Terpaksa Menikah Karena Hamil

Terpaksa Menikah Karena Hamil
Bab 2. Hanya Melepas Nafsu


__ADS_3

"Aisyah ... Aisyah ... Aisyah ...."


Berulang kali Damar menyebut nama Aisyah dibsepanjang pergumulannya. Menghentak tubuh Naura dengan kuat, hingga membuat Naura meremas bantal yang ditidurinya. Naura hanya diam menahan suaranya dan rasa sakit di bagian bawahnya.


Naura memejamkan matanya saat merasakan tubuh Damar bergetar hebat dan ambruk di atasnya. Hal itu membuat Naura langsung tertidur karena kelelahan. Bersamaan dengan Damar yang juga terlelap. Tak sadar dengan apa yang mereka lakukan malam ini.


Keesokan paginya


"Aduh kepala gue pusing banget," ucap Naura pelan.


Naura bangun dan sedikit meregangkan tubuh yang terasa sakit semua. Tiba-tiba hawa dingin menerpa, membuatnya refleks memeluk diri sendiri. Dia terkejut saat merasakan tubuhnya tak memakai sehelai benang pun.


Melirik ke kanan, matanya makin membulat saat melihat Damar yang bertelanjang dada dan tertutup selimut. Dia terlihat sangat damai dalam tidurnya. Rambutnya yang terlihat berantakan menambah ketampanannya.


Naura dengan cepat melihat ke bawah tubuhnya dan terkejut saat melihat bercak darah, serta cairan putih yang menempel di sela pahanya. Dia meringis pelan karena rasa sakit yang tiba-tiba terasa di bagian bawah tubuhnya.


"Aww!" rintihnya tertahan.


Damar menyipitkan matanya, berusaha membuka mata yang terasa silau karena sinar matahari. Ia berusaha mendudukkan diri dan memegang kepalanya yang terasa berdenyut.


Hal pertama yang Damar lihat adalah Naura yang menahan sakit di bagian bawah tubuhnya. Melihat Naura yang menutupi tubuh atasnya menggunakan selimut. Sedikit bingung kenapa Naura ada di sini bersamanya dalam keadaan seperti ini.


Matanya membulat saat teringat kejadian semalam, di mana dirinya dan Naura tanpa sengaja meminum Red Wine yang telah dicampur dengan obat perangsang. Mereka berciuman, lalu Damar membuka pintu kamar dan membawa Naura masuk, hingga akhirnya mereka melakukan itu.


"Sial, sial, sial ...!" teriaknya frustrasi.


Damar menjambak rambutnya dengan kuat. Merutuki kebodohannya yang diperbudak oleh nafsu. Dia terlalu bodoh dan tak bisa mengendalikan hasratnya, hingga dia dan Naura melakukan hal yang tak seharusnya mereka lakukan.


Naura hanya melihat Damar yang terlihat frustrasi. Dia ingat apa yang terjadi semalam. Mereka meminum Red Wine yang tercampur obat perangsang dan berakhir dengan melakukan one night stand.


"Ini salah lo, Ra!" teriak Damar keras.

__ADS_1


Naura terkejut mendengar Damar menyalahkannya. Hei, memang apa salah Naura? Dia juga korban di sini dan bisa saja Damar memasukkan obat perangsang itu ke dalam minuman dan menjebak Naura.


"Hei, kenapa lo menyalahkan gue? Ini bukan sepenuhnya salah gue dan lo tahu itu dengan baik," ucap Naura tegas.


Damar mendecih pelan dan menggelengkan kepalanya yang terasa pusing. Menatap Naura dengan tatapan tajam yang mampu mengintimidasi, tapi sepertinya tak berpengaruh pada Naura. Ia malah balas menatap Damar tak kalah tajam.


Damar menghela napas karena Naura benar. Ini bukan sepenuhnya salah gadis itu. Semua ini terjadi karena Red Wine berisi obat perangsang itu, yang membuat mereka menjadi seperti ini. Akan tetapi, jika gadis itu tak meminum Red Wine itu, semua ini takkan terjadi.


"Kalo lo nggak minum Red Wine itu, semua ini nggak akan seperti ini," ucap Damar menusuk.


Naura terdiam mendengar ucapan Damar yang terasa menusuk. Memang benar, jika saja ia tak meminum Red Wine itu, mereka takkan melakukan hal seperti ini. Semua ini bisa terhindar jika Naura tak datang pada Damar.


Naura meneteskan air mata dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia merutuki semua kebodohan dan kesialannya saat ini. Terjebak melakukan one night stand dengan pria yang ia benci dan bagaimana jika ia hamil?


"Gue bodoh banget," gumam Naura sesenggukan. Napasnya naik turun karena rasa sesak yang tiba-tiba.


"Lo tangisin juga percuma, semua udah kejadian. Sekarang kita lupakan ingatan ini dan jalani hidup masing-masing."


Naura menoleh dan mendapati Damar yang telah berpakaian lengkap. Menatap Naura yang masih tertutup selimut dengan tatapan datar. Hal itu membuat Naura merasa kesal akan reaksinya yang sangat biasa.


Naura merasa sangat kesal dan berniat berdiri untuk memukul Damar. Namun, ia menjerit tertahan karena merasa tubuh bagian bawahnya yang sakit.


"Awww ...!" teriak Naura memegang perut bagian bawahnya.


Damar terkejut melihat Naura yang memegangi perutnya. Tubuh polos Naura terlihat jelas hingga Damar spontan menutup wajahnya. Tak ingin melihat tubuh Naura di saat gadis itu tengah kesakitan.


"Woi, lo nggak apa-apa?" tanya Damar dengan mata tertutup.


Naura menatap Damar sebal. Apa Damar pikir Naura sedang berakting kesakitan? Ia benar-benar kesakitan dan pria ini malah bertanya sambil menutup matanya. Dasar pria tak punya perasaan.


"Menurut lo gimana? Terus ngapain lo tutup mata segala? Emang gue Medusa yang ngutuk orang jadi batu?"

__ADS_1


Damar merasa serba salah saat ini. Jika ia membuka mata, ia akan melihat dua gundukan milik Naura yang terlihat jelas. Naura pasti akan menghinanya sebagai pria cabul. Jika ia tak membuka mata, Naura akan mengoceh lebih parah.


"Lo tutupin dulu itu lo. Nanti kalo gue lihat, lo ngatain gue cabul lagi!" teriak Damar keras.


Naura merasa heran dengan ucapan Damar, tetapi dengan cepat tersadar dan menutupi tubuhnya menggunakan selimut. Naura bernapas lega dan menatap Damar tajam.


"Emang lo cabul kok. Tukang perkosa lagi," ucap Naura cepat.


Damar langsung membuka matanya dan menatap Naura tajam. Sekarang apa salahnya? Siapa coba yang semalam memohon untuk ditolong? Damar bukan seorang pemerkosa karena mereka saling menikmati kegiatan semalam.


"Hei, siapa yang semalam memohon sama gue? Itu lo, 'kan? Satu lagi, ini bukan pemerkosaan karena nggak ada paksaan sama sekali," ucap Damar.


Naura menatap Damar dengan tatapan tajam. Bagaimana ini tidak bisa disebut sebagai pemerkosaan? Naura melakukan ini bukan atas keinginannya sendiri, tapi karena pengaruh obat. Akan tetapi, perkataan Damar tentangnya yang memohon pada pria itu memang benar adanya.


"Gue melalukan itu bukan atas kemauan gue," ucap Naura meneteskan air mata.


Damar mendengkus sebal. "Lo pikir itu kemauan gue? Gue juga nggak mau," ucapnya sebal.


Damar melipat tangannya di dada dan menatap Naura datar. Pikiran gadis ini sangat picik dengan melimpahkan kesalahan padanya saja. Padahal bukan hanya Damar yang salah, tetapi Naura juga. Mereka sama-sama bersalah karena kalah oleh hawa nafsu.


Mereka sama-sama menikmati kegiatan semalam. Damar bersalah, begitu pun dengan Naura. Mereka sudah dewasa, dan ini merupakan konsekuensi dari kelalaian mereka meminum Wine berisi obat perangsang tersebut.


"Lo bilang nggak mau, tapi lo paling menikmatinya, 'kan?" tanya Naura geram. Dia mengepalkan tangannya erat, menahan diri agar tak memukul Damar.


Damar mendecih mendengar ejekan Naura. Dia tak menikmatinya sama sekali. Damar merasa jijik telah bercinta dengan Naura. Dia lebih takut jika perbuatan mereka semalam akan membawa masalah yang besar di kemudian hari.


"Pokoknya lupakan kejadian hari ini. Anggap semua ini nggak pernah kejadian," ucap Damar singkat dan pergi meninggalkan Naura yang masih berdiam diri di atas ranjang.


"Dasar bajingan ...!" teriak Naura keras.


Naura menangis meraung meratapi kebodohannya dan juga kebenciannya terhadap Damar yang semakin bertambah. Dia membenci Damar yang bersikap masa bodoh, dan memperlakukannya seperti jal*ng yang menjajakan dirinya kepada pria hidung belang.

__ADS_1


Ia membanting bantal dan juga guling terdekat ke arah pintu kamar tersebut. Menjerit sekuat tenaga dan menjambak rambutnya frustrasi. Mengabaikan rasa sakit di bagian bawah tubuhnya.


Bersambung


__ADS_2