
Damar yang baru selesai menunaikan sholat Isya terkejut melihat Naura yang menatapnya tanpa berkedip sama sekali. Bukan karena wajah Naura yang mengerikan, tapi tatapannya hanya tertuju pada Damar.
"Lo ngapain, sih?" tanya Damar kaget.
Naura hanya diam tak bergerak seperti patung. Apa gadis itu meninggal? Pikiran Damar melanglang buana ke mana-mana. Membuat Damar merasa khawatir seketika, takut jika apa yang ia bayangkan menjadi kenyataan.
Jika Naura benar meninggal, apakah ia akan menjadi hantu yang suka duduk di atas pohon beringin dan tertawa sepanjang malam? Membayangkannya saja sudah membuat Damar merinding ketakutan. Ia takut akan dihantui oleh gadis ini jika Naura memang benar meninggal.
"Nau ... Naura ...!" teriaknya cukup kencang sambil menggoyangkan tubuh Naura cukup kuat.
Gedubrak
"Aduh ...!"
Naura jatuh dengan lengan sebelah kanannya yang lebih dulu mencium lantai. Setengah menguap, Naura menatap Damar yang terlihat gugup bercampur takut menatapnya. Dengan kesal Naura berdiri dengan susah payah.
"Lo kurang aja banget sih, ngedorong gue sampe jatuh."
Naura mendengus kesal, tak peduli jika Damar masih menatapnya dengan takut. Karena tak mendapat respon dari Damar, Naura berjalan menuju koper miliknya yang terletak didekat lemari pakaian.
"Lo ... lo ... masih hidup, kan?" tanya Damar ketakutan.
Naura menatap Damar heran. Cowok ini kenapa sih? Apa dia kesambet jin? Namun, itu tak mungkin karena dia baru saja selesai sholat. Pertanyaannya sangat random dan tidak masuk akal. Apa tadi katanya, apa Naura masih hidup? Iya tentu dong dia masih hidup, kakinya saja masih menapak begini.
"Lo kenapa sih, Dam? Setres? Ini gue masih hidup dan kaki gue masih napak nih di Bumi." Jelas Naura melompat kecil. Membuktikan jika dirinya memang benar menapak.
Damar yang memastikan memang benar kaki Naura masih menapak, bernafas lega. Hampir saja ia mengira bahwa Naura telah meninggal. Jika benar Naura meninggal, Damar pasti orang pertama yang di teror oleh Naura.
"Gue pikir lo udah meninggal," ucap Damar keceplosan.
Naura langsung membulatkan matanya, "Apa lo bilang? Gue meninggal?" tanyanya setengah berteriak.
Naura berkacak pinggang dengan ekspresi marah. Matanya melotot seperti hendak keluar dari tempatnya. Apalagi rambut panjangnya yang terurai, membuatnya sangat mirip dengan hantu yang suka tertawa tidak jelas itu.
Damar merasa nyalinya ciut melihat kemarahan Naura yang bisa ia maklumi. Tapi, siapapun pasti akan berpikir seperti Damar. Di panggil hanya diam dan matanya yang terbuka lebar. Bagaimana Damar tidak berpikiran negatif?
"Terus kenapa mata lo melek tadi?" tanya Damar takut.
Naura menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Memangnya tadi matanya terbuka? Oh, apakah maksud Damar sebelum ia jatuh tadi? Naura menepuk dahinya pelan dan tertawa cukup kencang.
"Hahahaha, lo tuh lucu, Dam. Itu gue cuma tidur. Mata gue emang suka melek kalo tidur. Kalo terlalu capek, ya begitu." Ungkap Naura sambil tertawa.
__ADS_1
Damar melongok tak percaya dengan apa yang diucapkan Naura. Jadi yang tadi itu Naura hanya tidur dan bukan meninggal? Lalu untuk apa tadi Damar khawatir dan takut jika Naura meninggal jika ternyata gadis itu cuma tidur?
"Kenapa? Lo takut kalo gue meninggal, gue berubah jadi setan yang suka duduk di atas pohon yang ketawa terus itu? Atau lo takut gue setanin?" tanya Naura jahil. Melihat ekspresi wajah Damar yang takut seperti itu membuat Naura terhibur.
Damar mendengus keras lalu berbalik membelakangi Naura dengan melipat kedua tangannya di dada. Tubuhnya masih terbalut sarung dan peci yang melekat. Tak ada niatan untuk melepasnya karena kadung malu pada Naura.
Kenyataannya memang benar Damar takut dihantui oleh Naura jika gadis itu meninggal. Membayangkan hidupnya di teror oleh Naura yang meninggal dalam keadaan hamil, membuatnya frustrasi.
"Hahahaha, aduh ya ampun gue ngakak banget!" teriak heboh Naura.
Dia tertawa puas melihat Damar yang merajuk seperti anak kecil. Sebuah kepuasan batin tersendiri bagi Naura membuat pria itu takut, khawatir dan juga merajuk disaat bersamaan. Apalagi ekspresi merajuk Damar sangat lucu.
"Aww ... perut gue!"
Damar berbalik dan kaget melihat Naura memegangi perutnya yang terasa sakit. Dengan cepat Damar berlari untuk melihat keadaan Naura, memastikan jika ia baik-baik saja.
"Nau, lo nggak apa-apa?" tanya Damar khawatir.
Naura menggeleng pelan, tetapi ia tetap memegangi perutnya. Hal itu membuat Damar khawatir sekali. Ia tak tahu harus bagaimana saat ini. Apa ia panggil ambulans saja? Itu sepertinya ide yang bagus.
"Gue bercanda ...!" teriak Naura senang.
Damar yang wajahnya pias karena panik, menatap Naura dengan ekspresi wajah kesal dan tangan mengepal. Ia merasa kesal karena Naura bercanda seperti itu. Membuat Damar mendengus karena menahan amarahnya.
"Kok lo diem aja sih? Lo marah, ya, sama gue? Maaf deh," ucap Naura setengah hati.
Namun, Damar hanya diam dan memilih menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Berpura-pura tidur agar Naura tak mengajaknya berbicara lagi. Damar merasa kesal Naura bercanda seolah perutnya sakit. Membuat Damar takut dan khawatir saja, mengingat gadis itu tengah hamil.
Damar langsung bangun saat merasa kasurnya berderit disisi lain yang tak ia tempati. Matanya membulat kesal melihat Naura bersiap untuk tidur. Membuat Damar bingung dan juga canggung. Apa mereka harus tidur disatu tempat tidur?
"Ngapain lo tidur di sini?" tanya Damar sedikit gugup.
"Terus gue mau tidur dimana?" tanya Naura heran.
Damar menunjuk sofa yang tak jauh dari ranjang mewah miliknya. Seketika Naura membelalakkan matanya kaget melihat sofa yang mungkin takkan bisa menampung tinggi badannya yang cukup tinggi.
"Lo gila, ya? Gue lagi hamil dan lo suruh gue tidur di sofa?" Naura mengedipkan kedua matanya berulangkali.
Damar hanya melipat kedua tangannya dan bersandar pada bantal di tas ranjang miliknya. Tersenyum manis atau sepertinya senyum mengejek kepada Naura, membuat Naura kesal bukan main.
"Ini kamar gue dan ranjang ini milik gue," ucap Damar dengan senyum mengejek.
__ADS_1
Naura mendengus kesal, "Kata Ummi sekarang ini juga kamarku." Ungkap Naura.
Damar menggeleng dengan tangannya yang mengisyaratkan kata tidak. Membuat Naura semakin kesal karena sikap Damar yang kekanakan menurutnya. Lalu dia akan tidur di sofa? Dia sekarang sedang hamil, apa Damar tega membiarkannya tidur di sofa?
Dengan wajah cemberut Naura mengambil bantal dan berjalan menuju sofa kecil. Sofa ini hanya cukup menampung setengah bagian tubuhnya. Naura merebahkan diri di sofa itu sambil menggerutu karena kesal.
"Dasar cowok nggak punya perasaan! Kok bisa sih membiarkan cewek tidur di sofa. Apalagi dalam keadaan hamil begini," kesal Naura.
Naura berusaha untuk memejamkan matanya dan terlelap, tapi tak bisa. Kakinya yang menggantung dan tak ada ruang untuk bergerak saat tidur membuat Naura sulit tidur. Naura berdecak kesal setiap detik karena sulit untuk tidur.
"Dam ... Damar ...," bisik Naura hati-hati.
Tak ada jawaban dari Damar sama sekali. Membuat Naura menghela nafas lesu karena mau tak mau ia harus tidur di sofa kecil dan sempit itu. Dengan berat hati Naura menutup matanya kembali berusaha untuk tidur.
Namun, percuma karena ia tetap tak bisa tertidur. Naura bangun dan berdecak kesal, menatap Damar yang tertidur dengan damai di ranjangnya. Tubuhnya juga tertutup selimut yang tebal dan hangat. Sungguh membuat iri Naura.
Sebenarnya Damar belum tertidur sama sekali. Ia mendengar decakan kesal Naura yang tak bisa tidur. Mengintip dengan sembunyi-sembunyi agar Naura tak sadar jika ia masih bangun. Sedikit membuat Damar terhibur karena berhasil membalas kejahilan Naura tadi.
Namun, melihat Naura yang kesulitan tidur membuat Damar merasa iba. Belum lagi pasti Naura akan mengadu kepada Ummi tentang perbuatannya sekarang. Damar sangat yakin karena Naura memang suka mengadu.
"Woi, lo udah tidur?" tanya Damar sedikit kuat.
Tak ada suara apa pun yang keluar. Sepertinya Naura memang sudah tertidur. Damar memanjangkan lehernya untuk melihat keadaan Naura. Sepertinya dia memang sudah tertidur, tapi kenapa tubuhnya berputar-putar ke kanan dan kiri?
Naura sebenarnya belum tidur sama sekali. Ia merasa kesal karena Damar tak kasihan melihatnya tidur dalam posisi menekuk kaki seperti ini. Posisi tidurnya ini membuatnya tak nyaman sama sekali.
"Huwaaa ...!"
Naura merasa terkejut saat lengannya ditarik dengan cepat. Melihat Damar yang membawanya ke sisi ranjang yang sempat Naura tempati sebelumnya. Melempar bantal yang tadi Naura bawa tepat ke wajah cantiknya.
"Lo tidur disitu, gue disebelah sini. Guling ini akan menjadi pembatas kita."
Naura yang memang sudah sangat mengantuk akhirnya setuju. Toh sejak awal Naura tak keberatan tidur di samping Damar. Dia saja yang keberatan dan mengusir Naura dari ranjangnya. Padahal yang seharusnya begitu adalah Naura buka Damar. Seperti anak perawan saja.
Akhirnya mereka tidur saling memunggungi. Tak ada suara sama sekali, hanya keheningan yang menyapa. Entah kenapa rasanya sangat canggung bagi Naura. Jantungnya berdetak kencang dan tubuhnya berkeringat karena gugup.
Tak berbeda jauh dengan Damar yang juga tak kalah gugup. Dia berusaha memejamkan matanya, tetapi tetap tak bisa. Tiba-tiba terlintas sebuah hal yang mengusik pikirannya selama ini.
"Nau ...," bisik Damar pelan.
Naura hanya berdehem menanggapi panggilan Damar. Dia sungguh mengantuk, tapi debaran jantungnya membuatnya tak bisa memejamkan matanya.
__ADS_1
"Lo penasaran nggak sama orang yang kasih obat perangsang itu ke minuman gue?" tanya Damar pelan.
Bersambung