedua tangannya di dada dan menatap Naura dengan senyum mengejek. Hal itu tentu membuat Naura kesal karena ditatap oleh pria itu.
"Wah, seorang Naura Srikandi dan pakaiannya. Lo mau jual diri atau gimana?" tanya pria itu mengejek.
Naura menatap tak suka pria itu. Menutupi belahan dadanya yang terbuka akibat tank top miliknya yang terlalu terbuka. Naura memang hanya memakai tank top mini dengan jaket kulit membalut tubuhnya dan rok mini di atas lutut.
"Seenggaknya gue nggak munafik kayak lo, Damar."
Naura pergi setelah mengatakan hal itu. Damar—pria itu— tersenyum sinis dan menoleh melihat Naura yang berjalan menjauh dengan tatapan tak suka.
__ADS_1
"Minumannya Mas," ucap salah satu pelayan yang menghidangkan minuman. Damar tersenyum tipis dan menerima Red Wine yang disuguhkan.
"Makasih Mas," ucap Damar pelan. Dia menyeruputnya sedikit dan menggoyangkan gelas itu dengan anggun. Menatap sekeliling taman yang ramai.
"Hai, Dam, lo apa kabar?"
Damar terkejut dan spontan menoleh saat pundaknya ditepuk dari belakang. Dengan spontan Damar mengangkat tangannya ke udara dan melakukan high five dengan orang itu.
"Apa kabar, bro? Wah, lo parah banget. Pindah ke Aussie nggak kasih tahu gue," ucap Damar pada Anton—temannya.
Anton hanya cengengesan dan menggaruk rambutnya yang tak gatal. Dia bingung bagaimana menceritakan pada Damar alasannya pergi ke Australia secara mendadak.
"Gue diusir bokap ke sana, bro. Biasalah, hehehe ...."
Damar hanya menggeleng pelan dan tertawa tertahan melihat tingkah konyol Anton.
"Bro, kita ke dalam aja. Di sini kayaknya udah mau hujan," ucap Anton menunjuk langit dan diangguki Damar.
Tak jauh dari tempat Damar berdiri, seseorang berjaket hitam dengan tudung kepala tersenyum melihat Damar meminum Red Wine yang dipegangnya.
***
Naura menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia tersesat setelah tadi ke toilet. Villa ini sangat luas dan memiliki berbagai lorong dan juga kamar dihampir setiap sudutnya. Entah berapa banyak yang Aldi keluarkan untuk menyewa villa sebesar ini.
Naura kembali berjalan maju. Dengan modal instingnya yang entah benar atau salah, ia berjalan terus. Saat melihat beberapa orang yang lewat, senyumnya merekah karena ia merasa menemukan jalan keluar dari lorong villa yang berkelok ini.
Saat akan berbelok, Naura kaget mendengar suara teriakan seseorang dari lorong, tak jauh dari tempat ia berdiri. Dengan takut Naura berjalan untuk memeriksa siapa yang berteriak. Melihat sekitarnya yang hanya beberapa orang melewati lorong ini.
Naura mengintip dan kaget melihat Damar yang terlihat gelisah dan mengusap seluruh tubuhnya. Naura nyaris berteriak saat melihat Damar hampir membuka kaus yang dia pakai. Dengan keberanian yang tipis, Naura mendekati Damar.
"W-woi, lo ngapain di sini? T-terus lo kenapa megangin badan kayak dikerubuti semut gitu?" tanya Naura gugup.
Damar yang melihat Naura menatap dengan tatapan memohon dan juga ekspresi wajah yang menurut Naura aneh. Naura mendekat dan melihat segelas Red Wine yang masih berisi setengah.
Tiba-tiba rasa haus menghampirinya. Naura yang merasa haus tanpa pikir panjang meminumnya. Hal itu membuat Damar menatap Naura kaget dan tajam.
"Lo kenapa akh ... minum itu?" tanya Damar tertahan. Dia menahan diri untuk tak melepas pakaiannya.
Naura menatap heran Damar yang mendorongnya menjauh. Kenapa sih dengan pria ini? Kok dia seperti cacing kepanasan menggeliat seperti itu? Naura menatapnya heran.
"Lo kenapa deh kayak cacing kepanasan? Kayak abis kena siram air garam aja," ucap Naura bingung.
Damar menatap Naura tajam. Apa gadis ini tidak tahu kenapa Damar bisa begini? Apa dia terlalu polos atau dia sedang menggoda Damar dengan tubuhnya yang mengundang nafsu?
__ADS_1
Damar bersusah payah menahan diri dan meneguk ludahnya berulang kali, melihat belahan dada Naura yang terlihat menggoda. Apalagi Naura sudah tak memakai jaket kulitnya hingga membuat bahu mulusnya terlihat. Apalagi rok mini itu terlalu pendek dan membuat Damar makin kehilangan akal sehatnya.
"Lo apaan sih ngeliatin gue begitu? Lo sang*, ya?" tanya Naura kesal sambil menutup dadanya dengan kedua tangannya.
Naura sedikit menjauhkan diri dari Damar. Tiba-tiba tubuhnya terasa panas dan gatal di beberapa bagian. Dengan tergesa Naura menggaruk leher dan beberapa bagian tubuhnya. Ingin sekali ia menggaruk bagian intimnya, tapi tertahan.
"Ini kenapa panas banget sih?" tanya Naura gelisah.
Naura menggaruk lehernya dan beberapa bagian tubuhnya dengan sensasional. Cukup untuk membuat naluri Damar sebagai lelaki bangkit. Rasa panas yang menjalari tubuhnya semakin terasa.
"Minuman akh ... itu ... ada obat ... ugh ... perangsang," ucap Damar terputus-putus.
Naura membulatkan matanya kaget. Melirik pada gelas Red Wine yang telah tandas tak bersisa itu. Merutuki kebodohannya yang langsung meminumnya tanpa pikir panjang.
Tubuhnya makin terasa panas dan ia tak bisa mengontrol dirinya. Tanpa sadar Naura menggosok bagian bawah tubuhnya, membuat Damar makin kehilangan kontrol dirinya.
Dengan dorongan kuat, Damar mendorong Naura menghimpit dinding dan menciumnya penuh nafsu. Naura yang merasa kaget memukul bahu Damar kuat, tetapi tak lama ia malah mengalungkan tangannya ke leher Damar.
'Gue kenapa malah balas ciuman dia,' batin Naura kesal.
Walau hatinya berkata tidak, tapi tubuhnya malah melakukan hal sebaliknya. Dia menyukai ciuman Damar. Ciuman Damar terasa manis dan juga menuntut.
Damar membuka matanya dan menghentikan ciumannya. Sedikit menjauhkan dirinya agar tak melakukan hal lebih terhadap Naura. Hal tersebut membuat Naura kecewa dan kembali mengusap tubuhnya gelisah.
"Dam, gue ngerasa panas ...."
Naura merengek dan terduduk dalam posisi mengangkang. Tangannya mulai liar menggosok bagian bawah tubuhnya. Damar yang melihatnya makin tak bisa mengontrol nafsunya. Dengan cepat Damar mengalihkan pandangan dan memegang handle pintu.
Ceklek
Damar terkejut saat pintu itu terbuka dan tersenyum lirih. Melihat Naura yang memejamkan matanya, dengan tangan yang begitu nakal melakukan hal tidak baik pada bagian intimnya. Ia menarik gadis itu untuk masuk ke dalam kamar itu.
Damar melempar tubuh Naura ke kasur dan menjauh, agar tak melakukan hal gila bersama Naura. Ia tahu seberapa kuat efek dari obat perangsang, walau belum pernah menggunakannya.
"Dam, tolong gue," gumam Naura memohon.
Naura membuka tank top miliknya dan hanya menyisakan bra miliknya. Cukup untuk membuat kelelakian Damar berdiri. Hal itu membuat tubuhnya makin terasa panas dan Damar tak bisa lagi menahan nafsunya.
"Maafin gue, Ra," ucap Damar pelan.
Damar langsung menubruk tubuh Naura dan menciuminya penuh nafsu.
Bersambung
__ADS_1