Terpaksa Menikah Karena Hamil

Terpaksa Menikah Karena Hamil
Bab 17. Dipermalukan


__ADS_3

"Oke ... oke, gue cari sampe ketemu itu Seblak Fettucini. Kalo sampe Subuh nggak ketemu juga, kita pulang. Gue capek dan ngantuk, Nau. Ini udah jam 3.40 dan besok gue ada kuliah pagi." tutur Damar menahan emosi.


Naura menghapus air matanya yang masih mengalir. Dia mengangguk pelan, takut membantah Damar. Apalagi yang dikatakan Damar memang benar. Mereka sudah mencari hampir 3 jam, tapi belum menemukan Seblak Fettucini itu.


Namun, Naura sangat menginginkan makanan itu. Pasti rasanya sangat enak. Pedasnya Seblak dicampur dengan nikmatnya Fettucini pasti sangat enak. Naura tak sabar untuk menikmati perpaduan Seblak dan juga Fettucini.


"Iya atau nggak?" tanya Damar memastikan. Naura mengangguk dengan iringan sesenggukan yang sesekali terdengar.


"Oke gue mulai cari sekarang. Lo lihat kalo ada restoran atau warung makan yang buka," ucap Damar menerangkan.


Naura mengangguk kuat dan menghapus air matanya dengan cepat. Menatap ke luar jendela dan memeriksa apakah ada restoran atau warung makan yang masih buka. Sedangkan Damar fokus untuk mengemudi.


***


Annisa tengah sibuk membantu ibunya untuk membuat sarapan, dan juga persiapan untuk pengajian yang akan diadakan siang ini. Hal itu tentu saja membuat Annisa kesal karena biasanya pagi hari ia akan berolahraga.


"Ummi, ini ditaruh di mana?" tanya Annisa setengah berteriak.


"Di taruh di meja makan saja. Kamu ini anak gadis, tidak baik berteriak seperti itu." Ibu Damar memberikan nasehat pada Annisa, membuat gadis itu mencebikkan bibirnya kesal.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumsalam," ucap ibu Damar dan Annisa bersamaan.


Damar dan Naura langsung duduk di kursi meja makan dengan wajah lelah dan mengantuk. Berulang kali Damar menguap karena rasa kantuk yang tak tertahankan. Sedangkan Naura menempelkan pipinya di meja makan dengan wajah lesu.


Ibu Damar yang melihat anak dan menantunya masih memakai piyama tidur dan juga wajah mengantuk, menatap heran. Annisa juga tak kalah heran dan melirik ibunya yang juga sama herannya seperti Annisa.


"Ini kalian dari mana? Kok masih pakai baju tidur?" tanya ibu Damar.


Damar setengah menguap dan menunjuk Naura. "Si Naura tuh, Ummi. Dia ngidam Seblak Fettucini semalam dan kita cari sampe ke Tanggerang, tapi nggak ketemu juga."


Annisa memutar matanya kesal. "Ya iyalah, nggak ada. Cuma orang nggak waras yang buka warung Seblak tengah malam. Apalagi dicampur Fettucini, sekte makanan apa itu," sindirnya kepada Naura.

__ADS_1


Damar yang mendengar ucapan adiknya langsung bangkit dan menunjuk Annisa dengan semangat. Ternyata ada yang sependapat dengannya. Hanya orang tidak waras alias gila yang membuat Seblak Fettucini itu.


"Nah itu maksudku, Nis. Cuma orang gila yang bikin Seblak Fettucini begitu. Bayangin makannya aja bikin mual," ucap Damar bergidik.


Naura menatap Annisa dan Damar dengan wajah kesal. Memangnya apa yang salah dengan Seblak Fettucini? Naura yakin kedua makanan itu akan sangat enak jika dipadukan. Seblak akan naik kelas dan pasti jadi makanan mewah yang akan go internasional.


"Udah ... udah, jangan ribut. Naura sedang ingin Seblak dicampur Fettucini? Ayo sini, Ummi buatkan untuk Naura."


Mata Naura berbinar-binar mendengar ucapan ibu Damar. Tanpa sadar Naura langsung memeluk ibu Damar dengan erat. Tak peduli jika ibu mertuanya sedang membawa mangkuk berisi sup ayam yang masih mengepulkan uap panas.


"Makasih banyak, Ummi. Dari semalam aku pengen makan itu, tapi nggak ketemu yang jual Seblak Fettucini." Naura sedikit mengerucutkan bibirnya dengan lucu.


"Iya, sama-sama. Ya sudah, tunggu sebentar, Ummi akan buatkan. Kamu duduk atau mandi saja dulu, nanti siang akan ada pengajian di rumah ini. Kamu ikut, 'kan?" tanya ibu Damar antusias.


Naura membulatkan matanya karena terkejut. Seketika ia menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali. Sesekali melirik Damar yang sepertinya tak peduli atau mungkin juga ia sedang menertawakan Naura. Membuat Naura bergumam kesal dalam hati.


"Naura mandi saja dulu, Ummi. Kalo pengajian—"


Naura menoleh dengan cepat dan menatap Damar dengan tajam. Dia tak suka dipermalukan dihadapan orang lain seperti ini oleh Damar. Rasanya ingin sekali Naura melemparkan mangkuk berisi sup ayam itu ke arah Damar. Biar kulitnya melepuh terbakar.


"Hah, yang bener, Kak? Malu-maluin aja sih. Untung Kak Damar ngomong, kalo nggak nanti pasti malu sama ibu-ibu kompleks pas dia disuruh ngaji." sindir Annisa menatap Naura dengan tatapan mengejek.


Naura hanya menundukkan kepalanya sembari mengepalkan tangan. Harga dirinya serasa diinjak-injak oleh kakak-adik ini. Tak pernah ia merasa terhina seperti ini, apalagi dihadapan suami dan mertuanya.


"Sudah ... sudah, memangnya kalian dulu langsung pandai mengaji? Damar, jangan merendahkan harga diri istrimu di depan orang lain. Seharusnya kamu menaikkan harga diri istrimu, tutup aibnya dan hormati dia." Jawab ibu Damar menengahi.


Damar hanya mengangguk pelan. Ia sedikit merasa bersalah karena mengejek Naura seperti itu. Padahal dulu ia sangat sering mengejek bahkan menghina Naura. Bahkan ejekannya tadi tak seberapa dibandingkan dengan apa yang Damar ucapkan dulu.


"Ummi, aku permisi ke kamar dulu," ucap Naura pelan. Dia berjalan pelan menuju kamarnya yang ada di lantai dua.


Annisa sangat puas bisa menghina Naura. Sedikit membalaskan dendam atas sikap congkak Naura beberapa hari lalu. Apalagi Annisa tak menyukai Naura yang menjadi kakak iparnya. Naura tak pantas bersanding dengan kakaknya, tak seperti Aisyah yang cocok dengan keluarga mereka.


"Annisa, lain kali jangan begitu, ya? Kamu ini sudah Ummi nasehati masih aja bandel. Kamu mau nanti saat sudah menikah direndahkan oleh iparmu?" tanya ibunya.

__ADS_1


Annisa menatap tak suka ibunya. Sekarang ibunya selalu membela Naura, bahkan menampar Annisa di depan Naura. Itu salah satu alasan Annisa membenci Naura selain karena Naura menorehkan aib di keluarga. Lalu Naura merebut posisi yang harusnya menjadi milik Aisyah—calon kakak ipar impian Annisa.


"Kalo ipar begitu tinggal balas aja, Ummi." Jawab Annisa tenang.


Damar yang sejak tadi melihat Naura berjalan pelan sambil mengepalkan tangan, merasa bersalah. Dengan cepat Damar berjalan menuju kamarnya di lantai dua, meminta maaf kepada Naura.


***


Damar yang baru masuk kamar terkejut melihat Naura hanya memakai tank top. Dengan cepat ia menutup matanya dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Sedangkan Naura menjerit heboh karena Damar masuk seenaknya.


"Kenapa lo nggak ketuk pintu dulu sebelum masuk?" tanya Naura gugup. Ia mencari apa saja yang bisa menutupi tubuhnya.


"Ini kamar gue, wajar gue nggak ketuk pintu dulu sebelum masuk. Kenapa gue harus izin sama lo? Emang ini kamar milik nenek moyang lo?" tanya Damar sewot.


Niatnya tadi ingin meminta maaf kepada Naura dia batalkan karena sikap menyebalkan Naura. Sejak kapan pemilik kamar harus mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke kamarnya sendiri? Belum pernah Damar mengalami hal seperti ini.


"Heh, jangan bawa-bawa nenek moyang, ya. Nenek moyang lo sama gue itu sama, seorang pelaut!" Jawab Naura tegas.


Damar seketika merasa bodoh mendengar ucapan Naura. Memang benar sih nenek moyang mereka itu pelaut, tapi itu 'kan cuma lagu anak-anak. Apa Naura benar-benar percaya jika nenek moyang mereka seorang pelaut?


"Udah deh capek ngomong sama lo. Gue udah boleh bukan mata belum?" tanya Damar kesal. Ia masih menutup matanya karena takut Naura masih memakai tank top.


"Mau buka mata ya, tinggal buka sih. Emangnya lo lagi main petak umpet?" sindir Naura.


Damar yang mendengar sindiran Naura merasa sangat kesal. Ia langsung berlari mengejar Naura setelah membuka mata. Sedangkan Naura dengan cepat berlari untuk menyelamatkan diri dari kejaran Damar. Hingga ia tak sengaja tersandung sesuatu di kamar dan hampir jatuh.


"Kyaaa ...!"


Damar yang melihatnya spontan mengejar Naura dan berusaha menyelamatkannya. Tubuhnya ambruk tertindih oleh tubuh Naura, membuat tulang belakangnya berbunyi. Sedangkan Naura yang menindih Damar hanya memejamkan matanya takut.


"Huwaaa ...!" teriak Damar dan Naura bersamaan sesaat setelah membuka mata.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2